FELICITY

FELICITY
05. Halaman Lima


__ADS_3

..."Mewujudkan mimpi tidak akan berhasil hanya dengan menjalankan sebuah tindakan. Tapi perlu ketulusan dalam melakukannya."...


...*...


...*...


...*...


"Ren, lo ngerasa gak sih kelas kita ini kayak ada yang kurang?" Kata Aileen membuka obrolan.


"Agak gimana gituuu." Sambungnya lagi.


"Terlalu sunyi." Jawab Rena.


Aileen dan Rena terus berjalan menuju kelas. "Liat geh kelas lain, ada yang udah bentuk geng gengan, wah pasti mereka pada gosipin kakak kelas kece." Kata Aileen menunjuk kelas yang mereka lewati.


"Ekspektasi gue agak beda sih waktu pertama daftar jadi anak SMA." Jawab Rena mulai masuk ke dalam kelas. Mereka berdiri di depan kelas menunggu guru masuk.


"10 C perlu polesan dikit nih." Sambungnya lagi.


"Nah iya kan perlu dipancing dulu kayaknya Ren."


"Kalo anak cowok di kelas kita ada Anton yang suka heboh sendiri, dan cuma Irfan sama Danu yang nanggepin, sisanya cuma ikut-ikutan aja buat ketawa."


"Iya bener. Anak cowok di kelas kita normal Al, malah lebih dari normal."


"Gue aja pernah liat waktu istirahat kemaren, Danu ikut nongkrong sama rombongan kakak kelas."


"Ada Raga juga Ren?"


"Gak ada. Kalo Raga kayaknya sih mabar sama Vero sama Joshua." Jawab Rena.


Aileen menganggukan kepalanya. "Kalo anak cowok mah gampang deket satu sama lain Ren. Masalahnya di sini berarti ada di anak ceweknya."


"Mereka gengsi kali ya buat negor duluan."


"Tapi lo tau kan Putri sama siapa itu ya, dua cewek lain di kelas kita, kayaknya mereka udah satu geng."


Tidak menjawab pernyataan Rena, Aileen terpaku di tempatnya. Bola matanya mengikuti gerak langkah seorang gadis bermata sipit yang lewat di depan kelas mereka.


"Wih parah sih ini cantiknya." Kata Aileen masih tercengang di tempatnya.


Rena mengikuti langkah kaki gadis itu. "Mirip gue." Jawab Rena membuat Aileen reflek menyentil jidat Rena.


"Gak ada sepersen pun." Jawab Aileen. Rena hanya tertawa kecil.


"Kalo gak salah sih namanya Salwa, murid kelas 10 sama kayak kita. Tapi dia baru masuk hari ini, gak tau deh masuk kelas mana. Gak mungkin banget masuk kelas kita." Jelas Rena.


Aileen terdiam memandang Rena lekat-lekat. "Wooooo kakak Rena sangat informatif sekali yaa" Katanya heboh.


"Haha apaan. Gini-gini gue ini informan terbaik dari SMP." Kata Rena menyombongkan diri. Aileen tertawa mendengar itu.


"Gue sih yakin banget, Salwa ini tipe-tipe most wanted sekolah." Ucapnya yang dibalas anggukan kepala dari Rena.


"Seandainya ya muka gue ada setengahnya dari muka Salwa." Ucap Rena menghayal.


Mereka menghela napas kompak, bergandengan tangan saling memberi energi agar tidak merasa insecure.


Aileen dan Rena saling menatap melihat isi di dalam kelas. Benar-benar hening, padahal ada sekitar sepuluh manusia hidup di dalam sana.


"Merinding gak?" Tanya Aileen yang dibalas anggukan kepala oleh Rena.


"Sepi banget." Kata Rena yang juga merasakan keheningan di dalam kelasnya.


Aileen melangkah mendekati meja Angga-sang ketua kelas. "Angga liat Raga gak?"


Angga hanya mengedikan bahunya. Aileen bertanya lagi kepada Zoya dan mendapatkan jawaban yang sama.


Aileen berjalan kesal menuju meja Rena. "Luar biasa sih ini, mereka bisa menang piala awards dengan kategori bahu goyang." Rena tertawa mendengar itu.


"Yuk kita ke Laura aja." Ajak Aileen membuat Rena ikut mengekori dirinya.


"Lauraaaa." teriak Aileen heboh menuju meja Laura.


