
Ketakutan Sean dan Luna benar-benar terjadi. Beberapa bulan setelahnya, Kurotsugi menyatakan perang pada seluruh kerajaan di Clarity. Tidak dalam waktu lama, dia berhasil menaklukkan mereka dan yang tersisa hanya Kerajaan Luminus dan Kerajaan Valderman.
"Sebenarnya apa tujuan mereka?" batin Selena.
"Kakak!" Elina memeluknya dari belakang.
"Ada apa, Lily?"
"Lihat, aku membuat mahkota bunga. Ini untukmu," jawab Elina dengan ceria.
"Untukku? Terima kasih," balas Selena sambil tersenyum manis.
"Aku pasangkan ya, kak."
Selena mengangguk. Kemudian, Elina memasangkan mahkota yang dia buat untuknya.
"Wahh, kakak cantik sekali, seperti peri."
"Hehehe, kau ini." Selena tertawa kecil melihat adiknya yang menggemaskan
"Berapa lama lagi aku bisa bersama dengannya? Juga dengan ayah dan ibu. Entah kenapa aku selalu merasa takut saat perang itu dimulai." batinnya sambil menatap Elina dengan sendu.
Dari kejauhan, Luna melihat anak-anaknya yang sedang bermain dengan tatapan sedih.
"Marie."
"Ya, Nyonya?"
Luna tersenyum tipis, "Berhentilah memanggilku seperti itu."
"Baik, Luna."
"Marie, kau tau apa yang bisa membuat seseorang menjadi lemah?"
"Jika itu aku, tentu saja orang yang kusayangi."
"Benar, aku juga begitu." Air mata Luna menetes saat melihat senyuman Selena.
"Luna?"
"Aku tidak ingin kehilangan anakku lagi. Cukup sekali saja aku gagal melindunginya."
"Bahkan aku tidak tau dia dimana dan bagaimana keadaannya."
"Percayalah Luna, dia pasti akan baik-baik saja."
"Kuharap itu benar."
Kemudian, mereka meninggalkan Selena dan Elina yang masih asyik bermain dan pergi ke Ruang Kerja Raja. Sesampainya disana, mereka melihat Sean dan Kazuto yang sedang berdiskusi.
"Maaf membuat kalian menunggu." ucap Marie.
"Tidak apa-apa, sayang."
"Apa kalian sudah menemukan solusinya?" tanya Luna.
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah memperkuat pertahanan. Selebihnya masih belum pasti," jelas Sean.
"Apa alasan mereka berperang dengan seluruh kerajaan?" tanya Marie.
"Mungkin mereka menginginkan kekuasaan yang absolut." jawab Kazuto.
"Kurasa bukan itu," ucap Luna.
"Luna?"
"Apa kau tau tentang ramalan Sang Bulan?"
"Ah, tentang putri dengan rambut perak yang—tunggu, tidak mungkin kan...!"
Luna mengangguk, "Mereka mengincar Selena. Cepat atau lambat mereka pasti menemukannya. Jika mereka berhasil menguasai Clarity, itu akan mempermudah pencarian mereka. Karena itu...."
Luna menatap Kazuto dan Marie, "Aku akan mengirim kalian berdua dan anak-anak ke Bumi."
"Selain itu, aku akan menyegel kekuatan bawaan mereka dan mengubah mereka seperti manusia biasa," lanjutnya.
"Luna, itu terlalu beresiko!" bantah Kazuto.
Marie menimpali, "Benar, jika kau melakukannya, maka kau akan...."
"Aku akan membantumu."
"Sean?!!" Marie kaget.
"Kau gila!" Kazuto tidak habis pikir dengan temannya ini.
"Walaupun rencana ini mempunyai resiko yang besar, tapi ini adalah yang terbaik untuk mereka," ucap Sean.
Luna tersenyum, "Terima kasih, Sean."
Setelah berdebat dalam waktu yang cukup lama, Kazuto dan Marie terpaksa menyetujui tindakan Luna yang nekat. Kemudian, Luna pergi ke kamar putri. Dia tersenyum saat melihat mereka belum istirahat.
