Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Pertemuan dengan Hotaru


__ADS_3

Setelah Elena berhasil mempermainkan mereka, dia masuk ke dalam cincin ruang. Liu tersenyum saat melihatnya datang.


"Kak Liu!" panggil Elena sambil memeluknya.


Liu membalas pelukannya, "Sudah puas bermainnya?"


Elena tertawa kecil, "Sangat puas," jawabnya.


"Gadis nakal!" Liu mencolek hidungnya Elena.


"Hahaha, sungguh menyenangkan melihat mereka yang terjebak oleh rencananya sendiri." Elena tergelak saat mengingat mereka.


"Kak, aku ingin latihan lagi." lanjutnya.


"Iya-iya, ayo kita pergi," ajak Liu.


Setelah berlatih dalam waktu yang cukup lama, Elena keluar dari cincin ruang untuk istirahat.


Keesokan harinya, Elena pergi keluar untuk mencari berbagai petunjuk baru sampai langit sudah mulai gelap. Sayangnya, dia hanya mendengar beberapa informasi yang tidak berguna. Saat dia sedang bersantai, dia mendengar suara yang cukup mengganggu.


"Dasar jal*ng!"


"Tukang rayu!"


"Murahan!"


Ketika dia mendekat ke arah suara, dia melihat beberapa orang wanita yang sedang menyiksa seorang gadis berambut hitam yang tidak berdaya. Dia lah Hotaru. Gadis yang disebut pembawa sial.


Dengan kesal, Elena melempar beberapa kerikil ke arah mereka.


"Aw! Kau ya yang melemparku?"


"Enak saja asal—aduh!"


"Hey, kalian tidak apa-apa—hey! Siapa itu?"


Tidak ada siapapun.


"Jangan-jangan...hantu?"


"Cepat lari!!!"


Mereka melarikan diri karena mereka mengira kalau itu perbuatan hantu. Setelah aman, Elena keluar dari persembunyiannya.


Elena membawa gadis itu bersandar di pohon, "Kau tidak apa-apa?"


"Anda siapa, tuan?"


"Aku hanya numpang lewat." jawab Elena.


Elena mengeluarkan beberapa roti dan minuman dari tasnya, "Makanlah."


"Tapi..." ucapan gadis itu terhenti karena perutnya yang bunyi. Dia pun menerima roti pemberian dari Elena.


Elena menunggunya selesai makan. Setelahnya, gadis itu menatap Elena dengan bingung.


"Saya tau kalau anda yang membuat mereka pergi. Kenapa anda mau membantu saya?" tanyanya dengan pelan.


Elena menatapnya takjub, "Oh? Sepertinya dia punya bakat," batinnya.


"Hanya ingin saja, apa itu cukup?" tanya Elena.


Gadis itu terdiam selama beberapa saat.


"Anda tau siapa saya kan?" tanyanya.


Elena mengangguk, "Aku hanya tau sekilas. Namamu Hotaru, kan?"


"Benar.." jawab Hotaru lirih.


"Tentang pengorbanan itu...apa kau menyetujuinya?" tanya Elena dengan pelan.


Hotaru senyum kecut, "Aku sudah tidak punya apapun lagi, keluarga ataupun tempat berlindung. Semuanya sudah tidak ada. Bahkan mereka yang dulu dekat menjadi jijik padaku," lirihnya.


"Aku lebih memilih mati daripada harus hidup seperti ini," lanjut Hotaru.


Elena menatapnya horor, "Kau gila! Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?"


Hotaru terdiam.


Elena menghela nafasnya, "Bolehkah kau menceritakan tentang ritual itu?" tanyanya.


"E-eh? Kenapa anda ingin tahu?" tanya Hotaru balik.


Elena hanya diam sambil menatap Hotaru.


"O-oh, ehm. Setahuku, ritual bulan hitam tidak hanya ada di desa ini. Masih ada beberapa tempat lagi. Sebelum ritual ini di adakan, kepala desa mengundang beberapa orang untuk berkunjung ke rumahnya. Saat itulah aku tidak sengaja mendengarnya dan....sedikit mengejutkan." jelas Hotaru.


"Maksudmu?" tanya Elena.

