
Setelah memastikan kerajaan itu rata dengan tanah, mereka kembali ke Corleon Pack. Para warrior yang melihat langsung membawa mereka masuk. Beberapa di antaranya segera membawa Alaric ke kamar dan memanggil dokter.
Salah satu warrior membawa mereka untuk menemui Kenzo di ruangannya.
Tok tok tok
"Masuklah."
Elena membuka pintunya, "Paman, kami kembali." Dia masuk bersama Hotaru.
Kenzo menatap mereka cemas, "Apa kalian terluka?"
Elena tersenyum kecil, "Kami baik-baik saja, Paman. Yang lebih penting, bagaimana keadaan Alpha Alaric?"
"Berkat bantuan kalian, dia masih bisa di selamatkan. Hanya butuh istirahat selama beberapa waktu," jawab Kenzo.
"Kami masih punya satu kejutan lagi," balas Hotaru.
Kenzo mengerutkan dahinya, "Apa itu?"
"Masuklah, Bibi," ucap Elena sambil menoleh ke arah pintu. Evelyn masuk dengan jubah yang masih dia kenakan.
Kenzo gemetar saat mencium wangi khas dari wanita itu. Kemudian, dia menatap Elena, "Mungkinkah..."
Evelyn tertawa kecil, "Ini aku, sayang," Dia membuka jubahnya dengan senyuman lembut di wajah cantiknya.
Kenzo memeluk permata hatinya dengan begitu erat, "Eve...," gumamnya.
Evelyn membalas pelukan yang sudah lama tidak dia rasakan, "Aku kembali, suamiku..."
Suasana haru memenuhi ruangan disaat pasangan suami-istri itu melepaskan kerinduan mereka setelah tidak bertemu selama bertahun-tahun. Elena dan Hotaru yang tersenyum melihat mereka memutuskan untuk keluar dan memberikan waktu bagi pasangan tersebut. Salah satu maid mengantar mereka menuju kamar yang sebelumnya ditempati.
Elena menatap hujan yang turun melalui jendela dengan tatapan kosong. Dia tidak menyangka, tujuan awal membalas dendam pada vampir yang mau menjajah suatu ras berakhir dengan pertemuan para penyihir yang merupakan bagian dari musuh besarnya.
Dia mengepalkan tangannya dengan kuat sampai mengeluarkan darah, "Pria itu!" gumamnya dengan penuh amarah.
Hotaru yang baru selesai mandi menghampirinya dengan perlahan, "Elena..."
Dia langsung mengubah ekspresinya, "Ah, sudah selesai? Ayo kita tidur," Lalu menarik Hotaru menuju kasur mereka.
Saat Elena sudah tertidur, Hotaru memegang tangannya yang terluka dan mengobatinya secara perlahan. Setelah itu, dia membelai wajah Elena yang tertidur pulas.
"Istirahatlah, adikku. Aku akan selalu bersamamu kemanapun kau pergi," Hotaru mengecup keningnya dan dia pun tidur sambil memeluk gadis yang sudah di anggap sebagai keluarganya.
Di pagi harinya, Elena terbangun dan melihat tangannya yang sudah diberi obat. Kemudian, dia melepaskan pelukan Hotaru secara perlahan dengan senyum lembut yang terlukis di wajahnya.
Dia berjalan tanpa tujuan sampai tiba di suatu tempat dimana banyak pepohonan mati dengan suasana yang cukup mencekam.
Ntah kenapa, Elena merasakan ada sesuatu yang menariknya ke tempat ini. Kemudian, dia duduk dan memainkan serulingnya.
Suara seruling yang terdengar lembut membuat salah satu peri yang tinggal di tempat dia berada mendekatinya.
Dentingan dari peri itu membuat permainannya berhenti.
"Maaf, aku mengganggu, ya?" tanya Elena dengan raut wajah sesal.
"Tidak kok, suara serulingmu indah. Jadi, kami penasaran dan—Ah! Kenapa kalian bersembunyi di sana? Cepat keluar!" celoteh peri mungil.
Elena menatap para peri yang muncul di balik batang pohon yang tidak jauh darinya. Wajah mereka memerah karena ketahuan mengintip.
"Ini...untukmu..." salah satu peri memberikan bunga untuk Elena.
"Terima kasih," balasnya dengan senyum lembut.
"Maukah kau memainkannya lagi untuk kami?"
"Tentu saja," Elena memainkan serulingnya dengan nada yang lebih menenangkan dari sebelumnya.
