
..."Kita harus belajar menunduk tanpa dunia ikut runtuh."...
...***...
Aileen terdiam di tempatnya.
Iya, hanya terdiam. Aileen tidak menangis ataupun mengeluh untuk membela diri. Pikirannya saat ini sangat penuh, dirinya masih terkejut dengan tuduhan yang Putri lontarkan.
Raga memberikan segelas air putih kepada Aileen. "Minum dulu." Katanya singkat.
Aileen menggenggam gelas itu dengan lemah tanpa meminumnya setetes pun. "Gue." Katanya membuka suara. "Gue mau minta maaf sama kalian." Sambungnya lagi masih dengan suara yang agak gemetar. "Gara-gara gue acara kita jadi kacau."
Aileen mulai menatap mereka seperti ingin berbicara. Karena Angga tahu apa yang akan Aileen katakan, cepat-cepat Angga membuka suara agar Aileen lebih memiliki waktu untuk tenang. "Dengan kejadian barusan kayaknya acara gak bisa kita lanjut."
"Gue gak bilang kalo jujur itu hal yang buruk, tapi gue rasa kalian harus bisa baca kondisi dan situasi. Kalo emang ada yang kalian gak suka dari temen satu kelas kita, gue harap kalian bisa bicarain baik-baik." Ucap Angga lembut.
"Gue tau kita masih kelas 10, mungkin ini hal yang bener-bener baru buat kita. Ketemu dengan orang-orang baru, harus kenal sama orang yang bener-bener kita gak tau sifat dan perilakunya kayak gimana."
Angga tertawa kecil. "Kita sama aja dipaksa buat masuk ke lingkungan yang baru."
"Tapi kalian pernah berpikir gak sih, kalo suatu hal yang kita alamin sekarang, yang kita rasa ini adalah sesuatu yang dipaksain ke kita, mungkin aja ini bagian dari bahagia kita yang memang belom pernah kita temuin sebelumnya."
"Dengan orang-orang baru, bisa aja ini juga bahagia baru buat kita. Cuma emang kita belom sepenuhnya sadar." Mereka mengganggukkan kepala kompak mulai memahami maksud dari apa yang Angga katakan.
Rena menggenggam tangan Aileen hangat. "Dalam satu minggu, lima hari kita ketemu dari pagi sampe sore, menurut gue ini udah bisa disebut keluarga di sekolah." Ucap Rena menambahkan.
"Kalo diantara lo pengen punya broken school ya silahkan. Gue sih ogah." Tambahnya lagi.
Aileen tersenyum dengan pernyataan Angga dan Rena. "Gue bener-bener berterimakasih sama kalian yang udah dateng, seenggaknya kita udah punya waktu lebih buat ketawa bareng hari ini. Gue rasa, ini lebih dari cukup."
"Gue harap kalian bisa lebih terbuka. Ekspresiin sesuka kalian rasa yang kalian punya, kalo emang dipendem buat kalian lebih tersiksa."
"Kita boleh loh buat ngungkapin segala hal, tapi dengan cara yang baik biar bisa diterima dengan baik juga." Tambah Aileen tersenyum hangat.
"Bener kata Angga. Kita semua baru disini, jadi menurut gue hal yang penting biar kita lebih akrab itu, jalin komunikasi. Dengan sifat gue yang masih seburuk ini, gue harap kalian bisa nolong gue biar gue bisa upgrade diri ke yang lebih baik."
"Gue bener-bener minta maaf sama kejadian tadi. Gue pengen kita bisa lanjutin TOD dilain waktu. BTW, gue sekarang tau permainan baru loh." Katanya sambil tertawa kecil. Rena memeluk Aileen disusul dengan Laura dan Resi.
Anton dengan dramatis menarik lengan Danu untuk ikut memeluk Aileen. "Eh anjir si modus." Ucap Zoya dengan tawanya yang khas. Belum sampai di tempat, Anton sudah ditoyor pelan oleh Raga.
Tiba-tiba Erike mendekat dan menggenggam tangan Aileen. "Ke, ini?" Ucap Aileen tersenyum melirik Raga untuk memberikan kode. "Gue beneran gak tau kalo Putri bakalan sejauh itu Al." Jawab Erike merasa bersalah.
"Enggak ke gak masalah kok. Berteman, gak mungkin terlepas dari masalah. Iya kan?" Katanya lagi tersenyum.
