FELICITY

FELICITY
07. Halaman Tujuh


__ADS_3

Satu bulir air menetes di pipinya.


Langit mulai mengeluarkan tetesan air. Aileen menatap ke atas, langit yang gelap membuatnya tersenyum senang.


Ia masih setia berada di tempatnya tidak peduli bulir-bulir air dari langit mulai turun secara berkelompok.


"Gak mau neduh?" Tanya seorang cowok sedang berteduh di depan gudang yang ada di sana.


Aileen menoleh untuk melihat siapa yang sedang berbicara. "Gak mau ujan-ujanan? Pertanyaan sama yang Aileen tanyakan kepada cowok itu, ia hanya tersenyum kecil dan menghampiri Aileen.


"Ngapain di sini?"


"Gue gak kenal sama lo." Kata Aileen masih merasakan butiran air mengenai wajahnya.


"Gue Gavin."


Aileen langsung melihat ke arah Gavin. "Bener kata Rena, mukanya agak kebule-bulean." Batinnya.


"Gavin Emilio?" Tanya Aileen.


Gavin menyeringai kecil. "Sepopuler itu gue?" Katanya santai.


"Di sekolah ini yang punya nama Gavin cuma gue doang." Sambungnya lagi membuat Aileen menganggukan kepalanya.


"Ini beneran Gavin?" Batin Aileen.


Aileen menatap Gavin dari kaki sampai kepala. "Kok postur badannya sama sih kayak Saka?" Batinnya lagi.


"Natapnya biasa aja, gue emang tampan." Kata Gavin melihat Aileen menatapnya berulang kali seperti mengamati sesuatu.


"Eng .. enggak kak, gue cuma-


Belum menyelesaikan kalimatnya, Gavin menarik tangan Aileen untuk berteduh di tempat tadi.


"Bersihin pakek ini, rambut lo basah." Kata Gavin memberikan sapu tangan miliknya.


Aileen menerima sapu tangan itu, biasanya Aileen banyak bicara tapi kali ini dirinya hanya diam karena salah tingkah.


Sikap Gavin hangat, berbeda dengan Saka. Bagaimana kehangatan dan rasa dingin bisa bersatu di tempat yang sama? Aileen keheranan.


Aileen melipat sapu tangan itu dan melihat ada ukiran bunga sakura kecil di ujung sebelah kanan.


"Cantik." Gumam Aileen tersenyum manis. Gavin mengembangkan bibirnya melihat Aileen yang tersenyum.


"Kenapa sakura?" Tanya Aileen kepada Gavin. Bukannya menjawab pertanyaan Aileen, Gavin malah menatap rambut Aileen.


"Kenapa sakura?" Tanya Gavin kepada Aileen.


Aileen tersenyum bodoh memegang jepit rambutnya yang memiliki ukiran bunga sakura.


"Ya gue kan cewek, biar cantik pastinya." Jawab Aileen gugup.


"Kalo kakak kenapa? Kan gak normal cowok suka bunga sakura." Sambungnya lagi.


"Itu punya mantan gue." Jawab Gavin santai.


Aileen tambah bingung harus menjawab apa lagi. "Kenapa masih kakak simpen? Belum bisa move on?"


"Bego, kenapa nanya itu." Batin Aileen memaki dirinya sendiri.


Gavin tersenyum manis menatap Aileen. "Tadi pagi belum, tapi sekarang udah." Kalimat Gavin membuat otak Aileen semakin bebal. Udara di sekitarnya semakin terasa panas.


"Oh .. iya kak, Aileen buru-buru lagi nyari orang." Katanya melambaikan tangan dan berlari mundur meninggalkan Gavin.


Di tempatnya, Gavin menatap langit yang masih gelap tanpa ekspresi apapun.


"Gimana gak populer, auranya aja buat jantung gue mau copot." Katanya terburu-buru menuruni tangga.


"Apa orang itu memang beneran Gavin ya? Makanya dia baik sama gue." Sambungnya lagi membayangkan cowok yang tidur di belakang sekolah kemarin.


