
Matahari menampakkan sinarnya di sela gorden kamar yang mereka tempati. Elena dan Hotaru mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Liu memperingatkan mereka untuk tidak lengah dan berhati-hati. Setelahnya, dia kembali ke cincin ruang.
Tok tok tok
"Selamat pagi, gadis manis," sapa Felisya ceria.
"Pagi, kak." balas Elena.
"Halo." kata Hotaru.
"Hari ini keluargaku akan sarapan bersama. Kalian mau ikut?" tanya Felisya dengan senyum khasnya.
"Tentu saja, kak." jawab Elena dengan antusias.
"Hehe, ayo kita pergi," ucap Felisya sambil berlari kecil.
Elena dan Hotaru saling menatap, kemudian mereka mengangguk dan menyusul Felisya.
Sesampainya mereka di ruang makan keluarga kerajaan, mereka melihat ada Raja dengan baju kebesarannya, Ratu yang terlihat anggun, dan Pangeran dengan senyum lebarnya. Kemudian, mereka dipersilahkan duduk oleh sang Raja.
"Oh? Jadi ini mereka yang kau ceritakan itu, Feli?" tanya Raja.
"Tentu, Ayah," jawab Felisya.
"Selamat datang di kerajaan kami, nak. Aku sudah mendengar tentang kalian yang tersesat disini. Mohon maafkan anak buahku yang ingin menyerang kalian." ucap Raja.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya berterimakasih padanya yang sudah menyelamatkan kami dari mereka," balas Elena sambil menatap Felisya dengan senyum manis.
"Hahaha, tidak perlu formal, nak. Anggap saja kami ini keluargamu ya?" tanya Raja.
"Uhm, baiklah. Paman," jawab Elena dengan canggung.
Ratu bertepuk tangan sekali, "Baiklah, sudah waktunya makan," ucapnya.
Mereka memulai sarapannya dengan tenang. Tapi, di sela-sela kegiatan itu, Pangeran selalu menatap Elena dengan mata yang berkilat aneh. Hotaru yang melihatnya benar-benar ingin menusuk mata pemuda mesum itu dengan garpu yang di pegangnya. Elena yang menyadarinya segera memberi kode pada Hotaru supaya tenang.
Setelah selesai sarapan, mereka pindah ke aula kerajaan membiarkan para pelayan yang merapikan meja makan.
"Terima kasih atas makanannya," kata Elena.
Ratu tersenyum lembut, "Tidak perlu berterima kasih, sayang. Aku senang kalian makan banyak pada di masa pertumbuhan. Aku harap kalian bisa kembali dengan selamat," suaranya mengecil di kalimat terakhir.
Elena dan Hotaru yang mendengarnya langsung saling menatap, "Apa maksudnya berkata begitu?" batin mereka berdua.
"Siapa namamu, gadis cantik?" tanya pangeran dengan tatapan menggoda pada Elena.
"Aku—"
"Yue dan Liu," jawab Hotaru yang memotong ucapan Elena.
"Nama yang indah, seperti orangnya."
Ratu berdehem, "Tolong jaga kesopananmu di depan tamu kita, Putra Mahkota."
Pangeran membuang mukanya,"Cih, menyebalkan!"
"Uhm, kenapa di aula ini ada banyak pelayan yang berlalu lalang? Apakah ada pesta?" tanya Elena yang menatap para pelayan seperti sedang sibuk mendekor sesuatu.
"Putriku akan segera menikah dengan pria tampan pilihannya. Sayangnya, calon suaminya masih malu-malu. Karena jarak tempat kami dengannya cukup jauh, jadi kami membawanya kesini," jelas Raja.
Felisya menunduk, "Ayah, jangan menggodaku." balasnya dengan wajah yang merona.
Elena menyeringai tipis, "Oh, begitu. Aku jadi penasaran siapa pria yang bisa berdampingan dengan putri secantik dia," ucapnya yang menoleh ke Felisya.
"Hehe, kau bisa melihatnya nanti, Yue," jawab Felisya sambil tertawa canggung.
