
Gavin dan Aileen tiba di salah satu pasaraya sore, sedikit jauh dari rumahnya. Aileen takjub melihat banyaknya jenis permainan yang masih bergerak dengan hiasan lampu di masing-masing kursi penumpang.
"Kak Gavin sering kesini?" Tanya Aileen masih dengan posisi takjub di tempatnya.
"Lo gak suka di tempat ginian ya?" Tanya Gavin membuat Aileen dengan cepat menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Gue emang gak pernah ke tempat kayak gini, tapi bukan berarti gue gak suka kak."
Aileen menunjuk salah satu permainan yang sepertinya sangat menantang tetapi juga sepertinya sangat seru. "Kakak gak liat mereka yang naik itu?"
Gavin mengikuti arah jari telunjuk milik Aileen. "Lo mau naik itu?" Tanya Gavin, Aileen menggelengkan kepalanya. "Masih dipembahasan sebelumnya." Katanya memasuki mode serius.
"Kakak liat kan ketawa lepas dari mereka semua yang naik itu, keliatan banget seneng-senengnya."
"Terus?" Tanya Gavin mulai tidak memahami maksud dari perkataan Aileen. "Ya kalo mereka aja seneng, yakali gue gak suka dateng ke tempat ginian."
"Ngeliat orang-orang dateng ke tempat ini aja udah buat gue seneng kak. Pasti mereka dateng dengan orang yang menurut mereka paling deket bahkan, mungkin spesial." Ucapnya dengan nada yang sangat senang.
Aileen menghembuskan napasnya lembut. "Liat mereka ketawa dan denger suara ketawa dari mereka buat gue ngerasa kalo gue udah ikut serta dalam kebahagiaan mereka."
Lagi-lagi Gavin dibuatnya tersenyum oleh gadis di sampingnya, Gavin benar-benar tidak memahami gadis itu. Menurutnya, Aileen adalah gadis yang sedikit berbeda dibandingkan gadis lain pada umumnya.
Aileen memiliki sesuatu yang unik di dalam dirinya. Jika manusia pada umumnya memilih untuk menjelaskan sesuatu dengan singkat dan sederhana, Aileen memilih untuk memberikan contoh yang realistis agar penjelasannya kompleks dan spesifik, ya walaupun harus menggunakan waktu untuk memahami apa yang gadis itu katakan.
"Mau permainan yang mana?" Tanya Gavin lembut masih dengan senyuman di bibirnya.
Aileen tampak berpikir mengingat sesuatu. "Hmm yang itu loh kak, yang lempar lempar panah terus bisa dapet hadiah gitu."
"Apa ya namanya, gue gak tau." Tambahnya lagi membuat Gavin menarik tangan Aileen menuju tempat dimana ada satu stand yang terlihat sedikit ramai, kebanyakan dari mereka adalah pasangan kekasih.
Mereka berjalan menghampiri stand itu. Ada beberapa boneka berukuran besar dan kecil yang terpajang di belakang tirai. Selain boneka, ada juga beberapa hadiah kecil lainnya. Sepertinya Gavin mengajak Aileen sesuai dengan permainan yang sudah ia deskripsikan tadi.
"Pak Aileen mau." Ucapnya tidak sabar untuk mengambil beberapa anak panah, Aileen sudah mengincar satu boneka kelinci sedang berwarna putih. Belum sempat ia membayar, Gavin sudah memberikan uang tunai kepada Bapak penjaga stand itu. "Apa sih kak, gue bawa uang kok." Ucapnya tak ingin permainannya dibayarkan.
Aileen memberikan uang tunai pecahan lima puluh kepada Bapak itu. "Pak ini aja, yang tadi balikin lagi aja ke mas mas ini." Ucapnya melirik Gavin sewot.
"Al .. Enggak pak, udah itu aja." Sambung Gavin membuat Bapak itu menjadi kebingungan.
Tetep kekeh tidak mau permainannya dibayarkan, Aileen memaksa Bapak itu menerima uangnya. "Kak. Ini gue yang mau main. Nanti kalo menang, gue juga yang dapet hadiahnya, bukan kak Gavin."