"Salah paham bisa diselesain asalkan yang terlibat bisa ngendaliin egonya." Tambah Aileen dengan memeluk hangat Erike.
"Tapi sebelum kalian pulang, gue pengen kalian bawa makanannya loh ya."
"Kasianin gue sama Rena yang udah susah payah buat ini." Ucap Aileen memasang ekspresi yang disedih-sedihkan. Anton maju paling depan, menampilkan cengiran bodohnya. "Gue udah gak makan lima hari." Kata Anton membuat Aileen tertawa. "Selain Anton ya." Jawab Aileen membuat Anton uring-uringan membuat Danu dan Irfan kesusahan.
Mereka mulai membungkus makanan yang tak tersentuh karena terlalu asik bermain. "Raga." Panggil Aileen pelan.
"Ga, Oksa sama Lena kan tadi berangkatnya bareng Putri."
"Gak!" Jawab Raga tahu maksud dari perkataan Aileen.
"Ih kan gue belom selesai ngomong." Ucap Aileen protes. "Dengerin dulu."
"Enggak." Jawab Raga melangkah pergi. Aileen mengekori Raga dari belakang. "Please please please pleaseeee." Katanya memohon dengan serius.
"Lo gak liat tadi mereka udah-
"Ga mereka cuma salah paham." Jawab Aileen cepat sebelum Raga menyelesaikan kalimatnya. "Mereka gak salah."
"Mereka cuma belom kenal sama gue. Hal kayak gini tuh masih bisa diperbaiki."
"Raga, ya?" Ucapnya lagi memohon.
"Orang kayak mereka, gak akan pernah bisa berubah." Jawab Raga tegas. "Sekali ini aja ya ya ya ya."
"Hm? Sekali iniiii aja."
__ADS_1
"Besok besok gue gak ngerepotin lo lagi. Serius."
"Janji." Tambahnya lagi terus merayu Raga agar mau mengantar Lena dan Oksa pulang.
"Sekali ini aja." Jawab Raga pergi meninggalkan Aileen. Di tempatnya kini Aileen merasa senang dan lega.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Setelah berpamitan, satu persatu dari mereka mulai meninggalkan tempat. Begitu pula dengan Raga, dengan wajah kusutnya ia terpaksa mengantarkan Oksa dan Lena pulang. Rean yang kini membonceng Rena juga ikut berpamitan pulang.
Setelah mereka semua pergi keadaan di rumahnya sangat sepi. Aileen merasa aneh, seperti kosong. Perasaan yang benar-benar hampa. Karena halaman rumahnya kini sangat berantakan, Aileen mulai membereskan semua.
Tiba-tiba Aileen terdiam, ia teringat masalah yang terjadi tadi. Hp di dalam kantongnya berdering membuat lamunannya terpecah. Terlihat nomor baru di layar hpnya. "Halo." Katanya lembut.
"Dimana?" Jawab seseorang dari seberang sana.
"Ini siapa?" Tanya Aileen tak mengenali suara laki-laki itu. "Share lokasi, gue mau ambil sapu tangan." Jawab laki-laki itu mematikan telfonnya.
Aileen menepuk jidatnya pelan teringat sapu tangan milik Gavin yang masih ia simpan. "Ih kenapa harus sekarang." Katanya kesal karena rumahnya pun saat ini masih sangat kacau.
Aileen membuka notifikasi pesan yang masuk. "Now!" Cepat-cepat ia membalas.
Aileen.
"Jangan sekarang ya kak."
"Kak Gavin."
"Belom gue rapihin kak."
"Kak."
"Besok gue bawa ke sekolah, beneran."
Pesan dari Aileen hanya dibaca saja oleh Gavin. Tiba-tiba ada notifikasi masuk. "Nengok." Ucap Aileen membaca pesan dari Gavin. Aileen reflek menoleh ke kanan tapi tidak menemukan siapapun. "Ke arah kiri." Ucapnya lagi membaca pesan yang baru masuk. Aileen menoleh dan mendapati mobil hitam di depan gerbang rumahnya, sepertinya Gavin berada di dalam mobil itu.
Aileen menggerutu sebal sambil berlarian kecil menghampiri mobil itu. "Tau dari mana?" Tanya Aileen sedikit berteriak dari balik kaca jendela.
