
..."Apakah melihat ke arahku adalah kesulitan bagimu?"...
...*...
...*...
...*...
Dari jauh, Juwita mengembangkan bibir melihat Aileen bersikap ramah dan membantu bi Jay.
"Lo ngapain masih di sini?!" Tanya Raga dingin.
Juwita mendekat ke arah mereka. "Raga!" Ucapnya menyikut lengan Raga.
"Punya rumah kan?!" Katanya lagi lebih dingin.
Aileen pura-pura tidak mendengarkan Raga. "Udah siap bu." Katanya tersenyum.
Juwita menggandeng tangan Aileen. "Yaudah yuk makan."
Raga tidak suka melihat Aileen berada di rumahnya. Ia melangkahkan kaki ke kamar.
"Raga, makan!" Teriak Juwita.
Raga tidak peduli dan tetap melangkahkan kaki ke kamarnya.
"Satu langkah lagi, motor akan Mamah sita." Ucap Juwita membuat Raga kembali ke meja makan. Aileen tertawa kecil melihat Raga yang ternyata takut oleh ancaman Mamahnya.
"Duduk." Kata Juwita lagi. Raga duduk di seberang meja Aileen.
"Aileen makan yang banyak." Kata Juwita mengambilkan nasi dan memasukkan sayur ke dalam piring Aileen.
Aileen tersenyum dan menganggukan kepala.
"Emm .. masakan bi Jay enak." Ucap Aileen senang. "Biasanya pulang sekolah Aileen cuma makan roti tawar aja." Sambungnya lagi.
"Makanya sekarang kamu makan yang banyak."
"Alesan!" Sindir Raga lirih. Aileen menatap Raga sebal.
"Ibu, Aileen sama Raga nanti sore mau ke sekolah lagi."
Raga mengerutkan dahi, ia merasa aneh mendengar Aileen memanggil Juwita dengan sebutan Ibu.
"Ada tugas atau gimana?"
Raga mengedikkan bahunya malas.
"Kalian buat ulah di sekolah?" Tanya Juwita panik.
"Tanya aja dia." Jawab Raga menatap dingin Aileen.
"Ada apa Al?"
Aileen cengengesan dan menggaruk kepalanya. "Jadi tadi ada jam kosong, Aileen punya ide deh buat pinjem proyektor kantor terus kita semua nonton bareng di kelas. Eh ketauan, jadinya satu kelas kena hukuman semua."
Juwita tertawa mendengar penjelasan Aileen. "Ada ada aja kamu ini."
"Buat ulah ngajak-ngajak!" Kata Raga sinis.
"Raga!" Mata Juwita mendelik tajam ke arah Raga.
"Raga kenyang." Katanya melangkah pergi meninggalkan meja makan.
"Maafin ucapan Raga yang agak kasar ya Al."
"Iya bu, Aileen gakpapa kok."
"Kamu panggil saya Mamah aja ya, jangan Ibu." Kata Juwita membuat Aileen tak berhenti mengembangkan bibirnya.
Mereka sudah selesai makan. Aileen membantu bi Jay mencuci piring dan membereskan semuanya.
Juwita mendekati keduanya dengan memakai baju yang sudah rapih. "Al, Mamah pergi dulu ya ada perlu di luar."
"Kalo butuh apa-apa minta sama bi Jay." Sambung Juwita mengelus puncak kepala Aileen.
"Kamu kalo pergi nanti harus bareng sama Raga. Gak boleh berangkat sendirian." Katanya lagi sambil berjalan keluar dari rumah.
Juwita mengetikkan sesuatu di hapenya.
"Bi Jay, Raga di mana?" Tanya Aileen sambil mengelap meja makan yang sedikit kotor.
Aileen melihat bi Jay berjalan memegang nampan berisi satu gelas susu cokelat. "Loh bi Jay mau ke mana?" Tanyanya lagi.
"Biasanya jam segini nak Raga suka minta bawain susu cokelat, nak Aileen mau antarkan ini ke sana?"
Aileen mengangguk dan mengambil nampan itu dari tangan bi Jay.
"Kamarnya Raga ada di sebelah mana bi?"
__ADS_1
"Ada dua stiker warna abu-abu di pintunya, gambar bulan dan bintang." Jelas bi Jay. Aileen mengangguk paham dan pelan-pelan melangkah menaiki tangga.
