Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Werewolf Menyebalkan


__ADS_3

Ketika matahari belum memunculkan cahayanya, pintu kamar mereka di dobrak oleh seseorang seolah ingin menerobos tapi tidak bisa karena telah di kunci. Hal ini membuat mereka yang sedang tidur dengan tenang merasa sangat terganggu.


"Siapa sih orang kurang kerjaan yang membangunkan kita saat langit masih gelap?" tanya Lis sambil merengut kesal.


Hotaru menatap dingin ke arah pintu yang masih bergoyang, "Cari mati, ya?"


"Sembunyilah, Lis." balas Elena.


Dia ingin memastikan siapa yang orang sudah membuat masalah pada mereka. Begitu pintu terbuka, ada seorang wanita yang menatapnya dengan angkuh.


"Baru bangun? Gadis jaman sekarang benar-benar tidak tahu aturan."


Elena melipat kedua tangannya, "Apa ada hubungannya denganmu?"


"Suamiku adalah penguasa Corleon Pack. Jadi sudah seharusnya aku memeriksa setiap tamu di pack ini."


"Aku dengar Paman Kenzo masih memegang kendali meski tidak sebanyak suamimu. Jangan terlalu sombong, Bibi," Elena merasa geli mendengar pengakuannya.


"Diam kau, gadis kampungan! Tch, kenapa dia harus mengundang pengemis kesini—hm?" Dia melihat kalung yang dipakai oleh Elena.


Wanita itu menyeringai, "Berikan kalungmu dan aku akan melupakan masalah ini."


"Hey, nenek tua..." Elena mencengkram kerah baju wanita itu.


"Pengemis masih jauh lebih baik daripada seseorang yang menginginkan sesuatu yang bukan miliknya."


Wajah wanita itu merah padam, "Beraninya kau...!"


Elena menjatuhkannya, "Sekalipun kau adalah seorang tiran, aku tidak takut padamu. Jika sudah paham, tinggalkan kamar ini sekarang juga!" balasnya dengan tatapan menusuk.


Akhirnya dia pergi dengan perasaan malu dan amarah yang memuncak. Saat pintu sudah ditutup, Lis keluar dari belakang Hotaru.


"Ada apa?"


"Hm, sepertinya kita tidak bisa berlama di tempat ini."


Hotaru mendecih, "Tidak tahu diri!"


"Yosh, sudah saatnya aku menunjukkan kehebatanku. Tenang saja, Elena. Aku akan membersihkan segala jejak kita yang ada di tempat ini."


"Tolong ya, Lis," pinta Elena.


Setelah mereka sudah merapihkan diri, Lis langsung menghilang untuk melakukan misi pertamanya. Kemudian, Elena dan Hotaru pergi untuk menemui Kenzo. Saat mereka sampai di ruang tengah, ada keluarga Kenzo juga Alpha Alaric yang bersama dengan anak dan istrinya.


"Kau masih dalam masa pemulihan, Kak. Tidak baik untukmu keluar di cuaca yang sedang tidak stabil seperti ini," ucap Kenzo.


"Aku hanya ingin melihat seseorang yang kau katakan sebagai penyelamatku," jawab Alaric.


Kenzo menoleh ke samping dan melihat Elena dan Hotaru, "Kenapa kalian bangun sepagi ini?"


"Ada kecoa yang menganggu tidur nyenyak kami, Paman." jawab Hotaru santai.


"Kecoa?"


"Dia lah orangnya," tunjuk Elena ke arah wanita pembawa masalah itu.


"Aku adalah pasangan dari Alpha pack ini! Beraninya kau menyamakanku dengan kecoa?!"


"Jika bukan kecoa lalu apa? Pencuri?"


"Apa maksudmu, Elena?" tanya Vrey.


"Wanita ini bernyali untuk mengambil kalungku hanya karena dia berpikir kami disini hanyalah numpang."


"Hanya sebuah kalung. Apa susahnya?" tanya Alaric.


"Kau bilang apa? 'Hanya'?" Amarah Elena mulai tersulut.


"Jangan bersikap tidak tahu diri pada penyelamatmu, Alaric!" Evelyn melihat si tuan rumah dengan geram.


"Hah! Mustahil gadis kumal itu bisa menerobos markas mereka!"


Ashley, putri Alaric memandang mereka dengan remeh, "Jangan membuat lelucon, Bibi. Tidak mungkin manusia bisa menyelamatkan Ayah dari vampir itu."


"Dan lagi..." Dia menghampiri mereka dan menunjuk Elena, "Kau pasti telah melakukan cara yang curang untuk mengelabui kami kan?"


Vrey mencengkram lengan Ashley, "Jaga bicaramu pada adikku!"


Ashley memasang wajah sedih, "Kenapa kau membelanya, kak? Aku hanya mengatakan kebenaran. Gadis murahan sepertinya mustahil bisa membawa Ayahku dari mereka tanpa cara licik."


