
...Jangan melewati batas saat mencintai seseorang. Karena, jika cinta yang kamu berikan sesuai takaran, pada saat hubunganmu berada di garis akhir, rasa sakitnya tidak akan melewati batas."...
...*...
...*...
...*...
Mereka masuk ke dalam toko.
"Danu apaan sih." Kata Aileen merasa risih karena tiba-tiba Danu menggandeng tangannya.
"Yakin mau gue lepas?" Jawab Danu menatap orang-orang di dalam toko itu saling berdesakan untuk mencari apa yang mereka butuhkan.
Aileen terdiam sejenak. "Modus kan lo."
Danu menyeringai, ia dipandu Aileen untuk terus berjalan ke arah rak minuman.
"Itu itu, sebelah sana." Kata Aileen menggoyang-goyangkan tangan Danu.
"Huh akhirnya." Katanya lagi sambil mengambil beberapa botol air.
Aileen melihat Danu sedang berdiri santai menatap cewek cantik yang ada di dekat mereka. "Bantuin gue!!"
"Ihh Danu nanti lagi, keburu sore kasian yang lain."
"Danu Gallardo!!!
Danu tersenyum bodoh dan mengambil beberapa botol air minum dari tangan Aileen.
Mereka mengambil beberapa makanan ringan dan berjalan ke arah kasir.
"Jiwa buaya lo meronta-ronta pengen kenalan pasti kan?" Kata Aileen, Danu tertawa kecil mendengar itu.
"Jodoh itu kalo gak dicari gak bakal ketemu." Kata Danu sambil meletakkan satu persatu barang di meja kasir.
"Teori lo salah. Jodoh itu bakal dateng sendiri, karena setelah kita lahir, hati kita udah ada pemiliknya." Jelas Aileen seperti pakar cinta.
"Lo gak akan nemuin selama lo gak mencari." Kata Danu membuat Aileen terdiam sejenak.
"Tapi belum tentu lo dapetin orang yang tepat selama lo mencari." Balas Aileen tak mau kalah.
"Makanya kita harus mencari biar bisa kita seleksi."
Mbak kasir di depan mereka kebingungan melihat keduanya sedang berdebat akhirnya berani membuka suara. "Mas Mbak, ini sudah selesai." Katanya gugup memberikan kartu atm serta kantong yang sudah berisi belanjaan kepada Danu.
"Makasih mbak." Kata Aileen ramah. Mereka berjalan dan masuk ke dalam mobil.
"Terus setelah lo seleksi dan lo gak nemuin orang yang tepat, lo bakal buang gitu aja?" Aileen membuka suara melanjutkan debat mereka yang belum selesai.
Danu melajukan mobilnya dan tersenyum kecil. "Masih lanjut?"
"Kalimat lo tadi itu seakan-akan lo bisa seenaknya mainin cewek. Gue sebagai kaum hawa menolak hal itu ya." Jelas Aileen menggebu-gebu kepanasan padahal AC di dalam mobil sudah menyala dari tadi.
Danu terbahak mendengarkan omelan Aileen.
"Jangan ketawa. Urusan kita belom selesai!"
"Cewek itu hatinya lembut, kalo lo masuk ke dalem sana seharusnya lo tau resikonya kalo tiba-tiba lo keluar gitu aja. Hati cewek mudah patah." Katanya menambahkan. Danu masih tertawa santai di tempat duduknya.
"Cowok seharusnya gak mainin hati cewek seenaknya." Tambahnya lagi. Aileen merasa ingin meledak, Ia menatap keluar jendela tidak ingin mengajak Danu berbicara lagi.
Aileen kalau sudah membahas soal cinta pasti langsung seperti itu. Karena menurutnya, kesucian dalam cinta itu tidak bisa dipermainkan hanya untuk alasan yang remeh. Cinta hanya didapatkan dengan perjuangan yang berisi ketulusan di dalamnya.
Hati manusia itu kosong tanpa adanya cinta. Cinta yang benar adalah mengisi kekosongan itu dan menetap di dalam sana, bukan hanya sekedar singgah lalu mencari tempat kosong lainnya.
Mereka sampai dan mulai berjalan ke arah teman-temannya. Danu berjalan mendahului Aileen. Setelah perdebatan tadi tidak ada satupun di antara mereka yang membuka suara.
Tiba-tiba Danu menghentikan langkahnya. "Lo salah Al. Gue gak akan bisa masuk ke dalem hati seseorang kalo pemiliknya gak mempersilahkan Gue masuk." Katanya tanpa menoleh ke belakang.
Aileen terdiam di pijakannya.
