Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Saat Elena membuka matanya, alisnya berkedut karena dia ada di hutan lagi. Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki dan segera bersembunyi. Dia mengintip dan ternyata ada dua pemuda desa yang sedang berjaga.


"Hey, bagaimana kelanjutan ritual itu?"


"Aku dengar gadis pembawa sial itu yang akan di korbankan."


"Sayang sekali, padahal dia cukup cantik walau usianya masih anak-anak."


"Hahaha, kalau soal itu sih kau ahlinya."


"Ritual pengorbanan? Apa maksudnya?" batin Elena.


Dia mengeluarkan jubah hitam juga topeng untuk menutupi identitasnya dan menghampiri mereka.


"Permisi, para tuan," sapanya.


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Saya sedang butuh tempat untuk bermalam. Apakah tuan sekalian bisa membantu saya?" tanya Elena.


"Oh, tentu saja. Tentang pembayarannya..."


Elena mengeluarkan berlian seukuran tangan anak bayi, "Apa segini cukup?"


Mereka memandangnya seperti melihat harta, "Tentu saja, tuan muda yang terhormat. Mari ikut dengan kami." sahut pemuda satunya.


Karena tamu mereka begitu royal, mereka pun berbicara panjang lebar tentang desa mereka dan Elena hanya menjawab dengan singkat.


"Tuan, apa anda sudah dengar tentang ritual bulan hitam?"


"Tidak, bisakah kau menjelaskannya?" tanya Elena balik.


"Ritual bulan hitam adalah sebuah ritual dimana kita bisa memanggil seseorang yang hebat yang berasal dari masa lalu. Kepala desa menggunakan ritual ini untuk menjadikannya sebagai penjaga desa kami. Kebanyakan korbannya adalah gadis yang miskin dan tidak punya keluarga. Ritual ini di adakan saat bulan baru dimana tidak ada satupun cahaya pada bulan. Konon, katanya dia akan mematuhi perintah si pemanggil saat menemukan tumbal yang tepat," jelas teman dari pemuda itu.


"Oh? Kali ini siapa korbannya?" tanya Elena.


"Karena anda adalah tamu istimewa, jadi kami akan memberitahumu. Korban kali ini adalah seorang gadis yang terkenal pembawa sial di desa kami. Dia adalah anak seorang mantan profesor gila yang terbunuh saat eksperimen. Ibunya di lecehkan kemudian mati secara mengenaskan. Nama anak itu Hotaru. Rambut hitam dan matanya berwarna biru tua dengan gradasi pink."


Dibalik topengnya, Elena mengeraskan rahangnya saat mendengar penjelasan mereka. Mereka pun sampai di penginapan terbesar di desa itu.


"Tuan, kita sudah sampai."


"Tempat yang cukup mewah." kata Elena.


Salah satu dari mereka pergi untuk melapor pada pemilik penginapan. Tiba-tiba, ada seorang gadis yang tidak sengaja menabrak mereka.


"Ah! Ma-maafkan saya, tu-tuan," ucap gadis itu ketakutan.


Pemuda itu menatapnya dengan hina, "Bodoh! Beraninya kau menabrak kami!"


"M-maaf tuan," balas gadis itu sambil menunduk.


"Pergi sana! Jangan buat sial di depan tamuku!"


Elena memandang kepergian gadis itu dengan rumit, "Jadi dia yang mereka maksud," batinnya.


Kemudian, mereka masuk ke dalam untuk bertemu pemiliknya.


"Tuan, saya kembali."


"Hm, jadi kau yang di maksud oleh mereka," ucap sang pemilik.


"Kalian pergilah, aku ingin bicara dengannya," lanjutnya.


"Baik, tuan!" Mereka yang tadi mengantar Elena pergi meninggalkan tempat itu.


"Selamat datang di penginapan kami yang sederhana, Tuan. Sungguh suatu kehormatan karena tempat ini bisa di datangi oleh anda," sambut si pemilik dengan nada menjilat.


"Hm, terima kasih." balas Elena datar.


"Saya dengar tuan ingin menginap disini. Berapa lama?"


"Sampai waktu yang tidak dapat di tentukan," jawab Elena.


"Ah, maafkan saya, tapi berlian yang anda berikan itu sepertinya kurang," kata si pemilik sambil menyeringai.


Elena mengeluarkan emas batangan yang kecil namun cukup berat, "Saya akan memberikan ini. Dengan syarat, jangan menghalangi apapun yang saya lakukan selama disini," katanya.


Sang pemilik setuju kemudian mengambil emas itu dengan mata yang berbinar membuat Elena menyeringai.


"Ternyata orang yang serakah selalu ada dimanapun, ya? Kalau begitu, semua hal akan jadi lebih mudah," batin Elena.


"Kalian! Siapkan makanan dan minuman yang terbaik untuk tamu kecil kita!" teriak si pemilik.


