FELICITY

FELICITY
13. Halaman Tiga Belas


__ADS_3

"Asal lo tau, pada waktu yang tepat, kita akan dapetin cowok yang gak mengukur segala sesuatu dari fisik."


Aileen terus tersenyum menatap Rena. "Rena udah pinter ngomong nih ya?"


"Pasti lo punya pengalaman ditinggal sama jenis cowok yang jahat ya?" Tanya Aileen meledek.


"Nanti gue cariin cowok yang baik ya buat lo." Tambahnya lagi menggandeng tangan Rena.


Aileen melompat-lompat senang melihat sosok laki-laki berseragam hitam berdiri beberapa langkah di depannya. "Pak Kreso ..." Teriaknya melambaikan tangan.


Pak Kreso tersenyum senang melihat Aileen datang menghampirinya. "Eh nak Aileen."


"Ini Rena pak, pasti Bapak udah tau kan?" Ucap Aileen membenarkan rambutnya. Rena mengulurkan tangannya dan menyapa pak Kreso sopan.


"Ibu ada pak?"


"Ada di dalam semua, nak Raga juga ada." Jawab pak Kreso tersenyum ramah.


"Nak Aileen dan nak Rena masuk saja, Ibu sepertinya ada di ruang tv." Sambung pak Kreso membuka gerbang yang sedikit terbuka.


Aileen melambaikan tangan masuk ke dalam rumah.


"Aileen ..." Teriak Juwita senang menghampiri Aileen dan Rena.


Aileen memeluk Juwita erat. "Aileen tadi mimpiin Ibu."


"Eh manggilnya kok masih Ibu?" Jawab Juwita tidak terima.


"Hmm ma .. mah? Panggil Aileen ragu. Juwita mengangguk senang. Rena mematung di tempatnya kebingungan.


"Kamu mimpi apa? Coba ceritain, Mamah pengen denger."


"Ceritanya nanti aja ya mah, Aileen sibuuukkk banget."


"Kenalin dulu mah, ini Rena temen Aileen sama Raga." Juwita tersenyum ramah mengulurkan tangan pada Rena.


Rena tersenyum sopan menjabat tangan Juwita lembut. "Rena, tante." Katanya memperkenalkan diri.


"Aileen sama Rena mau nemuin Raga?" Tanya Juwita menggiring mereka untuk duduk di kursi. Aileen dan Rena kompak menganggukkan kepalanya. "Raga di mana mah?"


"Biasa lah, anak bujang Mamah seneng banget diem di dalam kamar."


"Aileen sama Rena mau minum apa? Biar bi Jay buatin."


"Aileen mau susu cokelat mah."


"Saya Cappucino aja tante."


Jawab mereka tidak malu malu.


"Bi Jay." Teriak Juwita pelan. Cepat cepat bi Jay menghampiri mereka dari arah dapur. "Eh ada calon mantunya Ibu." Kata bi Jay tersenyum senang. "Loh sekarang udah nambah jadi dua?" Sambungnya lagi melihat Rena.


Mereka tertawa kecil. "Ini namana Rena bi." Ucap Aileen, Rena tersenyum menyapa bi Jay.


"Tuh kan bi Jay makin cantik. Masih gak mau ngasih tau Aileen resepnya?" Bi Jay menyipitkan mata menyombongkan diri. Mereka menatap sinis bi Jay lalu kompak tertawa.


"Wah temannya nak Raga sekarang cantik cantik semua ya bu." Juwita tersenyum menganggukkan kepala. "Bi Jay tolong buatkan susu cokelat dan cappucino ya untuk mereka." Bi Jay menganggukkan kepala paham dan menuju ke dapur.


"Ini sebenarnya ada apa Al?" Tanya Juwita masih kebingungan dengan kehadiran mereka. Aileen menepuk bahu Rena pelan.


"Jadi gini tante, Rena sama Aileen mau buat acara di rumah, pengen kumpul sama anak-anak kelas biar lebih deket."


Juwita menganggukkan kepala mengerti. "Terus kalian mau buat makanan apa untuk acara itu?"


"Aileen sebenernya mau buat cake tapi di rumah gak ada mixernya mah."


"Buat di sini aja sama bi Jay."


Juwita melihat jam tangan putih yang Ia pakai. "Tapi maaf ya Al Mamah gak bisa bantu, sebentar lagi Mamah harus pergi."


"Mamah bilangin ke bi Jay biar bantuin Aileen sama Rena nanti ya."


Aileen dan Rena menganggukkan kepala kompak. "Semua bahan ada di dapur, biar nanti bi Jay yang menyiapkan apa saja yang kalian butuhkan."