Aileen sampai di lantai satu, Ia melihat ke arah lapangan tapi teman-temannya tidak ada di sana.


"Al." Teriak Rena di depan kelas. Aileen langsung menghampiri Rena.


"Raga ada?" Tanya Aileen seperti kelelahan.


"Udah di kelas dari tadi, lagian lo ke mana aja sih lama banget."


"Nah itu sapu tangan siapa?" Sambung Rena melihat sapu tangan yang digenggam Aileen.


"Ya punya gue lah, punya siapa lagi coba." Jawabnya cengengesan tidak jelas.


"Yaudah yuk masuk." Ajak Rena menggandeng tangan Aileen.


Aileen dan Rena duduk berdekatan. "Lo keujanan Al? Gue ada sapu tangan nih." Kata Laura melihat rambut Aileen yang basah.


"Enggak Ra, gue ada kok." Jawab Aileen tersenyum dan menunjukkan sapu tangan milik Gavin.


Raga melihat sekilas ke arah Aileen lalu kembali fokus memainkan game kesukaannya.


"Pakek aja sweater lo, baju lo basah gini." Kata Rena khawatir.


"Ih gue tuh gak kedinginan Ren, malah kepanasan nih." Jawabnya sambil mengipasi dirinya dengan buku.


"Awas aja kalo sakit, males gue deket-deket."


"Kita musuhan kalo lo sakit." Kata Laura menyauti candaan Rena. Aileen tertawa mendengar itu.


"Yaudah nanti drakoran lagi." Balas Aileen membuat mereka tertawa.


"Terus dipanggil pak Nasir lagi." Kata Rena yang juga tertawa.


"Terus nyabutin rumput lagi." Timpal Laura.


"Terus ujan, gak jadi dihukum lagi." Kata Anton tiba-tiba ikut nimbrung obrolan mereka.


"Terus keseruan kitanya." Teriak Irfan mendekat ke arah mereka.


"Terus keasikan kitanya." Kata Danu memukul pelan bahu Irfan.


"Terus ketemu cogan." Kata Aileen tidak sadar membuat yang lain menatap penasaran ke arahnya.


"Apaan, kelas 10 C cowoknya kan ganteng-ganteng. Bukan begitu tuan Danu?" Sambungnya menjelaskan kepada mereka.


"Terimakasih atas pujiannya Ibunda Ratu." Jawab Danu membungkukkan badannya seperti memberi hormat kepada Aileen. Mereka tertawa keras melihat tingkah Danu yang lucu.


"Berisik!!" Teriak Putri tidak suka.


"Eh lanjut-lanjut." Kata Laura menyauti teriakan Putri.


"Terus ada yang iri." Kata Rena mengeraskan nada suaranya.


"Terus abang Anton mau ngomong. Putri sayang gak boleh teriak-teriak gitu, abang Anton marah nih." Kata Anton membuat yang lain tertawa lagi. Putri hanya mengomel tidak jelas di tempatnya.


Mereka terus melanjutkan obrolan dan tertawa bersama. Benar-benar suasana yang indah. Tapi rombongan Putri melirik tidak suka melihat mereka terus tertawa dan mulai menggosipkan kakak kelas ganteng.


"Udah reda, ayok ke lapangan lagi." Jelas Angga kepada mereka.


"Bentar lagi pulang, gak usah nyita waktu orang deh!" Teriak Putri yang tidak digubris oleh Angga.


"Hukuman ini untuk semua orang yang ada di sini. Ya kalo kalian ada usul bisa angkat tangan." Jelas Angga lagi.


Laura mengangkat tangan. "Gue ada usul. Bentar lagi kan pulang, mending sore entar kita ke sini lagi, jadi bisa istirahat dulu sebentar di rumah." Jelas Laura dibalas anggukan oleh Angga.


"Ya maksud gue juga kan gitu! Makanya kalo ada orang ngomong tuh dengerin!!!" Jawab Putri semakin sinis.


"Abang Anton bangga sama Putri Sayang." Kata Anton menyauti ocehan Putri.