Gavin menurunkan kaca mobilnya. "Apanya?" Jawabnya pura-pura tidak mengerti.
"Rumah gue kak. Kan gue belom share lokasi."
"Ih tau ah. Tunggu sini bentar, gue ambil dulu."
"Al." Panggil Gavin menghentikan langkah Aileen. Aileen menoleh dan merespon melalui isyarat wajahnya.
"Jalan sama gue." Jawab Gavin membuat Aileen menautkan alisnya. "Hah, ngapain?"
"Temenin gue makan."
"Emang kak Gavin gak ada pacar gitu?" Tanya Aileen sedikit berhati-hati. "Belom, nanti." Jawab Gavin membuat Aileen menautkan alis kebingungan. "Kenapa harus gue?"
"Cuma lo kan sekarang yang ada di depan gue?" Aileen mengganggukkan kepalanya berpikir sejenak. "Tapi mager."
"Kak Gavin liat tuh, rumah gue berantakan banget kan." Tambahnya lagi sambil menunjuk halaman rumahnya yang memang berantakan. "Mending kakak bantuin gue beresin itu semua." Sambungnya lagi tidak tau malu.
"Auranya tambah positif tau kalo cowo rajin bersih-bersih, nanti dapet bonus sertifikat deh dari gue."
"Terus gue kasih cup cake sisahan, terus gue kasih air putih rasa tawar, terus gue kasih permen rasa jeruk, terus gue kasih senyuman gue yang terlampau manis ini deh."
"Hmm apa lagi yaa." Aileen kembali berpikir. "Terus gue kasih kebahagiaan." katanya heboh bertepuk tangan.
"Ya kak ya, mending bantuin gue kan daripada makan. Keuntungannya banyak banget. Kesempatannya cuma berlaku hari ini loh." Ucapnya lagi dengan cengirannya yang bodoh.
Gavin berdecak sebal. "Lebih dari tiga menit, jalan sama gue." Katanya memaksa sambil memberikan kode dengan tangannya agar Aileen pergi masuk. "Cowo kok nyebelin." Jawab Aileen dengan cepat-cepat berlari untuk mengambil sapu tangan milik Gavin.
Sembari mencari sapu tangan milik Gavin, Aileen kembali mempertimbangkan ajakan Gavin. Daripada membereskan halaman rumah, sepertinya lebih baik Aileen pergi dengan Gavin, siapa tau dirinya bisa lebih tenang. "Kak Gavin juga gak ada pacar kan, apa salahnya jalan sama dia?"
Aileen berjalan riang menghampiri Gavin. Ia menutup gerbang rumahnya membuat Gavin keluar dari mobil. "Berubah pikiran?" Tanya Gavin tersenyum.
"Ih siapa yang berubah pikiran? Emang gue tadi ada bilang ke kakak kalo gue nolak?" Jawab Aileen protes.
"Enggak kan? Dimana coba letak gue nolak ajakan kakak?" Katanya lagi memasang wajah tidak mood. "Mana coba tunjukin buktinya. Gak ada ya kan? Kakak aja gak bisa buktiin." Tambahnya lagi membuat Gavin tertawa. "Yakin gak mau beresin rumah aja?" Tanya Gavin menggoda Aileen.
__ADS_1
Aileen menggelengkan kepalanya yakin. "Aman kak, rumah gue ada kekuatan sihirnya, nanti waktu kita balik pasti udah bersih." Jawab Aileen sambil tertawa kecil.
Gavin berjalan pelan dengan niat untuk membuka pintu mobil untuk Aileen. "Eh kakak mau ngapain? mau kemana?" Tanyanya dengan cepat.
Gavin menoleh menghentikan langkahnya. "Bukain lo pintu mobil lah." Aileen tertawa lepas.
"Kakak tau ini apa?" Tanya Aileen mengangkat kedua tangannya. "Lo mau ngejek gue?" Kata Gavin balik bertanya.
"Ini tangan kak. Gue punya dua tangan lengkap." Katanya menjelaskan.
Aileen mengangkat tangan kanannya. "Ini tangan kanan gue." Gavin terlihat masih kebingungan dengan apa yang Aileen bicarakan.
Aileen kembali mengangkat tangan kirinya. "Ini tangan kiri gue."
"Liat kak, masing-masing jarinya lengkap ada lima. Totalnya ada sepuluh deh. Sama kaya punya kak Gavin." Jelasnya lagi dengan serius.