"Nah ketemu." Katanya melihat dua stiker tertempel di salah satu pintu ruangan yang ada di lantai dua.
Tok tok tok tok
"Masuk bi." Ucap Raga dari dalam.
"Kleo Raga Septaaaaa. Gue bawa kejutan." Kata Aileen heboh mendekati Raga.
Raga memasang ekspresi dingin. Ia tidak tau kalau yang mengetuk pintu kamarnya tadi adalah Aileen.
"Keluar!" Teriak Raga kepada Aileen.
"Raga jangan teriak-teriak dong, kuping gue sakit."
"Siapa yang suruh lo masuk ke sini!"
"Tadi kan Raga suruh bi Jay masuk, tapi karena gue yang bawain susunya ya jadi gue lah yang masuk." Jelasnya masih berdiri menunjukkan cengiran kudanya.
"Ini minum." Katanya lagi memberikan gelas berisi susu cokelat kepada Raga.
"Gak selera!"
"Beneran gak mau? Gue kan udah capek capek naik sambil bawa ini." Katanya memelas. Raga tidak merespon, ia tetap santai bermain game di atas karpet.
"Gak peduli." Jawab Raga dingin.
"Ragaaa." Panggil Aileen. Raga tidak merespon.
"Raga jelek."
"Raga kasar."
"Raga septa anak Mamah Juwita."
"Raga tetangga baru akuuuu."
"Raga ganteng tapi boong."
"Raga mancung, tapi mancungan gue."
Aileen sebal, ia tetap tidak mendapatkan respon oleh Raga. Aileen melangkahkan kakinya dan duduk santai di atas kasur. Ia meletakkan nampan di atas nakas.
"Gak mau kan?"
Aileen terus menuangkan gelas itu ke dalam mulutnya agar tak ada susu yang tersisa di dalam sana. "Emmm enak." Gumamnya senang.
Raga tetap santai pada posisinya, ia benar-benar tak menganggap Aileen ada.
"Ragaaa, gue abisin bodo amat." Katanya mendekati Raga dan menunjukkan gelas yang sudah kosong.
Aileen duduk di samping Raga. "Raga jangan cuekin gue dong."
"Raga, sekarang jam berapa?"
"Lo buta apa?!" Jawab Raga tajam melihat ke arah jam dinding bulat yang tertempel di kamarnya.
"Ya sengaja kok biar lo tuh jawab kalo gue lagi nanya." Jawabnya malas. Raga tak peduli dengan ocehan Aileen.
"Astagaaaa, udah jam tiga lewat." Kata Aileen panik. Raga tetap santai di tempatnya.
"Ihh ayok ke sekolah." Katanya lagi memohon. Aileen mengerucutkan bibirnya karena Raga benar-benar seperti batu.
"Gakpapa deh di sana lo mau ngapain, mau diem atau apalah gakpapa, asalkan dateng."
"Ya ya ya ya. Raga dateng, please ...
Raga tak sengaja melihat wajah melas Aileen, sepertinya bukan melas tapi 'imut'?
"Gue bebas lakuin apapun yang gue mau?" Tanya Raga tetap fokus pada game yang ia mainkan.
Cepat-cepat Aileen menganggukan kepalanya senang. "Apapun."
"Keluar." Kata Raga beranjak dari tempatnya.
"Gak mau. Gue gak mau keluar sebelum lo juga ikut keluar."
Aileen tetap setia duduk di tempatnya dan menatap Raga dengan tatapan tidak ingin diganggu.
"Eh eh mau ngapain." Aileen panik melihat Raga membuka kaosnya.
"Gue udah nyuruh lo keluar kan?" Jawab Raga mulai bersiap-siap membuka celananya.
Aileen berlari sambil menutup matanya. "Iya iya sebentar, gue keluar. Tunggu, jangan dibuka dulu."
Ia keluar dan menutup pintu kamar itu dengan keras. Di dalam sana, Raga berdiri santai dan menyeringai kecil.
"Dasar gak waras!"
__ADS_1
Aileen duduk di tangga mengatur napasnya yang tidak karuan. Ia merasakan jantungnya berdetak cepat seperti ingin keluar dari tempatnya. "Raga gilaa astaga ya ampun. Hampir aja mata gue ternodai." Katanya mengomel sendiri.