__ADS_1


Bell pulang berbunyi. "Yaudah gitu aja daripada RIBET!" Kata Rena menyindir Putri. Putri yang mendengar itu hanya mengomel di tempatnya.


"Pada setuju gak?" Tanya Angga pada mereka semua.


"Kalo bebeb Putri dateng, abang Anton pasti dateng." Jawab Anton membuat tangan Danu dan Irfan memukul kepalanya.


Raga benar-benar tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Ia melangkah keluar kelas dengan santai. "Ga nanti dateng!" Kata Angga saat Raga sudah membuka pintu kelas.


"Aileen duluan ya." Katanya berlari mengejar Raga.


"Raga tunggu." Teriak Aileen sambil berlari.


Raga berjalan menuju tempat parkir, ia menaiki motor sport miliknya yang berwarna hijau.


Aileen menghadang di depan saat motor itu mau melaju meninggalkannya. "Gak waras lo!" Ucap Raga memaki Aileen.


"Ya lo dari tadi gue panggilin diem aja."


"Minggir!"


"Nebeng ya. Kita kan tetanggaan."


"Bukan berarti lo bisa atur gue!" Katanya dingin dan melajukan motornya, Aileen reflek bergeser dari tempatnya.


Aileen memandang punggung Raga yang semakin jauh. "Dasar Raga jelek! Kemaren aja baik, sekarang udah kumat lagi."


Saat ini sekolahan mulai ramai murid-murid yang akan pulang, tapi langit mendung membuat suasana menjadi sedikit menyeramkan.


"Lagi marahan cieeecieee, pasti karena perselingkuhan."


Aileen menoleh melihat Saka dan rombongannya, kecuali Gavin. Aileen tidak menanggapi apa yang dikatakan Elvano.


Aileen pura-pura tidak melihat kehadiran mereka. Ia malas meladeni orang aneh lagi.


"Kak Saka." Teriak Salwa dari kejauhan mulai berjalan mendekati Saka. Aileen lagi-lagi melihat Saka tersenyum hangat kepada Salwa.


Aileen keheranan melihat itu. "Serius ini Saka?" Batin Aileen mengamati wajah Saka.


"Gue emang keren, tapi gak usah gitu juga liatinnya." Kata Saka santai. Aileen memutar bola matanya malas.


"Maaf ya kak aku lama." Kata Salwa memasang wajah yang imut. Saka tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Elvano bertepuk tangan heboh. "Hebat hebat hebat. Kekuatan cinta memang melunakkan yang keras, mengeraskan yang lunak." Kata Elvano ambigu. Geo gemas dengan Elvano dan menoyor kepalanya pelan.


"Aileen bego, ngapain masih di sini." Batinnya memaki dirinya sendiri.


"Salwa." Ucap Salwa manis mengulurkan tangannya kepada Aileen.


Aileen kaget tiba-tiba Salwa mengajaknya berkenalan. "Aileen, Aileen Calya." Balas Aileen tersenyum manis.


"Gue balik duluan ya, keburu ujan." Sambung Aileen tetap menyunggingkan senyuman ramah.


"Aileen bareng kita aja. Kak Geo sama kak Vano kan sendirian." Kata Salwa saat Aileen mulai melangkah.


"Mana mau dia sama Vano." Kata Geo tertawa. Saka sedari tadi hanya berdiri santai di tempatnya tanpa memasang ekspresi apapun.


"Sama gue aja." Sambung Geo lagi.


"Enggak kak, gue jalan aja. Rumah gue deket kok." Jawab Aileen melihat sekilas ke arah Saka. "gue balik duluan kak." Katanya melangkah pergi menjauh dari mereka.


"Itu temen kak Saka?" Tanya Salwa kepada Saka.


"Gak kenal." Jawab Saka mengelus puncak kepala Salwa. Salwa tersenyum manis menggenggam tangan Saka.


"Udah ya udah gue balik duluan, gak tahan gue liatnya." Kata Elvano membuat mereka tertawa.