"Dan saat gue keluar dari hati seseorang, lo juga gak tau, gue yang memang pengen keluar dari sana atau orang itu yang maksa gue buat keluar." Tambahnya lagi dan melanjutkan langkahnya dengan santai.
Aileen diam membisu, ia merasa dirinya sangat egois. Ia tidak tau keadaan hati seseorang yang sebenarnya tapi seenaknya saja mulutnya menyalahkan Danu seperti itu.
"Bego bego bego. Astaga mulut suka gak kekontrol." Kata Aileen memukul-mukul pelan bibirnya.
Aileen berjalan menyusul Danu yang telah sampai. Matanya tertuju pada Danu untuk memastikan ekspresi Danu. Aileen lega, ia tidak melihat kemarahan atau ekspresi seperti orang yang sedang tersinggung pada wajah Danu.
Ia langsung berlari menghampiri Rena dan lainnya.
"Ratunya Danu lama bener jalannya." Kata Laura membuat Adel dan Resi tertawa.
"Woii Danu. Lo kan raja setianya Aileen, harusnya jalan di belakang dong. Masa ninggalin Ratu lo gitu aja." Kata Fanya menambahkan.
"Imam itu di depan bukan di belakang." Jawab Danu sok alim sontak membuat yang lain menoyor kepalanya.
"Gue restuin lo sama Danu." Sambung Resi sambil tertawa.
"Iya Al gakpapa, Danu kan ganteng. Kalo masalah otak ya kan bisa di upgrade." Kata Rena ikut-ikutan menjodohkan Aileen dengan Danu.
Aileen menggelengkan kepalanya tabah mendengar apa yang dibicarakan teman-temannya. "Apaan sih kalian. Gue normal ya."
"Wah wah wah jadi ceritanya Danu ditolak nih?" Kata Anton membuat yang lainnya tertawa.
Danu berpose memegang dadanya lemah seperti orang yang kesakitan. "Sakit tapi gak berdarah."
Anton dan Irfan langsung memeluk Danu seperti memberi semangat. "Tenang Dan, masih ada Rena." Rean meneriaki Danu ikut-ikutan memberi semangat. Rena langsung melemparkan ranting-ranting kecil ke arah mereka, Aileen yang dijadikan bahan pembicaraan hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
Mereka kompak menoleh saat pak Kreso mendekat. "Nak Raga, sudah selesai semua." Katanya tersenyum ramah.
Anton melihat lapangan yang sudah rapih itu langsung bertepuk tangan kegirangan. Disusul Irfan dan Rean yang bergandengan tangan lompat-lompat senang. Danu berlari menuju pak Kreso dan mengajaknya tos. Anak-anak cewek ikutan bertepuk tangan heboh karena senang pak Kreso sudah menyelesaikan hukuman mereka. Joshua dan Vero yang sedang asik mabar langsung menunjukkan dua jempol mereka untuk pak Kreso.
Pak Kreso tertawa bangga melihat reaksi mereka.
__ADS_1
"Bapak pulang aja." Kata Raga tetap fokus pada layar hapenya.
"Pak Kreso di sini dulu istirahat. Ini udah Aileen beliin makanan sama minuman." Kata Aileen tidak ingin membiarkan pak Kreso pulang.
"Tapi nak." Jawab pak Kreso menatap Raga.
"Iss udah, Raga juga gakpapa kok. Ya kan Ga?" Raga tak merespon.
"Tuh Raga aja bolehin kok." Sambung Aileen.
"Jangan tinggalin kami pak." Kata Anton berlagak ingin mengejar pak Kreso dan ditahan oleh Irfan dan Rean yang ikut-ikutan meraung kesedihan.
"Lebay anjir." Teriak Laura gemas melihat kelebayan mereka.
"Nanti saja pak pulangnya, Bapak istirahat dulu di sini." Kata Angga sopan. Pak Kreso tersenyum bahagia dan duduk lesehan bersama anak-anak 10C.
"Bapak kurang beruntung hari ini." Kata Anton sambil membuka kacang.
"Seandainya bebeb Putri ada di sini, pasti pak Kreso gak buru-buru mau pulang." Tambah Anton lagi. Mulutnya saat ini penuh dengan biji kacang yang sudah dibuka dan dikumpulkan dari tadi.
"Dulu waktu Bapak masih seumuran kalian, Bapak juga sering sekali kumpul-kumpul seperti ini." Kata pak Kreso mulai menceritakan masa lalunya.
"Bapak punya mantan berapa?" Tanya Danu dengan wajah serius. Reflek yang lainnya kompak menoleh pada Danu.
"Ya nanya sama yang udah pengalaman kan udah pasti terverifikasi halal." Tambahnya lagi nyeleneh.