"Feli, bawa tamu kita untuk berkeliling supaya mereka tidak tersesat selama disini," kata Ratu.
"Aku ikut," ucap Pangeran yang sudah bangun duluan.
"Baiklah, ku izinkan," jawab Raja.
Pangeran mengulurkan tangannya, "Ayo, manis. Kita pergi sekarang." ucapnya dengan senyum menawan ke Elena.
Elena mengabaikannya dan menarik Hotaru, "Kak Feli, cepat ikut kami."
Raja dan Felisya menertawakan si Pangeran yang di tolak oleh gadis kecil. Hanya sang Ratu, yang menatap Elena dan Hotaru dengan khawatir, "Ku harap kalian baik-baik saja, nak."
Setelahnya Felisya membawa mereka berkeliling. Dia menjelaskan semuanya dengan antusias. Elena hanya tersenyum tipis yang tidak sampai ke matanya. Sedangkan Hotaru menahan diri untuk tidak gegabah.
"Kak, apa aku boleh tau siapa pengantin kakak?" tanya Elena.
__ADS_1
"Kenapa kau ingin tahu?" tanya Felisya balik sambil menatapnya curiga.
Elena memasang wajah sedih, "Uh, aku kan ingin tau seberapa tampan pria yang bisa menikahi kakak yang cantik ini. Tidak boleh ya?" Elena menundukkan kepalanya.
"E-eh, tidak kok. Ehem, tentu saja kau boleh," jawab Felisya yang bingung cara menenangkan anak kecil.
"Namanya Alaric. Dia adalah seorang pemimpin yang berkharisma dan menawan. Aku jatuh cinta padanya saat pertemuan kami. Senyumannya begitu lembut saat menatapku. Aku tahu dia pasti menyukaiku, hanya saja dia orangnya pemalu jadi ayah membawanya kesini," jelasnya dengan percaya diri.
"Wah, itu keren sekali, kak," sahut Elena dengan seringai yang sangat tipis.
"Hehe, begitu ya?" tanya Felisha yang merona.
"Tentu sa—" ucapan Elena yang terpotong karena tiba-tiba menghilang.
"Yue?!"
Mereka mencari Elena di sekitar taman itu, tapi sayangnya dia tidak ditemukan. Sedangkan disisi lain, Elena di cegat oleh Pangeran vampir itu.
"Tuan pangeran, apa yang anda lakukan?" tanya Elena datar.
"Aku hanya ingin bertemu dengan gadis kecil yang sudah merebut hatiku. Apa aku salah?" tanya Pangeran balik.
Elena menghela nafas kasar, "Tentu saja, salah. Dari segi sosial maupun keturunan sudah sangat berbeda. Yang lebih penting, saya masih anak-anak, Pangeran," jawabnya dengan dingin.
"Panggil saja aku Ferdian, gadis manis," ucap si pangeran sambil mengelus wajah Elena.
Elena menepis tangannya, "Minggir!"
Ferdian menyeringai, "Bagaimana bisa aku meninggalkan gadis kecil yang menggemaskan sendirian disini, hm?" tanyanya dengan menggoda.
"Saya tinggal di desa terpencil. Jadi saya sudah terbiasa dengan bahaya. Sekarang, pergilah dan jangan ganggu saya!" bentak Elena karena merasa muak dengan tingkah Ferdian.
"Hehe, ini pertama kalinya aku di tolak. Apa sebaiknya aku jadikan kau sebagai budak darahku?" tanya Ferdian sambil menatap Elena dengan lekat.
"Budak darah?" batin Elena.
"Apa maksudmu?"
Seringai Ferdian semakin lebar menampilkan kedua taringnya, "Maksudku adalah...Ini!" jawabnya sambil mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu.
Elena langsung menusukkan jarum perak ke Ferdian yang membuatnya ambruk. Setelahnya, dia membuat beberapa skema supaya tidak ada yang mencurigainya.
"Heh, kau kira aku akan membiarkanmu? Sungguh naif!" bisiknya dengan tatapan dingin.