"Cepet balik keburu ujan, kasian Salwa." Kata Geo memberitahu Saka. Saka tersenyum kecil dan mulai menaiki motornya.


Aileen berjalan ceria menggenggam tasnya. "Aileen, hati-hati ya." Teriak Salwa saat motor Saka melewati dirinya. Aileen melambaikan tangan dan tersenyum.


Aileen melihat Salwa memeluk erat pinggang Saka. Ia menggelengkan kepalanya keheranan. "Salwa kok mau ya pacaran sama Saka? Gak pusing apa ya ngeladenin orang aneh kayak gitu setiap hari?"


"Kakak duluan aja, rumah gue beneran deket kok." Jawab Aileen tersenyum ramah.


"Pinjem handphone lo bentar."


Aileen mengeluarkan hp dari tasnya. "Ini kak, gak gue kunci." Katanya memberikan hp itu ke Geo.


Aileen menunggu sambil mengusap-usapkan sepatunya yang kotor ke aspal. "Kalo ada apa-apa telpon gue." Kata Geo mengembalikan hp itu kepada Aileen.


Aileen mematung di tempatnya, ia kaget menerima perlakuan hangat dari orang yang statusnya sebagai teman Saka, bahkan Aileen belum mengenal Geo.


"Cepet jalan, keburu ujan." Kata Geo memecahkan lamunan Aileen.


"Iya kak."


"Eh bentar bentar." Ucap Aileen saat Geo akan menjalankan motornya.


"Ini buat kakak. Gak boleh di buang." Sambungnya lagi memberikan lima permen gagang kepada Geo.


"Thanks." Kata Geo menerima permen itu dan tersenyum hangat. Aileen melambaikan tangan saat Geo menjalankan motornya.


Aileen mulai berjalan dengan ceria, tiba-tiba gerimis mulai turun lagi ke bumi.


"Yeeyy ujannn." Katanya senang. Saat orang-orang mulai heboh untuk mencari tempat berteduh, Aileen tetap santai melanjutkan perjalanannya.


Butiran air yang kecil mulai berubah menjadi butiran air yang besar. Hujan deras disertai angin mulai menyambut langkah kaki Aileen.


"Yah kok deres sih. Kasian sweaternya, jadi basah kan." Katanya mulai berteduh di depan toko yang tutup karena sudah lama tidak terpakai.


Aileen melepas sweater yang Ia pakai dan menyimpannya rapih di dalam tas.


Udara dingin di sana mulai menusuk ke kulit. Aileen kedinginan, tapi Ia tidak mau memakai sweaternya, Ia takut sweater itu akan basah dan rusak.


Aileen duduk di lantai, ia memeluk tasnya dan menundukkan kepalanya ke lutut. "Kalo lanjut, nanti tasnya basah, kalo tasnya basah nanti sweaternya juga ikut basah." Ucapnya bingung harus bagaimana.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Aileen mengangkat kepalanya, tapi Ia tidak mengenali mobil merah itu milik siapa.


Jendela mobilnya terbuka. "Aileen, sini cepat masuk." Teriak wanita dari dalam mobil.


Aileen beranjak mendekati mobil itu.


"Ibu." Kata Aileen tersenyum senang melihat Juwita yang sedang tersenyum hangat kepadanya.


Aileen membuka pintu mobil dan duduk di samping Juwita. "Kok bisa sampai basah gitu sih badannya." Ucap Juwita khawatir melihat Aileen yang basah kuyup. Aileen hanya menunjukkan cengiran kudanya.


"Pak tolong matikan saja AC-nya." Sambungnya lagi kepada Kreso-supir Juwita.


Juwita mengambil handuk yang tergantung di kursi belakang mobil. "Kamu bersihin rambut kamu pakek ini."


"Ini jaket Raga, pakai aja gakpapa." Sambungnya lagi memberikan hoodie abu-abu milik Raga. Aileen memakai hoodie itu dan saat ini ia merasa hangat, ada aroma Raga di sana.


"Kenapa kamu gak bareng sama Raga? Kan kalo naik motor sampai rumahnya lebih cepet."


