FELICITY

FELICITY
11. Halaman Sebelas


__ADS_3

..."Mengawasimu dari kejauhan adalah aktivitas baruku yang menyenangkan."...


...*...


...*...


...*...


Suara jangkrik dari luar terdengar samar-samar. Cahaya bulan yang lembut setia menemani gelapnya subuh seperti enggan untuk bergantian dengan cahaya matahari.


Aileen mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sedang bertarung dengan dirinya sendiri agar tubuhnya mau bangun dari tempat tidur.


Sejak dirinya pindah beberapa bulan yang lalu, saat hari libur seperti ini, Aileen hanya berdiam diri menonton tv sendirian. Tidak ada tetangga yang Ia kenal ataupun teman baru yang menginap di rumahnya.


Tapi hari ini berbeda.


Aileen sudah menemukan tetangga sekaligus teman baru untuknya.


Aileen menemukan ide. Ia mulai serius mengetikkan sesuatu di layar hpnya. Mulutnya mulai komat kamit membaca kalimat yang tertera di layar.


Aileen bergegas untuk turun dan menuju ke dapur. Ia mulai mengeluarkan tepung, telur dan bahan lainnya dari tempat penyimpanan. Ia sibuk ke sana ke mari kebingungan mencari wadah untuk membuat adonan.


"Kamu di mana? Kamu di mana?" Ucapnya lirih bernada sambil membuka semua lemari yang ada di dapur.


Aileen mengembangkan bibirnya senang. "YES I FOUND YOU."


"Kena kalian." Ucapnya senang berbicara pada mangkok kaca dan peralatan untuk membuat kue lainnya.


"Pertama, masukkan tepung ke dalam mangkok." Ucapnya serius membaca langkah pertama cara membuat kue di layar hpnya.


Aileen mulai serius berkutat dengan bahan-bahan kuenya. Satu persatu bahan Ia campurkan sesuai dengan instruksi dari internet.


"Mixer?" Katanya kebingungan.


"Hah, bentuk mixer yang gimana ya?" Tambahnya lagi sambil mencari di internet seperti apa bentuk mixer.


Aileen menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal. "Ihh gak punya."


"Siapa si ganggu banget?" Kata seseorang yang menguap dari seberang telpon.


"Ada mixer kue gak?"


"Woiii."


"Elah yaampun Ren."


"Mixer buat kue."


"Anak cantik anak baik."


"Woiiii."


Aileen terus berbicara sendiri tidak tau orang di seberang sana sudah terlelap tidur tanpa peduli siapa yang menelpon.


Ia memandangi bahan- bahan yang sudah tercampur dalam satu wadah, tapi takdir Tuhan belum mempersatukan bahan-bahan itu.


"Teori itu bener, dipertemukan belum tentu dipersatukan." Katanya baper.


"Yah masa batal." Tambahnya lagi kecewa.


"Ibu Juwita?"


"Tapi pasti lagi tidur."


"Buang?"


"Jangan?" Katanya terus berbicara sendiri mencoba mencari cara harus diapakan bahan kue yang sudah terlanjur tercampur itu.


"Tau ah bodo."


"Ngapain repot-repot!" Katanya lagi kesal meninggalkan dapur.


Aileen keluar dari rumahnya. Udara di sana masih dingin. Suasananya masih sepi, belum ada kendaraan yang lewat.


Aileen terus berjalan tanpa rasa takut. "Huaaam. Ke rumah Raga aja deh." Katanya berjalan ceria.


"Tapi masih jam segini, pasti masih tidur." Katanya lagi berbalik arah.


Ia terus berjalan tanpa arah. Kakinya membawanya ke taman, entah itu taman atau bukan, Aileen tidak terlalu paham.


"Olahraga dulu aja deh biar cantik." Katanya membaringkan diri di atas bangku taman. Perlahan-lahan matanya mulai terpejam, nyawanya sudah terbang entah ke mana.


"Eh Salwa kan?" Tanya Aileen pada gadis cantik di depannya.


"Iya. Aileen?"


