Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Tinggal Bersama


__ADS_3

Keesokan harinya, Elena melihat 2 pemuda asing yang terus menatapnya.


"Anu...Kak Luke, mereka ini siapa?" tanya Elena.


"Mereka—"


"Darius Harison. Pria tampan yang terpopuler," potong Darius.


Luke menatapnya dengan datar. Sedangkan Stevan menggelengkan kepalanya.


"Abaikan dia. Aku Stevan, adik Luke dan si bodoh itu. Siapa namamu, gadis kecil?" tanya Stevan.


"Elena Serenity. Salam kenal ya, Kak Stev dan Kak Darius," jawab Elena.


Stevan mengelus kepala Elena dengan lembut, "Hidupmu pasti sulit ya. Jangan khawatir. Mulai sekarang, kami akan menjadi kakakmu."


"Wahh, Stevan yang terlihat galak ternyata bisa selembut ini, ya," goda Darius.


"Diam kau—Eh, kenapa kau menangis, Elena?" Stevan terkejut melihat Elena yang tiba-tiba menangis.


Elena memegang wajahnya, "Eh? Aku...menangis? Tidak, aku hanya kelilipan kok," ucapnya sambil menghapus air matanya.


Darius ingin memeluknya, tapi ditarik oleh Luke.


"Jangan coba-coba!" ucap Luke dengan nada rendah.


"Ck! Dasar pedophil," gumam Darius. Luke yang mendengar itu langsung mengabaikannya dan memilih untuk menatap Elena.


"Kenapa air mataku...tidak mau berhenti?" gumam Elena.


Luna memeluk Elena, "Menangislah sepuasmu."


"Kak Luke..." lirih Elena.


"Keluarkan saja."


Dia pun menangis sekuatnya di pelukan Luke. Darius dan Stevan menatap Elena dengan sendu.


"Sepertinya kau sudah mengalami sesuatu yang menyakitkan. Jangan khawatir, aku akan menjagamu seperti adikku sendiri," batin Stevan.


"Adik kecilku yang imut, aku akan selalu melindungimu. Tidak akan kubiarkan siapapun termasuk pria hidung belang mendekatimu," batin Darius.


Tiba-tiba, Darius melihat sebuah benang merah di antara Luke dan Elena.


Darius mencoba memfokuskan penglihatannya, "Apa aku salah lihat?"


"Stev, apa kau melihat sesuatu pada mereka?" tanya Darius dengan pelan.


"Tidak. Kenapa, kak?" bisik Stevan.


"Tidak ada apa-apa," jawab Darius.


Benang itupun menghilang dengan sendirinya. Darius menatap Elena dan Luke dengan tatapan bingung.


"Benang apa itu? Kenapa hanya aku yang bisa melihatnya?" batinnya.


"Sudah tenang?" tanya Luke.


Elena mengangguk malu-malu, "Uhm...maaf semuanya."


"Santai saja. Tidak ada yang akan memakanmu kok." ucap Darius.


"Memakanku? Memang enak ya?" tanya Elena bingung.


Stevan menginjak kakinya Darius, "Tidak-tidak, maksudnya kau tidak perlu menutupi perasaannmu pada kami. Ya kan, kak?" tanya Stevan dengan senyuman yang menakutkan.


Darius mengangguk cepat. Stevan melepaskan injakan pada kakinya.


"Gila. Tenaga anak ini memang tidak main-main!" batin Darius sambil meringis.


"Anu...karena kalian adalah adiknya Kak Luke, apa kalian juga vampir?" tanya Elena polos.


"Benar." Stevan mengangguk.


"Tentu saja aku—tunggu, kau panggil dia apa?" tanya Darius sambil menunjuk Lucas.


"Kak Luke. Memang kenapa kak?"


Darius menyeringai, "Kak Luke~"


Luke membanting Darius dengan kuat, "Hanya dia yang boleh memanggilku begitu."


"Eh~ Lalu kenapa Stevan boleh sedangkan aku tidak? Kak Luke sayang~" goda Darius.


Stevan menatap mereka dengan jengah, "Berhentilah, kak. Atau kau akan di lempar olehnya."


"Tidak dong—Uwakkkhh!" ucap Darius yang terpotong karena terlempar keluar.