"Aileen tadi piket dulu bu, jadinya Raga udah pulang duluan hehe." Ucap Aileen berbohong.


"Yaudah kamu tidur aja, pasti kamu capek. Nanti kalo udah sampai, Ibu bangunin." Kata Juwita mengusap rambut Aileen.


Aileen berkaca-kaca, ia tiba-tiba memeluk Juwita. "Makasih ya bu." Katanya penuh haru.


"Iya Al." Jawab Juwita membalas pelukan Aileen. Aileen memejamkan matanya dipelukan Juwita.


Mereka sampai. Mobil merah itu berhenti tepat di depan teras rumah Juwita.


Juwita tidak tega membangunkan Aileen yang tertidur sangat pulas. "Pak tolong panggilin Raga ke sini ya." Ucap Juwita bisik-bisik kepada Kreso.


"Baik bu."

__ADS_1


Tidak lama setelah pak Kreso masuk ke dalam rumah, Raga melangkahkan kaki mendekat ke arah mobil.


"Kenapa mah?" Tanya Raga belum tau kalau ada Aileen di dalam mobil.


Juwita memberikan isyarat agar Raga memelankan suaranya. "Ini gendong Aileen masuk."


Raga mengerutkan dahi keheranan melihat Aileen tidur di dalam pelukan Ibunya.


"Udah cepetan, kasian keburu bangun."


"Ya biar aja bangun, kaki dia lengkap ada dua, gunanya buat jalan." Jelas Raga malas menggendong Aileen.


"Raga!" Tegas Juwita memberikan delikan tajam kepada Raga.


Raga masuk ke dalam mobil, pelan-pelan ia keluar dari mobil menggendong Aileen.


"Bawa ke kamar tamu." Kata Juwita mengekori mereka di belakang.


Bi Jaynab-pekerja rumah tangga di rumah Juwita panik melihat Raga menggendong seorang gadis.


"Ini ada apa bu?" Tanya bi Jay pada Juwita.


"Bukain pintunya dulu bi."


Bi Jay membukakan pintu kamar tamu, Raga masuk ke dalam membaringkan Aileen di tempat tidur bernuansa biru.


"Itu temen Raga keujanan." Jelas Juwita kepada Bi Jay.


"Namanya Aileen, tolong digantiin bajunya ya bi. Ambil aja baju saya di lemari, pilih yang hangat." Sambung Juwita dibalas anggukan oleh bi Jay.


Juwita masuk ke dalam kamar. "Raga, tolong ambilin minyak kayu putih di kamar mamah ya."


"Mah, kan ada bi Jay." Jawabnya malas.


"Sebentar aja." Kata Juwita mendorong Raga keluar dari kamar itu. Raga berjalan malas ke kamar Juwita.


Juwita duduk di pinggir kasur, ia mengecek suhu badan Aileen. "Normal."


Tok tok tok


"Masuk."


Bi Jay masuk membawa baju hangat berwarna putih.


"Yaudah bibi gantiin dulu aja ya, saya mau bongkar tas ini, takut bukunya basah." Kata Juwita melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu.


Juwita membuka tas Aileen. "Sweater? Kenapa malah disimpan?"


Juwita mengeluarkan berbagai macam bungkusan permen gagang dari tas Aileen. "Kenapa isinya permen semua?" Juwita menggelengkan kepala dan tertawa kecil.


"Eh Raga Raga." Panggil Juwita melihat Raga berjalan ke arah kamar tamu.


"Sini nak."


Raga melihat sweater, sapu tangan dan beberapa bungkus permen di atas meja.


"Permen?"


"Iya ini punya Aileen semua, liat geh gak ada buku sama sekali di dalam tasnya." Jelas Juwita tertawa kepada Raga.


"Emang gak jelas. Kenapa Mamah bawa dia ke rumah?" Tanya Raga dingin.


"Salah kamu ini. Seharusnya kamu pulang bareng sama Aileen. Dia itu temen kamu, tetangga kita juga. Gara-gara kamu Aileen duduk sendirian di depan toko nungguin ujan reda, kalo ada apa-apa sama dia gimana coba?" Jelas Juwita panjang lebar.


