
Sebelum melanjutkan perjalanan, Elena memberikan beberapa barang untuk Hotaru.
"Apa ini?"
"Ini kalung ruang dari Kak Liu. Mungkin tidak sebanding dengan cincinku, tapi dia sudah meletakkan semua hal yang akan kau butuhkan. Lalu, ini jubah hitam yang di buat olehnya dan hm...topeng grim reaper? Seleranya makin aneh aja."
"Apa tidak masalah jika aku menerimanya?" tanya Hotaru.
"Kenapa harus masalah? Kau itu temanku. Jadi, santai saja. Ya?" Elena memasang wajah memelas.
"A-ah, hm...baiklah." jawab Hotaru dengan senyum kikuk.
Mereka mengenakan jubahnya masing-masing. Saat mereka hendak keluar dari hutan, mereka di cegat oleh beberapa pria berjubah hitam.
"Siapa kalian?"
"Hanya pengembara biasa," jawab Elena.
"Disini adalah wilayah para werewolf! Manusia seperti kalian tidak pantas menginjakkan kaki disini!"
Elena menyeringai, "Heh, werewolf? Lalu kenapa bau kalian seperti vampir? Aktingmu sungguh konyol, paman!" balasnya sambil menatap mereka dengan menghina.
"Jangan mencoba menggertak kami, bocah!"
"Sudah ketahuan tapi masih mengelak? Menggelikan." ejek Elena.
Dia mengeluarkan elemen anginnya yang membuat jubah mereka terbuka. Seringai Elena melebar saat melihat penampilan mereka.
"Menjijikan sekali. Mengaku werewolf tapi kenapa air liur kalian keluar saat mencium bau darah kami, hm? Apa setelah keluar dari sini, kalian akan memangsa kami?"
"Kau....!"
Mereka menyerang Elena dan Hotaru secara bersamaan dengan cakar mereka yang tajam. Hotaru mengeluarkan sabitnya dan Elena menggunakan elemen angin. Tidak butuh waktu yang lama, para makhluk penghisap darah itu berhasil di kalahkan.
Kemudian, Elena melemparkan beberapa belatinya ke arah pasukan vampir itu dan mereka pun mati ditempat.
Hotaru mengernyit bingung, "Kenapa mayatnya tidak menghilang?"
"Ada sesuatu yang membuatku penasaran, jadi aku menggunakan racun untuk membunuh mereka."
"Oh, pantas saja."
Elena mendekati salah satu dari korban dan membuka matanya. Kemudian dia mencoba membaca ingatan dari vampir itu.
Beberapa saat kemudian...
"Ternyata begitu," kata Elena yang sudah selesai melihat ingatannya.
"Apa yang kau lihat?"
"Jika aku tidak salah, mereka akan segera kesini."
Hotaru memiringkan kepalanya, "Mereka? Maksudnya?" batinnya.
Elena membakar mayat para vampir itu. Kemudian, mereka melihat beberapa warrior yang mendekat ke arahnya.
"Permisi, tuan. Apakah kalian melihat para vampir yang disini?" tanya salah satu dari warrior.
"Mereka sudah mati, paman." jawab Elena.
"Suara anak perempuan?" batin pria itu.
"Apa anda...yang membunuh mereka?"
"Tentu saja. Ini buktinya." Elena menyerahkan lambang kerajaan yang dia ambil dari vampir itu.
"Silahkan ikut dengan kami."
Elena dan Hotaru di bawa oleh para warrior ke mansion yang cukup besar. Disana, mereka melihat seorang pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Tuan Kenzo."
"Aku menyuruhmu untuk melihat sumber keributan yang kudengar. Kenapa kau membawa orang lain kesini?"
"Maaf, tuan. Tapi merekalah penyebabnya."
"Maksudmu?" tanya Kenzo yang tidak mengerti maksudnya.
__ADS_1
Elena membuka tudungnya, "Aku yang membunuh vampir itu, paman."
Kenzo menatap gadis kecil itu dengan horor, "Kau...serius?"
