
Para warga menghentikan pencariannya disaat ritual sudah dekat. Kepala desa terpaksa mengganti tumbalnya dengan gadis lain. Mereka mempersiapkan segalanya untuk ritual itu sampai waktunya tiba. Elena membuat dirinya tidak terlihat dan menatap ritual itu berlangsung.
Kepala desa merapalkan sebuah mantra dan berkata, "Tuan, datanglah pada kami yang rendah ini," ucapnya saling bersujud bersamaan dengan yang lainnya.
Keluarlah asap hitam pekat yang memunculkan sosok pria yang berwujud setengah ular.
"Bangunlah!"
"Terima kasih, tuan." balas mereka.
"Apa kau sudah menyiapkannya?"
"Tentu saja, tuan. Kau, bawa dia kemari." perintah kepala desa sambil menunjuk salah satu warganya.
Kemudian, mereka membawa seorang gadis yang sempat membuat heboh. Elena terkejut saat melihatnya. Benar, Hina di jadikan tumbal karena sudah membuat malu desanya.
Wajah pria itu mengerut marah, "Dimana gadis yang ku lihat sebelumnya?"
Kepala desa ketakutan, "Ma-maafkan saya tu-tuan, gadis itu menghilang. Kami belum menemukannya," jawabnya terbata-bata.
Pria siluman itu mengeluarkan aura membunuh, "Aku tidak mau tau! Cepat cari dia!"
"Ta-tapi..."
Elena membuat pembatas dan memunculkan dirinya, "Oh? Apa yang sedang kulihat?"
"Ka-kau, tuan bertopeng?" tanya kepala desa.
"Tuan, kenapa anda baru muncul?" tanya ayah Hina.
Elena menatap si pemilik penginapan dengan tajam, "Apa maksudmu? Aku hanyalah orang luar. Jadi aku tidak perlu bergabung, bukan?" tanyanya balik.
"Beraninya kau tidak menghormati aturan desa ini! Segera minta maaf pada tuan kami!" bentak kepala desa.
"Hahahaha, sungguh menarik! Aturan? Maksudmu aku harus bersujud pada pria buruk rupa itu? Yang benar saja," Elena tertawa sinis.
Pria itu menatap tajam, "Jangan berkata yang tidak-tidak, nak."
"Heh...atas dasar apa? Aku hanya mengatakan fakta." ucap Elena.
Dia menatap pria itu dingin, "Aku heran, kenapa kau hanya menerima gadis yang masih suci? Apa kau orang mesum?" tanyanya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah kepala desa.
"Alasannya karena dia akan melakukan ritual dengan para gadis itu, dasar bocah tidak sopan!" jawab kepala desa dengan frontal.
"Ohh? Begitukah? Lalu, apa tujuan kalian memanggilnya?" tanya Elena dengan seringai tipis dibalik topeng.
"Supaya tuan bisa memberikan saya kekuatan yang tidak tertandingi. Dengan begitu, tidak ada yang bisa mengalahkan saya dan bisa menguasai apapun yang saya mau! Hahahaha," jawab kepala desa.
"Sial, kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku. Apa yang sedang terjadi?!" batinnya.
Pria itu menatapnya dengan tajam karena membocorkan rahasia mereka. Seluruh warga terkejut dengan fakta yang mereka dengar.
"Ke-kepala desa..."
"Kenapa anda tega melakukannya?"
"Kembalikan mereka!"
"Hahahaha, kenapa? Mereka bukan anak kalian kan? Kenapa kalian harus marah?" tanya kepala desa.
Para warga segera mengutuk kepala desa dengan sumpah serapah. Elena bertepuk tangan dan kepala desa pun pingsan.
"Sudah cukup. Terima kasih atas pengakuanmu."
"Kau! Apa yang sudah kau lakukan?!" bentak pria siluman itu.
"Jawab pertanyaanku dulu. Kenapa kau mengincar gadis sebelumnya?" tanya Elena dengan tajam.
Pria itu tersenyum sinis, "Dia mempunyai aura gelap yang cukup besar. Jika aku berhasil melakukan ritual dan menyerapnya, kekuatanku akan semakin kuat!"
"Kalau begitu, aku tidak akan membiarkanmu," kata Elena.