Raga tidak mendengarkan omelan Juwita. Ia meletakkan minyak kayu putih di atas meja dan melangkah pergi ke kamarnya.


"Raga. Mamah lagi ngomong sama kamu." Teriak Juwita yang tak digubris oleh Raga.


"Bu, sudah bibi ganti bajunya." Kata bi Jay tiba-tiba muncul.


"Seragamnya bibi cuci terus dikeringin langsung ya." Bi Jay menganggukkan kepala dan melangkah pergi ke dapur.


"Bi Jay tunggu. Ini sweater sama sapu tangannya sekalian dicuci ya." Sambung Juwita lagi.


Juwita melangkahkan kaki ke kamar tamu. Ia mendekat ke kasur, mengusapkan minyak kayu putih ke tangan Aileen.


Aileen mengerjapkan matanya. "Ibu?"


"Eh kamu bangun. Gimana? Kamu ngerasa pusing gak? Atau kedinginan gitu?"


Aileen tersenyum menggelengkan kepalanya. "Aileen di mana bu?" Tanyanya kebingungan melihat sekeliling kamar.


"Kamu di rumah Ibu, tadi kamu tidurnya pules banget jadi gak enak mau bangunin." Jelas Juwita tersenyum manis.


"Aileen malu, pasti pak Kreso keberatan gendong Aileen." Katanya malu-malu.


Juwita tersenyum kecil. "Tanya Raga coba kamu berat apa enggak."


"Raga?"


"Ya kan kamu digendong Raga, bukan pak Kreso."


Pipi Aileen terasa panas. "Loh pipi kamu merah, kamu ngerasa pusing Al?" Tanya Juwita cemas.


"Enggak bu enggak, Aileen gakpapa kok." Jawabnya cengengesan.


"Hubungi dulu orang rumah, siapa tau khawatir kamu gak pulang pulang."


"Aileen tinggal sendirian bu."


"Orang tua kamu di mana?"


"Ibu tau Andesta Fanya?"


Juwita menganggukan kepala. "Gak ada yang gak kenal sama dia. Dia kan salah satu model terkenal luar Negeri. Ibu suka sama stylenya, keren keren."


"Itu Mamah Aileen." Gumam Aileen lirih.


"Mamah itu bener-bener pengen jadi model dari Aileen kecil, jadinya sering pindah pindah tempat tinggal." Jelas Aileen.


Juwita terdiam kaget mendengarkan curhatan Aileen.


"Sekarang Mamah udah sibuk karena terkenal, jadinya gak pernah pulang lagi ke Indonesia. Mamah cuma beliin Aileen tempat tinggal dan selalu transfer uang buat Aileen."


Juwita menggenggam tangan Aileen.


"Tapi .. Aileen mulai berkaca-kaca.


Juwita memeluk Aileen. "Gak usah dilanjutin kalo itu buat kamu sedih. Ibu tau gimana perasaan kamu."


"Udah waktunya makan siang, pastinya kamu belum makan kan?" Aileen menganggukkan kepala.


"Yaudah yuk sekarang keluar."


Mereka berjalan keluar dari kamar. "Al, Ibu ke kamar sebentar ya. Kamu duluan aja ke dapur, ada bi Jay kok di sana." Aileen menganggukkan kepalanya paham.


Aileen melihat di dapur sana ada seorang wanita sedang sibuk menyiapkan makanan.


"Bi Jay?" Panggil Aileen.


"Ohh nak Aileen sudah bangun." Kata bi Jay ramah. Aileen membantu menyiapkan piring ke meja makan.


"Sudah sudah. Biar bi Jay aja. Nak Aileen duduk aja di situ."


"Aileen udah biasa kok bi, Aileen mau bantu." Katanya tersenyum membuat bi Jay ikut tersenyum.


Dari jauh, Juwita mengembangkan bibir melihat Aileen bersikap ramah dan membantu bi Jay.

__ADS_1


...*…*…*…*...


__ADS_2