__ADS_1


"Para warga hanya mengetahui bahwa ritual ini di adakan untuk memanggil jiwa orang hebat yang berasal dari masa lalu. Tapi sebenarnya, itu adalah monster untuk melindungi si pemanggil." jawab Hotaru sambil menunduk.


"Ah, jadi kepala desa memanggil monster itu supaya posisi nya tidak bergeser dan dia mempunyai perlindungan. Begitu?" tebak Elena.


Hotaru mengangguk.


"Lalu, kenapa kau ingin menjadi korbannya? tanya Elena.


"Itu...karena aku...ingin menjadi orang yang berguna," jawab Hotaru terbata-bata.


"Saat ibu membawa ayahku ke desa ini, para warga sangat senang karena ibuku tidak sendirian lagi. Tapi, setelah mereka tahu kalau yang dia nikahi adalah pria gila, mereka memandang ibuku dengan tatapan rendah. Teman-temanku yang awalnya tulus menjadi orang bermuka dua dan selalu mencari keburukanku. Kematian ayah dan ibuku membuat mereka semakin jahat padaku. Aku ingin membenci mereka, tapi aku terikat dengan tempat ini. Desa ini adalah tempat orang tuaku, aku tidak bisa melakukan apapun," lanjutnya dengan tatapan sendu.


Raut wajah Elena semakin dingin, "Karena itu kau ingin mati? Kau ingin mengorbankan dirimu untuk tempat ini?"


Hotaru terdiam.


Elena menghela nafas, "Baiklah, terima kasih karena kau mau bercerita padaku. Aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik."


"Tuan—cepat sekali perginya."


Elena melesat menembus gelapnya malam dan mendarat di salah satu atap rumah penduduk. Dia memfokuskan pendengarannya dan terdengarlah suara gelak tawa yang berasal dari rumah kepala desa.


Elena menggunakan sihir kamuflase dan masuk ke dalamnya untuk mencari informasi.


"Bagaimana dengan upacaranya?"


"Semuanya berjalan lancar, tuan."


"Hahaha, bagus! Dengan begini, jabatanku akan naik dan hidupku akan semakin maju!"


"Maaf jika saya lancang, tuan. Kenapa kebanyakan korbannya adalah gadis yang masih suci?"


"Ini adalah perintahnya. Sangat tidak pantas jika aku menentang beliau."


"Lakukan persiapan nya lebih cepat. Ritualnya akan di mulai dalam beberapa hari lagi."


"Baik, tuan."


Elena melesat kembali ke penginapannya. Setelah masuk dan membuat pembatas, Elena termenung sejenak.


"Apa yang tadi kudengar? Gadis yang suci? Maksudnya gadis yang masih perawan?" gumamnya.


"Sial*n! Kejam sekali mereka!"


"Aku harus mempercepatnya."


"Hotaru! Dimana kau?"


Suasana hening.


Dia mengambil segenggam tanah dan mencoba melacak aroma gadis itu. Hal ini mudah di lakukannya karena segelnya sedikit terbuka.


Pupil mata Elena berubah dari bulat menjadi vertikal. Dia mengeraskan rahangnya saat mencium sesuatu yang lain.


"Bau ini...!"


Elena melesat dengan sangat cepat sampai dia berhasil mendengar suara Hotaru.


"Lepas...lepaskan aku!"


"Hahaha, sekarang adalah hari terakhirmu menikmati hidup."


"Biarkan kami bersenang-senang denganmu!" sahut salah satu pemuda itu sambil merobek bajunya.


"Tidak!!!"


"Putih sekali. Sungguh pemandangan yang indah."


"Kumohon...jangan..." lirihnya.


"Maafkan aku, Ayah, Ibu."


Tatapan Hotaru menjadi kosong seolah pasrah saat mereka mencoba melecehkannya.


Elena yang melihat pemandangan memuakkan itu langsung menjambak mereka dan melemparkan para bajing*n itu dengan kasar.


Elena menutupi tubuh gadis malang itu dengan jubahnya, "Hotaru! Hotaru! Sadarlah!" teriaknya sambil menggoyangkan pundak Hotaru. Tapi dia diam saja.


"Siapa kau?!"


"Beraninya menganggu kesenangan kami?!" bentak salah satu dari mereka.