Hotaru gemetar menahan amarahnya, "Kau....!"


"Hotaru..."


"Maaf, Kenzo. Tapi, aku meragukan perkataanmu setelah melihat mereka secara langsung," ucap Alaric.


Elena tersenyum tenang, "Boleh kutau apa alasannya, Alpha?"


"Kami saja kewalahan menghadapi mereka. Apalagi kalian yang manusia rendahan. Hah! Jangan mencoba untuk membohongi kami."

__ADS_1


"Apa yang dikatakan oleh istriku itu benar. Kami selalu merasa kesulitan saat berperang melawan mereka. Jadi, aku sedikit meremehkanmu, Nak."


Kenzo dan Evelyn merasa kesal melihat mereka yang tidak tahu terima kasih. Elena menggelengkan kepalanya saat Evelyn ingin mencercanya, "Tenanglah, Paman, Bibi."


Dia tersenyum miring, "Aku tidak butuh rasa terima kasih juga kepercayaan dari kalian. Karena tidak berguna jika aku menerimanya dari seseorang yang tidak tahu diri dan serakah seperti kalian."


"Lalu, dengan cara apa aku harus membalas jasa kalian?"


Mata Ashley berbinar, "Jodohkan aku dengan Kak Vrey, Ayah."


"Itu ide yang bagus, sayang." Ibu Ashley setuju dengan anaknya.


Elena menghela nafas kasar, "Sepertinya ada Felisya kedua ya," gumamnya.


"Aku tidak sudi menjadi suami dari wanita jal*ng yang sudah membuang matenya hanya karena dia warrior tingkat bawah," ucap Vrey dengan emosi.


"Kenapa kau menolaknya? Matemu juga sudah mati, bukan?" tanya Alaric yang merasa tersinggung dengan Vrey.


Vrey mengeraskan rahangnya, "Kau....!"


Elena tidak bisa menahan tawanya lagi, "Hahahahahah. Sungguh menggelikan."


"Apa yang lucu?!" tanya Ashley.


"Ayah yang tidak tahu diri, Ibu yang serakah dan anak mereka yang tidak ada bedanya dengan putri vampir itu. Benar-benar pertunjukan yang menarik."


"Selain itu, kau..." dia menunjuk Ashley, "Benar-benar jal*ng sejati. Jika pembunuh mate dari Kak Vrey ada hubungan denganmu, bersiaplah untuk menghadapi belati kesayanganku!"


"Beraninya kau menuduh putriku?!" teriak Ibu Ashley.


"Hey, nenek tua. Jika kau tau alasan suamimu menghilang, aku yakin kau dan anakmu itu akan pingsan sampai dia kembali." jawab Elena dengan senyum miring.


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak sudi memberitahumu. Manfaatkan lah posisimu yang 'hebat' itu."


Alaric keringat dingin karena tidak mau masalah itu diketahui oleh keluarganya, "Apa permintaanmu?"


Elena menyeringai tipis, "Jangan sekali-kali mengusik keluarga Paman Kenzo. Mudah, bukan?"


"Kau pikir kau itu sia—" ucapan Ibu Ashley terpotong saat merasakan udara sekitarnya berubah menjadi dingin.


"Jika kalian melanggarnya...." Tatapan Elena menajam, "Aku akan membuat kalian menghilang selamanya!"


"Kalau begitu, kami akan meninggalkan tempat ini," ucap Evelyn yang berdiri lebih dulu.


"Dan tidak akan pernah kembali," tambah Vrey.


"Bicara satu kata lagi, dan aku akan menargetkan lehermu!"


Ashley memegang wajahnya dan memandang Elena dengan penuh kebencian.


"Pergi dari sini! Aku tidak menerima kehadiran kalian di pack ini!" amuk Ibu Ashley. Alaric hanya terdiam.


Kenzo yang sudah muak melihat sikap dari keluarga kakaknya segera membawa Elena dan lainnya pergi meninggalkan mansion yang memuakkan itu. Lis yang sudah selesai dengan tugasnya langsung masuk ke saku baju Hotaru. Mereka masuk ke dalam mobilnya Vrey.


Perjalanan yang awalnya tenang berubah menjadi tegang saat banyaknya werewolf yang menyerang mereka. Ketika salah satu dari mereka sudah berada di atas mobil, Vrey menambahkan kecepatannya dan membuat serigala itu terpental.


"Apa-apaan mereka itu?!" Evelyn geram.


"Tch, sekarang kau ingin menyerang saudaramu sendiri, kak?" gumam Kenzo.


Elena bingung harus bagaimana, "Jika aku menggunakan kekuatanku disini, mereka akan tahu identitasku dan itu akan semakin membahayakan Paman Kenzo dan lainnya. Bagaimana ini?"


"Apa ada sesuatu yang bisa kugunakan untuk menyerang mereka?"


"Berikan kotak itu padanya, Ayah," balas Vrey.