"Yue! Kau dimana?" teriak Felisya.
"Aku disini kak!" jawab Elena sambil melambaikan tangannya dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
Mereka menghampiri Elena, "Kemana saja kau, Yue? Eh...Kak Ferdi?" tanya Felisha yang bingung saat melihat kakaknya tidak sadarkan diri.
Air mata Elena kembali mengalir, "Tadi ada yang ingin menyerangku. Tiba-tiba, kakak pangeran muncul dan berhasil membunuhnya. Setelah itu, dia langsung pingsan," katanya dengan suara yang tersendat.
Felisya menyentuh nadi kakaknya, "Sepertinya dia terkena racun. Tolong jaga dia. Aku akan memanggil tabib."
Elena mengangguk, "Baik, kak," ucapnya sambil menghapus air matanya.
Setelah Felisya pergi, ekspresi Elena langsung berubah drastis. Hotaru menoleh ke Ferdian yang masih pingsan, "Heh, akhirnya kena juga," bisiknya.
"Jadi, apa yang sudah dia lakukan?" tanya Hotaru dengan menyeringai.
"Menurutmu apa yang di lakukan oleh pria bajing*n sepertinya?" tanya Elena balik dengan pelan.
Hotaru tertawa kecil, "Yah, aku sudah bisa menebaknya. Sayang sekali dia menyinggung orang yang salah," jawabnya.
Kemudian, Felisya muncul membawa tabib serta beberapa orang pengawal bersamanya dan menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"Tolong periksa kakakku, tabib."
Tabib memeriksa kondisi Ferdian, "Pangeran memang terkena racun seperti kata anda. Tapi jangan khawatir, dia masih di selamatkan. Saya akan segera membawa penawarnya," jelasnya. Setelah itu, si tabib pun pergi.
Felisya menoleh ke arah pengawalnya, "Bawa kakakku ke kamarnya. Yue dan Liu, kalian ikut denganku, ya?"
Elena dan Hotaru mengangguk.
Kemudian, Pangeran Ferdian di bawa oleh beberapa pengawal. Putri Felisya terus menenangkan Elena yang terlihat sangat bersalah karena sudah membuat kakaknya terluka. Elena yang mendengar bujukan darinya hanya bisa mengangguk dan menyeringai sangat tipis. Mereka pun sampai di kamar pangeran.
"Ada apa ini?" tanya Raja yang masuk ke kamar. Ratu juga ikut bersamanya.
Felisya menoleh ke ayahnya, "Kakak terkena racun, Ayah."
"Ini...salahku. Karena melindungiku...kakak pangeran terluka," ucap Elena dengan isakan kecil.
__ADS_1
Felisya mengelus rambut Elena, "Ini bukan salahmu, Yue. Tenanglah, dia akan sadar," ucapnya dengan suara yang menenangkan.
"Benar, nak. Jangan menyalahkan dirimu sendiri," balas Raja.
"Uhm..." Elena mengangguk. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya ke Ratu yang menatapnya dengan rumit.
Elena mengangkat satu alisnya, "Ada apa dengan tatapannya?" batin gadis itu.
Kemudian, mereka mengalihkan pandangannya ke arah tabib yang masuk ke kamar.
"Yang Mulia," kata tabib yang menundukkan kepalanya saat melihat Raja dan Ratu.
"Bagaimana kondisinya? Apa dia bisa diselamatkan?" tanya Raja.
"Tentu saja, tuanku. Saya sudah membawa penawar untuk Pangeran Ferdian. Setelah meminumnya, dia harus banyak beristirahat," jawab tabib sambil membawa mangkuk obat.
Raja menatap Elena yang sedang menunduk, "Bagaimana kalau Yue saja yang meminumkan penawarnya?" tanyanya sambil menyeringai.
"Oh, itu ide yang bagus," balas Felisya menyetujui saran ayahnya.
"Saya keberatan. Mereka tidak punya hubungan apapun jadi tidak pantas kalau Nona Yue yang melakukannya," jelas Ratu.
