
Aileen membuka bungkus permen. "Yeyyy ada rasa jeruk." Katanya bahagia.
"Ini buat lo." Sambungnya lagi memberikan satu permen rasa jeruk itu kepada Raga. Raga tetap fokus menyetir mobil.
"Raga ambil."
"Ih Raga, ambil." Katanya lagi memohon. Aileen tak sadar kalau mereka sudah sampai di sekolah. Raga juga sudah memarkirkan mobilnya.
Raga beranjak keluar dari mobil tak merespon sama sekali ucapan Aileen.
"Hah udah sampe? Ih gak seru, cepet banget sampenya." Katanya malas.
Raga berjalan ke arah lapangan sekolah dengan santai. Aileen melihat punggung Raga yang semakin menjauh darinya.
Raga itu tampan, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sering tidak disaring terlebih dahulu, sangat kasar.
Tinggi badannya sangat ideal, jika disandingkan dengan Aileen, mungkin tinggi badan Aileen hanya sebatas ketiak Raga.
Wajahnya putih, alisnya tebal, bibirnya tipis dan hidungnya mancung. Benar-benar kekaleman yang tampan.
Bagi cewek-cewek di luar sana yang melihat Raga dari fisik, mungkin akan langsung tergila-gila oleh pesonanya. Rambutnya yang sedikit gondrong dan di bagian poni dibiarkan acak-acakan, memberikan kesan seperti cowok cool yang keren.
Kalau Raga sudah fokus dengan layar hapenya, Ia benar-benar terlihat keren. Apalagi kalau Raga menyeringai kecil, Aileen yakin kaum hawa yang melihat itu pasti langsung meleleh.
Iya, meleleh bagi mereka yang tidak tau seberapa kasar mulut Raga. Wajahnya memang kalem, tapi ucapannya sangat kasar.
Aileen keluar dari mobil dan berlari kecil menyusul Raga. Dari jauh, Aileen melihat Raga sudah berbaring santai di atas kursi panjang di bawah pohon pinggir lapangan sekolah.
"Cuma ada Raga?" Tanyanya heran sambil berjalan mulai mendekati Raga.
Aileen mendengar suara motor yang bising memasuki sekolah. Ternyata mereka adalah teman-teman Aileen, ia mengembangkan bibirnya lebar.
Aileen melihat Raga sedang serius mengetik sesuatu di layar hapenya. Entah apa yang Raga ketik, air di wajahnya benar-benar serius. Aileen tidak peduli, ia tersenyum melambaikan tangan kepada mereka.
Mereka semua mulai berjalan mendekati Aileen dan Raga.
Sudah terdengar nyanyian galau dari Anton, Rena dan Danu berduet memperagakan kesedihan mendalam sesuai dengan lirik lagu itu.
Laura dan rombongannya tertawa heboh merekam kelakuan teman-temannya. Irfan dan Rean ikutan eksis di live instagram-nya Erika, Seren dan Zoya. Sedangkan Joshua, Angga dan Vero berjalan santai dan sekali-kali tertawa kecil melihat kelakuan teman-temannya.
Mereka sampai di bawah pohon, Vero dan Joshua mendekati Raga dan langsung mengajaknya mabar lagi.
Aileen cemas, hanya rombongan Putri yang tidak ada di sini.
Aileen bertanya pelan kepada Angga seperti memberi isyarat. "Putri sama yang lainnya mana?"
Angga menggelengkan kepala tidak tau dan sepertinya tidak peduli jika Putri dan rombongannya tidak datang.
Aileen mendekati Angga. "Beneran Putri gak dateng?"
"Biar aja." Jawabnya santai.
"Lah kan lo yang bilang, katanya harus ada di sini semua. Katanya tadi kalo ada yang gak ikut bisa kena hukum lagi." Jelas Aileen tidak memahami Angga.
"Ya itu berlaku pada saat jam sekolah masih berlangsung. Kalau sekarang kan pak Nasir sudah pulang." Jelas Angga sangat baku.
Aileen mendengar penjelasan Angga tertawa kecil. "Kaku banget ngga. Santai ngapa sih, lo tuh lagi ngomong sama temen bukan sama presiden."
Angga tertawa kecil. Ia juga tidak sadar, sejak kecil keluarganya tidak pernah berbicara menggunakan bahasa yang tidak baku. Ia diajarkan untuk selalu menjadi laki-laki yang sopan.
Tiba-tiba ada mobil hitam mendekat ke arah mereka. Semua pandangan saat ini terfokus pada mobil itu, kecuali Raga.
Raga beranjak dan melangkah santai mendekat ke arah mobil. Seorang laki-laki dewasa keluar dari mobil itu.
