
..."Perkara perasaan itu urusan hati, bukan mata."...
...***...
Aileen menghentikan langkahnya tepat di depan rak kecantikan, membuat cowok di belakangnya reflek menghentikan langkahnya juga. "Ga, bisa jawab gak? Bisa? Oke. Kenapa gue gak pernah pakek bedak?" Tanyanya sambil menunjukkan satu bedak bermerk di hadapan Raga. Raga tidak merespon, ia tetap di tempatnya pura-pura tidak mendengar.
"Salah." Jawabnya lagi menggelengkan kepala seakan-akan Raga menjawab pertanyaannya tadi.
"Liat geh, masa harga untuk satu bedak aja segini."
"Bayangin coba nanti cowok yang jadi pacar gue, pasti bahagia banget ke mana-mana bisa gandeng cewek cantik yang natural."
"Gue gak pakek bedak aja cantik, apalagi pakek bedak kan? Lo pasti gak akan sekasar ini sama gue." Raga menghela napas kasar benar-benar malas meladeni ocehan cewek di depannya itu.
"Gue kasih tau ya, sinar kecantikan itu ada di hati. Itu nasehat Rena tadi waktu kita jalan ke rumah lo." Sambungnya lagi terus berbicara sendiri.
Beberapa menit yang lalu, setelah susah payah merayu Raga agar mau masuk ke dalam mini market, Aileen pikir Raga tidak akan masuk tapi tau-tau Raga sudah mengekorinya di belakang. Walaupun Raga hanya diam saja, tapi Aileen senang karena saat ini ada orang yang bisa ia ajak bicara.
"Ga, Rena cantik ya. Lo mau gak pacaran sama Rena?"
"Bisa gak cari aja apa yang lo butuhin?" Jawabnya sinis.
Aileen melanjutkan langkahnya pelan. "Rena tuh mukanya aja yang judes, tapi hatinya baik banget."
"Ya walaupun lo kasar, tapi setelah gue pikir-pikir ... hmmm kalian tuh cocok."
"Nanti kan enak kalo berantem. Rena curhat ke gue, lo juga curhatnya ke gue. Jadinya nanti gue orang yang paaaliiing sibuk cari cara biar kalian baikan."
"Kan seru."
Tiba-tiba Aileen berhenti lagi. "Ga, cantikan yang mana?" Tanyanya memegang dua jepit rambut dengan bentuk yang berbeda.
"Norak!"
"Ck .. Kalo yang ini?" Tanyanya lagi sambil menempelkan jepit rambut dengan ukiran buah jeruk. Raga mengedikkan bahu tidak peduli.
"Menurut lo, yang jelek yang mana?"
"Lo!" Jawabnya pergi meninggalkan Aileen.
Aileen berdecak sebal. "Raga kan jelek, mana tau barang yang cantik!" Katanya mengibaskan rambut tidak peduli.
"Sana pergi aja sana! Dasar gak seru!" Tambahnya lagi memilih langkah yang berbeda dengan Raga.
Saat ini satu persatu makanan di rak berpindah tempat ke dalam keranjang yang Aileen bawa. Ada makanan yang sesuai dengan daftar yang Rena kirim, ada juga makanan yang Aileen suka.
Aileen menuju meja kasir, menoleh sana sini mencari Raga, tapi tetap saja dua retinanya tidak menemukan keberadaan cowok itu.
Aileen mengerucutkan bibir sebal sambil memberikan keranjang belanjanya di meja kasir.
"Dasar cowok! Gak bisa menilai sesuatu yang cantik!"
"Dasar Raga sialan!"
"Apa bedanya per-
"Ragaaaaa ...." Teriaknya melambai-lambaikan tangan senang. Raga mendelik tajam di tempatnya, Aileen tidak peduli banyak pasang mata yang bergantian memandangi mereka saat ini.
Cepat-cepat Aileen mengambil dua kantong belanja yang selesai di total dan berlari menghampiri Raga. "Lo ke mana aja sih? Berat tau!" Katanya mengomel sebal. Raga mengangkat alisnya enggan untuk merespon.
"Eeittsss jangan salah paham dulu. Gue kuat kok, gue gak minta bawain lo, gue bukan cewek manja ya." Katanya sombong berjalan mendahului Raga.
Mereka masuk ke dalam mobil dengan hening, berkutat dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Aileen bergumam lirih, entah apa yang Ia katakan Raga tidak peduli. Raga tetap santai menyetir mobil dengan kecepatan sedang.
"Raga." Gumamnya lagi lirih.
"Ga kayaknya gue mual deh." Sambungnya memegangi perutnya dengan ekspresi wajah yang sedang kesakitan. Dengan kaget Raga menginjak remnya. Dengan cepat Raga menuangkan minyak kayu putih ke atas tangan Aileen.
