FELICITY

FELICITY
06. Halaman Enam


__ADS_3

"Suasananya jadi normal." Ucap Rena melihat mereka saat ini mulai membaur.


Aileen tersenyum tulus sambil membereskan laptop dan proyektor. "Racun drakor memang gak ada lawan."


Raga tersenyum simpul melihat hal yang dilakukan Aileen benar-benar mulai merubah suasana di dalam kelas itu.


"Gue balikin ini dulu ya. Rena gabung aja sama Laura." Kata Aileen tertawa senang.


"OHHHKEHHH." Jawab Rena tak kalah senang.


Aileen keluar kelas membawa proyektor berjalan riang.


Tok tok tok tok


"Lah gak ada orang?" Katanya melangkah masuk mengembalikan proyektor di tempat asalnya.


Saat membalikkan badan, Aileen melihat wujud pak Nasir yang menyeramkan.


"Selamat siang pak." Ucap Aileen tersenyum bodoh.


"Permisi pak." Sambungnya lagi mulai melangkahkan kaki.


"Siapa bilang kamu boleh pergi?" Tanya pak Nasir.


"Panggil ketua kelas kamu untuk menghadap saya sekarang!" Tambahnya lagi membuat suasana di sekitarnya jadi menyeramkan.


"Laksanakan!!" Jawab Aileen tegas dengan posisi siap.


"Kamu juga ikut menghadap saya." Kata pak Nasir lagi.


"Yahhh pak kok saya juga? Kan saya tadi udah selesai ngelaksanain hukuman yang Bapak kasih." Ucap Aileen memelas.


"Satu kalimat dua hukuman. Bagaimana?" Kata pak Nasir tenang.


Aileen mengerucutkan bibir dan melangkah keluar menuju kelas.


Ia berpapasan dengan Raga di depan kelas. "Ragaaaa, akhirnya kita ketemu. Aduhh Aileen jadi deg-degan nih." Ucapnya pura-pura terlihat malu-malu.


Raga tidak peduli dengan ocehan tidak penting gadis di depannya itu. Ia terus melangkahkan kaki. "Raga mau kemana? Gue belum selesai ngomong." Teriaknya pada Raga yang mulai menjauh. "Raga makin jahat!!" Gumam Aileen sebal.


Aileen masuk ke dalam kelas menuju meja Angga. "Ngga suruh ngadep pak Nasir."


"Kapan?" Tanya Angga serius.


"Entar kalo lo udah jadi alumni." Kata Aileen yang di balas delikan tajam oleh Angga.


"Ayok sekarang!" Ajak Aileen.


"Al kenapa?" Tanya Rena dari jauh.


Aileen menggelengkan kepalanya. "Gak tau."


"Angga tunggu bentar." Kata Aileen membuat Angga menghentikan langkahnya dan menunggu di depan kelas.


Aileen mengeluarkan sebungkus permen gagang dari tasnya. "Ren bagi ke yang lain. Gue ke pak Nasir dulu ya." Katanya melangkah pergi.


Aileen dan Angga berjalan menuju ruang guru. Aileen mulai membuka obrolan. "Ngga, kenapa sih lo tuh serius mulu?"


"Hidup itu gak selalu bisa main-main."

__ADS_1


"Tapi hidup juga gak harus serius terus. Lo kan masih muda, lakuin hal yang lo mau." Kata Aileen memberi nasihat.


"Gue tau apa yang harus gue lakuin!" Jawab Angga melangkah mendahului Aileen.


"Udah cocok jadi perdana menteri di India lo." Teriak Aileen mengikuti Angga dari belakang.


Mereka masuk ke dalam kantor.


"Permisi pak. Ada keperluan apa Bapak memanggil saya?" Tanya Angga sopan.


Pak Nasir melirik ke arah Aileen. "Saya tidak perlu menjelaskan, saya di sini mau memberikan hukuman untuk kalian semua."


"Kalau kamu mau mendengar penjelasan, kamu tanyakan saja ke dia." Jelas pak Nasir lagi penuh tekanan.


"Loh kok saya pak?" Tanya Aileen bingung.


"Aileen gak tau apa-apa Ngga." Ucap Aileen melihat ekspresi marah dari wajah Angga.


"Proyektor, film?" Kata pak Nasir dengan nada yang sarkas.


"Masih mau bilang kalau kamu tidak tau apa-apa?" Tanya pak Nasir. Aileen hanya menundukkan kepalanya.


"Angga, sebagai ketua kelas seharusnya kamu bisa lebih mengkondusifkan kelas saat ada guru yang tidak masuk." Jelas pak Nasir.


"Saya sudah menulis hukuman untuk kelas 10 C di kertas ini. Silahkan kamu umumkan hal ini kepada teman-temanmu yang lain." Kata pak Nasir memberikan kertas itu kepada Angga.


"Baik pak. Permisi." Jawab Angga tetap sopan.


Aileen mengikuti Angga dari belakang dengan kepala tertunduk. "Angga." Panggil Aileen tak direspon.


Angga tetap melanjutkan langkahnya menuju kelas. Sampai di kelas, Angga berdiri di depan papan tulis diikuti Aileen di sampingnya.


"Hukuman untuk kelas 10 C." Kata Angga memberi jeda, suasana kelas mulai tidak tenang lagi. Mereka saling bertanya-tanya.


"Semua murid 10 C wajib membersihkan rumput di lapangan sekolah." Terdengar suara helaan napas dari mereka.


"Ini yang pak Nasir tulis. Tanpa terkecuali, lo semua harus ke lapangan sekarang, kalo ada satu orang yang gak ikut, entah hukuman apa lagi yang bakal pak Nasir kasih buat kita." Jelas Angga lagi.