Elena yang melihatnya tercengang, "Kak Stev, tidak akan terjadi sesuatu padanya kan?"


"Ini bukan apa-apa. Jadi kau tidak perlu terkejut saat melihat yang lebih parah, seperti di setrum," jawab Stevan santai.


"Maksudnya?"


"Kami memiliki kekuatan elemen. Kak Luke, petir. Si bodoh itu angin. Aku, tanah." jelas Stevan.


"Setiap elemen mempunyai warna dan variasi yang berbeda tergantung penggunanya. Kak Luke selalu menyerang Kak Darius dengan petir merahnya saat dia menganggunya"


"Seram juga," kata Elena.


"Benar sekali. Si petir merah itu memang tidak pernah segan padaku," sahut Darius yang masuk ke kamar melalui jendela.


"Itu karena kau bodoh," balas Luke dingin.


"Kau jahat sekali pada adikmu yang tampan ini," kata Darius dengan ekspresi sedih yang di buat-buat.


Luke memutar matanya bosan, Elena tertawa melihat interaksi mereka.


Darius teringat sesuatu, "Elena, apa kau benar-benar bertarung dengan mereka?" tanyanya.


"Uhh, apa maksud kakak beberapa orang yang mencoba melukai Kak Luke?" tebak Selena.


Darius mengangguk, "Aku tidak bermaksud meremehkanmu. Tapi, dengan cara apa kau melawan mereka?"

__ADS_1


"Dengan pedang," jawab Elena polos.


"Kau serius?" Darius ragu dengan ucapan Elena.


"Apa aku terlihat seperti bercanda, kak?" tanya Elena balik.


Luke menatap Darius tajam, "Kau meragukan ucapanku?"


"T-tidak. Aku hanya sedikit ragu mendengar seorang gadis kecil bisa melawan mereka." jawab Darius yang takut melihat kakaknya.


"Itu benar, kak. Aku membunuh mereka semua. Tanpa sisa." kata Elena.


Darius dan Stevan menatap Elena dengan mulut yang terbuka, mencoba mencerna apa yang mereka dengar.


"Seorang anak kecil....bisa membunuh para pemburu itu? Sial sekali mereka bisa bertemu dengan monster berwujud gadis imut ini," batin mereka.


"Kak, kalian kenapa?" tanya Elena bingung.


"Tidak apa-apa," balas mereka bersamaan.


Luke melihat mereka dengan datar, lalu mengangkat bahunya.


"Elena, kau ingin berlatih denganku?" tanya Luke.


"Berlatih apa? Aku kan tidak punya kekuatan seperti kalian."


Luke tersenyum, "Tentu saja pedang."


"Ayo, Kak. Kita pergi sekarang!" seru Elena antusias dan mengambil pedangnya. Lalu, menyeret Luke keluar.


Lagi-lagi, mereka kembali tercengang melihat kakak mereka yang dingin bisa tersenyum pada adik baru mereka.


.


"Kau sudah siap?" tanya Luke.


"Tentu saja, kak." jawab Elena.


"Aku akan jadi wasitnya" sahut Stevan.


"Siap...Mulai!"


Elena dan Luke saling menyerang. Gerakan Luke yang tajam dapat dihindari oleh Elena dengan mudah. Saat Elena menyerang, Luke dapat menangkisnya dan menyerangnya balik. Mereka terus seperti itu membuat Darius dan Stevan terkejut melihat pertarungan mereka.


"Stev..."


"Ya kak?"


"Kita tidak salah lihat kan? Ada gadis kecil imut yang seimbang dengan Kak Luke."


"Kalau dia vampir atau makhluk lain aku tidak akan heran. Ini manusia, loh."


Stevan dan Darius saling menatap, "Sehebat apa dia saat dewasa nanti?!!!!" batin mereka.


Mereka melihat pertarungan Elena dan Luke yang masih berlanjut.


"Kak, kita harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai dia dimanfaatkan oleh orang yang salah," ucap Stevan.


"Benar. Kita juga harus melindunginya supaya mereka terutama Vampir tidak bisa menyentuhnya. Karena...kau tau bukan? Darahnya berbeda," balas Darius.


"Kuharap tidak," jawab Darius.