Raga kebingungan, entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Melihat wajah Aileen yang semakin kesakitan membuat Raga mengulurkan tangannya mengusap-usap lembut rambut Aileen."Tapi boong." Balas Aileen menjulurkan lidah membuat Raga kembali menginjak gas dan menggelengkan kepalanya pasrah.
Raga memejamkan matanya mencoba tidak peduli dengan apa yang akan Aileen lakukan lagi. Iya, Raga adalah laki-laki normal, mana mungkin dirinya diam saja ketika ada seorang gadis yang sedang kesakitan. Aileen benar-benar menyusahkan.
"Ga, rambut gue gak bau kan?" Aileen melihat raut wajah raga yang marah.
"Normal." Katanya lagi sambil menganggukkan kepala. Aileen menatap dalam-dalam wajah Raga tanpa menghentikan senyuman di bibirnya. Raga menoleh dan menatap Aileen tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Raga ganteng kalo lagi perhatian."
"Eh keren aja deh." Sambungnya lagi menimang perkataannya tadi. "Tapi kerenan dia." Ucap Aileen sambil menopang tangannya di dagu.
"Raga boleh pinjem jaket yang itu?" Katanya lagi dengan ekpresi yang disedih-sedihkan. Raga meraih jaket yang tersampir di kursinya dan melemparkannya tepat mengenai wajah Aileen.
"Karena lo udah lima kali baikin gue, gue mau bilang makasih."
Aileen sibuk memakai jaket. "Bener-bener tulus loh Ga, gak ada pengulangan ya. Lo kalo mau rekam juga boleh deh, gue kasih izin."
"Tapi hadiahnya gak sekarang ya. Besok kalo gak besoknya lagi atau besoknya lagi." Katanya tersenyum kegirangan.
"Raga mau apa?" Tanyanya dengan serius.
"Bilang aja ya ya ya. Nanti gue kasih pakek ketulusan sama rasa sayang yang Rena punya."
Aileen antusias mengharapkan Raga merespon. Tapi tetap saja Raga terdiam santai seperti tidak mendengarkan apa yang Aileen katakan.
"Lo." Kata Raga tiba-tiba membuka suara.
Aileen yang mendengar itu cepat-cepat menyelipkan rambut ke telinga, tersenyum malu-malu. "Ga, lo gak boleh suka sama-
"Diem!"
"Kalo ngomong yang jelas dong. Gue gak ngerti."
"Lo diem! Cuma itu yang gue mau!" Jawab Raga penuh dengan tekanan di setiap kata. Aileen berdecak sebal tidak peduli dengan permintaan Raga.
"Makanan yang lo suka apa?"
Hening.
Aileen menganggukkan kepalanya. "Kalo minuman?"
"Kalo warna favorit warna apa?"
"Kalo gue suka warna putih sama pink."
"Lo pasti suka item ya."
Tiba-tiba Aileen memukul bahu Raga pelan dan tertawa dengan keras. Raga menoleh, menggelengkan kepala keheranan. "Ya karena gue cewek lah."
"Masa gitu aja gak bisa jawab." Tambahnya lagi dengan sisa tawanya.
"Raga mau tau rahasia gak?"
Raga tidak merespon.
"Oke gue kasih tau ya. Gue tuh kalo pakek kaos warna item cantiknya mempesona tau Ga." Jelasnya dengan wajah serius.
"Makanya gue gak mau punya banyak kaos atau gaun yang warnanya item."
"Bayangin aja coba kalo gue pakek itu di depan mamah Juwita, pasti gue langsung diangkat jadi anak bungsu." Katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Raga seperti menyesal di tempatnya karena tadi sudah berbuat baik pada gadis itu. "Eh, gak gak gak. Parah sih ini bahayaaa, kalo gue jadi adek lo. Oh gak!! Gue gak bisa bayangin."
"please Ga, gue gak mau jadi adek lo."
"Tapi lebih bahaya gak sih ini, kalo mamah Juwita mau gue jadi menantunya gimana? Huaaaaaa gak mauuuu!!" Katanya heboh sendiri. "Kalo mamah Juwita tetep maksa, dengan berat hati pasti gue tolak, soalnya gue gak mau buru-buru nikah."
Aileen mendongak lalu senyum senyum sendiri. "Ihhh gue kan masih anak SMA. Ga, gue gak mau nikah sama lo!!!" Katanya heboh memukul-mukul bahu Raga.
Raga di tempatnya terbelalak kaget, cewek di sampinya ini memang sudah tidak waras.
Raga mendadak menginjak rem. "Lo mau bunuh gue gara-gara gue tolak ya!!" Katanya menggebu-gebu karena kepalanya hampir saja terbentur dasbor di depannya.
