FELICITY

FELICITY
15. Halaman Lima Belas


__ADS_3

"Jangan warna putih lagi."


"Putih tuh mewah loh Ren."


"Itu satu box udah putih semua ya."


"Kan rasanya sama aja."


"Sudah sudah. Ini ada apa toh kok malah pada berantem gara-gara warna cream." Sela Bi Jay melihat keributan di dapur.


Selesai menghias cup cake dengan cream warna putih, Aileen tidak ingin mengganti dengan warna cream yang lain. Padahal Rena dan bi Jay sudah membuat lima cream dengan warna yang berbeda.


"Bi Jay sukanya warna apa? Putih kan?" Tanya Aileen tetap tidak mau kalah.


"Lo liat geh Al, ini juga cakep, kalo putih semua yang ada anak-anak kelas pada bosen gak mau makan. Gak berwarna gitu makanannya."


"Tapi kan-


"Sudah sudah, untuk masalah ini bibi saja yang atur, nak Rena dan nak Aileen cuci tangan lalu susun cup cake yang sudah jadi ke dalam wadah itu." Keduanya mengangguk kompak, bi Jay mulai menghias satu persatu cup cake dengan indah.


"Ren, gimana kabar anak kelas?"


Rena menepuk jidatnya pelan, mereka dari tadi sibuk bergelut dengan cup cake sampai lupa dengan keadaan grup kelas. "Oh iya lupa, gue dari tadi ga pegang hp Al." Cepat-cepat mereka berdua membuka aplikasi chat untuk melihat siapa saja yang akan datang sore nanti.


"Angga menambahkan Putri, Oksa, Lena dan Raga"


Angga:


"Bukan bermaksud untuk ganggu waktu kalian, gue disini cuma mau kasih info kalau nanti jam tiga sore kelas kita ngadain acara."


"Acara kecil biasa sih, tapi acara ini bertujuan biar kita bisa makin akrab, mengenal satu sama lain. Gue harap kalian bisa dateng semua."


Danu:


"Gue suka gue suka gue suka!!!"


Angga:


"Gue sebagai ketua kelas menegaskan bahwa jangan ada lagi yang keluar dari grup ini."


"Oh iya, acaranya di rumah Aileen. Gue ingetin lagi, jam 3 sore ya!!"


Irfan:


"Woi ton baca, jangan pura-pura tidur lu!"


Danu:


"Rugi ton kalo lo gak dateng."


Anton:


"Tuan muda sedang liburan ke Jepang, tolong jangan ada yang menghubungi sampai tuan muda sendiri yang menghubungi kalian."


Laura:


"Naziz."


Rean:


"Gak usah sok ke Jepang Jepangan lo njir. Gak dateng gue jual ginjal lo."


Zoya:


"Btw rumah Aileen dimana dah?"


Angga mengetik


Danu:


"Gue tau. Rumahnya gak jauh dari sekolah kita."


Anton:


"Wah gerak cepet juga ya lo."


Irfan:


"Aduh aduh couple saingan nih ton."


Rean:


"Tanpa ngincer siapa pun, kalo gue sih banyak yang like."


"Maaf maaf aja ya, gak mau sombong saya."


Erike:


"Rean Rena, wihhh keren nih kalo jodoh."


Adel:


"Definisi jodoh namanya hampir sama."


Zoya:


"Wkwkwk setuju banget gue. Rean Rena, not bad."


Putri:


"Tepat waktu woi, jangan ngaret!"


Rean:


"Menghilang aja dah gue."


Angga:


"Iya bener, jangan ada yang telat datengnya. Gue sama Danu tau lokasinya jadi nanti kita kumpul di depan Sekolah dulu."


Anton:


"Apa-apaan ini, ada acara gak ajak-ajak gue!!"


"Hmm merasa dikucilkan."


Adel mengirim emoticon babi


Danu:


"Serah lu, gak ada slot lagi."


Laura:


"Gak tambah orang."


Zoya:


"wkwkwk mampus lo ton."


Irfan:


"Gue nitip sushi halal ya ton."


Anton mengirim stiker sedih


Erike:


"Tau Putri dateng gesit lu."


Zoya:


"wkwkwk mampus lo ton."


Putri:


"Apaansi bawa-bawa nama gue!"


Zoya:


"wkwkwk mampus lo ke."


Anton:

__ADS_1


"Bebeb Putri nanti abang jemput ya."


Danu:


"Pc aja sih anjir."


Anton:


"Gak punya gebetan mana tau."


Laura:


"Gebetan doang, jadian kagak."


Irfan:


"Hahahaha menusuk."


Rean:


"Sampai ingin meninggoy."


"Gebetan doang, jadian kagak."


Danu:


"Gebetan doang, jadian kagak."