Saat pedang Elena dan Luke sudah dekat di leher masing-masing, Stevan menghentikan pertarungannya.


"Ya! Latihannya sudah selesai!" Stevan bertepuk tangan dua kali.


"Kau hebat, Elena," puji Luke.


"Hehehe, kakak juga," balas Elena dengan rona tipis.


"Kalian ini. Latihan saja sudah seperti perang. Benar-benar!" oceh Darius.


"Maaf, kak. Kak Luke begitu hebat, jadi aku sulit menahan diri." balas Elena dengan senyum manis.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Stevan.


"Hanya luka kecil, kak."


Luke tersentak saat merasakan hawa kehadiran seseorang.


"Siapa disana?" tanya Luke dengan posisi siap bertarung.


Melihat kakak mereka yang waspada, mereka dengan sigap melindungi Elena.


Muncullah beberapa orang dengan jubah hitam yang menutupi tubuh mereka.


"Kami mencium sesuatu yang manis dari kejauhan. Ternyata kalian menyimpan makanan ya."


"Kalian, cepat bawa Elena masuk!" perintah Luke.


"Ohohoho, tidak secepat itu," pria itu menjentikkan jarinya dan keluarlah vampir berjubah hitam dengan jumlah banyak.


"Serahkan gadis itu pada kami."


"Menyerahkan dia pada kalian? Jangan mimpi!" desis Darius.


"Kalian, serang mereka."


Stevan mengeluarkan perisai tanah untuk melindungi Elena. Kemudian, mereka bertiga bertarung melawan para vampir itu. Sayangnya, ada beberapa di antara mereka yang mencoba menghancurkan perisainya.


"Tidak. Aku...aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Aku tidak ingin mereka mati karenaku." batin Selena.


"Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan satupun kekuatanku? Kenapa?!" jeritnya.


Elena menatap tangannya yang gemetar dengan perasaan tidak berdaya. Secara mengejutkan, cincinnya pun bersinar.


"Tenanglah, Nona. Aku akan membantumu," mindlink seseorang.


"Siapa kau?"


Elena merasakan arus hangat dalam tubuhnya.


"Waktu anda terbatas. Anda hanya bisa menggunakan elemen Api. Berhati-hatilah, Nona."

__ADS_1


Para vampir yang berusaha menghancurkan perisai itu merasa kepanasan. Selena melompat keluar dan membuat perisainya hancur. Mereka yang sedang bertarung pun terkejut melihat rambut Elena yang sedikit memutih di bagian ujungnya.


"Elena..."


"Mustahil..."


"Dia bisa keluar dari perisaiku?"


Tanpa basa-basi, Elena langsung menyerang para vampir itu. Setelah menebas beberapa vampir, Elena menancapkan pedangnya di permukaan.


"Kakak, ku sarankan kalian untuk mundur," ucap Elena datar.


Setelah mereka menjauh, Elena memfokuskan elemen api pada pedangnya


"Terbakarlah," gumam Selena.


Keluarlah gelombang api yang sangat panas dan membakar para vampir itu tanpa sisa.


"Uhuk-uhuk..."


"Elena, kenapa kau—"


Tiba-tiba, Elena tumbang. Luke menangkapnya sebelum dia terjatuh. Rambutnya pun kembali hitam.


"Elena! Bangunlah!" panggil Luke dengan panik.


"Kami lah yang seharusnya melindungimu. Kenapa kau malah...?" lirih Darius.


"Ini adalah pertama kalinya aku menjadi kakak. Tapi apa yang sudah kulakukan untukmu?," gumam Stevan.


Mereka pun membawa Elena ke kamarnya. Karena rumah mereka jauh dari kota, yang bisa mereka lakukan hanya membersihkan lukanya dan mengganti baju Elena. Selebihnya, mereka menatapnya sendu. Terutama Luke yang sedari tadi tangannya terus gemetar saat membawa Elena masuk.


Di dalam cincin ruang, Elena, lebih tepat jiwanya, tertidur di atas balok es. Di sampingnya ada seorang gadis yang selalu menjaganya.


"Bangunlah, Nona. Mereka mengkhawatirkanmu," ucap gadis itu sambil menatap Elena sendu.


Beberapa waktu kemudian, Elena terbangun. Dia menatap sekitarnya dengan bingung.


