FELICITY

FELICITY
01. Halaman Pertama


__ADS_3

...Kebahagiaan itu sifatnya ganjil. Jika salah satunya bisa merasakan, pasti yang lainnya hanya menyaksikan. Seperti itulah kehidupan yang sebenarnya....


...-Aileen Calya...


.......


.......


.......


Suara decitan sepatu memenuhi seluruh lorong sekolah yang sepi. Pemilik sepatu itu terlihat sengaja menekan sepatunya agar bergesekan dengan lantai dan berbunyi. Tidak terlihat seperti manusia yang sedang kelelahan karena berlari mengejar pelajaran yang sepertinya sudah tertinggal.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08:12. Ia berhenti untuk membenarkan jam tangannya yang terlihat miring. Tidak ada waktu lagi, pilihannya cuma satu, memaksakan langkah ke kelas dan mendapatkan hukuman atau melipir ke belakang sekolah untuk menunda hukuman.


Langkah kakinya mulai bergerak mendekati pohon besar yang menghalau terik matahari. Tangannya memetik sembarang daun untuk dijadikan kipas-kipasan.


"Huaaamm .. Laki-laki itu menguap lebar tanpa malu. Ia mengipasi dirinya dengan hasil karya buatannya tadi.


"Sebagai manusia hidup, lo gak boleh buang-buang waktu." Ucap laki-laki itu sambil merebahkan badannya di kursi panjang yang ada di bawah pohon besar. Matanya mulai terpejam.


...*...


...*...


Di dalam kelas.


Seorang siswi berdiri menghampiri pak Fatih, guru sejarah yang sedang duduk di kursi guru setelah lelah menjelaskan beberapa materi.


"Permisi pak, saya izin untuk ke UKS ya pak." Ucap siswi itu sopan dengan nada memelas.


Tinggi badannya kira-kira hanya 158 cm. Paras cantiknya tertutupi sifat aslinya yang bodoh, gadis itu ceria.


Ia tidak menyukai hal yang membuat dirinya terlibat dengan kehidupan sekolah yang biasa-biasa saja, diam berarti membosankan menurutnya. Karena pada dasarnya, kehidupannya di rumah memang sudah sangat membosankan.


Pak Fatih menurunkan kacamatanya sedikit untuk memperjelas pandangannya. "Nama kamu si-


"Aileen Calya pak." Jawab gadis itu cepat sebelum pak Fatih menyelesaikan ucapannya.


Melihat gadis itu melas, Pak Fatih mengangguk-anggukan kepala dan memberikan izin kepada Aileen untuk pergi ke UKS.


Aileen kembali ke mejanya, membuka tas untuk mengambil sweater berwarna pink miliknya. Ia menyelipkan note kecil dan pulpen berwarna di bawah sweater itu. Aileen mengisi keheningan di dalam ruangan itu dengan suara langkah kakinya.


Aileen belum terbiasa dengan suasana yang hening ini, benar-benar baru baginya.

__ADS_1


Apakah arti dari 'teman kelas' yang sesungguhnya seperti ini? Semuanya terlalu serius dengan kegiatan masing-masing, mungkin ada salah satu ataupun lima di antara mereka yang tidak mengenali dirinya.


Sudah dua hari sejak status Aileen berubah menjadi siswi SMA, tapi tetap saja Aileen belum menemukan dirinya yang seutuhnya di dalam kelasnya. Beberapa dari mereka hanya tertawa sendiri di depan layar hp, beberapa yang lainnya mengucapkan salam kenal dengan nada canggung.


Ya, mungkin karena mereka semua masih baru dan perlu waktu untuk menjalin hubungan pertemanan. Setidaknya kalimat tersebut menjadi pendamping untuknya bertahan menjadi sosok yang sedikit pendiam di dalam kelas ini.


Hayalannya untuk memiliki teman baru yang cocok dengannya hilang sudah dalam dua hari ini. Pikiran untuk pindah kelas sudah meracuni otaknya, mungkin di kelas lain tidak sekaku ini.


Tapi Aileen tidak mau ambil pusing. Ia mau menjadi gadis penurut saja. Ia akan mengikuti alur waktu yang sudah Tuhan gariskan untuknya.


Aileen juga percaya, jika ketetapan Tuhan adalah membuat dirinya selalu merasa kesepian, di manapun Aileen berada pasti dirinya akan tetap merasa kesepian. Begitu juga sebaliknya. Toh, status Aileen saat ini masih bisa dikatakan sebagai siswi baru, yang artinya masih banyak waktu untuk membiasakan diri bercampur dengan beberapa manusia batu di kelas ini.


Ralat.


Bukan Aileen yang seharusnya membiasakan diri dengan suasana seperti ini. Tapi merekalah yang seharusnya membiasakan diri dengan keberadaan Aileen.


Di ambang pintu kelas, Aileen tiba-tiba berhenti. Ia memutarkan badannya dan menatap satu persatu 19 manusia yang tengah serius duduk di kursinya masing-masing.