Kenzo langsung mengeluarkan kotak yang di maksud olehnya.


"Pakai ini," Kenzo menyerahkan pistol pada Elena dan memberitahunya cara menggunakan benda itu.


Vrey yang mengetahui Elena sudah siap, segera menekan tombol untuk membuka atap mobil. Tanpa basa-basi, Elena langsung naik ke atas dan melihat segerombolan serigala yang ingin mencegah kepergian mereka.


"Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak mengusik keluarga Paman Kenzo?" tanya Elena dengan dingin.


"Target kami bukan mereka. Melainkan dirimu!"


"Ahh, ternyata begitu..."


Dia memainkan kedua pistolnya dengan senyuman yang mematikan.


"Sepertinya aku harus memberi mereka hidangan pembuka ya..."


Dor dor dor


Suara peluru dan goncangan mobil membuat Lis gemetar.


"Tidak akan terjadi apapun padanya kan?"

__ADS_1


"Dia adalah orang yang hebat. Jangan khawatir," jawab Hotaru dengan ekspresi rumit.


"Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu?" tanya Kenzo yang tidak bisa diam saja saat Elena menghadapi sekumpulan serigala.


"Kita hanya akan menghambatnya, sayang."


Saat mereka sedang mengkhawatirkannya, Elena menikmati senjata barunya sambil senyum psikopat.


Dor dor dor


"Hm, sayang sekali ini tidak bisa membunuh mereka."


Wajah Elena berubah masam, "Sial. Pelurunya habis," gerutunya.


Para serigala yang sadar musuhnya tidak bisa memakai senjatanya lagi segera menyerang Elena secara bersamaan disaat mereka sedang terluka.


Mata Elena berkilat, "Kalian tahu apa kesalahan yang paling fatal?" Dia mengeluarkan belatinya.


SLASH


"Meremehkan seseorang yang terlihat lemah dan menyerang orang yang dia lindungi." Dia menatap tajam ke sekumpulan serigala yang sudah mati.


Mereka yang masih di dalam mobil segera turun dan menghampirinya.


SRAK SRAK


Elena mendengar suara dari semak belukar yang tidak jauh darinya.


"Ada apa?"


"Tolong urus mayat itu." Dia langsung melesat cepat ke arah hutan.


Warrior yang masih tersisa segera melarikan diri ketika kehadiran mereka diketahui oleh gadis itu.


"Mau kabur, ya?" Elena menyeringai tipis. Dia melapisi belatinya dengan petir dan melemparnya ke arah mereka.


"AARGHHHH!"


"Hm, tidak heran pemimpin kalian lemah. Kekuatan prajuritnya saja seperti ini. Ckckckck, benar-benar membuatku kecewa," ucap Elena sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kau benar-benar....manusia?


"Menurut kalian bagaimana?"


"Ka-kau..."


"Semoga di kehidupan selanjutnya kalian memiliki tuan yang baik," Dia memandang tubuh beberapa warrior yang sudah menjadi abu dan menghilang dalam sekejap.


Kemudian, Elena kembali menemui mereka yang telah menunggunya.


Dia melihat Hotaru yang memegang sabitnya, "Kau apakan mayat mereka?"


"Aku hanya menebasnya dan seketika tubuh mereka menghilang," jawab Hotaru polos.


"Hebat sekali," puji Lis.


Elena tersenyum tipis ketika Kenzo dan Evelyn tercengang melihat kemampuannya.


"Sudah selesai?" tanya Vrey.


"Tentu saja."


"Kalau begitu, aku akan membawa kalian ke markasku."


"Vrey, jangan ajari mereka yang aneh-aneh," omel Evelyn.


"Memangnya apa?" tanya Hotaru.


"Mafia," jawab Vrey singkat.


Kenzo memijat keningnya yang berdenyut, "Kau ingin membawa mereka ke tempat pembunuhan?"


"Jangan seperti itu, ayah. Kami hanya membunuh orang yang memang pantas dibunuh."


Mata Elena berbinar cerah, "Ternyata ada tempat seperti itu ya."


Vrey tersenyum melihat adik barunya antusias, "Baiklah, akan ku tunjukkan padamu," Elena membalas dengan anggukan penuh semangat.


Kenzo dan Evelyn hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keinginan Elena mengenai tempat yang mereka kenal sebagai markas pembunuhan.


"Hm, mafia itu seperti organisasi terlarang kah?" tanya Lis yang masih bingung.


"Kurasa bukan," jawab Hotaru.


"Terus apa dong?"


"Cari tau saja sana."


"Hey! Bagaimana caranya aku tau kalau aku sendiri tidak pernah mendengarnya?!!"

__ADS_1


Perdebatan mereka berdua pun dimulai untuk kesekian kalinya. Elena dan lainnya tertawa ketika Hotaru berhasil membuat Lis cemberut. Canda tawa mereka seolah melupakan hal menegangkan yang barusan terjadi.


__ADS_2