"Otak lo normal?" Tanya Raga menyentuh jidat Aileen yang bersuhu normal. Aileen memasang wajah sedih tiba-tiba membuat Raga semakin mengerutkan dahi dan memasang ekspresi keheranan.
"Kok mobilnya berhenti sih?" Tanya Aileen meraih tangan Raga dan melirik jam tangan yang Raga pakai.
"Ga, ayok jalan, udah jam satu nih!!" Tambahnya lagi semakin heboh.
"Mobil ini gak akan jalan kalo lo bacot terus!"
"Isss itu menyalahi aturan! Lo gak boleh dong suruh gue berhenti ngomong, emang lo gak tau gunanya mulut itu buat apa? Ya buat ngomong lah, mubazir tau kalo ciptaan Tuhan di sia-siain gitu."
__ADS_1
"Harusnya lo jawab kalo gue ajak ngomong. Sayang banget mulut lo gak digunain dengan semestinya."
"Apa perlu gue ajarin caranya ngobrol? Yaudah ayok kapan? Tapi gue tuh sibuk, ya kalo dari senin sampek minggu mungkin gue bisanya cuma hari senin, selasa bisa sih, rabu juga bisa, kamis kayaknya bisa juga deh, jumat? Hmmm .... bisa bisa, sabtu sama minggu? Ya bisa banget lah, kita kan libur tuh jadi bisa sekalian jalan-jalan." Jelas Aileen bertepuk tangan heboh menawarkan jasanya tanpa ragu. Raga tidak peduli, di tempatnya ia sibuk membenarkan kabel headset yang kusut dengan hati-hati.
Aileen menepuk jidatnya dengan keras. "RAGAAAA!!!"
"AILEEN BARU INGET!!!"
"Brisik!!" Ucap Raga dengan kesal.
"Dengerin gue, gue inget sesuatu yang penting!!"
"Ini adalah sesuatu yang harus diklarifikasi." Katanya lagi dengan wajah serius. Raga tetap bungkam di tempatnya.
"Kenapa wangi parfum yang lo pakek bisa sama kayak seseorang yang gue kenal?"
"Gue kenal orang itu, lo juga kenal."
"Ayok dong tebak!!!"
Aileen mengerucutkan bibirnya sebal. "Gue sebutin ciri-cirinya ya."
"Yang pertama ... jeng jeng jeng jeng ..." Sambungnya lagi tambah semangat.
Aileen tersenyum malu-malu. "Ganteng hihihihi."
"Tinggi."
"Sedikit mempesona."
"Kalo dibandingin sama Raga, hmmm ... orang itu lebih mempesona."
Aileen mengetuk-ngetukkan jarinya di kepala. "Wangiiiiiiiiii."
"Hmmm ... apa lagi yah."
"Oh iya! Tampilannya tuh acak-acakan."
"Cowok."
Aileen berhenti bicara seperti memikirkan sesuatu. Raga di tempatnya benar-benar pening mendengarkan ocehan tidak berguna dari gadis itu. Raga menjalankan mobilnya lagi dengan kecepatan yang kencang, berharap gadis di sampingnya ketakutan dan diam.
"Inisialnya S."
"Pakek motor ninja sama kayak lo."
"Dia pernah nolongin gue, tapi tuh orangnya nyebelin. Lagi lagi sama kayak lo."
"Hiiiii serem, apa jangan-jangan lo punya kembaran ya? Tapi pisah rumah karena berantem rebutan warisan gitu?" Tanya Aileen penuh selidik.
"Atau karena suka sama satu cewek yang sama?"
"Atau karena orang itu ngerasa mamah Juwita lebih sayang sama lo daripada sama dia?"
Aileen menepuk tangannya dengan ekspresi serius. "Ooohhh gue sekarang ngerti, dia pusing satu rumah sama lo Ga."
"Keputusan yang dia ambil pasti bener-bener berat. Tapi menurut gue, dia udah ambil keputusan yang tepat."
"Lo sih maen game mulu!"
"Kasian dianya jadi gak punya temen."
"Udahlah gue sebel sama lo! Gue gak mau ajak lo ngomong lagi." Katanya tiba-tiba membuat Raga menghela napas kasar.
"Tapi selama satu jam aja ya." Tambah Aileen tersenyum senang.
"Tapi kayaknya satu jam itu kelamaan, pasti lo bakalan kangen sama suara gue."
"Mana tega gue buat temen sekaligus tetangga baru jadi keberatan nahan rindu."
"Yaudah deh, keputusan gue udah bulat! Gue gak jadi diemin lo." Katanya menghela napas ikhlas.
"Raga harus berterima kasih yaaaa. Ini tuh karena mood gue lagi baik tau."
...***...
__ADS_1