"Heh? Rambut panjang...kau perempuan ya? Apa kau ingin seperti dia?" tanya temannya sambil menunjuk Elena.


Elena mengepalkan tangannya kuat, "Cobalah jika kalian bisa!" jawabnya sinis.


Mereka menyerang Elena bersamaan. Elena menghajar mereka tanpa ampun dengan tangan kosong dan membuat mereka babak belur. Setelah mereka kalah, Elena mengeluarkan pedangnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?"

__ADS_1


"Singkirkan senjata itu!"


"Kau ingin kami mati?!"


Elena tersenyum dingin, "Mati? Itu hukuman yang terlalu ringan untuk kalian."


Elena memotong tangan mereka, "Tangan ini yang sudah merobek baju Hotaru."


"ARGHHH!!"


Elena memotong alat kel*min mereka, "Kalian ingin melecehkannya kan? Ini hadiah untuk kalian."


"Hen-tikan!"


Mata Elena bersinar kejam, "Lidah ini! Yang sudah mengatakan hal menjijikan padanya!"


Elena membakar pedangnya. Kemudian mengeluarkan belati.


"Terakhir..." Elena menancapkan belati itu ke kening mereka.


"Kepala kalian yang hanya tau hal-hal seperti ini!"


Mereka pun mati dalam keadaan yang mengenaskan. Elena melihat kondisi mereka dengan tatapan yang sangat dingin dan bajunya juga sudah berlumuran darah.


Kemudian, Elena membakar tubuh mereka supaya tidak ada yang bisa menemukannya.


Setelah selesai menghapus jejaknya, dia pergi menemui Hotaru.


"Hotaru."


Dia terdiam.


"Hotaru."


Tidak ada jawaban.


Elena memeluknya, "Ini aku. Orang yang kemarin kau temui."


Hotaru menoleh pelan, "Tuan...?" lirihnya.


"Iya, benar. Tenanglah, mereka sudah ku urus."


"Benarkah? Mereka...sudah mati?"


Elena mengangguk.


Air mata Hotaru jatuh dan dia memeluk Elena dengan erat, "Hiks...Aku...aku pikir...aku akan...akan...hiks...kenapa mereka...begitu kejam padaku?"


"Apa mereka tidak puas dengan penyiksaan yang kurasakan? Kenapa mereka ingin menodai harga diriku? Kenapa?!"


"Tidak apa-apa. Aku disini, tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu."


Suara tangisan Hotaru memecahkan suasana hening di malam yang dingin.


Elena melihat Hotaru yang tertidur langsung masuk ke cincin ruang.


Liu terkejut saat Elena membawa orang asing masuk ke tempat ini.


"Elena. Dia..."


"Ceritanya panjang, kak. Kau juga sudah mendengar semuanya bukan?"


"O-oh, benar," jawab Liu kikuk.


"Kak Liu, aku percayakan dia padamu. Tolong katakan bahwa aku yang membawanya kemari dan jangan biarkan dia melakukan sesuatu yang nekat."


Liu mengangguk dan menggendong Hotaru.


Elena segera mengubah pakaiannya, "Aku pergi dulu, kak," ucapnya sambil keluar dari cincin dan melesat ke desa.


Dia melihat para warga sedang mencari beberapa pemuda yang hilang.


"Ada apa ini?"


"Tuan, anak kami menghilang. Tadi mereka bilang akan pergi sebentar. Sampai sekarang mereka belum pulang. Kami sudah mencarinya kemanapun dan tidak menemukannya. Tolong kami, tuan."


"Pergilah bersama beberapa warga untuk melakukan pencarian di sekitar perbatasan. Jika belum ketemu, segera beritahu aku."


"Baik, tuan."


"Tuan!"


"Kenapa lagi?"


"Gawat, tuan! Gadis itu juga menghilang!" lapor anak buahnya dengan panik.


"Apa kau bilang?! Cepat cari dia! Perintahkan para warga untuk mencari mereka yang hilang dan bagi menjadi dua kelompok! Sekarang!"


Elena menatap mereka dengan dingin. Malam itu, seluruh warga dihebohkan dengan berita menghilangnya beberapa pemuda dan juga gadis yang akan di jadikan tumbal.

__ADS_1


__ADS_2