"Saat SMA Saya suka dengan seorang gadis yang sangat cantik, benar-benar cantik. Tapi karena Bapak merasa tidak pantas untuk dia, jadi Bapak tidak berani mengungkapkan. Dan sampai sekarang, Bapak menyesali hal itu." Jelas pak Kreso membuat suasana menjadi hening menyimak curhatan pak Kreso.
"GASSS DAN!! Teriak Anton heboh dan terus melirik ke arah Aileen.
"Jangan sampek nyesel kayak pak Kreso." Tambah Rean tak kalah heboh.
"Ayok dong jadian, pengennnn bangett dibeliin makanan gratis." Kata Irfan dengan suara yang manja.
"Pengen bilang najis tapi ada pak Kreso, entar gak sopan." Kata Rena gemas mendengar suara Irfan yang sengaja dimanja-manjakan.
"Restu dari kita menyertai kalian." Teriak Laura bertepuk tangan heboh.
Erika dan Zoya berdiri dan lompat-lompat senang. "Go Danu Go Aileen." Teriak mereka kompak.
Anton tiba-tiba berdiri dan joget-joget tidak jelas di samping Erika. "Go Danu Go Anton."
"Abang Anton sayang Danu." Teriaknya lagi sambil memberikan tanda hati di jarinya pada Danu.
"Temen lo?" Tanya Adel pada Irfan. Irfan menggelengkan kepalanya, Ia tidak mau memiliki teman seperti Anton.
"Gue gak ngelakuin apa-apa tapi tiba-tiba kok ngerasa malu ya." Kata Laura menutupi wajahnya dengan topi biru yang Ia bawa.
"Temen siapa ini woiiii bawa pulang!!!" Teriak Rena memandangi Anton.
"Kalian jangan ada yang deketin Danu ya. Dia udah ada doi sekarang." Jelas Irfan pada rombongan cewek.
Aileen menutup wajahnya malu. Mereka itu benar-benar berhasil membuat Aileen menjadi gadis pemalu.
"Saudari Aileen, adakah yang ingin anda sampaikan?" Tanya Rean dengan suara seperti seorang MC upacara.
"Aileennya lagi liburan." Ucap Aileen tanpa ekspresi.
"Bukannya nak Aileen pacarnya nak Raga toh?" Tanya pak Kreso polos sontak membuat yang lainnya kompak menatap Aileen penuh tanya. Termasuk Joshua dan Vero yang saat ini menatap Raga penasaran. Di tempatnya, Raga tetap santai bermain game, tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan.
"Raga? Aileen?" Batin Erika meyakinkan dirinya untuk tidak cemburu.
"Broo sabar. Gue di sini selalu ada buat lo." Kata Irfan memeluk Danu memberikan semangat.
Tiba-tiba Anton memberi ancang-ancang.
"Ku menangis .... membayangkan ....
"Kepergian dirimu dari sisi hidupku ....
"Harus selalu kau tau ....
"Akulah hati yang telah kau sakiti ...
Anton bernyanyi sangat menghayati liriknya, seperti mewakili perasaan Danu yang saat ini sedang hancur.
"Anjir apaan njir." Ucap Danu tabah melihat kelakuan bodoh teman-temannya.
"Raga menghanyutkan woiiii." Teriak Laura tak menyangka.
"Aileen gak ada apa-apa sama Raga pak." Ucap Aileen panik membuat yang lainnya menatap dirinya tak percaya.
"Heh beneran, halu kalian tuh." Tambahnya lagi.
"Alah alah takut dimintain pj kan lo." Kata Rena menggoda Aileen. Aileen menggelengkan kepala mencoba meyakinkan Rena.
"Ayok dong klarifikasi hubungan kalian, biar gak ada yang tersakiti diam-diam." Ucap Seren menggoda Erika, Zoya tertawa melihat ekspresi Erika yang mulai terlihat cemburu.
"Udah sore kalian gak mau balik?" Ucap Aileen disela-sela keributan mereka.
"Udah pengen berduaan sama Raga yaa hayoo." Jawab Fanya menggoda Aileen.
"Alus banget bro cara lo." Tambah Rean bertepuk tangan kagum pada Raga. Raga tak merespon.
"Raga bego. Kenapa diem aja." Batin Aileen memaki Raga.
"Udah ayok balik. Kasian Aileen entar gak sempet dandan buat dinner." Kata Rena beranjak dari tempatnya.
"Pj pj pj pj pj pj." Ucap Anton semakin heboh.
"Boba boba boba." Kata Irfan tak kalah heboh.
"Nasi padang. Gak mau tau gue!" Kata Danu menambahkan.
"Itu hati cepet bener pulih." Ucap Adel menyauti Danu.