"Re-na kan?" Balas Laura seperti menebak nama. Aileen mengerucutkan bibir tak terima, yang dipanggil malah menyebutkan nama orang lain.


Rena menganggukan kepalanya, Ia tertawa melihat wajah Aileen yang kesal. "Yang ini Aileen namanya bukan Rena." Balas Aileen memperkenalkan diri dengan raut wajah yang masih lucu.


Laura tertawa meledek. "Sengaja sih gue." Katanya sontak membuat Rena ikut meledek Aileen.


"Laura, gue cantik gak?" Tanyanya tiba-tiba membuat Rena menggelengkan kepala heran.


"Cantikan gue kan Ra?" Sela Rena tak mau kalah.


"Ih Rena apaansih orang gue duluan kok yang nanya."


"Aileen kan yang cantik?" Sambungnya lagi masih bertanya kepada Laura.


"Gue." Balas Rena sontak membuat keduanya melakukan permainan batu gunting kertas, Laura terlihat bingung dengan kelakuan kedua gadis di depannya.


"Gue yang cakep gue!" Teriak Anton dari tempat duduknya tak tahan mendengar kegaduhan di kelas. Dimana ada kegaduhan wajib ada Anton disitu.


Ketiganya menoleh tajam menatap Anton, tak terima dengan pernyataannya yang seperti Hoax. Ditempatnya, Anton berdiri dan melakukan pose sok keren, Irfan pura-pura sedang memotret Anton ikutan heboh. "Gak memenuhi syarat buat jadi manusia." Sambung Danu membuat Anton menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


Aileen, Rena dan Laura terbahak mendengar pernyataan Danu. "Apa lu." Balas Anton mendelik tajam menatap ketiganya.


"Kurang apa lagi gue."


"Tinggi? Haha jelas."


"Pinter? Oh tentu."


"Tampan? Tidak usah diragukan lagi." Katanya lagi PD membuatnya mendapat satu pukulan kecil dari Erika.


Erika memberikan Anton cermin bulat kecil yang Ia bawa. Anton reflek menerima dan mulai pose sok ganteng di depan cermin membuat Erike geleng-geleng kepala kembali ke tempat duduknya. Yang lain ikut tertawa, rasanya ingin melempar Anton keluar melalui jendela kelas.


"Ngga, pelajaran kosong?" Tanya Rena pada Angga yang sedang belajar di mejanya.


Angga melirik jam tangannya, sudah 20 menit berlalu tapi belum ada guru yang masuk. "Kosong." Balasnya singkat membuat Rena paham dan kembali menghampiri Aileen dan Laura.


Aileen mengangguk-anggukan kepalanya paham dengan kode yang Rena lakukan. "Let's get it." Kata Aileen mengajak Rena tos.


"Rena liat Raga gak sih dari pagi?"


"Pagi tadi ada, lagi mabar kali sama Joshua." Jawab Rena asal.


"Itu Joshua sama Vero ada di kelas." Tunjuk Aileen ke arah mereka berdua.


"Gue cari dia dulu ya."


"Bye Ra bye Ren". Sambungnya lagi berlari keluar. Belum sempat menanggapi, Aileen sudah menghilang dari pandangan.


Aileen naik ke lantai tiga. Setiap sudut sekolah Ia jajahi, tapi Raga tidak juga ketemu. "Ihh Raga ke mana sih." Katanya kesal.


"Aileen kan belom sempet nunjukin kalo Aileen marah sama dia."


"Kata orang-orang, kalo lagi nyari seseorang sebut namanya tiga kali, pasti dia bakalan muncul." Katanya mengarang.


Aileen memejamkan mata. Ia menyebutkan nama Raga di dalam hati.


"Raga jelek."


"Raga jelek."


"Raga jelek."


"Mana? Bohong. Gak ada tuh yang muncul." Katanya membuka mata.


Aileen duduk di tangga lantai tiga, tiba-tiba Saka dan rombongannya muncul dan melangkah naik melewati tangga itu. Cepat-cepat Aileen menutup wajahnya dengan tangan.


Saka dan teman-temannya melihat itu keheranan. "Abang Saka serem sih." Ucap Geo melihat tingkah aneh Aileen.


Aileen masih setia dengan posisinya. Saat Elvano-salah satu teman Saka ingin duduk di samping Aileen, sontak Aileen berdiri dan pergi melesat ke samping Saka.