Sepasang ayah dan anak itu menatap Ratu dengan aura permusuhan membuat suasana menjadi tegang. Hotaru tidak mengerti apa yang salah dari ucapan Ratu segera menatap Elena yang hanya mengangguk kecil.
Tabib berdehem, "Biar saya saja, Yang Mulia," ucapnya yang memecahkan suasana.
"Silahkan," ucap Raja.
Setelah memberikan penawar pada Pangeran Ferdian, tabib menyarankan supaya mereka memberikannya waktu untuk istirahat. Kemudian, mereka pun kembali ke tempatnya masing-masing.
Saat ini, Hotaru sedang menatap Elena yang sedang termenung menatap langit yang terlihat di luar istana.
"Kenapa mereka terlihat tidak akur dengan Ratu yang merupakan keluarganya sendiri? Selain itu, kenapa Ratu membantuku? Aku merasa tatapannya tulus seolah dia tidak ingin terjadi sesuatu pada kami. Apa ada sesuatu yang terjadi pada keluarga ini?" batin Elena.
Hotaru menepuk bahu Elena, "Hey, tidak biasanya kau melamun. Ada apa?"
Elena menghela nafas, "Aku hanya sedang memikirkan sikap Ratu yang berbeda dengan mereka."
"Aku juga merasa begitu. Hubungan mereka tidak sederhana seperti yang kita lihat," balas Hotaru yang memikirkan ulang tentang perbedaan sikap keluarga kerajaan vampir itu.
"Kita harus tetap waspada," ucap Elena.
Hotaru mengangguk, "Benar—eh? Burung gagak?" Tiba-tiba, ada seekor burung yang mendekat ke arah mereka
Elena menangkap burung itu. Kemudian, dia melihat ada gulungan kecil di kaki burung gagak. Elena yang membukanya tertegun dengan pesan singkat yang tertulis di surat itu.
"Apa isi suratnya?" tanya Hotaru.
"Dia meminta kita untuk menemuinya di lorong rahasia. Selain itu, dia memberikan peta kecil tentang lokasinya." jawab Elena.
Dia tersentak, "Eh...tempat ini kan...?"
Elena segera membakar surat pertama dan membuka yang lain, "Hm, ternyata begitu."
"Bisakah kau beritahu aku apa isi surat selanjutnya? Aku tidak bisa membaca tulisan yang kecil dan rumit seperti itu," kata Hotaru yang mengeluh karena Elena tidak memberitahunya.
Elena menyeringai lebar, "Hehe, kau akan segera tahu setelah kita menemuinya," jawabnya dengan penuh misteri.
Di sisi lain
Plak Plak
"Kenapa kau berani membantahku?!" bentak Raja
Ratu mengusap pipinya yang memerah, "Dia masih anak-anak! Selain itu, dia hanya manusia biasa!"
"Aku tidak perduli dengan selama anakku tertarik padanya."
"Tapi, tuan. Dia bukan pasangan takdir dari Nona Yue."
"Kalau begitu, aku akan membuatnya menjadi sepertimu. Menjadi budak darah dari Pangeran Ferdian!"
"Jangan, tuan. Saya mohon." Air mata Ratu menetes saat memikirkan apa yang akan terjadi pada gadis kecil itu.
Raja menendangnya, "Diam! Jangan membuatku merobek wajah palsumu!"
Ratu tersenyum miris, "Anda lah yang membuatnya, tuan..." lirihnya.
Kemudian, Raja mencengkram wajah wanita itu, "Dengar baik-baik. Jangan menghalangi segala rencanaku, termasuk apa yang akan terjadi pada teman gadis itu. Jika aku tau kalau kau adalah penyebabnya, aku tidak akan segan untuk menghabisimu!"
Setelah itu, Raja pergi meninggalkan ruangannya dengan amarah yang meluap. Walaupun wanita yang menjadi Ratu itu di ancam, dia tetap yakin dengan keputusannya.
__ADS_1
"Kuharap surat itu sampai padanya tanpa ada yang mengetahuinya. Semoga anda bersedia membantu saya, Nona Yue."