FELICITY

FELICITY
02. Halaman Dua


__ADS_3

...Untuk memulai sesuatu yang baru lo harus siap dengan resiko yang ada di depan sana....


...*...


...*...


...*...


Kilauan terik matahari dan angin sore masuk ke sela-sela jendela kamar bernuansa abu-abu. Nyamannya suasana di kamar itu membuat laki-laki berkaos putih tertidur pulas enggan untuk bangun.


Tok tok tok tok


Suara ketukan pintu berulang dari luar mengganggu aktivitas spesial dalam hidupnya.


"Mas Saka."


Tok tok tok tok


Gangguan itu tidak akan pergi sebelum Saka beranjak dari tempat tidurnya.


"Mas Saka, bibi ma-


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, pintu di hadapan bi Ani sudah terbuka setengah menampakkan perwujudan manusia berbadan tinggi yang sedang asik menguap lebar-lebar.


"Mas, bibi mau tanya." Kata bi Ani dengan nada Jawa yang khas. Bi Ani menunjukkan kertas lusuh berukuran kecil "Ini bibi temukan di saku baju mas Saka waktu bajunya bibi cuci."


"Tapi karna bibi gak tau, jadi kertas ini ikut ke cuci. Bibi pikir ini kertas penting, jadi bibi minta maaf ya mas." Sambung bi Ani panjang lebar dengan kepala tertunduk dan ekpresi melas karena merasa bersalah.


Karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari lawan bicaranya, bi Ani mengangkat kepala dan melihat Saka yang ternyata terpejam pulas dengan bersandar nyaman di tembok.


Bi Ani masuk ke dalam kamar dan meletakkan kertas lusuh itu di atas nakas. "Mas Saka, kertasnya bibi taro di sini ya." Kata bi Ani lirih dan berjalan keluar.


Bi Ani sudah bekerja di rumah Saka sejak dirinya masih bayi. Jadi Saka tau bagaimana cerewetnya bi Ani kalau obrolannya diladeni. Maka dari itu Saka mengambil langkah aman untuk menghindari pertanyaan beruntun dari bi Ani, yaitu dengan cara pura-pura tertidur.


Setelah mendengar suara pintu ditutup, Saka kembali membuka matanya dan melihat kertas apa yang dimaksudkan bi Ani.


"Kisah?" Gumam Saka membaca kata yang tertulis di kertas itu.


"Gak jelas." Sambungnya lagi dan meletakkan kertas itu ke dalam laci nakasnya.


Tidak tertarik dengan isinya juga dengan siapa yang memasukkan kertas itu ke dalam saku bajunya, Saka melangkah ke arah balkon kamarnya. Ia merebahkan dirinya santai di atas ayunan.


Saka itu tampan, tapi penampilan luarnya sangat acak-acakan memberikan gambaran kalau dia adalah cowok yang bandel. Padahal Saka adalah salah satu cowok yang mencintai tidur daripada bertengkar.


Badannya tinggi tegap. Bagi cewek-cewek di luar sana, bahu Saka yang lebar serta lengan tangannya yang kuat memberikan kesan yang nyaman untuk dijadikan sandaran, beruntung sekali orang yang dicintai Saka nanti.


...*...


...*...


...*...


Rumah dua lantai bercat putih bertengger kokoh di atas tanah seperti tanpa penghuni, sangat sepi.


Dari luar sana terlihat gadis berkuncir kuda memakai baju tidur bergambar dedaunan kering sedang duduk terpejam di teras balkon kamarnya, merasakan kasih sayang alam yang berhembus lembut mengenai wajahnya.


Tiba-tiba perutnya berbunyi, para penghuni di dalam sana sudah memberontak ingin diberi makan.


"Sabar ya ginjalku, cacingku dan segala macam bakteri di dalam perutku." Katanya mengusap-usap perutnya penuh cinta.


Aileen bangkit dan mulai beranjak keluar dari kamarnya. Ia mengorek-ngorek isi kulkas, tapi hanya ada beberapa sayuran mentah.