"Kalian belum tidur juga?"
"Belum, bu. Tadi kakak mengeluarkan sesuatu yang menarik dari cincinnya," jawab Elina.
"Cincin,"? tanya Luna dengan heran.
"Cincin ini hadiah dari nenek yang waktu itu kuselamatkan bu. Dia bilang ini cincin ruang," jelas Selena sambil menunjukkan cincinnya
Luna menatap cincin itu dengan tatapan rumit, "Kenapa benda yang berasal dari dimensi lain bisa ada disini? Sudah begitu lama aku tidak mendengar tentang cincin ini," batinnya.
"Sayang, ingat pesan ibu. Jangan biarkan orang lain tau tentang keahlian cincin ini."
Selena mengangguk, "Aku mengerti, bu."
Luna mengeluarkan kotak kecil yang dia bawa. Di dalamnya ada 2 kalung dengan batu sapphire.
"Ini hadiah untuk kalian."
"Cantik sekali."
"Terima kasih, bu."
"Sama-sama, sayang."
"Pakaikan kalung ini padaku, kak."
"Iya, iya."
Luna tersenyum melihat mereka yang antusias dengan hadiahnya. Tiba-tiba, Marie masuk dengan wajah yang panik.
"Gawat, Luna. Aku mendengar Kerajaan Valderman sudah di taklukkan dan sekarang musuh sedang menuju kesini."
"Apa? Secepat itu?!"
"Benar, Sean memerintahkanku untuk membawa kalian ke tempat yang aman."
"Sekarang dia ada dimana?"
"Dia sedang mengevakuasi penduduk walaupun dia tau kalau itu tidak akan berguna."
"Kenapa jadi seperti ini?" gumam Luna.
Luna menatap Selena yang menenangkan Elina yang sedang ketakutan.
"Kalian, ikut ibu."
Selena mengangguk, "Ayo, Lily."
__ADS_1
Luna membawa mereka menuju ruangan rahasia. Setelah menitipkannya pada Marie, dia keluar dari sana. Tiba-tiba, ada serangan yang hampir mengenainya dan berhasil di halangi oleh Sean.
"Luna, kau tidak apa-apa?" tanya Sean.
"Iya.."
"Ah, tidak kena ya? Sayang sekali."
Luna terkejut melihat siapa yang menyerangnya, "Ka-Kaito..."
"Senang rasanya kau masih mengingatku, sayang."
"Bajingan! Berhenti memanggil wanitaku dengan sebutan itu!"
"Heeh, seandainya aku yang bertemu lebih dulu darimu, pasti dia menjadi—Arghh!" ucapan Kai terpotong karena dipukul oleh Kazuto.
"Mulutmu masih tetap lancang, Kai."
"Kazuto..!"
"Energi di tubuhmu benar-benar gelap. Apa sekarang kau berpihak pada 'dia' ?"
"Tentu saja, apa kau berpikir aku hanya menghilang tanpa sebab?"
"Kau membuatku kecewa, Kai."
"Itu adalah salah dia karena menolakku!" teriak Kaito sambil menunjuk Luna.
Kazuto menatap adiknya dengan tajam, "Aku sudah bilang padamu untuk tidak mengejar pasangan orang lain. Tapi kau tetap keras kepala bahkan merencanakan sesuatu yang menjijikkan padanya."
Tiba-tiba, suasana mereka menjadi sangat mencekam. Sean memeluk Luna yang gemetar karena aura gelap yang menusuknya. Kurotsugi keluar dari kegelapan dan memandang mereka dengan datar. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya pada Luna.
"Rambut perak keunguan..." gumam Kuro.
"Apa kau kenal seseorang dengan rambut putih perak yang bersinar seperti bulan ?"
Luna menatapnya dengan tajam, "Sekalipun aku kenal, aku tidak akan sudi memberitahumu!"
Kuro melemparkan bola energi hitam yang hanya sebesar telapak tangannya. Kazuto dan Sean segera memasang perisai. Tidak disangka, serangan itu bisa menghancurkan hampir seluruh istananya. Selena yang mendengar ada suara ledakan merasa panik dan ingin pergi ke asal serangan itu.