"Kalo kakak mau main juga, nanti ya gantian, biar gue menang dulu. Oke?"
Gavin menyerah, mau dipaksa bagaimana pun juga Aileen akan tetap menolak. "Jadi gimana ini nak? Mana yang perlu bapak kembalikan?" Kata Bapak itu dengan kedua tangan yang masih menggenggam uang milik mereka berdua.
Gavin berdecak sebal menatap Aileen. "Ck. Keras kepala."
"Pegang semua aja pak gakpapa, nanti saya juga ikut main." Ucapnya lagi sopan.
Aileen sudah membuat ancang-ancang dengan satu anak panah yang ia siapkan. Empat buah anak panah lainnya ia genggam erat di tangan sebelah kiri.
"Ih anginnya kenceng kak." Katanya tak mau terlihat bodoh karena anak panah yang ia lempar melambung tinggi jauh dari target.
"Terlalu gampang ini sih buat gue, jaraknya aja deket." Katanya lagi percaya diri melemparkan anak panah kedua.
Benar kata orang, percaya diri itu diperlukan agar mental semakin kuat. Anak panah kedua mengenai target, tapi bukan barang yang Aileen inginkan.
Aileen menghembuskan napas kecewa sambil menerima hadiah topi berwarna cream sesuai dengan slot yang terkena anak panahnya. "Baru permulaan kak." Katanya memakai topi itu.
"Alesan lo itu mah, apaan topi." Ucap Gavin dengan nada meremehkan. Gavin tertawa meledek. "Kecil." Katanya lagi membuat Aileen mulai terprovokasi.
Tanpa ancang-ancang seperti permainan kedua tadi, kini Aileen dengan sembarang melempar anak panah.
__ADS_1
Melesat jauh. Gavin kembali menertawakan kegagalan Aileen. "Nyerah aja." Katanya membuat Aileen menatap tajam dirinya.
Aileen kembali melemparkan anak panah. Berhasil pada bidikan keempat, tapi belum membuat Aileen puas, karena lagi lagi yang ia dapatkan hanya topi, saat ini topi berwarna putih.
Sebelum membidik anak panah terakhir, Aileen meniup anak panah pada genggamannya, ia kini memasang wajah serius. Belum sempat ia lempar, terdengar suara gadis mendekat. "Kak mau itu, mau itu." Suaranya terdengar sangat manja.
Aileen tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, ia hanya ingin fokus dan mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Wey bro." Ucap Gavin melakukan tos, mau tidak mau Aileen reflek mengikuti pergerakan Gavin. "Kak Saka?" Batinnya dalam hati. Bola matanya melihat gadis di samping Saka, siapa lagi kalau bukan Salwa.
"Aileen, kan?" Tanya Salwa sedikit ragu. Aileen mengangguk datar. "Kebetulan kita ketemu disini." Jawab Aileen cengengesan.
"Astaga cakep banget Salwa." Batin Aileen melihat Salwa menggunakan pakaian sederhana dengan kaos pendek berwarna hijau army dan celana kulot berwarna putih.
Aileen tak sadar menggelengkan kepalanya takjub, kemudian dengan ekspresi bodoh ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bang Gavin disini dari tadi?" Tanya Salwa dengan suaranya yang manis.
"Bang? Hah abang? Berarti Salwa bener-bener udah sedeket itu ya sama kak Saka, bahkan udah akrab sama temennya kak Saka." Batin Aileen masih belum tau sejauh mana hubungan diantara mereka.
Gavin menggelengkan kepala. "Barusan aja."
"Udah abis empat anak panah, cuma dapet ginian." Sambung Gavin menyindir Aileen. "Yang main terlalu lemah Sal." Katanya lagi terus meremehkan Aileen.
"Pakek ini." Tambahnya lagi memberikan topi hadiah berwarna putih kepada Salwa. Dengan bahagia Salwa menggunakan topi itu. Walaupun sebenarnya topi itu milik Aileen tapi Aileen tidak peduli, karena itu hanya topi menurutnya.