"Acaranya jam berapa nak?" Tanya Juwita beranjak dari tempatnya.


"Sekitar jam tiga sore tante."


"Oke pasti cukup. Mamah mau ke dapur dulu sebelum pergi, Aileen sama Rena panggil aja Raga di atas."


Aileen menatap Rena memberi kode agar Rena mau ikut memanggil Raga keluar dari kamar. "Saya ikut tante ke dapur aja ya." Ucap Rena sopan membuat Aileen mendelik tajam.


Juwita tersenyum menggandeng Rena menuju dapur.


Aileen sengaja menaiki tangga dengan perlahan. Ia duduk sekitar 1 menit setelah melewati satu anak tangga, lalu melangkah lagi dan duduk lagi.


Tepat di depan pintu berstiker bulan dan bintang Aileen memilih lesehan bersandar di pintu malas untuk mengetuk.


"Ragaaa ayok dong rasakan kehadiran orang cantik di luar sini." Katanya lirih.


"5 menit gak keluar Aileen marah nih."


"Raga dipanggil Mamah."


"Di suruh keluar sekarang."


"Raga di dalem pasti lagi main game kan? Atau lagi mandi?"


"Hiiiiii serem banget kalo mimpi tadi jadi kenyataan."


Aileen tetap setia pada tempatnya dan terus berbicara sendiri dengan nada lirih. "Raga, gue cantik gak?"


"Biasanya kalo orang cantik, waktu pertama masuk sekolah langsung banyak kakak kelas yang suka, kenapa kakak kelas gak ada yang suka sama gue?"


"Ya gue emang gak pinter Matematika, tapi gue jago Biologi tau."


"Gue itu sukaaaa banget sama permen gagang, ke mana-mana gue selalu bawa permen gagang. Pasti yang pacaran sama gue nanti bakal beruntung banget bisa nikmatin manisnya hidup bareng orang cantik."


"Ragaaa."

__ADS_1


Aileen beranjak dari tempatnya dengan kesal. "Raga gak denger apa dari tadi gue ajak ngomong!"


Tok tok tok tok


"Ini Aileen. Boleh masuk kan?" Tanya Aileen terus mengetuk pintu kamar.


"Iya iyaaa. Silahkan masuuuuukk." Jawab Aileen dengan suara yang dibuat-buat.


Aileen membuka pintu, mulai perlahan melihat isi kamar. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana, jantungnya mulai berdegup kencang.


"Gue gak boleh ke arah sana." Ucapnya melihat ke arah pintu balkon yang sedikit terbuka.


"Tapi ini masih normal kok, catnya aja gak berubah jadi biru." Tambahnya lagi melangkah ke arah ranjang.


"Ragaaaa." Panggil Aileen agak pelan.


"Raga di mana?" Sambungnya lagi mendekat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Aileen menempelkan telinganya, ia tidak mendengar tanda-tanda ada manusia di dalam sana.


Aileen kembali melihat ke arah balkon. Dengan ragu Ia mulai melangkahkan kaki ke sana. "Raga gak ada di situ kan?" Ucapnya lirih memegang pintu balkon dengan sedikit gemetar.


Suara helaan napas dari Aileen menghentikan aktivitas Raga di sana.


"Ngapain lo di kamar gue?! Gak ada yang ijinin lo masuk ke sini?!!!" Teriak Raga dengan nada yang kasar.


Aileen dengan santai duduk di kursi kayu yang ada di sana. "Ngapelin Raga lah, ini kan hari libur."


"Keluar!!!" Tegas Raga melepaskan sarung tinju yang terpasang di tangannya.


"Jangan dilepas dong, lo keren tau pakek kayak gituan."


"Kalo lo ke sekolah pakek itu pasti banyak yang suka sama lo." Tambahnya lagi makin melantur.


"Gue gak butuh pendapat lo!"


"Kapan-kapan ajarin gue ya." Katanya santai. Raga yang sibuk membereskan alat-alat tinjunya tetap tidak merespon. "Yeeeyyy makasih Ragaaaa." Teriak Aileen heboh.


"Jadi kapan?" Tanyanya lagi tetap tidak mendapatkan respon dari Raga.


"Besok?"


"Hmmm gimana ya? Yaudah deh kalo lo maksa, semoga besok gue gak capek ya."


"Kalo gue gak capek pasti gue ke sini." Katanya lagi terus berbicara sendiri. Raga melangkah ke dalam kamar tanpa mempedulikan kehadiran Aileen.


Cepat-cepat Aileen mengekorinya dari belakang. "Raga udah tau kan kalo nanti mau piknik-piknikan di rumah gue?"


"Anterin gue beli makanan ya. Okeoke."