Aileen menganggukkan kepalanya. "Lo ngapain di sini pagi pagi gini?"


"Rumah lo deket sini?" Tanyanya lagi.


"Sini duduk sini." Ajaknya lalu Salwa mendekat.


"Rumah gue agak jauh sih dari sini, tapi tadi diajakin kak Saka olahraga di sini hehe." Jelas Salwa malu-malu. Aileen tersenyum dan menganggukkan kepalanya paham.


"Lah Sakanya mana?" Tanyanya santai.


"Tadi kak Saka pulang dulu ke rumah, ada yang tinggal katanya."


"Lo kenal deket sama kak Saka?" Tanya Salwa.


Aileen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenal." Jawabnya membuat Salwa terdiam.


"Kenal biasa sih gak kenal kenal banget." Jelas Aileen tidak enak karena tau sepertinya Salwa sedang cemburu.


"Waktu itu pernah kena hukum bareng. Tapi setelah itu ya udah, kayak orang yang gak saling kenal lagi." Tambahnya lagi. Salwa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Gue kayaknya baru liat lo beberapa hari ini di sekolah. Murid pindahan mana?" Tanya Aileen.


Salwa sedikit ragu. "Hmm bukan pindahan." Ucapnya membenahi posisinya agar tidak terlihat gugup.


"Gue dari dulu home schooling. Mamah udah kenal kak Saka dari lama, jadi ya mamah juga tau gue deket sama kak Saka karena kak Saka sering dateng ke rumah buat kasih gue hadiah. Terus gue coba minta masukin ke sekolah yang sama di tempat kak Saka sekolah. Awalnya gue ragu tapi tetep gue coba aja, mustahil sih bakal dikasih izin, tapi gak taunya dibolehin karena mamah gue percaya kak Saka bisa jagain gue." Jelas Salwa menatap serius mata Aileen.


"Lo sama Saka udah lama banget pacarannya?" Tanya Aileen penasaran.


Salwa menggelengkan kepala. "Kalo kenal emang udah lama karena rumah kita dulu deketan. Tapi kalo pacaran baru beberapa bulan ini."


Aileen menganggukkan kepalanya. "Apa yang lo sukain dari dia?"


Salwa tersenyum. "Gue suka sama semua yang ada di diri kak Saka. Dulu hari-hari gue terlalu kosong, dia dateng dan jadi pemeran utama dalam hidup gue. Gue gak bisa bayangin kalo kak Saka gak ada di sisi gue."


"Saka kan gi-


"Lama?" Tiba-tiba datang suara cowok membuat Aileen tidak menyelesaikan ucapannya. Keduanya menoleh.


Saka melangkah memberikan mawar putih kepada Salwa. "Kak Saka." Ucapnya bahagia menerima bunga itu.


Aileen melongo melihat itu. Ia tak percaya saat ini dirinya sedang menyaksikan hal yang sangat langka.


Saka mengeluarkan dua cokelat dari saku hoodienya. Salwa yang tambah senang langsung memeluk Saka erat-erat, Aileen memalingkan wajahnya.


"Pergi bego! Ngapain masih di sini." Batin Aileen membodohi dirinya sendiri.


Aileen melirik lagi ke arah mereka.


"WOYYY ada manusia di sini!!!" Teriaknya dalam hati.


"Al pergi!!! Ihhhh kenapa kaki gue gak bisa digerakin." Batinnya lagi, Aileen semakin melotot susah payah menelan ludahnya.


Saka melepas pelukan erat Salwa dan mengusap pelan rambut Salwa dengan penuh rasa sayang, sepertinya. Mereka benar-benar tidak menganggap Aileen ada.

__ADS_1


Aileen beranjak dan memandang Saka dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kakinya mulai berfungsi kembali, Aileen menghela napas lega dan melangkah pergi dari tempat itu. Saka menyeringai kecil melihat punggung Aileen yang semakin menjauh.


"Saka?"


"Itu beneran Saka?"


"Gue gak lagi mimpi kan?"


"Astaga, lagi-lagi mata gue tercemar!!"


