
Selena pun sampai di tempat yang disebut dengan Bumi. Dia membuka matanya dan memandang ke sekitarnya.
"Ini...hutan?"
Selena menjelajah tempat yang baru dia lihat. Kemudian, dia melihat sebuah sungai yang tidak jauh dari hutan itu.
"Airnya jernih sekali."
Selena memandangi pantulan dirinya, "Rambutku menjadi hitam. Mataku yang awalnya kuning terang juga berubah menjadi biru kekuningan."
Dia mencoba mengeluarkan kekuatannya, tapi gagal.
"Eh? Kenapa ini? Mungkinkah...aku menjadi manusia biasa?"
"Lily, kau ada dimana? Bagaimana caranya aku bisa menemukanmu?"
Selena teringat dengan kejadian sebelumnya dan mengepalkan tangannya, "Pria itu!"
"Kenapa Ayah dan Ibu mengorbankan hidup mereka supaya kami tidak terbunuh oleh pria berbaju hitam itu? Kenapa tatapannya begitu kejam seolah ingin membunuhku dengan menyakitkan? Kenapa dia melakukan semua ini?"
"Saat kekuatanku kembali dan bertemu dengannya, aku akan memberinya pembalasan yang menyakitkan!" tekadnya.
"Hm, sebaiknya aku mandi. Seharusnya disini aman."
Setelah selesai, dia merasa bahwa bajunya sudah tidak layak pakai. Jadi dia mencoba untuk mengeluarkan baju seukurannya dan juga buku tentang tempat barunya. Tentu saja dari cincinnya. Dia memandang ke sekitar. Setelah merasa aman, dia melambaikan tangannya dan keluarlah barang yang dia butuhkan. Hal yang membuatnya terkejut adalah, ada 10 buku dengan tebal seukuran panjang tangannya.
"Se-sebanyak ini? Huff, aku harus semangat. Aku tidak boleh membiarkan pengorbanan mereka sia-sia. Aku harus menemukan Lily, Paman Kazuto juga Bibi Marie."
"Cincin ruang ini benar-benar praktis ya. Aku tidak tau apakah aku harus bersyukur atau tidak. Yang pasti, aku harus lebih berhati-hati."
Setelah berpakaian, dia pun mulai membaca buku yang luar biasa tebal itu. Ada buku tentang sejarah dunia, tentang mata uang, pendidikan, dll. Yang menarik dari buku ini adalah, jika ada hal yang tidak dia mengerti, akan muncul jawaban yang dia butuhkan. Tanpa terasa langit sudah gelap dan Selena pun ketiduran. Keesokan harinya, saat dia sedang melanjutkan kegiatan membacanya, dia mendengar suara pertarungan.
Dia memasukkan barang-barangnya ke dalam cincinnya dan bergegas ke sumber suara itu. Ternyata ada sekelompok orang yang sedang bertarung dengan seorang pria.
"Tch, beraninya kalian menyerangku disaat aku sedang lemah!"
"Ikut dengan kami atau kau akan menderita!"
"Aku tidak sudi!
"Serang vampir rendahan ini!"
Tiba-tiba, ada banyak batu kerikil yang menyerang mereka.
"Arghh! Siapa itu?!"
"Aku," jawab Selena yang lompat dari atas pohon.
Mereka menatap Selena, "Gadis kecil, kau manusia, kan? Kenapa kau menyerang kami?"
"Memang kenapa kalau aku manusia? Kenapa kalian menyerang kakak ini?" tanya Selena balik.
"Pria ini adalah vampir! Makhluk penghisap darah! Sebaiknya, kau menjauh darinya atau kau akan di hisap olehnya!"
Selena memandang pria yang mereka sebut dengan Vampir, "Kakak tidak apa-apa?"
"Jangan pedulikan aku."
"Kenapa manusia dan vampir harus saling membunuh? Apa kalian tidak bisa berdamai?" tanya Selena dengan bingung.
Mereka menatapnya dengan aneh, "Nak, selama mereka membahayakan manusia, kami para pemburu akan terus mengejar mereka."
"Aku tidak membunuh manusia! Jangan samakan aku dengan mereka!" marah pria vampir itu.
"Sepertinya di tempat ini punya pandangan yang berbeda antara manusia dengan makhluk lain. Sangat berbeda dengan saat aku masih di Clarity," batin Selena.
"Tidak ada yang bisa di percayai dari seorang vampir. Menyingkirlah, Nak. Atau kami akan menyerangmu juga."
__ADS_1
Selena mengeluarkan pedang yang ada di pinggangnya, "Maaf, aku tidak bisa membiarkan kalian melukainya."
"Cih, serang dia!"
Selena bertarung dengan sekelompok pemburu itu. Awalnya dia hanya menghindar. Sampai saat dia menemukan celah, dia menebas mereka dengan cepat. Setelah Selena menyingkirkan noda darah pada pedangnya, dia menatap pria itu sambil menyarungkan pedang.
"Kenapa kau membantuku? Kau manusia kan?"
"Manusia atau bukan, aku tidak bisa melihat seseorang terluka. Apa kakak bisa berdiri?"