"Selena! Tetaplah disini."
"Jika aku membiarkannya, ayah dan ibu bisa dalam bahaya!"
"Tapi, Selena. Ibumu menyuruh kita untuk tetap disini."
"Kak..."
"Maaf, Bibi. Aku tidak bisa diam saja disini. Tolong jaga Lily untukku," pesan Selena yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Kakak! Jangan pergi!"
Saat Selena sudah mau sampai ke asal ledakan itu, dia melihat ayah dan ibunya juga Kazuto sedang terluka parah. Kemudian, dia melihat musuh yang sedang melancarkan serangan.
"Perisai kristal tingkat menengah!"
Saat perisai itu bertabrakan dengan serangan Kuro, terjadi gempa yang cukup kuat. Saat ledakan itu menghilang, perisainya nyaris hancur dan dia memuntahkan seteguk darah.
"Selena?!"
"Syukurlah, kalian...selamat,"
Melihat keberadaan Selena yang melindungi mereka, membuat orang tuanya dan Kazuto panik.
"Selena! Kenapa kau disini?! Aku sudah bilang padamu untuk tidak pergi kemanapun!"
Selena mengabaikannya dan menatap tajam musuh yang berani melukai keluarganya.
Selena mengepalkan tangannya, "Beraninya...kalian!"
"Hoo, jadi ini putrimu?" tanya Kaito.
Kuro menatap Selena dengan tajam, "Aura gadis ini...tidak salah lagi!"
"Kalian benar-benar bajingan!"
"Jaga mulutmu, gadis kecil." ucap Kaito.
"Diam atau aku akan membunuhmu." ancam Kuro.
"Ba-baik, Tuan." Kaito gemetar. Jika bukan karena perisai yang dibuat oleh Kuro, dia akan mati karena serangannya.
Selena memegang pedangnya dengan erat. Mata Selena berubah menjadi biru kekuningan dengan pupil vertikal. Dia mengangkat pedangnya dan mengeluarkan cahaya.
"Formasi Pedang Elemen!"
Di atas mereka, muncullah ribuan pedang dengan berbagai macam elemen yang menyerang musuh. Kuro menghancurkan serangan Selena dengan api dan listrik berwarna hitam. Di saat dia sedang lengah, Selena menyerangnya dari belakang dengan pedang cahaya dan elemen angin. Serangannya berhasil membuat Kuro terluka dan akhirnya terpental.
"Beraninya kau melukaiku!!!" teriak Kuro.
"Kau berani melukai mereka, kenapa aku tidak? Apa otakmu tertinggal di kerajaan yang sudah kau kalahkan?" Selena menatapnya dengan dingin.
Kaito merasa marah karena seorang gadis kecil bisa melukai tuannya.
"Seribu pedang api!"
"Perisai Air." Serangan Kaito hancur karenanya.
"Kau!!"
"Jangan kau kira serangan menggelikan itu bisa menghadapi—uh!" Selena terduduk.
"Selena!" teriak Luna
"Sial, tenagaku..." gumam Selena.
Sean dan Kazuto segera memasang posisi berlindung. Luna membantu Selena yang sedang kelelahan untuk berdiri secara perlahan.
"Serahkan dia padaku." kata Kuro.
"Aku tidak sudi!" balas Sean.
Kai yang tau bahwa tuannya marah, segera bertepuk tangan dua kali.
"Baiklah, aku akan memberikan kalian satu kejutan. Keluarlah, Nak."
Muncullah seorang pria muda berambut perak dengan mata ungu serta tatapan yang datar. Sean dan Kazuto sangat terkejut saat melihat sosok yang dihadapan mereka. Luna, dia tidak percaya kalau anaknya yang selalu dia cari ternyata tidak jauh darinya.
"Albert..." lirih Luna.
Selena bingung kenapa mereka terkejut saat melihat pemuda itu.
"Siapa dia, Bu?"
Luna terdiam.
"Kaito, apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanya Sean yang berusaha menahan amarahnya.
"Ah itu. Tuan Kuro menanamkan sihir hitam dan aku menghilangkan ingatan juga emosinya. Menarik kan?"
