FELICITY

FELICITY
18. Halaman Delapan Belas


__ADS_3

Gelagat Anton membuktikan bahwa tantangan yang sudah dibacakan oleh Erike adalah hasil dari pemikiran Anton. Rean menepuk pundak Anton pelan. "Disabarin aja ya mas."


Irfan dan Zoya terbahak melihat ekspresi Anton. Mereka semua tahu kalau tantangan itu dibuat untuk Putri. Tapi sayangnya malah Erike yang mendapatkan kertas itu. "Manusia pembawa kedamaian." Ucap Danu meledek Anton dan membuat Zoya semakin terbahak keras.


Zoya adalah satu satunya gadis 10 C yang memiliki energi berlimpah untuk tertawa. Bahkan untuk hal yang tidak lucu sekalipun. Ia pernah tertawa terbahak-bahak hanya karena mendengar suara perut keroncongan.


"Sorry ya put, i love you ton." Ucap Erike membuat Putri mengerutkan alisnya. "Hah? hubungannya sama gue apa?" Katanya sedikit tak suka.


"Gimana abang Anton rasanya?" Tanya Danu.


"Apa? Gak kedengeran." Jawab Anton yang dibalas delikan tajam oleh Erike. "Minta gue ulang gue tanem lo di gurun pasir." Jawab Erike dengan tegas membuat nyali Anton menciut.


Erike memutar botol itu dengan pelan membuat yang lainnya protes. Ralat, bukan yang lainnya tapi hanya Anton. "Yah gak asik lo ke, pakek tenaga dalem dong." Protesnya.


"Sssstt. Tuh tuh tuh mulai berenti." Ucap Aileen yang fokus terhadap permainan. Bola matanya tak mau lepas dari pandangan botol itu.


Aileen menepuk tangannya heboh. "Irfan." Katanya menunjuk Irfan senang.


"Fine fine. Karena gue cowok gentle gue ambil ini tanpa pikir panjang." Ucap Irfan santai sambil mengambil satu kertas yang berada di dalam jar tantangan.


"Alah gentle gentle, takut kan lo kalo ambil pertanyaan." Ucap Danu meledek Irfan.


Irfan tidak peduli, yang terpenting adalah dirinya aman.


Semua bibir terdiam, mereka dengan sabar menunggu Irfan membacakan tantangan apa yang akan ia dapatkan.


Irfan menghela napas dalam dalam, dirinya memijat keningnya setelah membaca tulisan di dalam kertas itu. Perlahan dan pasti kertas itu sudah ia genggam dengan kekuatan penuh.


"Lama ih pan, apa tantangannya?" Ucap Aileen tak sabar menunggu Irfan membuka suara. Irfan menatap Aileen dengan mata lelah. "Telfon pak Nasir sekarang." Ucapnya lirih sontak membuat yang lain tertawa.


"Cinta banget gua woi sama yang buat tantangan." Teriak Danu yang disambut pelukan hangat oleh Anton. Mereka berdua puas melihat nasib temannya saat ini.


Aileen yang penasaran dengan tulisan yang Irfan bacakan langsung merebut kertas itu untuk melihat apakah pernyataan Irfan adalah benar. "Cowok gentle kayaknya gak akan mundur dari tantangan ini." Ucap Aileen memprovokasi Irfan.


"Timingnya pas pan, tunjukin kejantanan lo sebagai cowok C." Sambung Rena membuat Zoya menganggukkan kepalanya tak sabar dengan jawaban Irfan.


"Ayok dong pan jangan diem aja, ah gak asik banget cuma nelfon doang padahal." Ucap Laura ikut memprovokasi.


"Mau gue ambilin air sekarang pan?" Tanya Rean. "Cemen amat masa mau mundur yaelah." Teriak Adel gemas dengan Irfan yang sedari tadi hanya diam pasrah dengan keadaan.


"No." Ucap Irfan membuka suara.


"Ssssttt .. " Sambungnya lagi memberikan kode untuk teman-temannya agar diam. Perlahan ia mengeluarkan hp dari dalam kantongnya.


Dengan wajah PD Irfan menatap satu persatu mata teman-temannya seperti ingin menyombongkan tindakan yang akan ia lakukan.


Menunggu dengan sabar, akhirnya mereka mendengar suara dering telfon yang telah tersambung. Mereka mulai panik dan berbisik takut kalau pak Nasir benar-benar mengangkat telfon itu.


Beberapa detik kemudian suara terdengar di seberang sana. "Halo." Ucap pak Nasir membuat yang lain heboh berbisik satu sama lain.


"Selamat sore pak." Jawab Irfan dengan cepat ia menekan tombol merah dan mengakhiri percakapan itu.