"Nanti gue kasih permen deh."


Raga meletakkan sarung tinjunya dengan kasar. "Gue gak pernah minta lo buat dateng ke sini!!" Ucapnya penuh tekanan.


"Ra-


Kalimatnya terhenti saat Raga menatap dirinya dengan tajam. "Dan gue gak peduli soal acara yang lo buat!"


"Raga kemaren sedikit baik, tapi kok sekarang kasar lagi?"


Raga tidak peduli dan melangkah ke dalam kamar mandi. "Lo budek?!" Tanya Raga dengan nada yang sinis.


Aileen memberikan delikan tajam pada Raga. "Kuping gue normal kok, minggu kemaren aja gue baru periksa ke dokter sendirian, ya kan gue belum punya temen. Tapi besok lagi lo yang temenin gue ke mana-mana ya." Jawab Aileen sok imut.


"Gue gak ada urusan sama lo!"


"Karena gue pernah bersikap baik sama lo, bukan berarti gue peduli sama lo!!" Sambungnya lagi semakin sinis dan menutup pintu kamar mandi dengan keras.


"Dasar cowok!!"


"Nyebelinnya ngelebihin cewek lagi pms!!"


"Raga kesurupan ya?" Teriak Aileen dari balik pintu.


Aileen melangkah menuju cermin yang tertempel di lemari. "Kata orang-orang kalo lagi kesurupan itu liat aja cewek cantik, pasti langsung sembuh."


"Aileen cantik kan?"


"Apa cuma sedikit cantik?"


"Apa cantiknya cantik banget?"


"Tapi kayaknya gue gak cantik deh. Gue manis kan ya?"


Aileen lompat-lompat kegirangan di depan cermin. "Ah iyaaaaa ternyata gue manis." Ucapnya tersenyum bangga menatap dirinya sendiri di depan cermin.


Aileen menoleh mendengar pintu kamar mandi terbuka. Raga berjalan menghampirinya tanpa ekspresi apapun. "Raga mandinya cepet banget. Masuk lagi sana." Ucap Aileen mulai terdengar gugup. Raga tidak peduli, ia tetap berjalan santai ke arah pijakan kaki Aileen.


Semakin dekat, semakin dekat dan saat ini hanya menyisahkan jarak beberapa centi di antara mereka. Kepala Aileen tertunduk menyembunyikan wajahnya yang memanas. Jantungnya berdegup kencang, kakinya sulit digerakkan.


Aileen menelan ludah dengan susah payah, ia memberanikan diri mengangkat kepala. Aroma kulit Raga mulai tercium jelas di hidungnya.


"Raga wangi. Pakek sabun apa?" Tanya Aileen pura-pura santai untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


Raga menatap Aileen tanpa ekspresi apapun. Badannya semakin mendekat, semakin membuat napas Aileen tercekat. "Raga gak boleh mesum!" Ucap Aileen menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Aileen mendengar suara lemari terbuka, Ia membuka sedikit jarinya untuk mengintip. "Sial." Ucap Aileen lirih sedikit bergeser dari tempatnya.


"Raga kenapa gak bilang kalo mau ambil baju."


"Raga bego!" Maki Aileen dalam hati.


"Kalo bilang dari tadi kan gue bisa geser."


"Gue deg-degan tau!" Tambahnya lagi dengan kesal. Raga tidak peduli dengan Aileen yang terus mengoceh tidak jelas, Ia mengambil sembarang celana dan kaos hitam dari dalam lemari.


"Yahhh kok item sih?" Tanya Aileen tiba-tiba.


"Putih aja dong, biar samaan kita."


"Nanti kan kita jadi couple couple gitu."

__ADS_1


Raga tidak peduli dan masuk lagi ke dalam kamar mandi. Ingin sekali rasanya Aileen meninju perutnya. "Raga jelek, gue gak suka!" Gumamnya sinis sambil melihat-lihat beberapa parfum yang ada di atas nakas.


Aileen mendengar pintu kamar mandi terbuka lagi. "Wahhh keren, Raga ganteng. Ternyata bener ya kalo cowok pakek item item itu auranya keluar semua." Ucap Aileen senang melihat Raga yang karismatik.


"Udah siang nih, ayuk Ga anter gue."


"Gue gak ngerasa kalo gue setuju sama permintaan lo." Jawab Raga sinis.


"Kalo nanti lo ikut piknik kan bisa mabar sama Joshua, sama Vero juga."


Tiba-tiba Aileen menggandeng tangan Raga. "Ayok. Gue maksa ini." Katanya menyeret Raga keluar dari kamar. Raga melepaskan tangannya dengan kasar. "ACARA LO GAK PENTING BUAT GUE!!" Ucap Raga penuh ancaman.