"Brengsek kau!" Sean menerjang ke arahnya dan dihalangi oleh Albert. Mereka pun bertarung dengan sengit. Kazuto mencoba membantu, tapi dihalangi oleh Kai.
Luna menarik Selena ke belakang tubuhnya.
"Sekarang, tidak ada penganggu lagi. Serahkan putrimu itu atau aku akan membunuhmu." ancam Kuro.
"Tidak akan!"
__ADS_1
"Ck, tidak sadar diri!" Kuro hendak memukul Luna, tapi di halangi oleh seseorang.
"Arghh!"
Selena terkejut melihat siapa yang datang.
"Lily!"
"Elina!"
Mereka menghampiri Elina yang tidak sadarkan diri. Marie datang dengan wujudnya yang berubah menjadi Elf. Di sekitar tubuhnya juga penuh dengan luka.
"Luna..!"
"Marie! Kenapa kau—"
"Maaf, Luna. Aku tidak sanggup melihatnya menangis karena mencemaskanmu. Aku juga mengkhawatirkan keadaan kalian," balas Marie dengan pelan.
"Bibi, kenapa kau terluka?"
"Kami di halangi oleh seorang wanita dan aku pun bertarung dengannya. Setelah dia pergi, aku segera kesini."
Luna menyerahkan sebuah kunci pada Marie, "Bawa ini bersamamu."
"Luna...inikan..."
"Tunggu disini. Aku akan membantu Kazuto."
"Kalian tidak akan bisa pergi kemanapun!" kata Kuro.
Luna mengabaikannya dan teleportasi ke arah Kazuto. Merasa marah karena di abaikan, dia pun menyerang Selena.
Saat Luna menemukan Kazuto, dia mengeluarkan sulur hitam dan menyerang Kai.
"Luna? Kenapa kau--"
"Aku sudah memberikannya pada Marie, pergilah. Aku akan mengulur waktu."
Kazuto menunduk, "Maaf..."
"Tolong jaga mereka untuk kami," pesan Luna.
Kazuto terpaksa meninggalkan Luna. Pertarungan pun berlanjut antara Luna-Kaito, Sean-Albert dan Selena melawan Kuro.
"Meteor Petir!"
"Api Hitam Pelahap!"
Selena terpental karena ledakan itu. Marie mencoba menggunakan kekuatan penyembuhnya.
"Aku akan berbaik hati jika kau menyerahkan dirimu, gadis kecil. Tapi sayangnya, kau begitu keras kepala."
Kuro mengeluarkan rantai hitam untuk membawa Selena, tapi gagal karena Kazuto menendangnya.
"Hah! Berani sekali kau mencoba menculiknya! Selain itu, apa kau tidak merasa malu karena lawanmu hanyalah anak kecil?" sarkas Kazuto.
"Menyerahlah, Nak. Kalian sudah mengalami luka fatal karena serangan pertamaku. Di tambah dengan pertarungan kalian barusan, bukankah seharusnya kalian sudah kehabisan tenaga?" tanya Kuro tanpa menyadari anak buahnya sudah di kalahkan.
Kazuto menyeringai, "Coba kau lihat belakangmu."
Tanpa sempat dia lihat, Luna mengikatnya dengan sulur hitam bersamaan dengan api birunya. Penampilan Luna berubah total. Mata bagian putihnya berubah hitam dengan bola mata kuning garis vertikal. Ada satu tanduk berwarna biru.
Selena terkejut melihat perubahannya, "Ibu...menggunakan wujud setengah naganya?"
Luna melemparkan Kuro jauh dari tempat mereka.
"Ibu..."
"Gerbang Teleportasi Antar Dimensi, terbukalah!" Luna membentuk simbol di tangannya.
Ada sebuah gerbang berwarna putih dengan pola rumit di belakang Selena. Kemudian, Luna melakukan beberapa gerakkan rumit pada tangannya. Seketika, kalung Selena dan Elina bersinar. Setelahnya, Luna mengelus kepala mereka.
Selena merasa lemas, "I-Ibu...apa yang kau..."