Aileen terus melangkah kembali ke arah perumahan dan terus berbicara sendiri seolah-olah tidak percaya bahwa Saka melakukan hal seromantis itu.


"Sial!! Kebayang-bayang terus." Ucapnya kesal.


"Lagian mereka itu gak bisa nahan dulu gitu ya buat pelukan?!"


"Senggaknya pilih tempat yang tertutup dong kalo mau mesra-mesra manja, jangan di depan orang jomblo!!" Tambahnya lagi.


Aileen menepuk-nepuk pipinya pelan. "Astagaaaa."


"Al, anggep lo gak pernah liat! lo gak pernah liat kejadian itu." Ucapnya menenangkan diri.


"Saka gak waras! Bodohnya gue terima tawaran dia waktu itu." Makinya lagi pada diri sendiri.


Perlahan-lahan langit mulai terang. Aileen berjalan pelan menuju gang rumah Raga.


"Raga jam segini lagi ngapain ya?" Ucapnya sambil duduk di pinggir jalan di depan rumah Raga.


"Nak Aileen ngapain toh duduk di situ? Kenapa gak masuk?" Ucap laki-laki keluar dari gerbang rumah Raga.


"Hehe Aileen nungguin Raga keluar pak. Aileen mau ngajakin Raga olahraga."


"Masuk aja, ayuk Bapak antar." Ajak pak Kreso masuk.


"Kira-kira Aileen ganggu gak pak?" Tanya Aileen polos.


"Ibu sudah bangun, nak Raga juga sudah." Jawab pak Kreso ramah. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.


"Nak Aileen ke dapur saja, Ibu ada di sana." Tambahnya lagi.


"Siap pak. Aileen kesana ya pak, makasih banyak banyak banyak pak Kreso baik." Kata Aileen berlari sambil melambaikan tangan.


"Ibuuuuuu." Teriak Aileen senang dan mendekati Juwita dan Bi Jay.


Juwita tersenyum melihat kedatangan Aileen. "Anak rajin, jam segini sudah bangun." Katanya fokus meracik bumbu.


"Aileen cantik gak bu?" Tanya Aileen memasang pose imut.


"Heh manggilnya kok Ibu?"


"Nanti dimarahin Raga kalo manggil Mamah."


Bi Jay yang sedang mengiris sayuran tertawa kecil. "Nak Aileen cantik tapi pasti belum mandi kan?" Kata Bi Jay membuat Juwita tersenyum.


"Aileen gak mandi aja cantik apalagi kalo mandi. Kalo Aileen mandi bisa mengalihkan dunia pak Kreso."


Juwita dan Bi Jay tertawa.


"Aileen beneran boleh panggil Mamah?" Tanyanya membuat Juwita berhenti dari kegiatannya. Juwita mendekat ke arah Aileen. "Boleh sayang."


"Kan calon mantunya Ibu toh?" Bi Jay menyauti membuat Aileen dan Juwita tertawa mendengar itu.


Aileen mengambil pisau di depannya. "Aileen mau bantu Bi Jay motong-motong itu."


"Ini nak Aileen cuci aja ya. Jangan bantu yang ini nanti tangannya bisa kena pisau." Kata Bi Jay memberikan berbagai macam sayuran di dalam mangkok besar yang sudah selesai diiris.


"Sabunnya mana bi?" Tanya Aileen bodoh sontak membuat Juwita tertawa.


"Kamu ini masih ngantuk ya?" Kata Juwita dengan sisa tawanya.


Aileen nyengir lebar menunjukkan ekspresi bodohnya. "Aileen gak ngerti mah."


"Tapi Aileen beneran cantik kan mah?" Tanya Aileen membenarkan rambutnya.


"Cantik. Kalo kamu gak percaya tanya sama Raga sana." Jawab Juwita memegang pundak Aileen.


Aileen berjalan mundur sambil tersenyum melambaikan tangan pada Juwita.


Aileen berjalan pelan menaiki tangga. "Gue sama Saka udah buat kesepakatan. Tapi kalo kita ketemu, dia gak pernah bahas itu."