"Baik, tuan," sahut orang yang di luar.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian, para pelayan masuk untuk menghidangkan makanan. Di antara mereka, ada seorang gadis cantik dengan pakaian yang mencolok. Elena yang melihat tatapan menggoda dari gadis itu seketika merinding. Kemudian, para pelayan itu pergi setelah menyelesaikan tugasnya.


"Tuan, ini adalah putri saya. Ayo, nak. Perkenalkan dirimu."


"Nama saya Hina. Boleh saya tau siapa nama anda?" tanya Hina dengan malu-malu.


Elena menatap gadis itu dengan datar, "Alex," singkatnya.


"Sungguh suatu kehormatan bagi saya, Tuan Alex." sambut Hina dengan senyum menawan.


"Hahaha, putriku ini sungguh pintar! Tidak ada siapapun yang bisa menolak pesonanya," gelak si pemilik dalam batinnya.


Hina mendekati Elena atau Alex dengan seenaknya. Kemudian menuangkan minuman untuknya.


"Silahkan, Tuan."


Elena menatap minuman di depannya dengan tajam, "Wah! Mereka berani juga ya! Baiklah, ku ikuti permainan kalian," batinnya sambil menyeringai tipis.


Elena membuka sedikit topengnya dan segera meminum air itu. Sepasang ayah dan anak yang melihatnya tersenyum penuh arti.


"Hina, antarkan Tuan Alex ke kamarnya,"


"Baik, ayah. Mari, saya antar."


Dia pun hanya mengangguk.


Mereka pun pergi ke kamar yang sudah di sediakan. Setelah mengantarnya, Hina pergi karena dia ada urusan lain. Elena yang melihat kepergiannya menyeringai kejam dan melepaskan sedikit topengnya.


Kemudian, dia menusukkan jarum ke arah lehernya dan mengeluarkan minuman yang sudah dia tahan serta memindahkannya ke botol giok kecil.


Saat mendengar suara langkah kaki, Elena segera mengatur rencananya. Benar saja, Hina masuk dengan pakaian yang sangat tipis. Hina melihat tamunya yang tertidur tanpa mengganti pakaiannya.


"Hehehe, jika saya ditemukan tidur bersama anda, para warga pasti akan menghujat anda. Dengan begitu, anda akan di paksa untuk menikahi saya. Setelahnya, aku akan mendapatkan suami yang kaya raya. Sungguh rencana yang bagus," ucap Hina sambil tertawa kecil.


Saat dia mendekat, Elena keluar dari kegelapan dan memukul tengkuknya hingga pingsan.


"Heh, sungguh tidak tau malu. Baiklah, lanjut ke rencana berikutnya."


Elena mengeluarkan botol giok sebelumnya dan menuangkan isinya ke dalam mulut Hina. Kemudian, dia mengambil jubahnya yang di atas kasur dan segera membawa Hina ke tempat lain.


Elena meletakkan Hina di sebuah gubuk kosong dekat penginapannya. Tiba-tiba, dia mendengar suara pemuda yang telah mengantarnya ke desa. Seringai gadis kecil itu semakin menakutkan. Di saat pemuda itu mendekat ke arah gubuk, Elena memukulnya dari belakang. Kemudian, dia membawanya ke dalam.


Elena mengeluarkan pil dan memasukkannya ke dalam mulut pemuda itu, "Hehe, bersiaplah untuk pertunjukkan besok," ucapnya dengan senyum sinis. Lalu, dia kembali ke penginapannya.


Keesokan harinya, Hina dikabarkan menghilang. Setiap kamar di geledah oleh pelayan penginapan dan si pemilik juga ikut mencari. Sampai ketika Elena mendengar pintunya di ketuk, dia yang sudah bersiap segera membukanya.


"Maaf sudah mengganggu, tuan muda. Saya sedang mencari putri saya yang hilang. Ijinkan saya untuk memeriksa kamar anda," jawab si pemilik.


"Silahkan masuk," balas Elena.


Mereka pun menggeledah kamarnya tapi tidak menemukan apa yang mereka cari.


Si pemilik bingung, "Bagaimana mungkin? Seharusnya dia ada disini! Kemana dia?!" batinnya merasa marah.


"Bagaimana, tuan? Apa anda sudah menemukannya?" tanya Elena.


"A-ah, maaf. Sepertinya belum." jawab pemilik dengan gugup.


"Apa yang sedang anda cari?"


"Putri saya menghilang. Saya tidak tau dia dimana."


Elena menyeringai tipis di balik topengnya, "Biarkan saya membantu anda."


"Terima kasih banyak, tuan."


Mereka pun pergi keluar penginapan bersama dengan para pelayan. Saat sedang mencari, tiba-tiba mereka mendengar salah satu warga sedang berlari ke arah mereka.


"Tuan! Tuan!"


"Tenanglah, ada apa?" tanya si pemilik.