Tanpa dia sadari, alunan serulingnya membuat hutan di sekitarnya menjadi indah. Perubahan itu membuat ras peri yang lain keluar dan menghampiri sumber suara.
Setelah selesai, Elena terkejut melihat keadaan sekitarnya yang sudah berubah drastis.
"Apa aku yang melakukannya?"
"Menurutmu siapa lagi?"
"Nak...." Peri itu tersentak dan menoleh kebelakang.
"I-ibu Ratu?"
Elena segera membungkukkan badannya, "Maafkan saya karena sudah lancang, Yang Mulia."
Sang Ratu Peri menggelengkan kepalanya, "Tidak. Justru aku ingin berterima kasih kepadamu karena sudah mengembalikan tempat ini seperti semula."
"Maksud anda?"
Ratu Peri mengalihkan pandangannya ke sekitar mereka, "Hutan ini adalah sumber kehidupan para peri. Perang yang terjadi beberapa ratus tahun lalu membuat tempat ini menjadi suatu kutukan yang merenggut nyawa rakyatku dan membuat kami terpuruk dalam waktu yang lama. Oleh karenanya, aku sangat berterimakasih padamu karena sudah menyelamatkan kami dari krisis ini," jawabnya dengan tatapan penuh rasa syukur.
"Bagaimana mungkin? Saya bukanlah Elf yang bisa mengendalikan hutan," Elena tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Masih banyak hal di dunia ini yang menjadi misteri. Begitu juga dirimu. Karena itu, janganlah berfokus pada lain dan ambillah keputusan sesuai hatimu," nasihat Sang Ratu sambul tersenyum lembut.
Elena mengangguk dan tersentak karena melupakan satu hal, "Saya harus kembali. Mereka pasti mencariku."
"Tidak perlu, tempat ini tidak jauh dari Corleon Pack. Aku sudah menyuruh salah satu anakku untuk memberitahu mereka. Jadi, jangan khawatir."
"Tapi..."
__ADS_1
"Hey, mainkan lagumu lagi ya," Para peri menatapnya dengan wajah mereka yang imut.
Elena tersenyum kikuk melihat mereka, "Baiklah."
Benar saja, semua orang di Corleon Pack panik karena Elena tidak ditemukan di sekitar mansion. Kenzo memerintahkan mereka untuk berpencar dan mencari di sekitar perbatasan. Saat Hotaru dan lainnya pergi ke area yang berbeda, seorang peri muncul dan menghampiri mereka.
"Apa kalian mencari gadis berambut putih?"
Evelyn mengangguk, "Benar. Bisakah kau memberitahu kami dimana dia berada?"
Dentingan riang terdengar darinya, "Ikut aku."
Peri itu mengarahkan mereka menuju ke dalam hutan. Kenzo menatap sekitar dengan bingung. Karena yang dia tahu, tempat ini cukup gersang dengan pepohonan yang telah mati sejak lama. Hotaru berhenti ketika mendengar suara seruling yang indah.
"Ada apa, Hotaru?" tanya Evelyn.
"Ini...tidak salah lagi!" Dia berlari dengan cepat sampai akhirnya mereka melihat seorang gadis cantik sedang memainkan serulingnya.
"Ah, itu mereka." sahut para peri. Dia menghentikan permainannya dan melihat siapa yang datang.
"Elena!!!!" Hotaru langsung memeluknya dengan erat.
"Bodoh! Kenapa kau pergi keluar begitu saja tanpa mengabariku?! Jika terjadi sesuatu padamu, aku...aku..."
Dia memegang pundak Hotaru yang gemetar, "Maaf, aku hanya ingin berjalan-jalan."
"Setidaknya beritahu aku dulu..."
Kenzo menyentil dahi Elena, "Gadis nakal, kau membuat kami panik karena mencarimu."
Evelyn menarik kuping suaminya, "Beraninya kau menyakiti gadisku yang imut!"
"Hentikan, sayang. Telingaku bisa lepas..."
Kenzo meringis saat Evelyn melotot tajam kepadanya.
Seorang pemuda yang ikut bersama mereka mengusap kening gadis itu yang memerah, "Pasti sakit, ya. Maafkan ayahku yang bodoh itu."
Dia memberikan jaketnya pada Elena, "Pakailah ini."
"Uhm, terima kasih, kak..."
"Siapa yang kau sebut bodoh, hah? Anak durhaka!"
Evelyn tersenyum devil pada Kenzo, "Diam atau kusuruh kau tidur diluar?" Dia mematung mendengar ancaman istrinya.
