Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Pertanda


__ADS_3

Beberapa waktu setelahnya, terdengar berita tentang Raja Franz dan Pangeran Archie yang tubuhnya membusuk dan juga gosip yang aneh seperti Ayah dan Anak yang sudah tidak normal. Terutama dengan para gadis. Selena yang mendengar berita itu tersenyum tipis.


"Itulah akibat telah menyinggung kami!" batinnya.


Karena merasa bosan, dia pergi ke pasar kota untuk berjalan-jalan. Dia menutupi wajahnya dengan cadar supaya tidak dikenali oleh mereka. Saat sedang menikmati keramaian, dia mendengar suara gaduh dari kejauhan. Dan ternyata, ada beberapa orang pemuda yang sedang mengancam seorang nenek.


"Heh, tua bangka! Serahkan uangmu pada kami jika kau ingin masuk kesana!"


"Nak, nenek tidak punya uang. Barang nenek belum laku."


"Cuih, dasar sampah! Aku tidak percaya kau tidak punya uang sepeserpun!"


"Kalian, geledah dia!"


Selena yang merasa muak melemparkan beberapa kerikil ke arah mereka.


"Arghhh! Siapa yang berani menyerang kami?!"


"Aku." jawab Selena dengan tatapan dingin.


"Bocah sial*n! Apa kau tidak tahu siapa kami?!"


"Lepaskan nenek itu." ucap Selena.


"Kau cari mati, ya?!


"Bos, daripada membunuhnya, lebih baik kita jual saja dia. Walaupun tertutup cadar, aura kecantikannya tetap terlihat. Pasti mahal." bisik anak buah dari kelompok itu.


"Hem, benar juga."


Nenek yang mereka sandera memberitahunya, "Nak, cepat pergi dari sini! Mereka ingin menculikmu!"


"Jangan khawatir, Nek. Mereka tidak akan bisa melukaiku."


"Serang dia!" teriak mereka.


Pertarunganpun di mulai. Mereka menyerang Selena secara bersamaan. Selena berhasil menghindarinya dan menyerang balik dengan membuat belati dari elemen api. Dengan amarah yang meluap, mereka mengubah wujud menjadi serigala. Takut nenek itu akan terluka, Selena menjauh dari tempat mereka. Mereka mengejarnya karena berpikir dia takut.


"Hahahaha, nak. Menyerahlah. Serahkan dirimu pada kami. Kami tidak akan kasar padamu." bujuk bos mereka dengan nada menyebalkan.


Selena menyeringai, "Hm, ingin membawaku?"


Selena menancapkan kedua belatinya ke tanah.


"Api hitam tingkat awal!"


Api yang awalnya berwarna kuning, berubah menjadi hitam dan meledak dari dalam tanah. Ledakan itu membuat mereka meraung kesakitan karena rasa terbakar. Dalam waktu yang sebentar, merekapun berubah menjadi abu. Kemudian, dia melihat satu-satunya benda yang tidak terbakar keluar dari abu mereka. Benda itu berbentuk seperti talisman dengan gambar tiga bulan sabit hitam.



Saat dia sedang kebingungan, nenek itu menghampirinya, "Nak, kau tidak apa-apa?"


"Ah, Saya baik-baik saja, nek. Anda sendiri bagaimana? Apakah ada yang luka?" jawab Selena sambil menyimpan benda itu secara diam-diam.


"Tidak apa-apa, aku—ugh..." rintih sang nenek menahan sakit karena kelaparan.


"Tunggu sebentar ya, Nek."


Selena segera ke pasar untuk membeli beberapa makanan juga minuman dan kembali dengan cepat. Nenek itu menerimanya dan langsung makan dengan lahap. Selena yang melihatnya hanya tersenyum dan menunggunya selesai makan.


Tidak lama kemudian, makanan itupun habis dan sang nenek menatapnya dengan terharu.


"Terima kasih banyak, Nak. Kau sudah menolong dan memberikan makanan pada nenek. Bagaimana aku bisa membalasmu?"