Pria itu memanggil pasukan ularnya dengan jumlah yang banyak. Elena menghabisi mereka dengan pedang apinya. Merasa dia akan kalah, dia menyemburkan racun dan berhasil di hindari oleh Elena. Para warga yang melihatnya pun segera lari ketakutan tapi sayangnya mereka terjebak dan terkena serangan pria itu.
"Ayolah, apa tidak ada yang lebih hebat lagi?" tanya Elena dengan meledek.
"Arghh! Sialan!"
__ADS_1
Pria itu memfokuskan matanya ke arahnya. Elena merasa tubuhnya mengeras.
"Ini...mata mistik?"
"Hahaha, bagaimana? Sekarang kau tidak bisa bergerak kan?" tanya pria ular dengan tatapan rendah.
Dia mengeluarkan cakarnya bersiap merobek tubuh Elena, "Matilah!!!"
Elena menyeringai tipis dan mengeluarkan aura elemen angin yang membuat pria siluman itu tidak bisa mendekat.
"Hembusan angin tingkat awal!"
Tubuhnya yang membatu kembali seperti semula. Angin yang berhembus kuat membuat topengnya terlepas menampilkan wajah imut khas gadis kecil.
"Dia perempuan?" tanya para warga yang tersisa.
"Mustahil." lanjut mereka.
"Ah, ketauan deh," ucap Elena dengan cuek.
"Hahahaha, akhirnya aku mendapatkan sebuah harta!" gelak pria itu.
"Kalau begitu, aku akan serius!" lanjutnya.
Pria itu mengubah wujudnya menjadi ular yang sangat besar dan membuka mulutnya dengan lebar mencoba menggertak Elena.
Kemudian, dia mengeluarkan bola api yang cukup besar dan menyerang gadis kecil yang menatapnya dingin. Elena berhasil menghindarinya dan melayang ke hadapan ular itu.
Elena menatap sebagian desa yang hancur karena serangan ular itu.
"Hahaha, bagaimana? Aku hebat, bukan? Apa kau ingin menjadi pengikutku?" tanya si ular.
Elena menghela nafas kasar, "Otakmu terbentur ya? Aku tidak sudi menjadi pengikutmu," jawabnya.
"Kau akan merasakan akibatnya karena telah menolak tawaranku!" teriak si ular dengan marah.
Siluman itu mengeluarkan raungannya. Elena menatap awan yang semakin gelap dan keluarlah meteor api yang cukup banyak.
Elena mengeluarkan kedua pedangnya. Elemen petir berwarna biru meluap di seluruh tubuhnya. Kemudian, dia melesat dan menebas meteor itu dengan cepat. Pecahan meteor yang sudah berubah menjadi batu biasa jatuh ke rumah penduduk biasa.
Elena menatap mereka yang berteriak kesakitan dengan dingin. Hal itu membuat pria siluman itu bingung.
"Kematian mereka tidak sebanding dengan penderitaannya, " jawab Elena.
"Siapa yang kau maksud?" tanya pria itu.
Elena tersenyum simpul, "Menurutmu?"
Ular itu berpikir sejenak, "Mungkinkah yang dimaksudnya adalah gadis yang menjadi calon korbanku?"
"Kau...kenal dengannya? Dimana gadis itu?!"
Senyuman Elena melebar, namun matanya semakin dingin, "Aku sangat mengenalnya dan maaf saja, aku tidak akan memberitahumu."
"Jal*ng! Serahkan gadis itu padaku!"
Saat ular itu menyerang, Elena mengalirkan elemen petir dan api pada kedua pedangnya. Kemudian, dia memotong tubuh ular itu menjadi beberapa bagian.
"Arghhh!" jerit si ular.
Wujudnya berubah menjadi manusia dengan wajahnya yang penuh dengan sisik ular.
"Gadis...sial*n! Berani...nya...kau.."
"Siapapun yang ingin melukai orangku, harus mati!" desis Elena.
"Aku tidak boleh mati disini!" batin si ular.
Siluman itu mengeluarkan siulan yang sangat nyaring membuat Elena secara reflek mundur menutup telinganya.
Elena tersentak saat dia merasakan beberapa aura kuat yang sedang mendekat.
"Sial!" Dia segera membakar kepala ular yang menjengkelkan itu. Setelahnya dia pun terbang dan melihat sepasang suami-istri yang membawa banyak prajurit. Elena merasakan aura penguasa yang kuat dari pria itu.