"Lama tidak bertemu, Kenzo. Kau sudah sebesar ini ya."
Kenzo berdehem, "Maafkan saya karena sempat melupakan anda, Ratu Rose."
Ratu Peri yang bernama Rose tertawa kecil, "Aku menikmati interaksi kalian. Siapa yang menyangka kalau anak laki-laki yang senang bermain disini akan menjadi pria tampan dan sudah berkeluarga," Kenzo menunduk malu saat rahasia kecilnya ketahuan oleh mereka.
"Tidak masalah. Aku mengerti situasinya."
"Aku ingin ikut dengan nona cantik itu. Boleh ya, bu?"
Elena menatap peri yang pertama ditemuinya, "Kau yakin...?" Yang di balas dengan anggukan antusias darinya.
"Bawalah Lis bersamamu, nak."
Elena menatap Ratu Rose dengan ragu, "Apa tidak masalah?"
"Jangan melihat sesuatu dari luar, sayangku. Dia lebih kuat dari yang terlihat."
Lis mendengus, "Hm! Jangan meremehkanku. Aku pasti bisa melewati segala bahaya yang akan kuhadapi!" jawabnya dengan percaya diri.
Hotaru tertawa kecil, "Pastikan kau tidak gepeng karena terinjak," ejeknya.
"Yakkk!! Aku ini peri! Bukan serangga!!!"
Mereka tertawa melihat Liz yang merengut kesal karena di samakan dengan hewan itu.
Ratu Rose menatap Elena, "Kemarilah, sayang."
Elena segera mendekat padanya. Pandangan Sang Ratu berpindah pada kalung sapphire yang di kenakan oleh gadis itu. Dia merapal mantra tanpa suara dan muncul setitik cahaya pada kalungnya.
"Semoga ini bisa membantumu, Elena, gadis yang memberikan kehidupan baru bagi kami dan penyelamat Pohon Yggdrasil." batinnya.
"Ratu, ini..."
"Aku memberikan sebagian kekuatanku padamu. Itu akan membantumu mengatasi beberapa hal."
"Terima kasih, Ratu." ucap Elena sambil menunduk.
Ratu Rose tersenyum, "Itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan jasamu, sayang."
"Kalau begitu, saya pamit dulu." balas Elena.
Saat dia, Lis dan Hotaru pergi lebih dulu, Ratu Rose memanggil Kenzo dan keluarganya.
"Tolong jaga gadis itu..."
Mereka saling memandang dan tersenyum, "Kami akan melindunginya tanpa arahan dari siapapun dan menyayanginya seperti keluarga."
Ratu Rose memasang wajah serius yang membuat Kenzo menoleh ke anaknya, "Vrey, pergilah dulu bersama mereka. Kami akan menyusul," ucapnya.
"Baik, ayah."
Di tempat lain, Elena dan lainnya sedang menuju ke Corleon Pack.
__ADS_1
"Maaf, aku belum memperkenalkan diri kepadamu."
Lis tertawa kecil, "Tidak masalah, Elena. Aku sudah tahu nama kalian dari Pohon Dunia."
"Apa itu?" tanya Hotaru.
Lis menoleh ke sekitar, "Sebutan lainnya adalah Yggdrasil. Pohon legendaris yang mengetahui segala rahasia yang ada di dunia ini dan menjadi penghubung antar makhluk immortal,"
"Ini adalah rahasia yang hanya diketahui Ibu dan aku. Jadi, jangan sampai ada yang tahu ya. Bisa gawat loh," bisiknya setelah memastikan tidak ada siapapun selain mereka.
"Jangan khawatir, kami bukanlah orang yang bisa membocorkan sesuatu dengan mudah," jawab Elena. Hotaru juga mengiyakannya.
Kemudian, Lis menatap Elena dengan rasa ingin tahu yang besar, "Sebenarnya kau itu apa? Aku merasakan ada beberapa kekuatan di dalam dirimu yang sulit kutebak."
"Aku hanya manusia hybrid kok, memangnya kenapa?"
Lis terperangah mendengar jawabannya, "Bahkan ras Elf tidak akan bisa memulihkan Yggdrasil yang hampir mati!" batinnya menggebu-gebu.
"Hey, kecil. Rasa ingin tahu yang berlebihan bisa membunuhmu, kau tau?"
Lis menatap Hotaru dengan jengkel, "Aku sudah terbiasa dalam situasi hidup dan mati. Lalu, aku punya nama. Dasar bocah!"