"Saya melihat Nona Hina di sebuah gubuk...huff, dengan seorang pria!"


"Apa?! Tunjukkan jalannya!"


Mereka menuju ke gubuk yang di maksud oleh warga itu. Kehebohan mereka menarik perhatian warga sekitar dan mengikuti mereka.


"Bangun Hina!"


Karena suasana yang berisik, pasangan itupun terbangun, "Uuh, ayah? Apa yang—KYAAA!" Hina terkejut melihat dirinya tanpa busana dengan seorang pemuda.


"Ian! Apa yang kau lakukan padaku?!" tanya Hina marah sambil menutup bagian depannya.


"Apa maksudmu? Kemarin aku mendapat tugas berjaga dan..." ucapan Ian terpotong dan memegang kepalanya.

__ADS_1


"Dan apa, hah? Kau menyentuh putriku?!" bentak Ayah Hina.


"Maaf, tuan. Saya tidak mengingat apapun," sesal Ian.


Ayah Hina memukulnya berkali-kali, "Brengs*k! Beraninya kau menodai putriku!"


Tiba-tiba, kepala desa pun masuk. Dia menatap sekitarnya dengan bingung.


Elena menatapnya tajam, "Jadi dia, tua bangka yang memulai ritual terlarang itu!" batinnya.


"Ada yang ingin menjelaskan?" tanya kepala desa.


Elena tersenyum sinis dibalik topengnya, "Nona Hina dinodai oleh seorang pria."


"Oh, ternyata begitu. Sungguh memalukan." Kepala desa itu manggut-manggut.


"Maafkan saya karena anda harus melihat hal seperti ini, Tuan. Saya akan segera mengurusnya," ucap Ayah Hina.


Hina menangis melihat ayahnya marah, "Ayah..."


Kemudian, dia di tampar oleh ayahnya, "Jal*ng! Kau membuatku malu!" bentaknya.


Tubuh Hina bergetar karena rasa sakit dan malu. Lalu, dia melihat sosok yang harusnya bersamanya.


"Tuan Alex, kenapa anda melakukan ini pada saya?"


"Apa yang kau bicarakan, Nona?" tanya Elena tenang.


"Saya tertarik pada anda dan ini balasan anda untuk saya?" tanya Hina dengan sedihnya.


"Saya tidak mengerti apa yang anda maksud. Bagaimana mungkin saya yang masih dibawah umur ini tertarik pada anda? Saya akan ditertawakan oleh dunia." balas Elena.


"Ka-kau..."


"Beraninya kau mencoba menodai nama baik tamuku!"


"Ta-tapi, kan ayah juga..."


Ayah Hina menamparnya lagi, "Diam!"


Hina menangis tersedu-sedu, sedangkan Ian hanya bisa menunduk.


Ayah Hina menatap mereka nyalang, "Mulai saat ini, status Hina sebagai anakku akan di cabut! Dia dan Ian harus pergi dari desa ini!"


"Ayah!" seru Hina.


"Saya setuju. Mereka harus angkat kaki hari ini juga," balas Kepala desa.


"Tuan, saya mohon jangan usir kami!" ucap Ian.


"Semuanya, tinggalkan tempat memalukan ini sekarang!" perintah kepala desa.


Semuanya kembali pada kegiatan masing-masing.


"Tuan pemilik," panggil kepala desa.


"Ada apa anda memanggil saya?"


"Siapa tuan bertopeng yang di sebelah anda?" tanya kepala desa sambil menunjuk Elena.


"Dia adalah tamu kehormatan kami. Harap anda bisa memakluminya. Dia datang kesini karena dia adalah pengembara yang tidak memiliki tempat tinggal," jelas si pemilik.


"Dia tidak tahu tentang itu, kan?"


"Apa yang anda maksud, kepala desa?" Elena memiringkan kepalanya pura-pura tidak tahu.


"Ah, maafkan saya. Saya sudah berburuk sangka pada anda."


"Kalau begitu, kami permisi," pamit si pemilik.


Kemudian, Elena di antar kembali ke kamarnya.


"Terima kasih karena telah membantu saya. Maafkan saya karena anda harus melihat sesuatu yang tidak pantas," sesal si pemilik.


"Sial, seharusnya saat ini dia lah yang bersama putriku! Kenapa jadi orang lain?! Bikin malu saja!" batinnya.


Elena yang melihat tingkahnya hanya mengangguk, "Tidak masalah, tuan. Sekarang saya ingin istirahat."


"Silahkan, tuan. saya undur diri."


Setelah si pemilik penginapan pergi, Elena menutup jendela dan membuat pembatas di sekelilingnya.


Dia membuka topengnya dan menampilkan senyum sinis yang menghiasi wajah kecilnya.


"Hari ini benar-benar jackpot! Terima kasih atas pertunjukan yang kalian buat."

__ADS_1


...---------------...


__ADS_2