"Maaf, sayang. Kami tidak bisa bersama kalian lebih lama lagi," kata Luna dengan sendu.
"Kenapa ibu bilang begitu? Dia sudah kalah kan?" tanya Selena.
Luna menggelengkan kepalanya, "Ibu hanya mengulur waktu."
"Aku tidak bisa bilang bahwa hanya kau yang bisa mengalahkannya. Maaf, Selena," batinnya.
Benar saja, Kuro muncul dengan aura hitam yang memenuhi tempat mereka. Dia langsung melemparkan dua pedang hitamnya dan mengenai Kazuto dan Sean.
"Sean! Kazuto!" teriak Luna dan Marie.
"Makhluk rendahan! Kalian terlalu meremehkanku!"
"Kazuto, tolong beri aku waktu."
Kazuto mengangguk dan mencoba menyerang Kuro dengan kondisinya yang memburuk.
"Lakukan sekarang, sayang," kata Sean sambil memindahkan sebagian kekuatannya pada Luna.
Luna merapalkan beberapa mantra segel kemudian meletakkan tangannya yang bercahaya di atas kepala Selena dan Elina.
"Aku tidak mengerti apa yang ingin mereka lakukan. Tapi kenapa aku merasa mereka akan pergi meninggalkan kami?" batin Selena dengan perasaan campur aduk.
Setelah beberapa saat, segelnya selesai dan gerbangnya sudah terbuka. Hanya butuh sedikit waktu lagi. Secara bersamaan, Kazuto terlempar ke arah mereka. Sean berhasil menangkapnya yang sudah sekarat dan membawanya ke sisi Marie. Mereka masuk ke dalamnya, kecuali Selena. Luna dan Sean menyerang Kuro supaya tidak mendekati mereka. Tapi, mereka di kalahkan begitu saja oleh Kuro.
"Ayah! Ibu!" Selena menghampiri mereka di saat gerbang nya hampir tertutup.
"Ke..na..pa?" tanya Luna dengan terbata-bata.
"Dasar bodoh..." lirih Sean.
Selena tidak sanggup menahan air matanya melihat kondisi mereka. "Maaf, seandainya aku lebih kuat...maafkan aku, bu, ayah."
Sean menghapus air mata anaknya, "Jangan minta maaf, nak. Sudah seharusnya kami melindungi kalian."
Tiba-tiba, muncullah portal teleportasi di bawah Selena.
"Ibu?!! Apa yang—"
"Pergilah, Selena. Temukan adikmu."
"Tapi..."
"Aktifkan segel." gumam Luna.
Portal itupun bersinar dan mencegah Selena untuk menghampiri mereka. Kuro yang melihatnya mencoba menghancurkan portal itu dan hasilnya gagal. Karena itu adalah mantra tingkat tinggi yang tidak bisa di batalkan oleh siapapun, termasuk penggunanya.
"Ibu! Ayah!"
"Maafkan kami, sayang."
Luna meneteskan air matanya, "Maaf sayang, aku sudah tidak punya tenaga untuk mengubah ingatanmu. Maaf, aku terpaksa menyegel kekuatan kalian dan membuat kalian seperti manusia biasa. Maaf karena kau harus merasakan begitu banyak penderitaan. Maafkan Ibumu yang bodoh ini, Selena, Elina. Semoga kalian menemukan kebahagiaan." batinnya.
Sean menatap putrinya dengan sendu, "Masa kecil adalah waktu yang paling bahagia. Tapi karena kami, kau harus tumbuh dewasa dengan cepat. Kau harus menahan beban takdir yang begitu berat di usiamu yang masih sangat kecil. Maaf karena kau harus mencari mereka sendirian. Maaf karena tidak bisa menemanimu. Maafkan aku karena gagal menjadi ayah kalian."
Selena menatap mereka dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Kemudian, portal itu pun menghilang dan Selena pun harus menjalani kehidupannya sendirian di tempat yang sangat asing baginya. Sebuah tempat yang bernama Bumi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Makasih ya kalian sudah dukung karyaku 💕
Ps : Segala gambar yang ada hanyalah referensi
See you later 😘
__ADS_1