"Apa kau bilang?!"
Elena menghela nafas, "Sudahlah, kalian berdua. Telingaku bisa pecah gara-gara perdebatan kalian."
Lis dan Hotaru saling membuang muka, "Huh!" Elena sweatdrop melihatnya.
Akhirnya, Vrey berhasil mengejar mereka bertiga, "Hey, kalian!"
Hotaru langsung berpindah ke belakang Elena, "Tuan Vrey," ucapnya pelan.
"Kakak ini...anak Bibi Eve dan Paman Kenzo?" tanya Elena.
Vrey mengangguk, "Tentu saja. Maaf, aku tidak sempat memperkenalkan diri karena temanmu langsung panik ketika kau di kabarkan menghilang."
"Maaf, tuan..." lirih Hotaru.
"Sudah kubilang tidak perlu seformal itu. Panggil saja kakak," ucap Vrey sambil mengelus kepala Hotaru
"Tidak!" Dia langsung menghempaskan tangannya.
Vrey tertegun sejenak. Elena tersenyum tipis, "Tolong maklumi dia, Kak Vrey. Ada sesuatu tentangnya yang belum bisa kuceritakan."
"Aku hanya terlalu senang saat Ayah bilang bahwa dia akan menjadi kalian sebagai anak angkatnya. Maafkan aku..."
"Paman Kenzo yang mengatakan itu?" tanya Elena yang di balas anggukan olehnya.
"Hm, ternyata begitu..." Dia mengubah warna rambutnya kembali menjadi hitam.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Vrey bingung.
Elena tersenyum tipis, "Hanya mau saja." jawabnya singkat.
"Aku belum bisa mempercayai siapapun di pack selain keluarga kalian," batinnya.
Kemudian, Kenzo dan Evelyn sudah menghampiri mereka dengan senyuman di wajahnya.
"Kenapa paman dan bibi lama sekali?"
"Kami hanya membicarakan beberapa hal dengan Ratu Rose," jawab Evelyn dengan senyuman yang dipaksakan.
"Ayo, anak-anak. Kita harus kembali ke pack."
Lis menjawab dengan semangat, "Kita berlomba. Siapa yang kalah dia harus menuruti permintaan si pemenang!" Dia langsung terbang cepat.
"Tunggu dulu. Dasar curang!!!" Mereka mengejarnya kecuali pasangan itu.
Air mata Evelyn luruh saat melihat Elena tertawa lepas seolah tanpa beban, "Aku masih belum bisa menerima kenyataan yang kita dengar dari Ratu Rose."
Kenzo merangkulnya, "Kita akan melakukan apapun yang untuk melindunginya. Setelah itu, serahkan semuanya pada takdir seperti kata Ratu Rose."
Setelah Vrey pergi...
"Apa akan terjadi sesuatu, Yang Mulia?"
Ratu Rose mengangguk, "Segala sesuatu pasti akan terjadi walaupun kita tidak tahu kapan waktunya."
Kenzo mengeryit, "Maksud anda?"
"Menurut penglihatanku, dia ditakdirkan untuk menghadapi seseorang yang selama ini membuat kerusakan di setiap dunia."
Evelyn menggigit bibirnya, "Bagaimana bisa gadis muda sepertinya harus menghadapi takdir seperti itu?"
Kenzo memeluk istrinya yang gemetar, "Apa yang akan terjadi pada Elena setelah dia berhasil mengalahkannya?"
Ratu Rose memasang wajah sendu, "Hanya itu yang kuketahui. Kita hanya bisa pasrah pada takdir yang menuntunnya."
****Kembali ke sekarang****...
Evelyn menghapus sisa air matanya, "Kau benar. Kita tidak boleh menyerah begitu saja."
Saat kembali ke pack, mereka melihat Hotaru yang sedang kesal pada Lis.
"Hahahaa, aku menang!"
"ITU KARENA KAU TERBANG. DASAR PENDEK!"
"BERANINYA KAU BILANG BEGITU?!"
"KAU KIRA AKU TAKUT?!"
__ADS_1
Elena tersenyum dengan aura hitam di sekitarnya, "Kalian. Hentikan sekarang juga!" Mereka langsung terdiam karena merinding. Vrey memijat keningnya yang berdenyut karena tingkah absurd kedua makhluk itu.
"Aku merasa lebih mudah menyingkirkan sekumpulan bajingan daripada melerai bocah-bocah ini..." batinnya yang merana.