
Udara di sana masih asri, sinar matahari pun belum sepenuhnya terang. Dedaunan masih basah tersentuh embun, tapi Aileen sudah rapih mengenakan seragam sekolahnya.
Pagi ini Aileen berencana untuk berangkat ke sekolah bersama Raga. Iya, hanya rencana sepihak.
Aileen memakai seragam sekolah lengkap dibalut sweater pink kesukaannya. Rambutnya yang panjang tergerai lurus diberi hiasan jepit rambut dengan ukiran bunga sakura.
"Raga udah berangkat belum ya?" Tanyanya pada diri sendiri.
Aileen menggelengkan kepala. "Gak mungkin manusia sejenis Raga berangkat sekolah pagi-pagi. Mustahil." Katanya lagi. Bermenit-menit sudah berlalu, Aileen masih setia menunggu Raga.
Sekarang jarum panjang di dalam jam tangannya sudah menunjukkan pukul 07:14. "Masih ada waktu." Katanya memukul-mukulkan ranting panjang ke atas aspal.
Aileen tidak sabar, Ia memilih untuk pergi ke rumah Raga. Biasanya cowok yang menjemput cewek untuk berangkat bersama, tapi Aileen tidak peduli dengan hal itu. Yang Aileen tau, dirinya dan Raga sudah berteman dan bertetangga.
Aileen melangkah mengenakan sepatu hitam kesayangannya, memakai kaos kaki biru untuk kaki sebelah kanan dan kaos kaki pink untuk kaki sebelah kiri.
Aileen berjalan riang mengangkat ranting yang dibawanya tinggi-tinggi. Melompat-lompat kecil seperti ingin menangkap awan tipis di langit.
Sudah sampai di depan rumah Raga, Aileen duduk di tepi jalan. Aileen tidak mau mendobrak rumah Raga, Ia mau memberi Raga kejutan.
Tanpa Aileen sadari 20 menit sudah berlalu, Raga tidak juga keluar. Aileen bosan, Aileen beranjak dan memencet bell yang tertempel di gerbang rumah Raga.
"Ragaaa." Teriaknya di depan gerbang.
Gerbang dengan nuansa kayu itu terbuka lebar memunculkan wanita dewasa yang benar-benar cantik. "Maaf, kamu siapa ya?" Tanya wanita itu ramah.
"Temen Raga, tetangga Raga juga kak." Jawab Aileen tersenyum ramah.
"Saya Ibunya Raga, Juwita." Kata Juwita tersenyum.
Aileen menampilkan cengiran polos karena malu mengira wanita cantik di depannya ini adalah kakaknya Raga.
"Nama kamu siapa?" Tanya Juwita ramah.
"Aileen bu, Aileen Calya. Aileen tinggal di gang samping ini." Jawab Aileen sopan dan Juwita mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi Raga sudah berangkat dari tadi. Emang kalian gak janjian dulu sebelum ini?"
Aileen nyengir lebar. "Hehe enggak bu, niat Aileen mau ngasih Raga kejutan, tapi yaudah deh Aileen berangkat ya bu udah siang." Sambungnya lagi.
"Mau Ibu anter aja? Udah siang ini, nanti kamu terlambat."
Aileen menggelengkan kepalanya. "Enggak bu, Aileen mau sekalian olahraga aja biar tambah cantik hehehe."
"Aileen berangkat bu." Pamit Aileen mencium tangan Juwita.
"Hati-hati ya, jangan lari-lari nanti kamu capek dan gak konsen untuk belajar." Jawab Juwita memberi nasehat.
"Laksanakan." Kata Aileen serius dan membalikkan badan mulai berlari kecil. Juwita memandang punggung Aileen yang semakin menjauh. "Raga tumbenan punya temen cewek." Gumam Juwita melangkah masuk ke dalam rumah.
"Raga itu jelek. Bener-bener nyebelin. Dasar si Kleo aneh!" Ucap Aileen memaki Raga.
"Ibunya aja ramah, cantik, segala-galanya pokoknya, tapi anaknya sedikit baik sedikit jahat." Sambungnya lagi.
__ADS_1
"Lari telat, gak lari telat." Kata Aileen berjongkok untuk mengatur napas karena mulai lelah berlari.
Aileen mendengar suara cowok dibarengi suara deru motor di samping dirinya berjongkok. "Naik."
Aileen mengangkat wajahnya untuk melihat siapa cowok itu.
Aileen memukul kepalanya pelan. "Astaga Renaaa." Katanya buru-buru naik ke atas motor ninja berwarna hitam milik Saka.
"Turun! Gue Saka bukan Rena." Kata Saka tajam.
"Lo lupa ingatan? Kan lo sendiri yang nawarin ke gue, barusan banget malahan." Balas Aileen tak terima.
"Apa perlu kita reka adegan?" Kata Aileen semakin menggebu-gebu.
"Nih ya, gue tadi jongkok di situ tuh, terus tiba-tiba lo dateng dan bil-
"Diem atau turun?" Sela Saka dingin.
Aileen bungkam. "Mana mungkin gue bisa lupa ada janji sama Rena. Isss Ragaaa! Gara-gara lo ini." Maki Aileen di dalam hati.