"Kalo laper kan makan, bukan masak." Ucap Aileen meletakkan kembali sayuran mentah itu ke dalam kulkas.


Dengan raut wajah kecewa Aileen keluar dari rumah yang hanya di huni berbagai macam lukisan dan dirinya saja.


Dengan sumringah Aileen masuk ke dalam toko serba ada yang tidak jauh dari kediamannya. Ia Berdiri di depan rak mi instan bingung memilih rasa.


"Kayaknya yang ini enak." Katanya menunjuk mi rasa soto ayam. "Tapi pasti gak ada daging ayamnya." Sambungnya lagi.


"Enak yang ini apa yang ini ya?" Katanya menimang dua mi dengan rasa yang berbeda.


15 menit berlalu, tapi Aileen belum juga memutuskan rasa apa yang ingin dipilihnya.


Aileen duduk bersila di depan rak mi instan. Ia memejamkan mata dan berkonsentrasi penuh selama lima menit.


Tiba-tiba Aileen mengangguk-anggukan kepala dengan ekspresi serius. Ia berubah pikiran. Ia tidak ingin memakan mi, Aileen hanya mau makanan ringan saja.


"Mi itu gak baik Al, nanti otak kamu tambah keriting." Katanya menasehati dirinya sendiri.


Ia berjalan ke arah rak makanan ringan. Aileen bahagia melihat banyak camilan enak terpampang di depan matanya.


"Ini kesukaan gue." Katanya senang mengambil beberapa makanan yang sesuai seleranya.


"Ini juga." Lanjutnya lagi dengan bahagia mengambil beberapa makanan.


Kedua tangannya penuh. Makanan yang sudah dipilihnya dikembalikan lagi ke tempat asalnya.


Aileen berlari kecil ke dekat meja kasir untuk mengambil troli belanja.


Dengan bahagia Aileen memasukkan berbagai macam camilan ke dalam troli. "Ini enak."


"Ini juga enak." Katanya tanpa ragu memasukkan camilan lagi ke dalam troli.


"Ini yang terenak, banyak cokelatnya." Katanya heboh seperti anak kecil yang kegirangan melihat makanan yang disukai.


Tanpa sadar, Aileen benar-benar memenuhi troli belanjanya. Ia mendorong troli penuh makanan itu ke meja kasir.


Satu persatu Ia keluarkan.


Selesai melakukan transaksi, kini kedua tangannya penuh dengan kantong belanja berisi makanan ringan.


Baru beberapa langkah Ia berjalan keluar, tiba-tiba Aileen berlari kecil untuk masuk kembali ke dalam toko.


"Ada kesalahan besar mbak, bahaya ini mbak so dangerous!!" Katanya panik berbicara kepada mbak kasir.

__ADS_1


"Ada masalah apa kak? Apa yang bisa saya bantu?" Tanya mbak kasir ikut panik.


"Saya titip ini sebentar." Aileen berlari ke arah rak permen.


"Maafin aku ya, aku gak ada niatan buat lupain kamu kok." Ucap Aileen lembut kepada beberapa bungkus permen yang sudah dipegangnya. Ia kembali ke meja kasir.


"Kesalahan besar teratasi. Hehehe" Katanya tersenyum lebar yang dibalas senyuman ramah dan gelengan kepala oleh mbak kasir di depannya.


Setelah selesai membayar Aileen membuka satu bungkusan permen yang tadi sudah dibeli.


Ia mengambil beberapa gagang permen. "Ini buat mbak." Katanya menyodorkan permen itu ke mbak kasir.


Mbak kasir dengan name tag yang bertuliskan Angel itu tersenyum bahagia. "Terimakasih banyak kak."


Seperti sudah menjadi kebiasaan, Aileen berjalan mundur dan melambaikan tangannya yang penuh dengan kantong belanja itu kepada mbak Angel.


Aileen berjalan ke sembarang arah. "Katanya makanan ringan, tapi kok ini berat. Suka aneh." Ucapnya sebal karena kantong belanjanya itu benar-benar berat.


Sebenarnya ini kali pertamanya Aileen keluar dari rumahnya di bawah jam tiga sore.