"Hukuman apaan ini? Kayaknya kelas kita gak bermasalah." Oksa dan Lena menganggukan kepala mendengar apa yang dikatakan Putri.


"YEEYYYY GAK BELAJARRRRRRR!!!" Teriak Anton heboh. Irfan, Joshua, Danu dan Rean juga ikut kegirangan.


"Yihiiiiii mendung-mendung di tengah lapangan, bisa liat kakak kelas gemay." Sambung Danu masih terlihat heboh.


Putri melangkah ke depan mendekati Aileen. "Gara-gara lo kan kita semua jadi di hukum!?" Tanya Putri dengan suara yang keras.


"Kenapa jadi salahin Aileen? Jelas-jelas lo semua tadi ikut nonton!" Jawab Rena tak terima dengan sikap Putri yang seenaknya saja.


"Yang punya ide gituan siapa!" Ucap Putri tambah sinis.


"Perlu gue tunjukin muka bahagia lo waktu nonton tadi?!!" Balas Rena tak mau kalah.


"Terusin dong biar pak Nasir kesini." Kata Anton menyauti keributan itu.


"Kalo dapet hukuman lagi kan jadi enak." Tambahnya lagi bodoh.


Aileen diam di tempatnya. Aileen bingung melihat Rena dan Putri malah bertengkar, seharusnya rencananya tadi bisa membuat anak-anak 10 C akur, bukan seperti ini yang Aileen mau.


"Gak usah lebay Put! Kalo mau kerjain, kalo enggak ya diem!!!" Tegas Laura.

__ADS_1


"Yuk keluar, keburu ujan." Sambung Laura menggandeng tangan Aileen dan Rena menuju lapangan, lalu diikuti yang lainnya.


Putri, Lena dan Oksa mengikuti mereka dari belakang memasang wajah tidak suka.


Sedangkan rombongan anak cowok malah senang menuju lapangan.


Sesampainya di pinggir lapangan, mereka semua duduk berkumpul lesehan di atas tanah. "Raga mana?" Tanya Angga pada mereka. Semuanya menggeleng tidak tau.


"Kalo Raga gak di sini hukumannya gak bisa dimulai. Murid 10 C harus ada di sini semua." Jelasnya lagi.


"Kalian liat di atas sana." Ucap Angga membuat mereka semua melihat ke arah dimana tangan Angga menunjuk.


Di atas sana, menampilkan sebuah aura yang menyeramkan. Seseorang di atas sana tersenyum manis membuat seisi kelas merinding. Pak Nasir dan rotan kecilnya.


"Bahaya kalo 10 C gak lengkap, kita diawasin sama pak Nasir." Sambung Angga membuat yang lainnya menelan ludah.


"Biar gue yang cari Raga." Ucap Aileen berdiri dari tempatnya.


"Gue ikut." Kata Rena berdiri ingin ikut mencari Raga.


"Yaudah kita bagi. Aileen cari di lantai tiga, gue cari di lantai dua dan lo cari di lantai satu." Jelas Angga membagi tugas.


"Kalo kalian ada yang liat Raga ataupun udah ada yang bisa hubungin Raga, langsung kabarin kita." Jelas Angga lagi pada yang lain.


Mereka bertiga mulai berpencar.


Rombongan Putri sibuk bergosip dan mengipasi diri mereka dengan kipas angin portable yang mereka bawa.


Rombongan Laura saling menunjukkan poto-poto terbaru para idolanya, ada juga yang berduet menyanyikan lagu Fine dari Taeyeon.


Seren, Erika dan Zoya berpose lucu. Mereka sibuk selfie dan boomerangan, keasikan dengan filter-filter instagram yang bisa merubah wajah mereka, benar-benar bisa menjadi glowing. Selesai dengan itu, mereka memulai untuk live instagram.


Lain halnya dengan para cowok, melihat pak Nasir sudah tidak ada di atas sana, mereka seperti membentuk sebuah band.


Lagu sobat ambyar dengan judul "Pamer Bojo" dinyanyikan oleh dua manusia yaitu Anton dan Rean, Danu mengiringi mereka dengan keahliannya bermain beatbox dan Irfan menjadikan bangku di sebelahnya sebagai gendang. Sedangkan Vero dan Joshua asik mabar di tempatnya.


Aileen berjalan menuju lantai tiga untuk mencari Raga. Setelah kejadian tadi Aileen menjadi agak diam, pikirannya entah ada di mana.


Setelah sampai di lantai tiga, Aileen mulai keliling mencari Raga di setiap sudut. Bahkan sebenarnya Aileen sudah berjalan melewati kelas Saka, tapi ia tidak tau.


"Ragaa." Gumamnya lirih.


"Nah iya. Mungkin tempat dia bolos ada di sana." Kata Aileen yakin dan mulai berjalan menaiki tangga menuju atap sekolah.


Aileen terus berjalan masuk ke atap sekolah. "Gak ada siapa-siapa." Gumamnya lirih tidak melihat satu orang pun di sana.


Di sana banyak tumpukan bangku kayu yang sudah tidak terpakai lagi. Angin bertiup lembut, langit di atas sedang mendung, sangat mendukung suasana hatinya yang sedang .. entah lah.


Aileen duduk terdiam di atas bangku, pikirannya entah ada di mana. Jauh di dalam sana ada perasaan aneh yang mengganjal.


Aileen merasakan nyeri di bagian hatinya. Ia memejamkan mata merasakan hembusan angin lembut mengenai wajahnya.


Satu bulir air menetes di pipinya.


...*...


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2