Dengan cepat Saka meraih satu anak panah dari tangan Aileen yang tadi belum sempat ia lempar. Aileen terkejut kesal. "Kak!!" Ucapnya penuh tekanan.
Tanpa ada yang menghiraukan keluhan Aileen, bola mata mereka terpaku pada anak panah yang menancap pada slot yang di atasnya terdapat hadiah incaran Aileen.
Aileen reflek melompat-lompat kecil bertepuk tangan heboh, ia bahagia karena akhirnya boneka itu bisa ia dapatkan, walaupun bukan dirinya yang melempar anak panah itu.
Tawanya perlahan berhenti melihat Salwa dengan manja menyenderkan kepalanya di lengan Saka. "Kak Saka hebat." Katanya dengan lembut.
Saka membalas dengan senyuman manis dan mengusap puncak kepala Salwa, membuat gadis itu tambah melebarkan senyumnya.
Mereka kompak menoleh ketika bapak penjaga stand memberikan boneka kelinci itu kepada Aileen. Dengan senang Aileen menerima itu dan memeluknya dengan erat.
"Itu kan kak Saka yang ngelempar." Ucap Salwa menatap Aileen tidak suka.
"Tapi lo sendiri liat kan kak Saka ambil anak panah punya gue?"
Salwa menyelipkan sedikit anak rambutnya ke sela-sela telinga. "Walaupun anak panahnya punya lo tapi tetep aja kan kak Saka yang ngelempar? Ya artinya kak Saka dong yang berhak dapetin itu." Katanya sewot tak mau kalah.
"Kasihin aja ke Saka, Al. Kalo lo yang maen belum tentu lo bisa dapetin itu kan." Ucap Gavin ikut membela Salwa. Saka di tempatnya kini tersenyum sinis menatap Aileen.
"Tapi kak-
"Buruan kasih!" Ucap Salwa tak memberikan Aileen kesempatan untuk membela diri, nadanya halus tapi sedikit membentak.
Aileen tak terima dengan pernyataan mereka. "Gue beli anak panah itu pakek uang gue sendiri, gue gak minta siapa pun." Jelas Aileen dengan nada yang masih terdengar sopan.
"Dan tanpa izin gue, kak Saka langsung ambil satu anak panah itu dari gue." Tambahnya lagi sambil menghembuskan napas dan masih tersenyum hangat. "Berarti boneka ini punya gue, ya kan kak?" Tanya Aileen menatap Saka, berharap Saka mengiyakan apa yang ia katakan, tapi nyatanya tidak.
Saka melangkah maju, tangannya mulai memegang salah satu telinga boneka kelinci itu. Harapan Aileen dipatahkan begitu saja ketika Saka merebut boneka itu dengan kasar.
Aileen diam tertegun, di tempatnya kini ia menatap Saka tersenyum memberikan boneka itu kepada Salwa. Salwa memeluk boneka itu dengan manja dan riang, seperti anak kecil mendapatkan hadiah.
Aileen merasa seperti ada benda tajam yang menusuk tepat di hatinya, terasa sedikit perih.
__ADS_1
Belum sempat Aileen protes, Saka sudah mengeluarkan lembaran uang dan diberikan kepada bapak penjaga stand yang sedari tadi bungkam tak ingin ikut campur. "Untuk satu anak panah tadi." Katanya menggandeng tangan Salwa dan meninggalkan mereka berdua.
Baru beberapa langkah Saka menoleh. "Gak ikut gue?"
Gavin menarik tangan Aileen cepat-cepat melangkah menyusul Saka dan Salwa.
"Kak lepasin gue." Katanya tak didengar oleh Gavin. "Kak, lepasin!!" Sambungnya lagi melepaskan tangannya paksa dari genggaman Gavin.
Gavin menghentikan langkahnya. "Lo ngambek soal gituan?" Tanya Gavin penuh tekanan.
Aileen menggelengkan kepala tak percaya dengan sikap Gavin terhadap dirinya. "Gue sama sekali gak mempersalahkan lagi soal boneka itu kak. Gue mampu beli sendiri." Jawab Aileen tegas.
"Ya terus apa?"