Baru beberapa minggu ini Ia menempati rumah bercat putih itu. Jadi secara tidak langsung, Aileen memang belum sepenuhnya hafal dengan lokasi-lokasi di daerah ini.


"Beraaattt." Gumamnya kelelahan membawa kantong belanja.


Aileen terus melangkah masuk ke dalam gang yang tidak jauh dari gang rumahnya. "Gak mau pulang. Gak enak kalo makan sendirian." Katanya berbicara sendiri.


Ia duduk di pinggir jalan untuk istirahat. Untung saja komplek di perumahan selalu sepi, jadi tidak akan ada yang melihat dirinya seperti gembel.


Aileen sibuk memilih rasa permen yang ingin Ia lahap. "Nah ketemu. Siap-siap kalian masuk ke mulut orang cantik." Ucap Aileen membuka bungkus permen rasa cokelat dan jeruk. Keduanya langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.


"Lama." Ucapnya sebal setelah melirik jam di tangannya. Jarum pendek pada jam itu masih tertuju di angka lima.


Tak jauh dari tempat istirahatnya, Aileen melihat laki-laki yang sepertinya Ia kenali, laki-laki itu sedang berjalan mendekati bak sampah tidak jauh dari tempat Aileen berada.


Aileen berdiri memanggil laki-laki itu. "Hei." Teriaknya kesulitan karena mulutnya penuh dengan dua permen gagang. Laki-laki itu hanya melirik sekilas gadis yang tak jauh dari pijakan kakinya.


Kesal karena tak direspon, Aileen berlari meninggalkan semua kantong belanjanya dan menghampiri laki-laki itu.


"Kan bener kan mata gue emang gak pernah salah." Ucap Aileen senang melihat Raga-teman sekelasnya sedang asik membuang sampah.


"Jiwa dan Ragaaa." Teriaknya heboh berjalan mendekati Raga. Raga hanya fokus pada kegiatannya yang hampir selesai dan tidak merespon.


"Raga Parampampam." Lanjutnya lagi agar direspon oleh Raga.


Raga tetap berdiri di tempatnya menunjukkan ekspresi malas.


"Raga! Gue Aileen, lengkapnya Aileen Calya. Absen nomor 1 di kelas 10C. Suka makan makan permen, gak suka minum air mineral." Katanya menjelaskan. Namun lawan bicaranya tetap santai memilah sampah dan tak meladeni ucapan gadis di sampingnya.


"Gue juga tau nama lengkap lo, nomor absen lo. Sekarang gue juga udah tau rumah lo." Sambung Aileen semangat.


Bukannya merespon ucapan Aileen, Raga malah pergi meninggalkan Aileen.


Bukan Aileen namanya kalau mudah menyerah. "Kali ini gak mungkin lo diemin gue." Gumamnya licik di dalam hati.


"Aileen cerdas." Ucapnya puas setelah satu lemparan permen gagang utuh mengenai kepala Raga.


Raga membalikkan badan dengan ekspresi kesal.


"Pertama, gue gak kenal lo siapa." Kata Raga tegas.


"Kedua, gue gak pengen tau lo itu siapa." Sambungnya lagi dan melangkah menjauhi Aileen.


"Lo gue maafin." Teriak Aileen.


Raga menghentikan langkahnya. Ia mengatur napas dalam-dalam lalu melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam rumahnya.


Aileen berjalan menuju tempatnya tadi. Ia merogoh hape di dalam kantongnya.


To Rena:


Rena .. Aileen cantik mau nomornya Raga jelek yaa.


Sembari menunggu balasan dari Rena, Aileen berjalan pelan untuk kembali pulang.


Baru berjalan beberapa langkah, kantong belanja di tangan kanannya sobek. Berbagai macam makanan ringan di dalamnya keluar tanpa permisi.


"Siapa yang nyuruh kantongnya sobek sekarang ihh. Mbak Angel nyebelin!" Katanya mengomel sebal melihat camilan kesayangannya berceceran di atas aspal.


...* * *...