"Akhirnya kau bangun, Nona. Syukurlah."


"Kau siapa?" tanya Elena.


"Nama saya Liu. Penjaga cincin ruang yang anda gunakan." jawab Liu.


"Kenapa aku tidak pernah melihatmu?"


Liu tersenyum tipis, "Kekuatanmu yang tersegel membuatku sulit untuk menghubungimu, Nona. Segel yang Ibu anda buat cukup kuat sehingga saya tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa melihat segala hal yang terjadi di dunia luar."


"Saya terus berharap agar saya bisa membantu anda walau sedikit. Harapan saya terwujud saat anda tidak berdaya dan ingin membantu keluarga baru anda. Dengan beberapa usaha, saya berhasil melemahkan segel itu. Tapi sepertinya, tubuh anda belum siap dengan kekuatan yang kembali secara mendadak. Maafkan saya, Nona," lanjut Liu sambil menunduk karena merasa bersalah.


Elena tersenyum lembut melihat perhatian Liu, "Justru aku berterimakasih padamu, Kak Liu. Jika kau tidak melakukannya, mungkin aku akan kehilangan orang yang ku sayangi lagi."


"Nona..."


"Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa disini dan...uh, dingin sekali."


"Saya membawa jiwa anda kemari. Es abadi yang menjadi tempat anda tidur bisa memulihkan vitalitas juga melemahkan segel anda secara perlahan," balas Liu.


"Sehebat itu?" tanya Elena kaget.


Liu mengangguk, "Benar, Nona. Ada banyak manfaat yang sulit saya jelaskan."


"Kak Liu, jangan panggil aku Nona. Elena saja sudah cukup," kata Elena.


"Anda adalah pemilik tempat ini, yang berarti anda lah nona saya," tolak Liu halus.


"Ini perintah. Jadi, boleh ya?" tanya Elena.


"Uh...kalau itu yang anda inginkan. Baiklah, Elena."


"Satu lagi, jangan bicara terlalu formal padaku. Anggap saja aku ini adikmu ya, kak?"


Liu ingin menolak, tapi tidak bisa saat Elena menatapnya dengan gemas, "I-iya, Elena."


Elena mengangguk, "Di tempat ini ada apa saja, kak? Setiap kali aku membutuhkan sesuatu, benda itu pasti ada."


"Dengan kekuatan spiritual yang saya punya, saya bisa mengatur segala hal yang ada di ruang ini. Termasuk waktu." jelas Liu.


"Tunggu. Kalau gitu, di luar sana aku pasti sudah lama tertidur kan, kak?"


"Jangan khawatir, aliran waktu disini jauh lebih cepat daripada dunia luar. Walaupun begitu, tubuh fisikmu akan berkembang sesuai dengan waktu di luar."


"Baiklah. Aku akan memberikan segala pengetahuan yang aku punya tentang Bumi." lanjutnya Liu.


"Eh? Kakak tau?"


"Tentu saja, baik itu masa lalu ataupun sekarang."


Liu mendekatkan telunjuknya ke dahi Elena. Setelahnya, dia menyibukkan diri dengan berbagai hal yang di bantu oleh Liu.


#Tempat Lain#


"Kemana pasukan yang telah kalian bawa?"


"Ma-maafkan saya, Nona Alice. Penglihatan terakhir yang saya lihat adalah, mereka mati karena seorang gadis manusia."


Alice menatapnya dingin, "Jangan bercanda. Manusia yang menjadi makanan tidak mungkin bisa melawan vampir sebanyak itu!"


"I-ini kenyataannya, Nona. Sepertinya gadis itu tinggal bersama dengan Harrison bersaudara karena mereka terlihat begitu dekat dengannya. Termasuk Tuan Lucas yang langsung siaga saat kami datang."


Alice menahan emosinya saat nama itu disebut, "Lucas...! Pria itu! Satu-satunya pria yang berani menolakku!" batinnya.


"Siapkan pasukan. Jika menurutmu dia sehebat itu, aku akan melihatnya sendiri. Seperti apa dia yang sudah menghabisi anak buahku," kata Alice.


"Baik, Nona. Akan saya laksanakan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Liu, Sang penjaga cincin ruang



Alice

__ADS_1



__ADS_2