"Gue bisa jalan sendiri." Kalimat tersebut membuat Gavin sedikit tertawa menatap tangan milik Aileen. "Oke. Sorry, gue gak ijin dulu buat megang tangan lo."
"Udah kan?"
Aileen tau tidak ada ketulusan satu persen pun dengan apa yang baru saja Gavin ucapkan. Tapi Aileen menghargai itu, setidaknya Gavin mau meminta maaf.
"Jangan lelet dong." Teriak Salwa dari kejauhan. Sebenarnya Aileen ingin pulang, tapi ia tidak enak hati mengatakannya kepada Gavin. Apalagi mereka belum lama sampai di tempat ini. Aileen tidak ingin merusak moment milik Gavin, setidaknya Aileen tidak ingin menyusahkan orang lain dengan memaksa Gavin untuk mengantarnya pulang.
Aileen mau tidak mau mengekori Gavin dari belakang. "Kak kenapa harus bareng sama mereka?"
"Kenapa? Lo gak suka Salwa? Lo gak suka liat mereka?" Tanya Gavin beruntun.
"Kak, jangan nyimpulin yang enggak-enggak. Gue gaada sedikitpun benci mereka."
"Kenapa protes kalo kita pergi bareng mereka?"
Aileen merasa Gavin sedikit berbeda. Saat mereka berdua dan saat Saka datang. Aileen tidak mengerti bagaimana peran Saka di dalam pertemanan mereka, tapi Gavin terlihat sangat menuruti Saka. "Gue gak protes, gue cuma nanya dan lo kan punya pilihan sendiri kak."
"Lo sendiri yang mau ikut sama gue. Jangan lupa." Jawabnya membuat Aileen bungkam. "Bener apa yang kak Gavin bilang Al, gak boleh ngeluh. Ini pilihan lo." Batin Aileen meyakinkan dirinya.
Sebelum mereka semua berjalan sejajar, Aileen melangkah sendirian tepat di belakang mereka. Aileen ingin mencoba untuk lebih akrab dengan Salwa, jadi dirinya saat ini meenyusul mereka dan berada tepat di samping Salwa.
"Aileen, boleh tuker topinya gak? Gue kayanya gak cocok kalo pakek warna ini." Ucap Salwa memberikan topi putih yang sedari tadi sudah ia pakai, padahal topi itu juga milik Aileen.
Aileen mengulurkan topi cream miliknya. "Pakek aja, gue gak terlalu suka pakek topi kok." Katanya tersenyum.
Tanpa mengucapkan terimakasih kepada Aileen, Salwa malah bermanja-manja di lengan Saka. "Kak Saka kak Saka, aku cantik pakek yang ini kan?" Saka menganggukkan kepalanya lembut.
Tidak tau apa yang sedang mereka bertiga bicarakan, mereka kompak tertawa bersama. Aileen kaku, otaknya seperti tidak berfungsi saat ini. Aileen tidak tau bagaimana cara dirinya bisa berbaur jika yang mereka bahas adalah hal yang tidak ia ketahui.
"Kak bonekanya boleh aku titipin ke Aileen dulu gak? Tangan aku sakit." Izin Salwa berharap mendapatkan empati dari Saka. "Biar gue aja yang bawa." Jawab Saka membuat Salwa sedikit kecewa.
"Tapi kakak kan capek dari pagi udah nemenin aku jalan-jalan."
"Sal, nurut." Tegas Saka membuat Salwa langsung membungkam bibirnya. Aileen tidak peduli dengan apa yang mereka bahas, ia fokus dengan pesan di layar hpnya.
Tiba-tiba Aileen menghentikan langkahnya. "Sebentar kak." Katanya membuat mereka ikut berhenti dan menatap dirinya.
"Ada masalah?" Tanya Saka. Aileen menggelengkan kepala. "Gue izin mau balik ya. Kak Gavin gakpapa disini aja sama mereka, gue bisa pulang sendiri."
Gavin menganggukkan kepala. "Oke." Katanya santai.
Aileen mulai memundurkan langkahnya sebelum berbalik dan berlari kecil. "Gue balik duluan." Katanya melambaikan tangan.
...***...
__ADS_1