
"Kak Saka bantuin, gue capek." Ucap Aileen sebal karena sedari tadi Saka hanya duduk terpejam di atas wastafel.
"Saka Saka Saka Saka Saka Saka!" Teriak Aileen lompat-lompat tapi tetap tak direspon oleh Saka.
"Kak Saka!" Teriak Aileen lagi di samping telinga Saka.
"Gue di sini cuma ngawasin lo. Lo budek? Gak denger apa kata Nasir tadi?" Jawab Saka santai di tempatnya.
"Ya kalo kakak bantuin, gue kan jadi seneng."
"GAK PEDULI!!!
"Sekali aja ya ya ya ya. Kak Saka beresin sebelah situ aja. Kalo cepet selesai, kita kan sama-sama bisa bolos bareng." Pinta Aileen bodoh kepada Saka.
Karena tak direspon, Aileen mengikuti Saka duduk di atas wastafel.
"Kemaren jam berapa kakak tiduran di bawah pohon belakang sekolah?"
"Kak Saka jawab." Sambung Aileen memohon lagi kepada Saka.
"Kalo gue jawab lo mau kasih gue apa buat imbalannya?"
"Ih ogah. Pertanyaan sesederhana itu aja minta imbalan. Minta aja sana sama pak Nasir." Jawab Aileen ketus.
Saka mengedikkan bahu acuh "Gak rugi gue."
"Dasar cowok! Banyak mau!!" Balas Aileen turun dari wastafel dan menjauh dari jangkauan Saka.
Saka tetap santai di tempatnya, mengembangkan bibir sedikit tapi tetap tidak peduli dengan raut wajah Aileen yang terlihat semakin kesal dengannya.
Aileen tak bisa fokus membersihkan toilet, sesekali kepalanya menoleh diam-diam untuk melihat ekspresi Saka. Tak ada perubahan, wajah Saka masih tetap menyebalkan.
Aileen berpikir kalau seorang gadis sedang marah pasti sang cowok akan merayu atau mengalah agar mood sang gadis bisa kembali normal. "Ya walaupun gue sama Saka bukan pasangan kekasih, tapi kan seharusnya dia peka gitu ih. Gue yakin dia gak normal, bener-bener yakin gue kalo dia itu gak normal." Katanya mengomel pelan.
Aileen kembali melirik Saka. Ia geleng-geleng kepala, kesabarannya telah habis. Saka tidak mungkin mau mengalah.
Aileen berdiri dari tempatnya cepat-cepat menghampiri Saka penuh emosi. Ya mau bagaimana lagi, dia juga penasaran soal laki-laki yang tertidur di bangku waktu itu.
"Oke lo mau apa!?" Tegasnya bertanya pada Saka.
Saka menghela napas kemenangan. "Lima permintaan."
"Maksud kakak?"
"Kalo lo mau ngabulin lima hal yang gue mau, gue bakal jawab pertanyaan lo." Jelas Saka.
"Hah banyak banget. Jin aja cuma ngasih tiga permintaan."
"Lo jin?" Pertanyaan dingin dari Saka membuat Aileen terdiam sejenak.
"Manusia itu gak boleh serakah. Empat deh empat."
"TUJUH!" Balas Saka tak mau kalah.
"Ih kak Saka."
"Delapan?"
"Gak boleh serakah kak nanti obesitas." Katanya tetap tak terima dengan pernyataan Saka yang sangat sangat memberatkan dirinya.
Saka turun dari wastafel mulai melangkah untuk pergi. "Iya iya lima." Sambung Aileen menghentikan langkah Saka.
"Sebentar sebentar, kasih gue waktu buat mikir." Kata Aileen menundukkan kepala sedang berpikir keras. Aileen terus diam memikirkan jawaban mana yang tepat.
"Gak mungkin itu Saka? Jelas nama di name tag baju itu Gavin Emilio. Tapi kalo itu Saka ... gak gak, gak mungkin." Batin Aileen menggelengkan kepala.
Aileen masih berkutat dengan pikirannya. "Tapi bisa aja itu Saka. Kalo gue terima tawaran itu, otomatis gue bisa selalu bareng Saka."
"Sepakat." Ucap Aileen yakin dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Deal." Balas Saka tenang dan pergi begitu saja tanpa menjabat tangan Aileen.