"Save nomor baru gue nanti, yang ini delete aja. Gak akan gue pakek lagi." Ucap Irfan sedih membuat yang lainnya tertawa.


Tiba-tiba Anton merangkul Irfan dengan bangga. "Temen gue ini temen gue." Katanya dengan heboh. "Yang mau masuk circle gue silahkan kontak Danu." Sambungnya lagi membuat Danu menganggukkan kepala setuju.


"Cuma lima orang tercepat yang gue acc, lebih dari itu tunggu pembukaan friends koce bulan depan." Kata Danu menambahkan.


"Kriterianya cukup jadi jantan." Tambahnya lagi membuat Anton mengangkat lengannya dan memamerkan otot di lengannya yang tidak berbentuk.


"Alah otot lo mah gak ada sepersennya ton dari otot Raga." Jawab Aileen membuat Raga menoleh. "Ya gak ga?" Katanya lagi membuat Raga menarik rambutnya pelan. Tak terima dengan itu, Aileen ikut mencubit pelan lengan Raga.


"Tolong hargai kami disini yang jomblo ya mbak mas." Ucap Laura membuat Aileen dan Raga menghentikan aktivitasnya.


Sebagian dari mereka menatap Aileen dan Raga penuh curiga dan membuat dirinya tergagap. "Next yuk next."


"Oke, gue puter. Ready guys!!." Ucap Irfan membuat mereka kompak menatap botol itu.


"Kena kan lo!" Ucap Irfan puas karena botol itu mengarah tepat di depan Anton.


"Gue sih gak berharap banyak ton dari lo." Sambung Laura meledek Anton.


"Kalo mau nyerah ngomong aja dari sekarang ton." Ucap Rena. Anton memukul dadanya pelan bersikap seolah dia adalah cowok terkuat di bumi ini.


"Belagu lu." Teriak Danu tepat ditelinga Anton.


Tanpa aba-aba, Anton duduk dengan sopan. Tangannya diarahkan dengan lembut ke dalam jar berisi kertas tantangan. Perlahan ia membuka gulungan kertas itu. Dengan suara lantang ia membaca isi tulisan. "Minum 3 liter air putih, now!"


"WOI ANJERR!!"

__ADS_1


"SIAPA WOII YANG BUAT TANTANGAN INI." Teriak Anton frustasi. Yang lain terbahak keras melihat ekspresi Anton. Mereka sangat senang kalau Anton tersiksa seperti ini.


Ini adalah posisi yang sangat sangat sangat tidak menguntungkan untuknya. Anton meraup wajahnya, mengacak rambutnya frustasi. "Apa bedanya gilaaaa." Katanya lagi masih tak percaya dengan isi tantangan itu.


"Mak tolong Anton mak, Anton mau pulang." Teriaknya dramatis.


Disela tawa mereka, Adel membuka suara. "Jantan katanya."


"Kan gara gara lu ton, citra circle kita jadi rusak." Ucap Irfan dengan suara yang dibuat-buat seperti seseorang yang sedang dilanda kecewa.


"Out aja dah lu, udahhhh kagak ada jantan jantannya." Sambung Danu mulai memprovokasi Anton.


"3 liter ton, dikit itu mah kalo buat ukuran cowok yang sehat." Ucap Aileen membuat Zoya terbahak keras teringat kalimat Anton beberapa menit yang lalu sebelum permainan ini dimulai.


"Diskon ngapa dah diskon." Ucapnya lagi berniat untuk melakukan negoisasi.


"Gak ada gak ada, apaan lo ya diskon diskon." Jawab Laura tak setuju dengan permintaan Anton.


"Auranya udah jantan, yaelah ternyata cupu." Teriak Rean menambah frustasi di dalam otak Anton.


Rena memberikan botol berisi air 3 liter untuk Anton. "Airnya alami kok ton, aman."


"Rasa lemon thea ton, dijamin bugar lo balik dari sini." Sambung Laura membuat Anton mulai terprovokasi dan mengangkat botol itu dengan pasrah.


"Al Al Al Al, mana yang namanya Aileen? Tolong siapin kamera ya." Ucap Anton heboh mencari sudut yang pas agar dirinya tetap terlihat tampan. "Coba cek Al, tetep ganteng gak kalo posisi gue kayak gini."


Aileen menganggukkan kepala memberikan kode oke. "Tolong yang lain siapin kamera hp kalian ya." Ucapnya lagi dengan tetap mempertahankan posisinya.


"Moment langka."


"Wajib diabadikan."


"Nyesel lu pada kalo gak dokumentasiin gue." Katanya lagi tak menyudahi kalimatnya. Anton menatap Putri dengan bangga. "Abang nih abang." Katanya membuat Putri memberikan ekspresi jijik dan menggelengkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian, dengan tawa dan campuran keluhan, Anton berhasil meminum seluruh air itu. "Nyerah gue." Ucapnya tak berdaya.