Zoya:


"wkwkwk."


"wkwkwk."


Seren:


"Yah sayang banget Anton lagi di Jepang ya."


Anton:


"Gue udah sampe bandara, demi kalian."


Rean:


"Najis, gaya lu bandara."


Irfan:


"Naik angkot aja masih muntah kan lu."


Seren:


"Ewwwhhh."


Anton:


"Tak apa kau menyakiti aku, asalkan jangan kau menyakiti aku."


Laura:


"Ewwwhh jangan dekat dekat denganku karena kamu bukan levelku."


Anton:


"Beb put belain abang dong:(."


Angga:


"Jadi ikut semua kan ini?"


Danu:


"Anton gak ikut ngga, lagi di Jepang."


Anton:


"Diam kamu kasta bawah."


Laura:


Erike:


Aq ugha


Zoya:


"gue mauuuu ikutttt, boleh dong ya wkwkwk."


Seren:


"2in."


Anton:


"Demi kalian, oh jelas saya ikut."


Danu:


"3in."


Rean:


"3in."


Irfan:


"3in."


"Gue duluan yang ketiga."


Rean:


"Lo kelima pan abis danu."


Danu:


"Sssst diem. Gue duluan yang ketiga."


Putri:


"ikut."


Lena:


"2."


Oksa:


"3."


Anton:


"Hatiku gembira hatiku riang hatiku gembira."


Joshua:


"4."


Vero:


"Gue ikut."


Angga:


"Adel, Fanya sama Resi?"


Resi:


"Gue nyimak berarti gue ikut."


Adel:


"Iyap."

__ADS_1


Fanya:


"Ikut."


Angga:


"Berarti ikut semua ya. Oke, gue tunggu kalian di depan sekolah, jangan ada yang terlambat. Jam setengah tiga udah di sana, untuk keterlambatan gue kasih waktu 10 menit, lebih dari itu gue tinggal."


Laura:


"Siappp pak."


Zoya:


"Dimengerti pak."


Adel:


"Laporan diterima siap laksanakan."


Seren:


"Ngoghey."


Danu:


"Angga menyeramkan."


Anton:


"Titisan pak Nasir."


Irfan:


"Gue gak ikut-ikutan ya ngga."


Aileen dan Rena kompak menghela napas lega. Senang karena semua anak kelas 10C akan datang, mereka berdua lompat-lompat kegirangan. "Good job." Ucap Aileen mengajak Rena untuk tos.


Rena menganggukkan kepala senang membalas tos dari Aileen. "Yuk yuk, jam berapa sekarang Al?"


"Jam dua lewat enam belas menit Ren."


"Udah beres semua kan?" Ucap Rena melihat cup cake yang telah bi Jay selesaikan sudah tersusun rapih di atas wadah berwarna putih. Aileen memberikan kode oke. "Raga?" Tanya Rena.


"Ikut, pasti ikut." Jawab Aileen meyakinkan diri walaupun Aileen sendiri tidak tau Raga ikut atau tidak.


"Bi Jay makasih banyak yaa." Ucap Rena memeluk bi Jay dari samping di sisi kanan. "bi Jay baik, makasih banyak banyak banyak banyak pokoknya." Sambung Aileen ikutan memeluk bi Jay dari sisi kiri.


"Kalau cuma masak kayak gitu mah bibi jagonya." Balas bi Jay menyombongkan diri. "Yaudah sana nak Aileen dan nak Rena pulang untuk siap-siap, badan kalian sudah pada bau." Sambungnya lagi meledek Aileen dan Rena.


Mereka berdua kompak melepaskan pelukan dan tertawa. "Bi Jay nanti tolong sampein ke mamah Juwita makasih banyak banyak, banyaknya yang banyak dari Aileen yaa."


"Iya bi Jay, nanti sampein juga makasih dari Rena ya." Bi Jay menganggukkan kepala dan tersenyum manis. Aileen berjalan mundur keluar dari dapur dan melambaikan tangan kepada bi Jay.


"Lo udah bilang ke Raga kan Al?"


"Tadi udah, tapi Raga tuh susah banget anaknya. Kayak iya kayak enggak, jadi gak tau deh gue dia ikutan apa engga."


Mereka berjalan keluar dari rumah Raga. "Udah ah biar aja, pasti nanti dia dateng." Ucap Aileen meyakinkan Rena.


...***...


"Rena buah yang ini udah dicuci?"


"Aman."


"Karpetnya belum ada Ren, gue cari dulu ke atas ya."


"Oke, lo fokus aja cari karpet biar gue yang beresin bagian ini."


"Kalo butuh bantuan panggil gue." Sambungnya lagi dibalas anggukan kepala oleh Aileen.


Aileen mulai berjalan ke arah loteng. "Kata bi Darmi karpet ada di sini."