Aileen gemas ingin meninju wajahnya yang menyebalkan. "Jin aja punya hati." Maki Aileen yang ditinggal pergi Saka begitu saja.
"Untung keren." Sambungnya lagi normal seperti gadis pada umumnya. Karena Saka memang keren.
...******...
Flashback on.
08:12
Saka bolos pelajaran hari itu. Ia pergi ke belakang sekolah dan berbaring di bawah pohon besar. Menutup wajahnya dengan daun-daun yang telah dirangkainya menjadi kipas-kipasan.
Saka senang sekali melakukan hal sesuka hati. Seperti saat ini, Ia memakai baju Gavin-teman sekelas Saka. Katanya bosan kalau memakai baju bername tag Saka Damar. R. Sekali-kali Saka juga ingin namanya berubah menjadi Gavin Emilio, pujaan para gadis sekolah.
Saka tertidur pulas di tempatnya.
Dari kejauhan, ada seorang gadis yang berdiri di dekat tanaman bunga, Ia sedang mencatat sesuatu di dalam note yang Ia bawa.
Beralasan pergi ke UKS dan melipir ke belakang sekolah memanglah indah.
"Waktu jelas menunjukkan bahwa perubahan dalam kisah akan tetap memiliki rasa yang sama."
^^^Agustus, selasa 2020^^^
Gadis bername tag Aileen Calya itu mulai melangkah mendekat ke arah pohon besar.
Aileen melihat ada cowok berseragam SMA sedang tertidur pulas di kursi panjang di bawah pohon. Tapi wajahnya tertutupi daun-daunan aneh. Aileen tidak tau dia kelas berapa, tapi Aileen suka melihat badannya yang bergerak tenang mengikuti hembusan napas.
"Beneran tidur?" Batin Aileen melangkah lebih dekat.
Aileen merobek notenya yang berisi catatan kalimat yang sudah ia rangkai. Ia melipatnya kecil. Pelan-pelan Aileen memasukkan kertas itu ke dalam saku baju laki-laki itu.
Aileen melirik name tag di sisi lain baju laki-laki itu. "Gavin Emilio." Gumamnya lirih dan mulai melangkah pergi dari tempat itu.
...* * *...
Bell istirahat pertama berbunyi. "Huhhh. Selesai." Ucap Aileen menghela napas dalam-dalam.
"Gue kira lo gak masuk." Kata Rena mendekat.
"Eh Ren. Telat hehe. Ini aja udah jadi mangsanya pak Nasir." Ucap Aileen cengengesan.
"Rena tadi sampe di sekolah jam berapa?" Tanya Aileen dengan nada tidak enak karena kemarin dia sudah mengajak Rena untuk pergi ke sekolah pagi-pagi sekali, tapi dirinya malah terlambat.
"Santai, gue juga siangan kok."
"Kantin bareng?" Tanya Rena pelan.
"Boleh. Yuk." Jawab Aileen senang menggandeng tangan Rena.
Di perjalanan menuju kantin, Aileen melihat Saka, disekitarnya ada tiga anak laki-laki yang tidak Ia kenali.
"Ren Ren, lo tau nama mereka semua?" Tanya Aileen penasaran.
"Hah yang mana?"
"Empat orang itu tuh." Tunjuk Aileen ke tempat Saka berkumpul dengan teman-temannya.
"Ohh, gue taunya kak Geo doang. Soalnya dia jadi ketua di club musik sekolah."
"Kak Geo itu, duduk di sebelah cowok yang rambutnya agak berantakan. Kata anak-anak di club gue sih gengnya mereka itu populer."
"Bukan rambutnya aja yang berantakan, tapi dia udah mulai berantakin hidup gue, Ren." Batin Aileen melihat wajah Saka yang menyebalkan.
"Populer?" Tanya Aileen heran. "Tapi kayaknya anak kelas gak pada tau tuh, termasuk gue."
"Kelas kita kan memang kurang informatif." Kata Rena sedikit tertawa. "Tapi bisa jadi mereka tau Al, tapi diem-diem aja, jadi disini kita kayaknya deh yang kurang informatif." Sambung Rena membuat keduanya tertawa.