"Semuanya masih oke. Tulang, kulit, darah, urat-urat unyu gue juga semuanya masih berfungsi normal."
Gavin menatap Aileen dengan serius. "Jadi, gue masih mampu buat buka pintu mobil sendiri." Sambungnya lagi sambil mendorong Gavin kembali ke tempatnya semula.
Gavin tertawa lepas menggelengkan kepalanya heran. Dengan panjang lebar Aileen menjelaskan sesuatu yang sebenarnya bisa ia katakan dengan sederhana. Tapi Aileen memilih untuk menjelaskannya dengan rumit, Aileen sangat aneh, menurutnya.
"Kak." Panggil Aileen lirih. "Kak Gavin." Panggilnya lagi. Gavin merespon dengan satu anggukan di kepalanya. "Kak, mau kasih gue waktu gak?"
Gavin menghela napas lelah. "Lo kalo ngomong langsung ke pointnya aja napa sih."
"Tungguin gue sebentar kak. Ya kak?"
"Gue mau salin sebentaaarrr ajaa, liat geh kak gue malu kalo keluar kayak gini, udah bau, udah kusut, udah lengket keringet kulit gue, udah jadinya panas, udah bau, udah kusut, udah bau, udah kusut, udah-
"Gak lebih dari 10 menit." Jawab Gavin cepat-cepat sebelum Aileen menyelesaikan kalimat yang sengaja ia ucapkan berulang kali.
Aileen tertawa senang. "Siappp. Gak akan lama."
"Kak Gavin duduk aja di situ daripada di sini kayak penculik lagi mata-matain gue dari depan rumah." Katanya lagi sambil menunjuk halaman rumahnya.
Aileen berlarian kecil mulai meninggalkan Gavin. "Kak." Teriak Aileen dari halaman rumahnya. "Sambil nungguin gue, siapa tau lo masih berminat mau dapetin sertifikat kebersihan." Ucapnya langsung melesat masuk ke dalam rumah.
Gavin menggelengkan kepala masih tak percaya dengan tingkah gadis itu.
Gavin melihat jam hitam di tangannya, belum genap 10 menit Aileen sudah berlarian kecil keluar dari rumah. Menggunakan sepatu kets putih, dengan semangat ia menghampiri Gavin.
Aileen terlihat anggun menggunakan dress berwarna pink di bawah lutut dengan tas kecil yang ia selempangkan di pundak kanannya.
"Gue udah keren kan sekarang?" Tanya Aileen memasang pose percaya diri, Gavin menganggukkan kepala tersenyum.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Gavin mengecek hpnya lalu ia sibuk membalas pesan, ntah dari siapa pesan itu.
"Kak?" Panggil Aileen melihat kegiatan yang saat ini sedang Gavin lakukan. "Hm?" Jawab Gavin tanpa menoleh.
"Gak jalan sekarang kak?" Tanya Aileen tak mendapatkan respon. Aileen menganggukkan kepala mengerti, saat ini mungkin Gavin memang sedang sibuk. Aileen akan menunggu saja.
Beberapa menit berlalu, mobil hitam itu masih setia berada di depan rumahnya. Tidak ada tanda-tanda akan berangkat, sepertinya.
Aileen bosan, sedari tadi mereka berdua ada di dalam mobil dengan keheningan. "Kak." Panggilnya kesal.
"Kak Gavin!"
"Ini jadi apa enggak?" Ucapnya lagi baru membuat Gavin menoleh dan menghentikan aktivitasnya. "Hm? Gimana?" Jawab Gavin membuat Aileen semakin kesal.
"Kalo kakak sibuk yaudah gak usah pergi gakpapa." Katanya penuh dengan kehati-hatian.
"Jadi. Sabar sebentar ya gue masih nunggu orang."
Ting .. Suara notifikasi pesan masuk dari hp Gavin.
Setelah membaca pesan itu Gavin menghidupkan mesin mobilnya. "Yuk." Ucap Gavin tersenyum, Aileen masih terlihat sedikit kesal.
"Beneran, sekarang kita berangkat." Katanya lagi tau kalau Aileen terlihat kesal.
"Katanya tadi kakak masih nunggu orang."
__ADS_1
Gavin menggelengkan kepalanya. "Ketemuan di sana."
...***...