"Ih kan serem." Katanya berbicara di depan pintu loteng yang masih terkunci rapat.


Aileen sedikit melangkah kembali mendekati arah tangga. "Ren."


Hening.


"Renaaaa." Teriak Aileen dari atas, lagi lagi tidak ada jawaban. Rena mendengar Aileen memanggil dirinya tapi ia tidak menjawab karena sangat sibuk merapihkan lampu-lampu hias di halaman rumah.


Aileen mengerucutkan bibir kecewa karena tak ada jawaban dari Rena. "Ih Rena kemana sih." Katanya kembali ke arah loteng."


"Berani dong Al, kasian kalo yang lain dateng tapi belum siap."


Perlahan, Aileen mulai memegang gagang pintu. Dari luar saja ruangan itu terlihat sangat suram dan gelap.


"Brisik, tapi masuk ke ruangan gini doang takut." Ucap laki-laki yang sedari tadi sudah berdiri di belakang tak jauh dari tempat Aileen berdiri.


Aileen sontak menoleh dan menggeser badannya karena sedikit kaget. "Raga."


"Lo kalo muncul kasih kode dong, atau kasih suara suara kecil gitu."


"Kaget gue ih." Sambungnya lagi tak terima dengan kehadiran Raga yang tiba-tiba. "Tanggung jawab lo, gue jadi deg degan nih."


Raga tidak peduli dengan gadis di depannya. "Ada di dalem kan?" Tanyanya yang dibalas anggukan pelan oleh Aileen.


Raga melangkah maju dan mulai membuka pintu yang terlihat suram dan gelap-katanya. Di dalam sana memperlihatkan ruangan bersih dengan sinar terang dari cahaya lampu yang menggantung. Benar-benar jauh dari yang Aileen pikirkan. "Dasar bocah." Ucap Raga melangkah masuk untuk mencari karpet.


Aileen mengerucutkan bibirnya sebal, tapi ia tetap mengekori Raga dari belakang. "Nah itu itu." Katanya senang melihat tumpukan karpet di dekat lemari.


Tidak menunggu aba-aba dari siapa pun, Aileen berlari menghampiri karpet itu dan berinisiatif untuk mengangkat satu karpet berwarna hijau.


Matanya tertuju pada Raga yang bersandar santai di dekat pintu. Senyuman polos terukir di bibirnya. "Raga, gue mau minta tolong."


"Berat." Katanya lagi cengengesan.


Raga menghela napas kasar. "Dasar bocah."


"Ya wajar dong gue gak kuat, beratnya kan gak sebanding sama tinggi badan gue." Jawab Aileen tak terima.


Raga memberikan senyuman meledek. "Dasar bocah."


"Ya kan energi gue udah abis, lo tau kan dari pagi gue gak ada istirahat sama sekali."


"Lari pagi, mimpi aneh." Katanya menghitung kegiatannya dari pagi. Raga tidak peduli dan mengangkat satu karpet berwarna hijau.


"Terus belanja."


"Hmm terus lagi gue buat kue."


"Mana bisa lo kerjain semua itu." Katanya tetap pamer dengan kesibukannya dari pagi.


"Lemah." Jawab Raga acuh mulai melangkah keluar dari ruangan itu. "Dasar bat-


"Tutup." Sela Raga menghentikan kalimat yang belum Aileen selesaikan.


Mereka berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan. Sesampainya di lantai bawah, Aileen takjub dengan teras dan halaman rumahnya yang selesai dihias oleh Rena.


Makanan ringan yang Aileen beli sudah berada di atas keranjang-keranjang kecil, tersusun rapih di atas kain putih yang dijadikan alas. Ada lampu-lampu kecil terpasang tak jauh dari keranjang-keranjang, juga ada beberapa lampu yang terpasang mengelilingi pagar rumah.


Suasana di rumah Aileen menjadi hangat. "Renaaaa." Ucap Aileen penuh haru.


"Kapan lo nyiapin barang-barang ini?"


Rena mengedikkan bahu. "Tanya aja sama itu tuh." Jawabnya menatap Raga.


"Raga jangan jadi anak baik dong." Ucap Aileen melihat Raga yang sedang membuka gulungan karpet.


"Gak asik jadinya." Tambahnya lagi membuat Raga menoleh.


"Mukanya jangan dikeren kerenin gitu."


"Nanti Rena jatuh cinta."


"Daripada banyak omong mending lo bawa ini ke dapur." Perintah Rena memberikan beberapa buah agar Aileen tak mengganggu dirinya.


"Hmm lembut sekali caranya mbak Rena. Bilang aja lo mau berduaan kan sama Raga."


Rena melempar satu makanan ringan agar Aileen bisa membungkam bibirnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2