Di atas ayunan dari tadi membuat Saka menghela napas karena bosan. Saka turun dan berjalan keluar dari rumahnya ingin mencari udara sore yang segar.


Di depan rumahnya Ia melihat seorang gadis duduk di pinggir jalan menatap berbagai macam makanan ringan yang berserakan di atas aspal.


Aileen yang tidak menyadari kehadiran Saka, tetap duduk di tempatnya. Ia kebingungan sambil mengumpulkan satu persatu bungkusan makanan itu.


Saka tidak peduli. Ia terus berjalan menjauh dari tempat Aileen berada.


Mendengar langkah kaki di dekatnya, Aileen berdiri. Aileen berlari kecil menghampiri Saka. "Mau?" Tanya Aileen sambil mengulurkan permen gagang rasa jeruk.


Saka reflek menerima permen itu dari tangan Aileen.


"Nah sekarang bantuin gue cari kantong plastik yang gede ya." Ucap Aileen manis kepada Saka tiba-tiba. Padahal dirinya sama sekali tidak mengenal laki-laki dihadapannya.


Saka terdiam bingung di tempatnya berdiri. "Lo udah nerima permen itu tandanya lo terikat kontrak sama gue." Lanjut Aileen menyadarkan lamunan Saka.


"Gue gak butuh ini." Tegas Saka mengembalikan permen itu kepada Aileen.


"Tapi gue butuh kant-


"Bukan urusan gue!" Sela Saka saat Aileen belum selesai bicara.


Saka berjalan menjauhi Aileen.


"Mereka abis makan apa sih?" Gumam Aileen sebal karena dari tadi Ia bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan.

__ADS_1


Aileen yang masih berdiri menundukkan kepala dan menggesekkan sendalnya ke aspal.


Tiba-tiba pikiran Aileen dipenuhi dengan pikiran gadis normal pada umumnya. "Raga sama orang yang tadi itu ganteng ya. Eh gantengan Raga daripada dia, tapi kalo diliat-liat lagi kerenan dia daripada Raga. Mau marah jadi gak bisa." Katanya sambil senyum-senyum sendiri.


Raga yang dari kejauhan melihat Aileen senyum-senyum sendiri mengurungkan niatnya untuk membantu Aileen. Raga membalikkan badan dan melangkah lagi ke arah rumahnya.


Peka dengan suara langkah kaki, Aileen melihat Raga yang sedang berjalan memunggunginya.


"Raga Kleo!" Teriak Aileen menghentikan langkah kaki Raga.


"Sekali ini aja." Batin Raga menghela napas kasar.


Raga mendekat ke tempat Aileen berdiri. Bukan Aileen namanya kalau tidak menunjukkan cengiran kuda khas miliknya.


Sebenarnya Raga mengenal Aileen. Tapi Raga tidak mau terlibat dengan gadis itu karena Raga tau bagaimana sifat konyol yang Aileen miliki.


Raga yang melihat Aileen tersenyum tanpa henti bergidik ngeri. Raga sebelumnya tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti ini. Tapi entahlah, walaupun otaknya berkata tidak ingin membantu tapi kakinya terus menghampiri gadis itu.


"Ini." Ucap Aileen memberikan lima gagang permen kepada Raga. Raga diam tak menanggapi.


Aileen mengulurkan tangannya. "Gue Aileen Calya. Perempuan cantik, tetangga baru lo." Lanjutnya lagi membuat Raga mengerutkan dahi.


Karna tidak juga mendapat respon, Aileen menggapai tangan Raga. "Lo Raga Kleo Septa, tetangga baru gue."


"Dan sekarang kita saling kenal." Lanjut Aileen mengangkat tangan Raga dan menaruh permen itu di atas telapak tangan Raga.


"Raga itu ganteng, jadi harus banyak senyum biar keren." Katanya lagi tersenyum manis.


Raga tiba-tiba berjongkok memunguti berbagai macam makanan ringan yang berserakan. Satu persatu Raga masukkan ke dalam kantong yang Ia bawa.


Aileen ikut berjongkok di samping Raga. Bukannya membantu, Ia malah memangku tangan dan sibuk mengamati wajah Raga.