Otomatis semua teman Saka tertawa terbahak-bahak. "Nasib." Kata Gavin menepuk-nepuk bahu Elvano.


"Ngapain malah ke Saka, bego Al." Batinnya tak terima dengan kakinya yang reflek, tak lama dari itu Aileen lari dan kembali menutupkan tangannya ke wajah.


"Dia kenapa?" Tanya Gavin.


"Silau karena gue terlalu tampan." Jawab Elvano pede membuat Geo menoyor kepalanya pelan.


Mereka berempat melangkah naik ke lantai empat menuju ruang club musik. Saka menyeringai kecil dan menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Aileen.


Sampai di depan kelasnya Aileen berjongkok mengikat tali sepatunya yang lepas. Tiba-tiba Aileen melihat Saka muncul dari tangga. Saka melangkah ke arahnya dan menghentikan langkah di depan kelas 10 A. Sepertinya Saka tidak melihat kalau Aileen berada di tempat yang tak jauh darinya.


Saat Aileen ingin memanggil Saka, ada gadis cantik keluar dari kelas 10 A. Rambutnya hitam pekat tergerai lurus sebahu.


Aileen menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan. "Salwa?" Kata Aileen mengamati gadis itu.


Aileen melihat ke arah sepatu gadis itu, Ia ingat milik siapa sepatu itu. "Nah iya beneran itu Salwa."


Entah apa yang mereka bicarakan, Aileen melihat senyuman tulus mengembang di bibir Saka. Iya, Saka benar-benar sedang tersenyum.


"Gak cocok! Salwa terlalu cantik buat Saka." Gumam Aileen sinis dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas.


Aileen terbayang-bayang wajah cantik Salwa. "Iya! Semua cowok kan gitu, sama aja!!!" Kata Aileen marah-marah sendiri.


"WOYYY Al." Panggil Rena dengan volume suara yang sengaja dikeraskan.


Aileen mendekat. "Bu Neti beneran gak ada kan?"


"Free." Jawab Rena tersenyum lebar.


"Gimana gimana? Mulai?" Tanya Aileen. Rena mengangguk-anggukan kepalanya antusias.


"Ikut gue." Aileen berlari keluar kelas dengan semangat.


"Ini kita mau ke mana? Target kita kan anak-anak kelas." Kata Rena tidak paham dengan apa yang akan Aileen lakukan.


"Ikut aja." Kata Aileen tenang.


Mereka sampai di tempat tujuan.


"Siap-siap." Kata Aileen mengajak tos Rena.


Tok tok tok

__ADS_1


"Permisi." Kata Rena membuka pintu ruang guru.


Di dalam sana hanya ada pak Hardi-guru Matematika kelas 12. Mungkin guru lainnya sedang mengajar.


"Permisi pak, Saya Aileen dari kelas 10C." Ucap Aileen sopan memperkenalkan diri.


"Saya mewakili ketua kelas untuk meminjam proyektor ruang guru pak. Ada proyek yang harus kami kerjakan." Sambungnya lagi.


Pak Hardi mengamati mereka berdua dengan tatapan tidak yakin.


"Saya bendahara kelas 10C pak. Ketua kelas kami bisa Bapak jadikan sebagai jaminan." Ucap Rena menyangkut-pautkan Angga untuk meyakinkan pak Hardi.


Pak Hardi mengangguk-anggukan kepala mulai percaya. "Baik. Silahkan kalian ambil di lemari itu dan setelah pergantian jam nanti kalian harus sudah mengembalikan lagi di tempatnya." Jelas pak Hardi memberi izin.


"Terimakasih pak." Ucap Rena sopan.


Aileen dan Rena langsung kegirangan mengambil proyektor. Mereka keluar dan mulai berjalan menuju kelas.


"Lo mau ngapain minjem ginian?" Tanya Rena masih kebingungan.


"Nobar." Jawab Aileen senang dengan idenya sendiri.


"Lo ada filmnya?"


"Aman, ada di laptop. Nanti tinggal sambungin aja ke kabel-kabel itu Ren."


"Keren keren, sangat penuh persiapan sepertinya." Ucap Rena tersenyum dan memberi jempol kepada Aileen.


"Emang film apaan?" Tanya Rena lagi.


Aileen tersenyum. "Entar juga lo tau."