"Sedikit," balas pria itu.
"Tunggu sebentar ya, kak," Selena mengeluarkan beberapa obat yang dia simpan dalam tasnya.
Pria itu mengernyit, "Untuk apa kau mengobatiku? Aku ini vampir. Aku bisa sembuh dengan cepat,"
Selena mengabaikan perkataanya, "Minumlah."
Pria itu menatap botol kecil yang berisi cairan dengan aneh. Dengan berat hati, dia pun meminumnya. Beberapa saat kemudian, luka nya menutup dan dia memuntahkan darah.
"Uhuk-uhuk, apa yang kau berikan padaku?"
"Hanya obat pemulih. Kakak terkena racun. Jadi, racun itu keluar dari muntahan kakak." jelas Selena.
"Racun? Ah, yang waktu itu ya."
"Lucas," gumam pria itu.
"Eh?"
"Namaku Lucas Harrison. Kau?"
Selena terdiam selama beberapa saat, "Elena Serenity. Senang bertemu denganmu, Kak Luke," balasnya dengan senyum tipis.
" Sebaiknya aku mengubah namaku untuk berjaga-jaga jika mereka datang kesini." batinnya.
"Dimana rumahmu?" tanya Luke.
Tiba-tiba, Luke menggendong Elena.
"Waaa—Kau mau bawa aku kemana?"
"Rumah," balas Luke singkat.
"Apa...tidak masalah?"
"Pegangan. Kita akan melesat." Luke mengabaikan pertanyaan Elena.
Elena melingkarkan tangannya ke leher Luke, "I-Iya,"
"Kulitnya dingin seperti vampir pada umumnya, tapi kenapa aku merasa hangat dan nyaman? Seperti pelukan ayah," batin Elena sambil menyandarkan kepalanya.
Luke yang melihat Elena begitu nyaman dengan posisinya, membuat perasaannya menjadi tidak menentu.
"Sial, kenapa dia harum sekali? Jauh lebih harum di bandingkan manusia pada umumnya. Apa yang terjadi denganku?" batinnya.
Berusaha mengalihkan pikirannya, Luke segera melesat menuju rumah tempat dia tinggal. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai.
Luke mengetuk pintu, "Sebentar," sahut orang dari dalam.
Pintu terbuka dan keluarlah dua orang pemuda, "Akhirnya kau kembali kak, dan....siapa anak ini?"
"Dia—"
"Aaaaaakkkk, kau habis culik anak orang ya, kak? Aku tau kau tidak suka dengan wanita, tapi tidak begini juga! Dasar pedophil!" teriak pria yang satunya.
"Darius..." desis Luke pelan.
__ADS_1
Pemuda yang membuka pintu menginjak kaki Darius, "Diamlah, kak! Anak itu sedang tidur!"
Sedangkan yang di injak hanya meringis.
"Stev,"
"Ayo masuk, kak,"
Mereka masuk ke sebuah kamar kosong. Luke membaringkan Elena dengan perlahan ke tempat tidurnya. Dia melihat mereka yang menatap Elena dengan bingung.
"Kau benar-benar tidak menculiknya kan?" tanya Darius lagi.
"Dan juga...hm...wangi sekali,"
"Jangan coba-coba, atau aku akan menyetrummu!"
"Bagaimana kalian bisa bertemu, kak?" tanya Stevan.
"Dia yang menyelamatkanku dari mereka," jawab Luke.
"Mereka? Maksudmu sekelompok manusia sok suci yang menyebut dirinya pemburu itu?" tanya Stevan dengan nada muak.
Luke mengangguk, "Bukan hanya itu, dia juga memberikan obat padaku setelah melawan mereka."
"Pantas saja aku tidak mencium aroma menyebalkan itu," timpal Darius.
Stevan menatap wajah Elena yang polos, "Aku tidak keberatan dia tinggal disini."
"Aku juga. Yah, meskipun aku harus menahan aromanya yang..uhm...lebih wangi dari orang biasa," kata Darius.
"Aku tidak butuh izin kalian," ucap Luke dingin.
"Huft, dasar es batu!" batin mereka.
Stevan berdehem, "Kak, aku akan keluar untuk membeli beberapa kebutuhan juga bahan makanan untuknya."
"Aku ikut ya, Stev," kata Darius.
"Boleh."
"Yes!"
"Dengan syarat, kau tidak boleh menggoda wanita." ucap Stevan.
"Ehhhhh?!" teriak Darius.
"Kenapa kau begitu kejam padaku, Stev?" lanjutnya dengan melankolis.
"Wajahmu tidak cocok dengan sifatmu, bodoh." kata Luke.
"Tapi aku tampan kan?" tanya Darius dengan pedenya.
Stevan memutar mata melihat kakaknya dan segera menyeretnya keluar. Luke menatap kepergian mereka dengan ekspresi datar. Lalu, dia menemani Elena tidur sampai pagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lucas Harrison
Darius Harrison
Stevan Harrison
__ADS_1
Arthemis Selena de Alexander, atau Elena Serenity dalam wujud manusianya.