"Tapi penting buat kelas."


"Gak ada urusan!"


"Raga harus ada di sana."


"Gue gak peduli!"


"Raga harus peduli."


"B O D O A M A T!!"


"Gue yang bawa mobilnya deh."


"Janji."


"Ayok keburu siang."


"M A L E S!!!" Jawab Raga tetap pada pendiriannya.


Raga masuk ke dalam kamar. Di ambang pintu, Raga menatap Aileen dengan santai. "Udah kan? Gak ada yang perlu dibahas lagi?"


"Gue tuh punya rahasia tentang lo, mau tau gak? Kalo mau tau ayok pergi sekarang."


"Gak peduli." Jawab Raga melangkah menjauh dari hadapan Aileen.


"Raga jelek!"


"Gue aduin ke Mamah!"


"Itu lo punya nyokap kan? Ya minta aja sama nyokap lo!"


"Biar aja motor Raga disita sama Mamah."


Raga dengan santai membaringkan dirinya di atas ranjang. "Gak peduli."


"Iss Raga gak peduli gak peduli terus. Liat gue dong udah cantik gini."


"Eh bukan bukan, gue kan manis." Ucapnya pede di depan kamar Raga.


Raga terbahak keras, Aileen mengerucutkan bibir sebal. "Awas aja kalo lo nembak gue, pasti langsung gue tolak."


Raga mengangkat alis memasang ekspresi meledek.


"Lo punya mantan berapa Ga?"


"Ini apa apaan toh? Malah bahas mantan, Mamah nunggu di bawah dari tadi loh." Kata Juwita menggelengkan kepala.


"Raganya gak mau keluar mah. Aileen malah di usir dari kamar." Jawab Aileen melebih-lebihkan.


Juwita melangkah mendekati Aileen. "Raga, keluar sayang."


"Katanya kamu ada acara, ini udah siang loh. Ayok cepet sini anterin Aileen belanja dulu."


"Raga gak ikutan mah." Jawab Raga malas.


"Heh gak boleh kayak gitu! Kamu ini harus bisa bersosialisasi, jangan maen hp terus."


"Udah bujang ya malu kalo temennya cuma sedikit."


"Iya mah, Raga aja kalo di kelas gak mau ngobrol sama Aileen." Kata Aileen ikut-ikutan.


"Nah kan, untuk apa Mamah kerja setiap hari kal-


Raga beranjak dari tempat tidur. "Ya ya ya!!" Ucapnya menutup telinga malas mendengarkan omelan Juwita.


"Pergi pakek mobil, takut barang belanjaannya banyak, nanti Aileen kerepotan."


Raga tak merespon, ia terus menuruni anak tangga dengan malas. Aileen dan Juwita mengekori dari belakang.


"Renaaaa." Panggil Aileen melihat Rena sedang serius membuat adonan kue bersama bi Jay. Rena melambaikan tangannya yang penuh tepung.


"Nak, bawa mobilnya pelan-pelan ya." Ucap Juwita menghimbau Raga.


"Mah Aileen cantik apa manis?"


Juwita tersenyum kecil. "Tanya ke Raga coba."


"Raga itu gak bisa bedain mana yang cantik mana yang manis mah. Selera Raga cuma segini nih." Jawab Aileen menautkan jari jempol dengan jari telunjuknya membuat tanda kecil. Raga tidak peduli dengan apa yang mereka bahas, ia tetap berjalan santai menuju mobil.


Raga masuk ke dalam mobil. "Cepet! Gak usah lelet!" Katanya mengeluarkan kepalanya di jendela.


Aileen mengulurkan tangannya kepada Juwita. "Yaudah mah Aileen pergi dulu yah, nanti Mamah hati-hati di jalan."


"Kamu juga hati-hati ya. Maafin ucapan Raga yang kadang-kadang suka kasar itu."


Aileen tertawa kecil mendengar itu. "Biasanya yang kasar kasar gitu kalo udah sayang sama orang bisa bener-bener sayang tau mah." Ucap Aileen melangkah mundur dan melambaikan tangan pada Juwita. Di tempatnya, Juwita tertawa kecil dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Raga, Aileen duduk depan apa belakang?"


"Repot! Duduk tinggal duduk!" Jawab Raga sinis. Aileen masuk ke dalam mobil dengan santai, ia tidak lagi mempedulikan nada bicara Raga yang selalu sinis, Aileen mulai terbiasa dengan sifat Raga yang agak kasar itu.


Aileen menatap Raga dari samping. "Raga."


Raga tidak merespon.


"Isss Raga!!!"

__ADS_1


__ADS_2