"Tidak perlu, Nek. Sudah kewajibanku untuk membantu mereka yang kesulitan."


"Nak, aku hanya punya benda antik yang ada dalam karung ini, pilihlah sesukamu."


"Tapi, nek..."


"Pilihlah. Dengan begitu, nenek tua ini akan tenang."


"Ehm, baiklah, Nek."


Kemudian, nenek itu mengeluarkan semua barang yang ada dalam karungnya. Ada 1 hal yang menarik perhatiannya, yaitu cincin yang terlihat lusuh.


"Nek, aku ambil ini ya." ucapnya sambil memegang cincinnya.


Sang nenek tertegun, karena dia tau sesuatu tentang cincin itu.


"Nak, coba kau teteskan darahmu pada cincin itu."


Selena melakukan apa yang di katakan olehnya. Tiba-tiba, cincin itu bersinar dan kembali ke warna aslinya. Mereka, terutama si nenek terkejut dan menatap Selena dengan rumit.



"Nak, siapa kau sebenarnya? " batinnya.


"Nek, kenapa cincin ini bisa berubah?" tanya Selena bingung.


"Aku juga tidak tahu. Cobalah kau pakai cincin itu.


Dengan rasa bingung, Selena memakainya. Saat terpasang, cincin itu menyesuaikan ukurannya dengan jarinya yang kecil. Lalu dia melihat begitu banyak hal yang ada di dalamnya. Selena segera memfokuskan dirinya untuk kembali ke dunia nyata.


"Apa yang kau lihat, nak?"


"Saya lihat ada banyak hal dan saya merasa...seperti tempat penyimpanan."

__ADS_1


"Benar, yang kau pakai adalah cincin ruang."


"Cincin ruang? Saya tidak pernah mendengarnya."


"Itu sudah lama sekali, nak. Bahkan sebelum tempat ini ada."


"Lalu bagaimana nenek bisa tahu?"


"Aku menemukannya bersamaan dengan sebuah surat yang menyuruhku untuk menyimpannya."


Selena memandang cincin yang di jarinya dengan perasaan kalut. "Saya tidak pantas menerima barang seberharga ini, Nek."


"Terima saja. Lagipula, cincin itu sudah bertemu dengan tuannya."


"Tuannya?"


Nenek itu hanya tersenyum membuat Selena tidak berkata apapun lagi. Dia memandang langit yang ternyata sudah hampir gelap.


"Maaf, Nek. Saya harus segera kembali. Tapi, uhm...apa nenek butuh bantuan saya?"


"Tidak, sayang. Aku bisa membawanya."


Selena menyerahkan sekantung koin padanya, "Nek, pakailah uang ini untuk membeli makanan atau kebutuhan nenek."


"Terima kasih, Nak."


"Saya pamit dulu, Nek."


Sang nenek menatap kepergian Selena dengan tatapan yang sendu, "Nak, kau adalah orang yang baik. Tapi sayang, aku melihat bahwa kau akan kehilangan orang yang kau sayangi. Aku harap kau baik-baik saja, Nak."


#Istana Kerajaan#


"Kakak!" teriak Elina sambil memeluk Selena.


"Lily?!"


"Huwaa, kakak kemana saja? Aku mencarimu setelah kelasku selesai, tapi aku tidak bisa menemukanmu dimanapun." tangis Elina.


"Maaf, Lily. Aku hanya merasa bosan dan pergi keluar. Tau-tau sudah gelap."


"Kakak bodoh! Lain kali, kabari aku dulu."


"Iya, aku janji."


"Huh, awas saja kalau tidak."


"Kita harus kembali, atau Ibu akan semakin panik."


"Benar sekali." ucap Luna yang menghampiri mereka.


"Huft, Kau ini. Kenapa tidak pernah memberitahu Ibu jika kau ingin keluar? Membuatku khawatir saja." ucap Luna yang mengeluh karena melihat Selena yang tidak pernah gagal membuatnya jantungan.


"Ibu tau kan, kalau aku mudah bosan...jadi..."