"Ga, lo pose coba yang imut biar gue poto." Jawab Aileen mengeluarkan hapenya dan mulai memotret Raga asal.


"Raga senyum biar mukanya gak keliatan galak." Ucap Aileen memaksa.


Raga dengan cepat mengambil hape itu dari tangan Aileen dan menghapus poto blurnya.


Selesai menghapus potonya sendiri, otomatis ada gambar Aileen yang terpajang di layar hape.


"Siniin. Raga kenapa dihapus sih? Kan kalo gue mau manfaatin lo, gue bisa pakek poto itu buat ngancem lo." Katanya mengerucutkan bibir.


"Berisik." Balas Raga acuh.


Aileen membuat pose lucu. "Ragaaaaa." Panggil Aileen, saat Raga menoleh dengan cepat Ia memotret dirinya dan Raga.


Raga yang tidak terima merampas hape itu dari tangan Aileen. Cepat-cepat Aileen memasukkan hapenya ke dalam kantong baju.


Raga hanya menggelengkan kepala tanpa ekspresi.


Aileen membuka dua bungkus permen gagang yang langsung disuapkan ke mulut Raga. Karena reflek, Raga langsung membuka mulutnya.


Raga mendelik kesal mengeluarkan dua permen itu dari mulutnya.


Aileen membuka dua bungkus permen lagi untuk dirinya sendiri.


"Urusan gue selesai." Ucap Raga memberikan kantong belanja yang selesai Ia bereskan.


"Raga baik, tapi gue bilang makasihnya nanti aja. Mau gue kumpulin dulu." Kata Aileen santai.


"Gue pulang. Selamat malam tetangga." Sambung Aileen melangkah mundur perlahan.


Raga tidak peduli dengan apa yang Aileen katakan. Ia memutar badannya dan mulai melangkah pulang. Baru beberapa langkah, Raga berhenti.


Otaknya berbisik "pulang saja." Tapi, hatinya tidak tega membiarkan Aileen pulang sendirian.


"Sekali ini lagi aja Ga." Batin Raga sambil melangkah mendekat ke arah Aileen.


Raga menyamai langkah Aileen. "Lo mau ke mana?" Tanya Aileen polos.


"Diem. Liat aja ke depan." Jawab Raga dingin. Aileen tersenyum manis melihat sikap Raga yang baik kepadanya.


"Gak sekalian bawain ini?" Tanya Aileen.


Raga memutar badannya melangkah pergi meninggalkan Aileen.


"Iya iya gue bawa sendiri." Ucap Aileen menyusul Raga yang sudah beberapa langkah di depannya.


Mereka melanjutkan kembali langkah kaki mereka.


Aileen membuka obrolan. "Kenapa ya Ga anak-anak cewek di kelas sibuk sendiri-sendiri? Lo juga suka asik sendiri kalo di kelas, kenapa sih?"


"Males jawab."


"Kan, hidup itu harus seimbang. Pertanyaan harus ada jawabannya, begitu juga kalo lo pakek celana pasti di bawah bukan di atas." Jelas Aileen tidak nyambung.


"Gak peduli." Kata Raga dingin dan penuh tekanan.


Aileen berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. "Ga, kita sekarang temenan." Ucap Aileen senang dan mengulurkan jari kelingkingnya kepada Raga.


"Gue balik." Balas Raga memutar badannya tak peduli dengan jari kelingking Aileen.


"Ragaaaaa, kalo bisa pulangnya nyasar ya. Entar gue dateng jadi pahlawan cantik buat lo." Teriak Aileen tanpa ada respon satu katapun dari Raga.


Aileen tersenyum bahagia memandang punggung Raga yang semakin menjauh.


"Kenyang, teratasi." Ucap Aileen memasuki rumahnya yang kosong.


Hape Aileen bergetar tanda ada pesan masuk. Aileen menghidupkan hapenya dan memperlihatkan chat masuk dari Rena.


Aileen membaca pesan itu. "Nomor Raga." Ucapnya tersenyum manis.


To Rena:


Smallluv♡

__ADS_1


__ADS_2