"Aneh, tadi aku merasakan kehadirannya. Tiba-tiba menghilang," kata si gadis.
"Kakak, boleh aku bertanya?" tanya Elena dengan wajah polos.
__ADS_1
"Silahkan, dik."
"Apa kalian juga siluman yang dipanggil melalui ritual itu?"
"Benar, kenapa kau—"
Kemudian, mereka melihat Elena dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan pada temanku?" tanya si pemuda.
"Hm, aku hanya membawanya ke neraka kok. Kenapa? Apa kakak ingin bertemu dengannya?" tanya Elena balik.
"Beraninya kau membunuh kakakku!" teriak si gadis.
"Oh, ternyata itu kakakmu, ya? Tenang saja, kak. Tidak lama lagi kalian akan segera bertemu dengannya," jawab Elena smirk.
"Jangan sombong kau, bocah!"
Mereka mengerahkan serangan kombinasi air dan petir kemudian menyerang Elena. Dia berhasil menghindarinya tapi ada satu serangan yang siap menghantamnya.
"Perisai Angin!"
Saat Elena mencoba menahan dua serangan itu, keluarlah elemen api yang berasal dari pemuda itu.
"A-apa? Bagaimana—arghh!"
Perisainya rusak dan Elena pun terkena serangan mereka.
"Anak ini cukup kuat. Dia akan menjadi ancaman untuk kami. Tidak ada pilihan lain," batin mereka.
"Sihir pengikat roh!"
Tubuh Elena pun di rantai oleh sihir itu. Saat sihirnya aktif, Elena merasakan sesuatu yang menyiksa dalam dirinya.
"Arghhhhh!!!!"
"Elena!" teriak Liu dalam pikirannya
"Kak...Liu...Kumohon, bantu aku membuka segelku," ucap Elena terbata-bata.
"Jangan bodoh! Tubuhmu belum pulih total! Kau tidak akan bisa menahannya!"
"Aku tidak bisa mati disini, kak. Tidak sebelum tujuanku tercapai!"
Liu terdiam sejenak dan menghela nafas berat, "Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi ingat, jangan menggunakannya terlalu lama."
Koneksi mereka terputus dan Liu berusaha menghancurkan segel yang dibuat oleh Luna, ibu dari Elena. Dia terpaksa melakukannya karena situasi yang tidak mendukung.
Para siluman itu terkejut melihat tubuh Elena yang bersinar. Elena membuka matanya dan menghancurkan sihir yang mereka buat.
"Bagaimana mungkin dia bisa lolos?"
"Mustahil! Itu adalah serangan terkuat kita, suamiku. Bagaimana ini?"
Rambut Elena yang awalnya hitam-putih berubah menjadi sepenuhnya putih dan bersinar. Hanya matanya yang tidak berubah.
"Kau...siapa kau sebenarnya?"
"Apa kau benar-benar manusia?"
Elena menatap dingin, "Aku tidak punya waktu untuk mengobrol dengan kalian. Aku akan segera mengakhiri ini dengan cepat."
Sepasang siluman itu mengeluarkan serangan mereka.
"Halilintar pemusnah!"
"Serangan api tingkat menengah!"
Elena mengangkat kedua pedangnya dan menebas mereka dengan sekejap.
Awalnya tidak terjadi apapun. Mereka bingung karena serangan Elena tidak berguna. Tiba-tiba saja serangan mereka berbalik arah dan ada beberapa elemen di sekitar serangan itu. Akhirnya mereka pun mati bersama dengan pasukannya.
"Huff, akhirnya selesai..." Elena terjatuh tidak sadarkan diri.
Muncullah seseorang yang berhasil menangkapnya. Liu lah yang menyelamatkan Elena. Sebenarnya sedari tadi dia ingin keluar untuk membantunya. Tapi, dia tahu kalau Elena tidak suka di ganggu.
"Gadis bodoh, inilah akibatnya jika kau memaksakan diri," ucap Liu dengan sendu.
__ADS_1
Liu mencium kening Elena, "Benar-benar gadis yang keras kepala. Kau berhasil membuatku cemas setelah sekian lama, Arthemis Selena de Alexander.
Kemudian, mereka menghilang meninggalkan desa yang sudah hancur dan membuat suasana menjadi mencekam.