"Buktinya ada pada mereka." jawab Elena.
"Kalau begitu, selamat datang di Corleon Pack, Nona."
"Jangan memanggilku seperti itu. Namaku Elena. Yang berjubah hitam ini temanku, Hotaru."
"Silahkan ikut aku."
Mereka bertiga pergi ke ruang kerjanya, sedangkan para warrior kembali melanjutkan tugasnya masing-masing.
"Baiklah, kita bisa mulai pembicaraannya." kata Kenzo.
"Kenapa vampir yang di perbatasan mengaku sebagai werewolf?" tanya Elena.
"Mereka adalah makhluk yang sedang menjajah pack ini."
"Maksud anda?" tanya Hotaru.
"Kurasa ada hubungannya dengan ini," jawab Elena.
Elena mengeluarkan kristal berwarna biru. Sebelum para warrior datang, Elena memindahkan apa yang dia dengar ke dalam kristal.
"Silahkan dengarkan rekaman ini, paman."
Hotaru menatap Elena, "Kenapa kau mengeluarkannya? Bagaimana kalau dia mengincarmu?" mindlinknya.
"Itu hanya suara, bukan penglihatan. Jadi jangan khawatir." jawab Elena.
"Darimana kau mendapatkannya?" tanya Kenzo.
Elena tersenyum simpul, "Tentu saja dari mereka."
Kemudian, mereka fokus mendengarkan apa yang di rekam pada kristal itu.
"Tuan Alaric, lebih baik anda menurut pada keinginan tuan putri. Bukankah bagus jika bangsa kalian bergabung dengan kami?"
Seorang pria yang mendekam di penjara hanya menatap si vampir dengan tajam, "Kami para werewolf hanya ditakdirkan untuk bersama dengan mate kami! Bukannya kalian mempunyai prinsip yang sama? Seharusnya putri kalian juga punya pasangan. Kenapa tidak menikah dengannya saja?"
"Katakan padanya, aku sudah berkeluarga. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menduakan istriku!"
"Cih, tidak sadar diri! Mendekamlah disini selamanya, Hahahaha!"
Kenzo yang mendengarnya langsung kehilangan keseimbangannya karena shock.
"Paman?!" teriak mereka.
Mereka membawa Kenzo yang lemas ke sofa ruangan itu. Setelah beberapa saat, Kenzo pun tenang.
"Maaf, kalian harus melihatku seperti ini."
"Siapa orang yang dipenjara itu?" tanya Elena.
"Dia...kakakku."
Hotaru sedikit iba dengan kondisinya, "Bisakah anda ceritakan penyebabnya?"
"Semua ini berawal dari beberapa bulan yang lalu. Saat kakakku, Alaric mengadakan rapat perdamaian karena kami merasa lelah dengan perang yang tidak pernah berhenti. Awalnya semua berjalan mulus, tapi sayangnya putri kerajaan vampir jatuh cinta pada kakakku. Raja vampir pun mengajukan syarat untuk menikahi putrinya, tentu saja dia menolaknya karena dia sudah menikah. Mereka pun pergi."
"Tidak lama setelah kejadian itu, aku diberitahu bahwa dia telah diculik oleh mereka. Aku yang saat itu sedang ada urusan penting, langsung kembali kesini. Sejak itulah, aku membantunya mengurus pack ini sambil mencari cara untuk menyelamatkannya," lanjut Kenzo.
Elena menghela nafas kasar, "Ternyata begitu. Jadi karena putri itu ya, kalian berada di situasi seperti ini?"
Kenzo menunduk lesu, "Benar."
Elena menyeringai tipis. Hotaru sedikit merinding saat melihatnya.
"Aku akan menyelamatkannya," kata Elena.
Kenzo menggelengkan kepalanya, "Aku meragukan kalian. Sebelumnya aku pernah mengirim mata-mata kesana, tapi tidak ada yang kembali." ucapnya dengan lirih
"Kalau begitu, kita harus memakai cara lain."