Sepanjang jalan Aileen diam, bukan karena Aileen menuruti apa kata Saka, tapi karena Aileen sudah gila. Ia terhipnotis aroma parfum Saka yang menenangkan dan nyaman.
Aileen memejamkan matanya, bibirnya mengembang lebar. Dari tadi Ia sibuk bertepuk tangan bahagia tanpa suara. Aileen benar-benar suka aroma Saka.
Mereka sampai di tempat tujuan, tapi gerbang sekolah sudah ditutup. Ada pak Nasir di sana yang berwajah gembira melihat mangsa datang.
Motor Saka mendekat ke gerbang. Mereka benar-benar disambut hangat oleh pak Nasir.
"Aaaww.. Lo gang- Teriak Aileen tidak jadi karena melihat senyuman manis dari pak Nasir.
"Selamat pagi pak." Ucap Aileen tegas dan berpose hormat.
Saka yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas.
"Saka! Kamu senior di sini." Kata pak Nasir serius.
"Lah iya ya. Gue tadi maen naik-naik aja ke motor Saka. Astaga gak sadar kalo satu sekolah. Jadi dia kakak kelas gue? Mati gue mati." Batin Aileen sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Dan kamu." Ucap pak Nasir memecahkan pikiran Aileen.
"Baru berapa hari kamu jadi murid SMA. Seharusnya kamu lebih disiplin." Sambungnya lagi sambil menunjuk Aileen menggunakan rotan kecil yang panjang.
Saka tetap bersikap santai di tempatnya, sedangkan Aileen malah tersenyum bodoh dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Pertama, tidak perlu saya jelaskan. Kamu pasti sudah tau apa hukumannya." Jelas pak Nasir kepada Saka.
Saka tidak menjawab, Saka hanya mendorong motornya masuk ke dalam sekolah.
Aileen bengong di tempatnya berdiri. "Kalau tidak mau masuk, silahkan istirahat saja di rumah." Ucap pak Nasir membuat Aileen merinding.
Melihat Saka mendorong motor, Aileen berlari kecil menghampiri Saka. "Sini kak, biar Aileen bawain." Katanya tiba-tiba bersikap manis dan mengambil helm di tangan Saka.
Saka yang mendengar itu melirik tajam kepada Aileen. Tapi Aileen tetap menyunggingkan senyuman dan mengedip-ngedipkan matanya pelan.
__ADS_1
Saka pergi ke arah parkiran motor, Aileen setia mengekorinya dari belakang.
Jangan lupakan pak Nasir yang sedang menunggu mereka di bawah pohon dekat lapangan.
Dari kejauhan, Aileen melihat pak Nasir yang sepertinya sudah benar-benar siap memangsa mereka berdua.
"Kenapa motornya tadi kakak dorong?" Tanya Aileen tidak tau kalau itu adalah salah satu peraturan di sekolah ini. Siapapun yang terlambat, tidak diperbolehkan untuk menghidupkan motor sampai di tempat parkir.
"Tanya Nasir." Jawab Saka dingin.
"Nasiiiiir." Teriak Aileen.
"Lo!" Ucap Saka ketus.
"Kata kak Saka gue suruh nanyain itu ke Nasir. Ya gue panggil lah. Kalo gue ngomongnya pelan mana denger Bapaknya." Jelas Aileen yang tak digubris oleh Saka.
"Tapi keliatannya pak Nasir gak denger kalo gue panggil." Ucap Aileen lagi.
"Kak Saka." Panggil Aileen selagi mereka berjalan mendekat ke arah pak Nasir.
"Kak Saka jangan diemin gue dong." Katanya lagi.
"Gue bukan kakak lo." Jawab Saka ketus.
Aileen gemas dengan sifat dingin Saka. "Dasar Saka bego, Saka lebih jelek dari Raga." Maki Aileen di dalam hati.
"Cepat cepat cepat." Teriak pak Nasir tidak sabar.
Aileen menarik lengan Saka dan mulai berlari kecil.
"Saka, saya kemarin menerima laporan dari wali kelas kamu. Katanya kamu bolos pelajaran pertama dan masuk lagi ke pelajaran selanjutnya, ke mana saja kamu selama bolos?"
"Lupa." Jawab Saka singkat.
"Hah." Batin Aileen kaget melihat tingkah Saka.
"Saka!" Tegas pak Nasir.
"Harusnya Bapak bersyukur. Berkat saya tidur-tiduran di bawah pohon belakang sekolah, murid kelas lain gak ada yang berani bolos."
"Hah? Gimana gimana? Bawah pohon belakang sekolah?" Gumam Aileen di dalam hati. Aileen mematung di tempatnya. Fokus Aileen sekarang teralihkan oleh jawaban Saka, tempat dimana Saka membolos pelajaran kemarin.
"Nama dan kelas kamu?" Tanya pak Nasir tiba-tiba.
"Oohh tidak mungkin hahaha sangat tidak mungkin." Ucap Aileen tidak sadar dibarengi tawanya yang terbahak-bahak.
"Bego." Batin Saka mendengar ucapan Aileen yang bodoh.
...*...
...*...
...*...
__ADS_1