Luna menghela nafas berat. Sifat anaknya yang satu ini benar-benar mirip dengan ayahnya. Suka menghilang secara tiba-tiba tanpa kabar.


"Yasudah, bersihkan dirimu dan temuilah ayahmu."


Selena mengernyit, "Ayah mencariku?"


"Benar, kak. Tadi ayah berpesan jika kau sudah pulang, kau diminta untuk menemuinya."


"Oh begitu. Baiklah."


Saat Selena sudah mendekat ke ruang kerja ayahnya, dia mendengar suara keributan lagi.


Dia memutuskan untuk bersembunyi supaya tidak menarik perhatian. Lalu, ada 2 orang pria yang keluar dengan baju serba hitam. Setelah merasa aman, Selena keluar dari tempatnya dan menghampiri sang Ayah.


"Ayah..."


BRAK


Sean menatapnya dengan tajam, "Apa saja yang tadi kau lakukan?"


"Aku hanya jalan-jalan, dan membunuh beberapa pria yang ingin menyakiti seorang nenek. Apa ayah marah padaku tentang itu?" Selena menatap ayahnya dengan tatapan yang tidak kalah tajam.


"Mereka sedang melakukan pencarian seorang gadis yang berambut putih di seluruh kerajaan. Apa kau tau seberapa cemasnya aku saat mereka bertanya tentang itu?!"


"Apa ada hubungannya dengan ini?" tanya Selena sambil menunjukkan talisman yang dia bawa.


Sean gemetar saat melihat simbol itu, "Darimana kau dapat benda ini?"


"Aku menemukannya setelah mengubah mereka menjadi abu. Jadi...."


"Keluar..." lirih Sean.


"Ayah?"


"Pergilah dari ruanganku!" bentak Sean.


"Baik, aku akan pergi!"


Selena berlari keluar ruangan tanpa menghiraukan Ibunya yang terus memanggilnya. Luna tau kalau suaminya bukan pria yang baik, tapi dia tidak pernah kasar padanya ataupun anak-anak. Dengan perasaan kalut, Luna masuk ke ruangannya.


"Sean, ada apa ini? Kenapa kau membentaknya?" tanya Luna.


"Kenapa...kenapa harus dia!?" teriak Sean dengan frustasi.

__ADS_1


"Sean..."


"Apa kau tau tentang ramalan bahwa 'dia' akan bangkit?" tanya Sean dengan tatapan sendu.


"A-apa? Bukankah dia sudah—"


"Aku tau. Tapi itulah yang kudengar. Dan lagi, isi ramalan itu menyebutkan bahwa yang bisa memusnahkannya dengan sempurna adalah seorang gadis berambut perak dengan simbol Yin dan Yang."


"Lalu apa hubungannya dengan Selena?"


"Dia menemukan ini." ucap Sean sambil memperlihatkan simbol itu.


"Ini...tidak mungkin..."


"Ini hanya kebetulan, kan?" tanya Luna balik.


"Apa kau ingat dengan penculikan yang terjadi tidak lama setelah mereka lahir?"


Luna mengangguk.


Cerita ini berlangsung tujuh tahun yang lalu. Beberapa jam setelah kelahiran Selena dan Elina, ada sebuah fenomena yaitu bulan purnama yang disertai dengan aura kematian yang pekat.


Luna yang kelelahan setelah melahirkan dua putri kembar harus banyak istirahat. Sean memerintahkan prajuritnya untuk memperketat keamanan di sekitar kamar mereka.


Sayangnya, dia mendapat kabar bahwa ada beberapa orang berjubah hitam yang menyerang sang ratu dan anak-anaknya. Khawatir akan terjadi sesuatu pada mereka, Sean mendobrak pintu kamarnya.


Betapa terkejutnya dia ketika melihat Selena sedang dalam posisi berdiri dengan cahaya yang menyelimuti seluruh tubuhnya serta simbol bulan sabit yang ada di dahi anaknya.