"Apalagi sekarang udah ada Salwa." Tambahnya lagi seakan-akan ia tidak rela jika Saka adalah pacarnya Salwa.


Aileen menggelengkan kepalanya. "Harusnya gue bersyukur."


"Iya bener. Berkat Salwa, kesepakatan gue sama Saka bisa batal. Gak peduli gue sama kertas itu. Dia juga gak akan tau kalo itu tulisan gue."


Aileen terus berbicara sendiri. "Liat respon kak Gavin sama Saka yang biasa aja, pasti kertas itu gak ada di mereka." Katanya tersenyum merasa menang.


"Gue tebak. Raga pasti lagi tidur."


Tok tok tok tok


Aileen menempelkan telinganya pada pintu kamar. Ia tidak mendengar jawaban dari dalam sana.


Aileen kembali mengetuk pintu. Tok tok tok tok


"Beneran lagi tidur ini anak."


"Raga." Panggilnya pelan.


"Gue masuk ya?"


"Boleh apa gak?"


"Boleh? Oke." Katanya terus berbicara sendiri.


Aileen mengembangkan bibirnya lebar mendapatkan ide. Ia membuka perlahan pintu kamar Raga dan membuat ancang-ancang ingin mengagetkan Raga.


"Lah gak ada makhluk hidup ternyata." Katanya tidak melihat siapapun di dalam sana.


Aileen takjub menatap sekeliling kamar Raga. "Seinget gue kemaren temboknya warna putih, tapi sekarang udah berubah aja jadi biru."


Aileen melangkah ke arah balkon kamar. Ia menempelkan wajahnya pada pintu kaca melihat keadaan di luar sana. "Gak ada apa-apa ah, gak seru!" Katanya membalikkan badan. Aileen terdiam mematung di tempatnya melihat sosok cowok dengan rambut basah yang berantakan. Cepat-cepat Aileen menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Lo ngapain di sini!!" Teriak Aileen kaget.


Aileen membuka sedikit jarinya untuk mengintip. Raga sedang menatapnya tanpa ekspresi apapun, ia kembali menutup wajahnya rapat-rapat.


"Gak salah denger?" Tanya Raga sinis.


"Ya .. ya .. tadi kan gue masuk gak ada orang." Katanya lagi dengan tergagap.


"Terus?" Balas Raga tetap sinis.


Raga menatap Aileen tajam, ia perlahan mulai melangkah maju. Aileen menelan ludahnya. "Eh eh gak boleh ke sini!" Ucap Aileen panik. Raga tetap melangkahkan kakinya menuju tempat Aileen berdiri.


"Rambut lo basah, kotor." Katanya menutup hidungnya mencoba menghentikan langkah kaki Raga, tapi Raga tetap tidak peduli.


"Cuma karena rambutnya basah dan berantakan kenapa sekeren itu sih." Batin Aileen bodoh dengan kaki yang gemetar menatap mata tajam milik Raga.


Aileen menahan napasnya dalam-dalam saat Raga tepat berada di depannya. Raga menatap dirinya tanpa ekspresi apapun, Aileen menelan ludahnya lalu mengalihkan wajahnya.


"Kita bandingin." Ucap Raga tajam. Aileen kembali menatap Raga tidak paham dengan apa yang Raga katakan.


"Hah?" Tanya Aileen bodoh.


"Sekotor apa rambut gue."


"Eh .. itu .. eng .." Kata Aileen tergagap. Aileen mulai panik, ia sama sekali tidak mengerti isi kepala Raga. "Siapa yang bilang gitu?" Katanya cengengesan.

__ADS_1


"Hmmm harum, lo pakek shampoo apaan sih, bagi dong, aduh favorite banget wanginya." Katanya lalu tertawa keras, Aileen memang bodoh. Raga tetap manatapnya tajam.


"Lo kenapa masih di sini sih?"


"Pergi sana!!"


Raga semakin mendekat, kini jarak di antara mereka hanya beberapa meter saja. Aileen cepat-cepat memejamkan matanya. Raga menggelengkan kepalanya heran lalu memutar badannya meninggalkan Aileen.