"Serah dah tuh siapa yang mau muter botol".


"Gak sanggup udah, gak sanggup abang." Tambahnya lagi sambil membanting dirinya di atas karpet. Mereka tertawa sekaligus merasa kasihan dengan nasib Anton, mengapa bisa dirinya sangat sial.


Angga mengambil alih botol dan memutarnya mewakili Anton yang saat ini sudah tepar. "Kan bener filing gue!!" Teriak Seren tak percaya. "Raga dapet lo."


Tanpa basa basi, Raga dengan cepat mengambil satu kertas di dalam jar pertanyaan. Aileen tak sabar mendengar isi tulisan itu.


Hening


Mereka penasaran dengan apa yang akan dibacakan oleh Raga. Kapan lagi mereka bisa berbaur dengan Raga dan bermain bersama seperti saat ini. Bisa saja setelah permainan selesai atau setelah hari ini berlalu Raga kembali normal dan hanya akan fokus pada game di hpnya.


"Siapa cewek yang lagi deket sama lo di kelas?" Ucap Raga membuka suara. Tanpa ada jeda, Raga langsung menjawab pertanyaan itu dengan santai. "Aileen." Katanya sambil meletakkan kertas dengan acuh.


Aileen salah tingkah di dekatnya, padahal Raga menjawab itu dengan realistis. Gadis di kelas yang dekat dengannya ya memang hanya Aileen seorang. "Sebagai temen." Katanya singkat.


"Tetangga juga." Tambahnya lagi membuat Aileen menoleh.


Anton yang sudah tepar langsung duduk menatap Raga dengan wajah heboh. "Abang Danu dinyatakan kalah." Ucapnya membuat Raga tidak mengerti.


Rean menepuk bahu Danu pelan untuk menyalurkan energi. Dengan wajah dramatis, Danu mengusap-usap wajahnya seperti sedang mengelap air mata.


Fanya dan Seren menatap Erike iba. Mereka tahu bagaimana perasaan Erike terhadap Raga. Pasti saat ini Erike sedang menahan cemburu.


"Kalian tau kan maksud Raga?" Ucap Aileen tiba-tiba.


"Gue sama Raga gak ada hubungan apa-apa. Cuma temen dan tetangga."


"Gak lebih." Sambungnya lagi.


Erike di tempatnya masih tidak percaya dengan apa yang Aileen katakan. Bisa saja Aileen berbohong untuk menutupi hubungan mereka. Rasanya Erike ingin pulang saja.


Rena menganggukkan kepala percaya dengan yang Aileen katakan. Karena kenyataannya, Aileen dan Raga memang tidak memiliki hubungan yang spesial. "Ga, puter." Ucap Rena dan Raga mulai memutar botol itu.


Putri kegirangan mendapatkan giliran. Tak kalah heboh, Oksa dan Lena histeris melihat teman satu gengnya mendapatkan botol itu. Putri mengambil satu kertas di dalam jar tantangan. Menurutnya, ia akan terlihat keren kalau ia mengambil kertas di dalam jar tantangan.


"Oke gue baca." Ucapnya dengan nada yang senang, membuat Oksa dan Lena menjadi tenang.


"Diantara kita, ada yang gak lo suka? Kalo ada tunjuk orangnya sekarang."


Putri menatap satu persatu mata mereka. Mungkin saja Rena ataupun Laura yang akan ia tunjuk.


Tapi ternyata Putri mengangkat jari telunjuknya ke arah Aileen.

__ADS_1


Aileen menautkan alisnya karena terkejut dengan Putri. Aileen tidak tahu kalau teman sekelasnya ada yang membenci dirinya. "Eh kalo gue yang dapet tantangan itu pun gue bakal tunjuk muka lo!" Ucap Rena kesal dengan Putri. Karena yang Rena tahu, Aileen tidak pernah mengganggu Putri dan teman-temannya.


Saat keduanya berdebat Aileen terdiam sejenak dan mengambil napas dalam sebelum ia berbicara. "Ren, gak masalah kalo Putri benci gue."


"Gue gak bisa memaksa orang untuk selalu suka sama gue. Gue malah seneng ada yang jujur kayak gini."


"Thanks Put." Ucapnya lagi dengan tulus.


"Makanya jangan murahan!" Respon Putri tiba-tiba membuat yang lainnya kaget. "Lo sadar dikit, lo kira matahari bakalan selalu berputar di sekitar lo?!"


"Gak!!"


"Gila lo ya semua cowok lo deket- Belum selesai dengan kalimatnya, Angga membentak Putri "PUT!" Suara lantang Angga membuat Putri terdiam sejenak.