Senyuman bodoh mulai terukir di bibirnya. Aileen menyipitkan mata lalu bertepuk tangan dengan heboh.


Hal itu sontak membuat semua isi kelas menatap ke arah pijakan kakinya.


Saat ini, semua yang ada di dalam kelas masih tercengang dengan hal konyol yang baru saja terjadi.


Ada sebagian orang yang masih kebingungan, ada juga yang menganggapnya aneh, ada juga yang tersenyum simpul melihat tingkah konyolnya.


Setelah ditatap dengan berbagai macam tatapan aneh, Aileen keluar kelas dengan berjalan mundur dan melambaikan tangannya seperti tidak ada dosa. Sedangkan suasana kelas yang ditinggalkan Aileen saat ini menjadi sedikit tidak tenang.


Ia pergi ke sembarang tempat yang arahnya berlawanan dengan UKS dan ruang guru. Ia hanya beralasan agar bisa keluar dari kelas untuk menghirup udara segar.


Aileen bukan tipe gadis yang nakal. Tapi menurutnya, manusia itu bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Asalkan, tidak melewati batasan sebagaimana statusnya yang masih remaja.


Sambil berjalan santai, Aileen menuliskan kata demi kata yang Ia temukan saat mengelilingi sekolah ini ke dalam note yang Ia bawa.


Walaupun Aileen bodoh, tapi Aileen suka sekali merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang menurutnya 'indah'.


...* * *...


Bell pulang berbunyi. Hal yang ditunggu-tunggu semua murid di penjuru dunia, kecuali beberapa murid di kelasnya ini.


"Yahhh, yuhuuu .. Suara helaan napas dari beberapa siswi bercampur dengan suara kegirangan dari beberapa siswa.


Berbeda dengan bangku Aileen yang masih kosong. Buku pelajarannya yang acak masih setia berada di atas mejanya. Tasnya pun masih utuh bertengger di bahu kursinya.

__ADS_1


Setelah Bu Rohima keluar dari kelas, satu persatu murid kelas 10 C itu mulai keluar juga dari kelas.


Setelah keadaan sepi, ada seorang gadis yang mendekat ke arah bangku kosong tersebut dan mulai memasukkan buku pelajaran yang berserakan ke dalam tas Aileen.


"Hehaaaaa." Panggil seseorang dengan suara tidak jelas dari balik kaca jendela tepat di samping bangku Aileen.


Rena menoleh dan reflek melemparkan buku yang dipegangnya ke sumber suara. Yang membuat Rena kaget bukanlah suara panggilan yang terdengar tiba-tiba, melainkan wajah tak berbentuk yang Aileen tempelkan pada kaca jendela.


Si pelaku tersenyum ramah dari luar sana dan melangkah riang ke dalam kelas.


Aileen senang, ternyata ada satu orang yang peduli akan keberadaannya di kelas ini.


Rena adalah salah satu perangkat kelas yang menjabat sebagai bendahara kelas.


Walaupun baru dua hari berada di kelas ini, Aileen sudah mengamati satu persatu sifat mereka, termasuk Rena.


Menurut Aileen, murid di kelas ini semuanya memiliki hati yang baik, sepertinya. Tapi, mereka semua masih malu-malu untuk menunjukkan bagaimana diri mereka yang sebenarnya.


Aileen yakin, jika dirinya selalu bersikap fleksibel di dalam kelas dan memperlakukan mereka semua seperti teman, pasti mereka semua akan mulai terbiasa dengan suasana yang baru ini.


"Rena tau kalo ini Aileen kan?" Tanya Aileen yang dibalas anggukan pelan oleh Rena.


"Besok berangkat ke sekolah pagi-pagi banget yuk." Kata Aileen mengambil tas yang sudah rapih dari tangan Rena.


Rena mengerutkan dahi. "Ngapain?" Tanyanya keheranan.


Aileen hanya tersenyum dan mengedipkan-ngedipkan matanya.


Aileen berlari mundur meninggalkan Rena dan sedikit berteriak. "Pokoknya besok dateng pagi ya."


"Gue tunggu lo besok." Sambung Aileen melambaikan tangan pada Rena dan tak mau menyudahi cengiran kuda di bibirnya.


Rena menggelengkan kepala dan tersenyum kecil melihat tingkah aneh salah satu murid yang ada di kelasnya. "Aneh." Gumamnya.


...*...


...*...


...*...


Alooo kalian semua. Bacanya gaboleh sambil nguap ya, sambil ngopi aja.


Teruntuk kalian para bosqu, jangan lupa untuk vote dan komen karya aku yang kurang tekad ini yaaa.

__ADS_1


Biar jiwa kita makin deket jangan lupa tinggalin jejak yang buat hati aku degdeg serr okee.


Salam 35° Celcius dari aku♡


__ADS_2