Sean langsung menangkap Selena ketika dia ingin jatuh seiring cahaya ditubuhnya menghilang. Suara tangisan bayi kecil itu memenuhi kamarnya dan membuat Luna terbangun. Dia kaget kenapa ada banyak mayat di sekitar tempat tidurnya.


Sean menceritakan semuanya yang terjadi pada istrinya. Secara reflek, dia mengambil Selena digendongan sang suami sambil menangis tersedu-sedu. Akhirnya, Sean menenangkan putrinya yang satu lagi yaitu Elina yang juga ikut menangis.


Setelah mengingat kejadian itu, tubuh Luna bergetar hebat ketika dia mengetahui bahwa Bulan adalah simbol Yang dan aura kematian adalah Yin. Dan semuanya berhubungan dengan putri mereka, Selena, yang bisa begitu baik dengan keluarganya serta kejam dan tidak berperasaan ketika menghadapi musuh.


"Tidak heran kenapa kemampuannya jauh melebihi akal sehat. Ternyata...dia..dia... Tidak, sehebat apapun Selena, dia tetaplah gadis kecilku. Dia belum siap untuk menghadapi kenyataan yang kejam ini. Aku harus bagaimana?"


Sementara Luna dan Sean sedang kalut, Selena sedang termenung di kamarnya sambil menatap ke luar jendela.


"Ada apa dengan Ayah? Kenapa saat tamunya sudah pergi, Ayah terlihat begitu panik? Bahkan dia sampai membentakku. Sebenarnya ada apa ini?" batinnya.


"Kakak kenapa? Sejak tadi aku lihat kakak selalu melamun. Apa yang kakak pikirkan?" Elina bingung kenapa kakaknya melamun setelah dipanggil oleh ayah mereka.


"Mungkin aku kelelahan. Tidurlah, Lily." ucap Selena sambil mengelus rambut adiknya.


Elina pun tertidur. Setelahnya, Selena memandang cincin yang baru dia peroleh. Dia membayangkan buku tentang obat-obatan dan mencoba melambaikan tangannya. Dan benar saja, buku itu muncul. Anehnya, dia mengerti kata-kata pada isi buku walaupun tidak pernah melihatnya.


"Sangat menarik. Ternyata di buku ini, ahli obat disebut dengan Alkemis ya."


Selena terus membaca bukunya sampai dia ketiduran. Merasa sang tuan sudah istirahat, cincinnya bersinar dan buku itupun menghilang. Sungguh misterius, bukan?


#DI TEMPAT LAIN#


"Bagaimana penyelidikanmu?"


"Maaf, tuan. Kami kesulitan menemukan gadis yang anda—arghhh!" ucapnya yang terpotong karena di bunuh oleh tuannya.


"Tuan Kuro, Anda tidak perlu menodai tanganmu dengan darahnya yang hina itu."


"Itu adalah kesalahannya. Mencari satu gadis saja tidak bisa. Sungguh memalukan." ucap Kurotsugi, Sang Penguasa Kegelapan.


"Kenapa Anda begitu gigih mencari gadis berambut perak?"


Tanpa menjawab, Kuro menjentikkan jarinya dan muncullah seorang wanita peramal.


"Seperti yang Anda tahu, Tuan Kuro hanya bisa di segel. Dan tidak bisa dimusnahkan secara sempurna. Tapi, beberapa tahun yang lalu, saya mendapat penglihatan bahwa gadis berambut perak inilah satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa terancam. Karena itulah Tuan melakukan pencarian. Untuk membunuhnya." jelas sang peramal.


"Bukan hanya itu, gadis ini mempunyai simbol Bulan dan YinYang pada tubuhnya." lanjutnya.


"Tuan, ijinkan saya untuk membantu Anda mencarinya." ucap pria itu.


"Jangan membuatku kecewa, Kaito."


"Baik, tuan." ucap Kaito.


Kaito menyeringai, "Kita akan bertemu lagi, Kak. Dan juga.....Luna."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sean de Alexander dan Luna Serenity



Marie



Kazuto



Kaito



Kurotsugi, Penguasa Kegelapan


__ADS_1


__ADS_2