Aileen tiba-tiba menggelengkan kepala dan menutup matanya. "Aaaa mata gue udah gak suci." Katanya heboh mengingat perut kotak-kotak milik Raga.
Raga menuruni tangga melewati Aileen dengan santai, lalu Aileen mengekori Raga dari belakang.
Aileen merasa pipinya sangat panas, ia masih malu mengingat kejadian tadi.
"Raga tanggung jawab." Katanya lirih saat mereka sudah di teras rumah.
Raga menatap Aileen, ia melihat pipi Aileen yang memerah entah karena apa.
"Mata gue udah gak suci." Katanya masih menundukkan kepalanya malu.
Raga masih tidak paham apa yang Aileen bicarakan. Raga tidak mempedulikan Aileen, ia terus berjalan menuju mobil putih yang terpakir di halaman rumahnya.
"Mau jalan kaki?" Kata Raga masuk ke dalam mobil. Aileen menghampiri Raga tidak semangat. Ia masih terbayang-bayang otot perut Raga yang sudah tercetak walaupun belum terlalu jelas.
"Kita mau ke mana?" Katanya polos.
"Bego. Naik!" Katanya dingin, Aileen mengerucutkan bibirnya dan masuk ke dalam mobil.
Raga mulai melajukan mobil berwarna putih itu. Ia tidak membawa motor kesayangannya karena tadi sudah mendapatkan pesan ancaman dari Juwita.
M:
"Nanti ke sekolah bawa mobil."
"Bareng sama Aileen."
"Awas ya kalo gak bareng"
"Awas kamu ya kalo bawa motor!"
"Motor Mamah sita."
"Jagain dia."
Anda:
"Y."
Ancaman seperti itu sudah sangat sering terjadi. Juwita memang sangat possesive. Padahal Raga kan laki-laki, seharusnya ia membiarkan Raga bebas.
Mobil putih itu mulai keluar dari gerbang. Aileen terdiam di samping Raga.
Raga merasa aneh saat Aileen tiba-tiba menjadi diam, ia melirik sekilas ke arah Aileen.
Raga mengangkat kedua alisnya bingung melihat pipi Aileen yang sedari tadi berwarna pink agak kemerah-merahan. Raga tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Eh kok balik lagi?" Tanya Aileen tak direspon oleh Raga.
Raga memarkirkan mobilnya di depan toko serba ada di dekat rumah mereka.
"Raga mau beli apa?" Tanya Aileen lagi. Raga tetap diam saja dan melangkah keluar menuju toko itu.
"Raga mau beli apa?" Ucap Aileen lagi sambil mengekori Raga dari belakang. Raga tetap santai melangkah menuju rak makanan ringan.
"RAGAAAAA."
"MAUUU."
"BELIII."
"APAAAA?".
Tanya Aileen kesal karena tak mendapatkan respon dari Raga.
"Bisa diem gak?" Jawab Raga malah menyuruh Aileen untuk diam.
Aileen kesal melihat tingkah Raga yang seperti itu, ia melangkah ke arah kasir untuk mencari mbak Angel, tapi kata mbak kasir yang ada di sana, mbak Angel tidak ada jadwal hari ini.
Aileen bosan dan kembali ke mobil menunggu Raga.
Ia melihat Raga keluar dari toko, tapi Aileen memalingkan wajahnya seperti cewek yang sedang ngambek.
Raga masuk ke dalam mobil, Aileen terus melihat ke luar jendela pura-pura memejamkan matanya tak peduli dengan kehadiran Raga.
Tiba-tiba Raga menarik tangan Aileen dan meletakkan sebungkus permen gagang di telapak tangannya.
"Ih kok cuma satu bungkus?" Tanya Aileen tidak tau diri. Raga menarik kembali permen itu dari tangan Aileen.
"Hehe iya iya. Raga baik, maka-
"Eh makasihnya kan nanti kalo udah kekumpul banyak." Ucap Aileen menatap wajah Raga dengan bahagia. Raga hanya memutar bola matanya malas.
Di dalam hati, Raga senang melihat Aileen kembali ceria seperti biasa. Mudah sekali mengembalikan mood Aileen yang tadinya buruk.
...*****...
__ADS_1