"Maksudnya?" tanya Hotaru.
__ADS_1
Elena mengedipkan matanya, "Kau akan tahu nanti."
"Beri aku beberapa waktu untuk membuat rencana. Aku akan memberitahu paman saat kami siap."
Kenzo menatap mereka seolah menemukan harapan baru, "Maaf sudah merepotkan kalian."
"Ini tidak gratis loh, paman." balas Elena dengan senyum kecil.
"Aku akan memberikan apapun yang kalian mau." balas Kenzo.
"Apa paman tidak curiga kalau aku akan meminta sesuatu yang tidak masuk akal?" tanya Elena santai.
"Tidak, aku percaya pada kalian."
"Oh? Baiklah, aku akan memintanya setelah ini."
Kemudian, mereka keluar dari ruangan itu. Kenzo memanggil salah satu maid yang lewat.
"Antarkan mereka ke kamar tamu."
"Baik, tuan. Mari, Nona. Akan saya antar."
Setelah mengantar mereka, maid itupun pergi melanjutkan tugasnya. Elena membuat pembatas supaya tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Elena, apa kau serius dengan ucapanmu?"
"Hey, aku tidak bercanda untuk yang seperti ini."
"Kau tau kalau itu sarangnya para vampir. Lalu, kenapa kau..."
Elena tersenyum tipis, "Aku ini punya darah vampir juga, loh. Kau tidak takut padaku?"
"Aku tidak akan takut sekalipun kau ini iblis." jawab Hotaru.
"Begitu ya..." gumam Elena.
"Selain itu, kenapa kau tidak mengajakku?" tanya Hotaru.
"Aku khawatir padamu. Kau adalah manusia dan aku tidak mau kau terluka."
"Aku tidak perduli dengan itu. Jadi, bawa aku bersamamu, ya?"
Elena menghela napas berat, "Baiklah."
"Lalu, apa rencanamu?"
Mereka pun merundingkan rencana untuk menyelamatkan Alpha Corleon Pack. Keesokan harinya, mereka menemui Kenzo di ruangannya.
Tok tok tok
"Paman Kenzo!"
Dia menoleh ke arah mereka, "Ah, ternyata kalian."
"Paman, beritahu aku segala hal yang paman ketahui tentang putri itu."
"Putri Felisya Elvish, salah satu gadis yang katanya paling cantik dan selalu menggunakan gaun dengan warna yang mencolok. Dia selalu baik pada siapapun yang dia temui. Tapi, jangan tertipu dengan penampilannya." jelas Kenzo.
Elena mengangguk, "Baiklah, paman."
"Lalu, apa rencana kalian?"
"Menyusup ke istana mereka." jawab Hotaru singkat.
Kenzo menatap mereka dengan horor, "Kalian ingin menjadi santapan vampir itu? Apa kalian gila?!"
"Kami masih waras, paman. Selain itu, kami bukan orang biasa. Jadi, jangan khawatir." jawab Elena tenang.
Kenzo memijat keningnya yang pusing karena melihat kenekatan mereka, "Baiklah jika kalian memaksa. Kerajaan vampir itu terletak di sebelah barat pack. Aku kembalikan ini pada kalian," katanya sambil memberikan lambang yang Elena temukan.
"Gunakan itu untuk melacak mereka. Disana ada barrier yang kuat untuk mencegah penyusup masuk. Temukan cara supaya kalian bisa menembusnya. Setelah itu... jaga diri kalian." suara Kenzo mengecil di kalimat terakhir.
Elena tersenyum tipis, "Kami akan hati-hati. Setelah kami pergi, segera amankan anggota keluarga kalian dan perketat keamanan disini. Ayo, Hotaru."
"Jaga dirimu, paman." kata Hotaru pelan.
Kenzo tersentak, "Eh?"
__ADS_1
Mereka pun pergi ke kerajaan vampir yang di maksud oleh Kenzo untuk menyelamatkan Alaric, Alpha Corleon Pack.