Mereka memasuki kelas. Para manusia di dalam kelas kompak melihat ke arah pintu. Mungkin mereka mengira kalau Aileen dan Rena adalah Bu Neti-guru Geografi mereka.


Di meja Rena, Aileen cepat-cepat membuka laptop dan menghubungkan proyektor dan laptop. Sedangkan Rena mulai sibuk menyambungkan dua speaker yang sudah ada di kelas mereka.


Raga melihat Aileen sibuk sendiri mengerjakan sesuatu lalu Ia mengedikan bahu tidak peduli.


Aileen mendekat ke meja guru. "Ready?" Tanya Aileen. Rena mengangkat tangannya membentuk tanda Oke dan mengangguk-anggukan kepala.


Mereka bersama-sama mengklik tombol enter.


Dan ...


Semua orang saat ini tertuju pada kegiatan yang Aileen dan Rena lakukan. Sebagai ketua kelas, Angga beranjak mendekati keduanya.


"Lo berdua ngapain?" Tanya Angga.


"Liat aja." Jawab Aileen antusias menunggu filmnya terputar.


"Jangan buat kelas jadi gak kondusif! Gue yang megang tanggung jawab di sini." Ucap Angga tegas.


"Kalo ngomelnya entar bakal gue dengerin, kalo sekarang kita mau nonton dulu." Jawab Aileen santai.


Rena menaikkan volume suara dan membuat fokus para murid di kelas itu teralihkan. Mereka saat ini melihat ke arah film itu diputar, kecuali Raga, Vero dan Joshua. Raga melihat sekilas kegiatan yang sedang Aileen dan Rena lakukan. "Bodoh ternyata nular." Gumamnya lirih dan kembali fokus pada game di layar hapenya.


"Aaaaaaaaaaaaa." Teriak Laura histeris melihat pemeran pertama dalam film itu adalah salah satu member EXO.


"D.O!!! Tambahnya lagi semakin heboh.


"Wiiii My Annoying Brother." Ucap Adel tak kalah heboh. Fanya dan Resi bertepuk tangan senang di bangkunya.


Laura, Adel, Fanya dan Resi beranjak dari bangkunya dan maju mendekat untuk lebih jelas menonton film itu.


Mereka duduk bersama lesehan di lantai dan bersandar pada meja-meja di belakang mereka.


Ada juga Danu, Irfan, Seren, Zoya, Lena, Anton, Oksa, Putri, Erika dan Rean yang mulai fokus menonton di bangku mereka masing-masing.


Aileen dan Rena saling melirik dan tersenyum bahagia.


Hanya Raga, Angga, Vero dan Joshua saja yang fokus dengan kegiatan masing-masing. Entah apa yang Angga kerjakan, Ia sedari tadi sibuk berkutat dengan buku dan penanya, mencoba tenang tidak peduli dengan kelas yang mulai gaduh. Sedangkan Raga, Vero dan Joshua sibuk bermain game.


Aileen tidak peduli dengan mereka bertiga, yang terpenting murid lain di kelas itu menunjukkan kalau mereka tertarik dengan hal yang Aileen dan Rena lakukan.


Mereka semua kompak tertawa karena di tengah-tengah film banyak menampilkan adegan lucu, tapi juga ada adegan yang sedih.


Adegan sedih di dalam film membuat para cewek-cewek menangis sesenggukan. Laura dan rombongan lainnya yang duduk di depan saling berpelukan haru.


Aileen dari tadi diam-diam memotret moment indah itu. Beberapa menit sebelum filmnya selesai, Aileen berjalan ke deretan bangku belakang dan naik ke atas kursi untuk mengambil potret mereka sepenuhnya.


Akhirnya film itu selesai. Suasana di kelas menjadi berisik karena beberapa dari mereka mulai membahas ulang film yang telah mereka tonton.


Apalagi Anton dan Irfan, sedari tadi mereka sibuk memoles-moles rambutnya agar wajah mereka mirip dengan DO.


Laura dan rombongan yang ada di depan juga mulai heboh membahas idola mereka. Ternyata mereka sama-sama menyukai K-pop.


Mereka menjadi kompak saat membahas idol Korea. Sebelumnya memang ada yang sudah menjadi fangirl. Tapi sekarang, ada juga yang mulai penasaran dengan oppa-oppa tampan setelah menonton film itu.


...*...


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2