Aileen menyipitkan mata, sepertinya ia mengenali laki-laki itu. "Pak Kreso?"
Saat ini semuanya terlihat bingung saat pak Kreso mengeluarkan alat dari dalam mobil. Raga membantu pak Kreso membawa alat itu ke bawah pohon, dimana mereka sedang kebingungan.
"Raga kok ada pak Kreso?"
__ADS_1
"Mau ngapain pak Kreso di sini?" Sambungnya lagi yang masih tidak direspon oleh Raga.
Raga berjalan santai dan berbaring di atas kursi lagi untuk mabar bersama Vero dan Joshua.
"Siapa Al?" Tanya Rena bingung.
"Itu pak Kreso, kerja di rumah Raga. Gatau deh mau ngapain."
Aileen menggandeng tangan Rena untuk mendekati pak Kreso yang sedang sibuk memasang alat. Entah itu alat apa, Aileen tidak paham.
"Bapak inget Aileen kan?" Tanya Aileen pada pak Kreso.
"Ya inget, temen nak Raga toh? Tadi kan Bapak yang manggilin nak Raga buat gendong kamu." Kata pak Kreso sambil tertawa.
"Eh pak, ini .. hmm itu siniin alatnya biar Aileen bantu. Aileen bisa kalo cuma masang ginian." Katanya panik agar yang lain tidak mendengar apa yang dikatakan pak Kreso.
Melihat ekspresi biasa saja dari yang lain, sepertinya Aileen aman.
Pak Kreso yang melihat ekspresi panik dari Aileen hanya tersenyum membayangkan masa mudanya dulu.
Mereka yang masih kebingungan mulai mendekati pak Kreso dan fokus menatap kegiatan yang sedang dilakukan pak Kreso.
"Kasih abang Anton sini pak, biar bang Danu yang selesain." Kata Anton tertawa keras membuat Danu langsung menoyor kepalanya.
"Ya gue kan lagi galau, bebeb Putri gak ada di sini. Jadi lagi gak punya energi." Katanya lagi pura-pura menangis. Yang lainnya tertawa melihat kelakuan Anton yang aneh. Berbeda dengan Raga, Vero dan Joshua, mereka tidak peduli dengan yang lainnya karena terlalu asik dengan dunia game mereka.
"Tenang saja, sudah beres ini." Kata pak Kreso tersenyum ramah.
"Kalian santai saja di sana, biar yang ahli yang menyelesaikan ini." Sambungnya lagi mulai berdiri dan pelan-pelan memotong rumput di lapangan itu.
Aileen menggelengkan kepalanya heran dengan apa yang ada dipikiran Raga.
"Kayak Raga dong Ton, diem diem tapi gercep. Lo mah di bawah rata-rata." Kata Laura mengejek Anton.
Irfan menyauti Laura. "Itu ide gue Ra."
"Semalem Raga minep rumah gue buat bahas ini, serius." Kata Rean menambahkan.
"Laura gak boleh genitin abang Anton, walaupun bebeb Putri gak di sini, abang Anton tetep setia." Kata Anton pede membuat Laura dan rombongannya melempari Anton dengan batu-batu kecil.
Rena yang gemas ikut melempari Anton dengan gumpalan tanah yang ada di sekitarnya. Aileen tertawa sambil merekam kelakukan bodoh mereka. Padahal Raga yang jadi bahan pembahasan tetap santai di tempatnya. Aileen melirik ke arah Raga dan tersenyum kecil.
"Ada yang bawa minum?" Tanya Aileen pada yang lain. Angga menggelengkan kepala.
"Yah cemilannya cuma sedikit." Sambungnya lagi melihat beberapa makanan ringan yang Raga beli di toko tadi.
"Siapa yang mau anter gue belanja?" Tanya Aileen pada yang lainnya. Anton dan lainnya langsung pura-pura tertidur. Angga menggelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya.
"Hai gaisss ... gue kenalin sama buaya-buaya 10 C nih." Kata Erika sambil mengarahkan hpnya yang sedang live instagram ke arah Anton dan lainnya.
Rombongan Anton tetap setia pada posisi mereka yang pura-pura tertidur.
"Itu yang kaos putih raja dari segala rajanya buaya, namanya Anton. Kalo liat mukanya gue yakin pasti kalian berkeinginan untuk nabok kepalanya. Walaupun buaya tapi dia itu sad boy."
"Nah itu yang sampingnya Anton namanya Irfan, tampan kan? Tapi hati-hati ya, dia itu dayangnya raja buaya. Mukanya penipu, ya agak gemesin sih, tapi kalo liat dia bengong pokoknya tuh jadi pengen nonjok mukanya yang sok polos."