"Raga sialan!" Batin Aileen dalam hati. Raga benar-benar manusia yang tidak bisa diajak bercanda. Aileen berjalan perlahan melewati Raga, ia tidak tau pikiran macam apa yang ada di kepala Raga. "Gak waras!" Teriaknya meledek sambil berlari meninggalkan Raga.


"Al." Teriak samar dari seorang cewek.


"Aileen!!


"Bangun bego!"


"Al." Katanya terus menggoyangkan badan Aileen. Aileen tetap nyaman di tempatnya.


"Pinjem." Katanya lagi merebut botol minum yang diganggam seorang cowok di sampingnya.


Rena menyiramkan sedikit air ke wajah Aileen. "Ya elah masih gak bangun." Katanya kesal lalu menyiramkan semua air yang ada di botol itu sampai habis. Cowok di samping Rena panik.


Aileen terbatuk. "Apa kenapa?" Ucap Aileen terbangun dengan mata yang sedikit terpejam.


Rena menjewer kuping Aileen. "Bangun! Lo ngapain coba tidur di sini?"


"Angga?"


"Rena?"


"Lo ngapain di sini? Bahaya bego!" Kata Rena menoyor kepala Aileen pelan.


"Jam berapa?" Tanya Aileen sambil mengucek matanya.


"Enam lewat dikit." Jawab Angga melirik jam tangan hitam miliknya.


"Raga mana?" Tanyanya polos.


"Raga apaan? Dari tadi gue di sini sama Angga. Gak ada siapa-siapa lagi." Jawab Rena agak bingung.


Aileen tertawa keras tiba-tiba. "Yaampun berarti Salwa sama Saka?" Batinnya.


"Mimpi gue astagaaa." Kata Aileen pelan dengan sisa tawanya.


"Mimpi apa hayo? Cieee ciee mimpiin abang Raga yaaa, cieeee." Ledek Rena sambil tertawa.


Aileen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ih apaan. Kalian ngapain di sini?"


"Lo bego sih, ngeselin banget!!" Rena mengerucutkan bibirnya kecewa.


"Eh, kenapa?" Tanya Aileen pada Angga. Angga yang tidak tau apa-apa menggelengkan kepala.


Setengah enam tadi Rena menelpon Angga dengan suara yang panik. Tanpa bertanya dulu apa masalahnya, Angga langsung saja pergi ke rumah Rena karena ikutan panik. Angga ingin teman-temannya selalu baik-baik saja. Benar-benar ketua kelas idaman.


Sesampainya Angga di rumah Rena. "Woiii ayok cepetan." Teriak Rena mengunci gerbang rumahnya terburu-buru.


Rena berlari ke arah Angga yang masih menampilkan ekspresi kebingungan. "Ada apa?" Tanya Angga saat Rena naik ke atas motor.


"Ayok cepet!!! Bahaya pokoknya." Katanya panik, Angga merasa panik juga. Ia langsung membawa motornya dengan kecepatan tinggi.


"Ngomong-ngomong lo tau rumah Aileen gak?" Tanya Rena bodoh.


"HAH? APA?"


"LO TAU RUMAH AILEEN GAK????"


"HAH?? AGAK KERASIN LAGI NGOMONGNYA!!!"


"LO TAU RUMAH AILEEN KAN? KITA KESANA SEKARANG!!"


Angga memelankan motornya. "Kenapa gak bilang dari tadi!!!" Rena cengengesan. Angga memutar bola matanya malas, ia pun memutar arah mengambil jalur yang berbeda karena jalur yang ia lalui tadi bukan mengarah ke rumah Aileen.


Sebelum sampai ke rumah Aileen, Rena melihat seorang gadis yang mirip dengan Aileen sedang tertidur pulas di bangku taman. Cepat-cepat Rena menepuk bahu Angga. "Stop stop stop!! Kayaknya itu Aileen."