__ADS_1
"Rugi banget ya kita gak tau info soal yang beginian. Wah wah wah anak cewek di kelas kita diem-diem ternyata lagi pada ngecengin kakak kelas." Sambung Rena lagi.
"Mana yang masuk kriteria lo diantara mereka berempat? Kalo gue sih gak ada." Katanya PD.
"Eh belom ada, maksudnya." Sambungnya lagi apa adanya.
Rena tertawa menyetujui pernyataan Aileen. "Sama lah, gue kalo sekarang ya belom ada, tapi gak tau kalo besok."
Mereka berdua mengambil tempat untuk duduk melanjutkan obrolan ala-ala adik kelas yang sedang mengincar kakak kelas.
"Kita normal Ren, asal gak rebutan aja ntar." Jawab Aileen ikut tertawa. "Kalo yang lo sukain nanti suka sama gue, gue bakalan ngalah kok, bener deh suer." Sambungnya merendah untuk PD. Rena tersenyum menggelengkan kepala.
"BTW Rena tau gak kak Gavin yang mana?" Tanya Aileen mulai serius.
"Kurang tau gue, tapi denger-denger mukanya agak kebule-bulean. Soalnya dia ada darah Turkey gitu."
"Anak-anak di club musik kayaknya juga sih sering nitipin surat ke kak Geo buat kak Gavin".
"Padahal menurut gue kak Geo aja udah amazing visual. Apalagi pas dia mainin gitar." Jelas Rena senyum-senyum sendiri membayangkan wajah manis Geo.
"Itu yang rambutnya berantakan ganteng sih, kece gitu mukanya. Itu kak Gavin kali Al."
"Hahaha mustahil. Itu Saka, gak mungkin banget kak Gavin penampilannya acak-acakan gitu." Balas Aileen tertawa meledek, tak terima Saka yang menyebalkan itu menjadi kak Gavin yang tampan-kata Rena.
"Nah itu lo kenal salah satu dari mereka."
"Panjang Ren kalo diceritain, pokoknya dia itu aneh. Tampangnya aja yang mendukung."
"Ya gue gak mau munafik ya, Saka memang keren kan Ren?"
"Iya, kece gitu auranya." Jawab Rena normal sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nah lo kemaren ngapain minta nomornya Raga?"
"Dia ternyata tetanggaan sama gue." Jawab Aileen dengan nada yang exited.
"Dan Rena tau apa yang paling nyebelin? Tapi ya agak nyenengin sih. Raga sama Saka". -Aileen memberi jeda. "Rumah mereka deketan." Jelas Aileen lagi.
"Wahh indah dong." Jawab Rena terlihat lebih exited dari Aileen.
"Mau dong gue maen ke rumah lo." Sambungnya lagi heboh.
"Tapi mereka itu sebelas dua belas Ren. Sifat mereka sama, parah deh pokoknya."
Aileen senang, dirinya dan Rena ternyata satu frekuensi. Ternyata Rena mudah untuk diajak ngobrol. Atmospher dalam badan Aileen mulai bergejolak kesenangan, akhirnya Ia mendapatkan teman yang satu tema dengannya.
...* * *...
Rena pov
Gak tau kenapa, setelah Aileen berani nunjukin hal konyol di depan kelas, gue jadi pengen ikutan nunjukin diri gue yang sebenernya.
Untuk apa hidup pakek topeng orang lain kan? Nyamanan juga jadi diri sendiri. Dan diri gue yang sebenernya itu ya sekarang ini. Waktu gue ngobrolin hal yang gak penting sama Aileen.
Hari ini belum tentu bisa berulang lagi di esok hari. Jadi gue putusin, cukup sekian gue pura-pura jadi orang yang pendiem.
Gue jadi tau satu hal, kalo lo gak mampu keluar dari cangkang itu sendirian, minta bantuan orang lain untuk keluar dari sana pun gak akan jadi masalah.
Kayak gue sekarang. Gue udah nemuin orang yang siap bantu gue untuk nunjukin diri gue yang seutuhnya.
Menurut gue yang jadi masalah adalah, ada orang yang secara sukarela mau narik lo keluar dari cangkang itu, tapi lo sendiri gak mau keluar dari sana.
Dan gue, gak mau ada di dalam masalah itu.
......*......
...*...
...*...
......*......
__ADS_1