"Terus yang pakek kemeja polos warna item, itu ketua kelas kita, namanya Angga. Kalo ketemu cowok di jalan yang sopannya sopan banget berarti itu Angga ya gaisss."
"Samping Angga namanya Rean. Sama bodohnya kok kayak yang lain, disini cuma Angga ya yang gak terkontaminasi."
"Kalo Danu itu yang pakek kaos putih di sebelah Anton, matanya agak sipit kayak orang cina gitu tapi dia asli Indo loh, mukanya kalem tapi otaknya anjim, be ware dah."
"Wajah mereka berlima itu seperti kamuflase dari kebodohan mereka." Jelas Erika bisik-bisik.
"Nah nah nah kalian wajib banget tau Raga itu yang mana." Kata Erika tersenyum malu-malu.
"Dia kalem aja buat jantung gue meleleh." Katanya lagi bisik-bisik.
"Sayang mukanya gak keliatan, gue jelasin aja ya, dia itu tinggi, mukanya putih, alisnya tebel, idungnya mancung, pokoknya Raga sesempurna itu deh. Cuma satu kekurangannya, tapi itu gak jadi masalah buat gue." Jelas Erika dengan nada yang sangat pelan. Zoya dan Seren hanya tertawa kecil melihat Erika sedari tadi berbicara tentang Raga, mereka tau kalau Erika diam-diam menyukai Raga.
__ADS_1
"Yuk sama gue aja." Kata Rena beranjak dari tempatnya.
"Haha Rena? Serius Rena?" Kata Anton tertawa terbahak-bahak. Rena mendelik tajam.
"Mau sekalian mampir ke rumah sakit kalian?" Kata Danu ikut tertawa.
Irfan menambahkan. "Gakpapa sih mumpung kita semua lagi kumpul di sini, kan enak besuknya."
"Halal untuk ditabok gak sih ini." Kata Laura tabah menggelengkan kepalanya.
"Gue kasih hadiah deh buat yang mau anterin gue." Katanya tersenyum manis.
"Tuan Danu siap melayani Ratu." Kata Danu sigap berdiri di samping Aileen.
"Ga, mobil. Kasian Ratu gue kalo naik motor." Teriak Danu pada Raga. Tanpa memalingkan wajah dari layar hpnya, Raga memberikan isyarat kepada Danu di mana kunci mobilnya berada.
Aileen dan Danu mulai berjalan ke arah mobil Raga diparkirkan.
"Lo kenapa masuk ke sekolah ini?" Tanya Aileen membuka obrolan.
"Takdir gue buat ketemu sama lo." Jawabnya serius.
Aileen tertawa kecil mendengar itu. "Takdir buat lo dan musibah buat gue."
"Lo sendiri kenapa masuk sini?"
"Takdir gue buat ketemu sama kalian dong." Jawab Aileen menyunggingkan senyuman manisnya.
"Pencitraan." Kata Danu menarik pelan rambut Aileen.
"Jangan ditarik, nanti rambutnya jadi panjang."
"Bego ya. Lagian rambut segitu gak diiket, gerah gue liatnya."
Aileen tersenyum membayangkan wajah cantik milik Salwa. "Biar mirip sama Salwa."
Mereka masuk ke dalam mobil, Danu mulai melajukan mobil Raga dengan kecepatan sedang.
"Sawah apaan?" Tanya Danu memasang wajah bodoh.
"Ih Salwa loh, anak baru yang cantik itu."
Danu menganggukan kepalanya. "Baru tau."
"Dih dasar, lo gak bisa mencium aroma cewek cakep ya?"
"Udah ada aroma lo ngapain nyari aroma-aroma yang lain?" Jawab Danu dengan ekspresi yang tak terbaca. Aileen tersenyum canggung merasa candaan Danu yang terdengar serius.
"Lo mau beli apaan sih?" Tanya Danu dengan ekspresi wajah yang biasa Aileen lihat.
Aileen menghela napas lega. "Apa ya? Gak tau juga, bingung." Danu tertawa kecil dan mengacak puncak kepala Aileen.
"Udah sampe, gue tunggu sini."
"Di sana rame, ayok temenin gue." Pintanya pada Danu. Danu memejamkan matanya pura-pura tidak mendengar apa yang Aileen katakan.
"Nanti gue diculik." Pintanya lagi memelas.
"Padahal kalo ikut bisa bebas ambil apa aja yang lo mau. Yaudah deh kalo gak ikut." Kata Aileen melirik pada Danu dan membuka pintu mobil.
Danu langsung sigap keluar dari mobil. "Cewek pendek gak boleh jalan sendirian." Katanya menggandeng tangan Aileen.
Mereka masuk ke dalam toko.
...*...
...*...
...*...
__ADS_1