Mereka turun dari motor. Rena yang cemas mencoba membangunkan Aileen dengan lembut, tapi kelembutan sepertinya tidak bisa membangunkan Aileen karena otaknya sedang asik bermain di dalam mimpi. Langsung saja Rena menyiramkan air minum yang Angga bawa pada wajah Aileen.


Rena mencubit pipi Aileen "Elah malah bengong!!!"


Aileen mengerucutkan bibirnya. "Ihh ganggu. Gue tadi kan lagi olahraga."


"Tadi aja ada-


Aileen ingat kalau Salwa dan Saka hanya ada di dalam mimpinya. Cepat-cepat ia membenarkan kalimatnya. "Ada cowok keren lewat. Terus tadi nanya-nanya nomor gue. Dikira peri subuh kali ya."


"Udah ayok balik, tangan lo udah dingin banget nih."


Rena menatap Angga cengengesan. "Angga?" Panggil Rena dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan.


"Boncengin kita berdua?" Tanya Aileen.


"Ih gak mau!!!" Sambungnya lagi heboh.


"Lagian udah rame orang tuh, jalan aja yuk." Tambah Aileen lagi menatap Angga sok imut.


"Angga boleh kok iringin gue sama Rena sampe rumah." Katanya tak tau diri.


"Iya boleh banget." Tambah Rena ikut tak tau diri.


"Hati Angga kan lembut, beda banget loh sama Raga." Rayu Aileen mengedip-ngedipkan matanya.


Angga menghela napasnya dalam-dalam. Untung saja Angga adalah cowok yang bertanggung jawab, walaupun saat ini ia simpan emosinya rapat-rapat di dalam hati.


Aileen dan Rena berjalan pelan. Angga mengekori mereka sambil mendorong motornya.


Aileen tertawa kecil. "Ya gak usah didorong juga kali Ngga. Nanti lo bisa capek." Katanya sok perhatian.


"Nyalain aja tapi gasnya pelan-pelan." Ucap Aileen tambah tidak tau malu.


"Gak seimbang lah cantik! Kita kan jalannya imut imut." Tambah Rena merapihkan rambutnya. Aileen tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Kalo nggak, tinggal aja motornya." Rena dan Angga kompak menatap Aileen tajam. "Ehehe terlalu bagus emang ide gue."


"Lo ngapain ke sini Ren?" Tanya Aileen penasaran.


"Lo anjir banget!! Subuh subuh nelpon gue, padahal mimpi gue masih indah indahnya. Terus beberapa menit kemudian gue sadar dan bangun karena gak bisa lagi lanjutin mimpi itu, jadi gue telepon balik ke nomor lo berkali-kali tapi gak ada respon. Ya gue panik, gue kira lo ada apa-apa." Jelas Rena terlihat kesal.


"Lagian ngapain sih neleponnya harus pagi pagi banget?"


Aileen tertawa mengingat kejadian tadi pagi. "Males jelasin ah kaki gue capek."


"Gue pulang!" Kata Rena marah dan berjalan cepat mendahului Aileen dan Angga. Aileen semakin tak bisa berhenti tertawa. "Rena." Panggilnya lembut membuat Rena menoleh.


"Yakin bisa ngambek?" Ucapnya lagi menampilkan wajah yang sengaja di imut-imutkan. Rena berlari memeluk Aileen erat. Angga yang melihat tingkah mereka hanya membatin dan menggelengkan kepala. "Drama cewek."


"Nanti Gue ceritain kalo udah sampe rumah." Ucap Aileen membuat Rena menganggukkan kepalanya mengerti.


"Angga ngobrol dong!!" Ucap Rena kesal tidak mendengar satu kata pun keluar dari mulut Angga.


"Iya nih diem aja." Ucap Aileen menambahi.


"Takut cewek lo liat yaaaaa." Ledek Rena menunjuk-nunjukkan jarinya.


"Apaan. Gue gak ada cewek." Jawab Angga salah tingkah.


"Hayooo Angga punyanya siapa hayoooo." Tambah Aileen semakin heboh membuat Angga tambah salah tingkah.


...*...


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2