"APA!!" Tambah Putri tak mau kalah dengan nada suara yang lebih tinggi.


"Lo belain dia?"


"Lo udah jadi cowok yang keberapa Ngga?"


"Lo gak usah sok baik!" Katanya menatap tajam Aileen.


"Raga?" Sambungnya lagi dengan tertawa sinis.


"Lo emang bego atau pura-pura bego?" Aileen semakin tidak mengerti dengan kebencian yang Putri miliki terhadap dirinya. Ternyata bukan sekedar benci biasa tapi sepertinya Putri benar-benar dan sangat-sangat membencinya. "Lo gak liat Erike hah?"


"Gue yakin satu kelas juga udah pada tau kalo Erike suka sama Raga. Tapi setiap hari, dengan muka lo yang sok polos itu lo nempel terus ke Raga. Lo sadar gak kalo keberadaan lo udah buat orang lain sakit hati?"


Erike di tempatnya kini terlihat panik dengan keadaan yang terjadi. Ia tahu maksud Putri mungkin memang baik, tapi posisi Aileen juga tidak bisa disalahkan. Apalagi dirinya tidak memiliki hak untuk marah karena dirinya dan Raga tidak ada hubungan apa-apa.


Aileen benar-benar tidak mengira bahwa dirinya adalah penyebab hancurnya hati seseorang. Ia benar-benar tidak tahu kalau Erike menyimpan rasa terhadap Raga. Kalau tahu mungkin dirinya sudah menjaga jarak dari Raga.


Dengan wajah tertunduk Aileen membuka suaranya dengan gemetar. "Gu-gue gak tau kalo Erike suk-


"Ya itu busuknya lo!!"


"Lo selalu pura-pura care sama yang lain, aslinya mah busuk!" Bentak Putri tak mau mendengarkan kalimat yang coba Aileen katakan.


Rena mengepalkan tangan berjalan pelan menghampiri Putri, ia mencoba tenang agar emosinya sedikit terkendali. Tapi, belum sampai di tempatnya, Raga sudah mendahului dirinya. "Lo cabut dari sini atau gue buat lo nyesel udah dateng ke sini!" Ucap Raga pelan namun penuh penekanan.


Putri tertawa sinis mendengar itu. Ia semakin berani melangkah mendekati Raga. "Udah dikasih bagian mana?"


"Bibir?"


"Dada?" Katanya menatap Aileen jijik.


Putri berhenti sejenak. "Atau lebih dari-


Plakkkk ... Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tangan Rena sudah mendarat keras di pipi kanan Putri. Mereka semua terkejut. Aileen yang ikut terkejut cepat-cepat menghampiri mereka. "Ga, Ren." Panggilnya lirih.


"Udah dong kalian." Katanya lagi memegang lengan Raga dan Rena, tapi ia tak mendapatkan respon dari keduanya.


Raga menarik lengan Putri kasar membawa gadis itu ke luar dari forum. Aileen ikut berlarian mengekori mereka dari belakang, begitu juga yang lain. Anton masih terkejut di tempatnya tidak tahu harus melakukan apa.


Raga menghempaskan Putri di pintu mobilnya. Disusul oleh Rena dan Laura yang masih mencoba meredam emosinya. "Gue gak menyarankan lo buat dateng ke sekolah besok!" Ucap Laura tegas.


"Berani dateng, abis lo sama gue!"


"Ra, Ren. Udah." Ucap Aileen lirih.


"Raga udah ya."


"Tenang dong kalian. Ini masih bisa dibicarain baik-baik." Tambahnya lagi mencoba untuk menenangkan suasana.


"Baik-baik lo bilang? Lo gak denger dia udah rendahin lo di depan anak kelas?" Jawab Rena kasar.


"Masih beruntung gue gak abisin dia sekarang!!" Tambahnya lagi.


"Gue gak pernah peduli kalo orang lain yang dia hina, tapi kalo dia rendahin temen gue, gue yang maju buat lawan balik!" Sambung Laura penuh emosi.


"Gue, Laura ataupun Raga gak akan bersikap kayak gini kalo emang di sini lo yang salah Al." Sambung Rena.


"Tapi Ren, gak semua hal bisa diselesain dengan cara yang kasar kan." Jawab Aileen dengan gemetar.


Angga berlari menyusul mereka. "Lo mending cabut Put." Ucapnya ingin melerai. Putri masih berdiri dengan wajah angkuhnya. "Put, cabut sekarang juga!" Tambahnya lagi dengan tegas.


Dengan bola mata yang masih menatap tajam ke arah Aileen, Putri masuk ke mobilnya dan meninggalkan rumah itu.


Rena menggandeng tangan Aileen dan menuntunnya kembali ke tempat mereka bermain.

__ADS_1


......***......


__ADS_2