__ADS_1
Pak Kreso sedari tadi tertawa melihat tingkah mereka. Benar-benar mirip seperti masa mudanya dahulu.
"Terimakasih ya pak atas bantuannya hari ini." Ucap Angga sopan.
"Gakpapa nak, saya sudah biasa memotong rumput di rumah nak Raga." Jawab pak Kreso ramah.
"Nak Raga, Bapak pulang duluan ya. Hati-hati, tadi Ibu bilang harus an-
"Iya iya" Sela Raga sebelum pak Kreso menyelesaikan ucapannya. Ia tak mau yang lainnya heboh lagi jika mendengar dirinya harus mengantar Aileen pulang.
"Kapan-kapan maen bola bareng ya pak." Teriak Anton melambaikan tangan. Pak Kreso menoleh dan tersenyum lagi.
"Pak Kreso ... datanglah bila rindu, kata Dilan rindu itu berat, sama dipikul ringan sama dijinjing." Tambah Irfan dengan suara yang dibuat-buat lagi seperti orang yang sedang sedih.
"Pak Kreso hati-hati." Teriak Resi dan Fanya melambaikan tangan mereka bersama.
Pak Kreso mulai melajukan mobil dan melambaikan tangannya dari dalam lalu menghidupkan klakson.
Mereka bersama-sama menuju parkiran sekolah. Bukan Anton namanya kalau tidak membuat kerusuhan. Dari tadi Anton tidak bisa diam, ia terus menyanyikan lagu galau karena kangen dengan bebeb Putri, katanya.
"Lo suka nyanyi ngapa gak masuk club musik aja Ton? Kalo di sana kan lo bisa jadi manusia yang bermanfaat." Kata Rena tiba-tiba membuat Anton berhenti bernyanyi.
"Di kelas gak cukup?" Tanya Anton.
Otak Rena tidak memahami apa yang dikatakan Anton. "Hah?"
"Gak cukup liatin kegantengan gue di kelas terus minta tambah di club musik?" Kata Anton pede dan tiba-tiba ia terbahak keras.
Rena memukul kepala Anton menggunakan tas. "Udah udah lanjutin nyanyi aja."
Tanpa disuruh saja Anton suka sekali bernyanyi apalagi saat disuruh, langsung saja Anton menyanyikan lagu berjudul Bimbang dari Melly Goeslow.
Anton itu tampan. Tinggi badannya ideal hampir sejajar dengan Raga, Irfan, Danu dan lainnya. Kulitnya putih, hidungnya mancung tapi dia itu bodoh. Bagi cewek kelas 10C, Anton adalah definisi cowok yang membuat mereka meyakini bahwa "cinta itu tidak memandang fisik." Anton adalah definisi cogan yang bobrok.
"Balik sama siapa?" Tanya Aileen pada Rena.
"Dianter Rean. Tadi berangkat sama dia."
Aileen menggoda Rena dengan tatapannya.
"Apaan. Gak ada ya." Ucap Rena memahami apa maksud dari tatapan Aileen.
"Bareng gue aja yuk Ren." Ajak Laura.
"Rena aja yang ditawarin." Sindir Aileen mengerucutkan bibirnya.
"RAGAA AILEEN BALIK SAMA GUE YAAA." Teriak Laura membuat Aileen reflek memukul Laura pelan. "Raaa." Ucap Aileen lirih tapi penuh penekanan.
Aileen melihat Raga masuk ke dalam mobilnya tanpa merespon ucapan Laura. "Tuh dibolehin." Ucap Laura saat mobil Raga melewati mereka.
Angga, Irfan dan Rean mulai melajukan motornya. Rean berhenti tepat di samping Rena. "Ayok naik."
"Gue bareng Laura aja gakpapa."
"Lo berangkat sama gue berarti pulang juga harus sama gue." Ucap Rean membuat Rena tidak enak.
Rena naik ke atas motor Rean dan melambaikan tangan pada mereka. "Gue balik duluan gaisss."
Zoya tiba-tiba mendekat. "Ra, gue boleh bareng lo gak? Gue udah buru-buru harus sampek rumah nih. Rumah kita juga kan searah." Pintanya memelas.
"Gue juga ya Ra." Tambah Seren ikut memelas.
"Tapi mobil gue cuma bisa tambah dua orang doang." Jelas Laura tidak enak.
"Rumah gue deket Ra. Kita juga gak searah, yang ada entar lo bolak balik." Kata Aileen memahami keadaan mereka.
"Udah sana masuk keburu sore, kasian mereka." Tambahnya lagi.
"Yaudah lo hati-hati ya." Laura masuk ke dalam mobil diikuti Adel, Fanya, Resi, Zoya dan Seren. Mereka melambaikan tangan pada Aileen.
Mobil merah milik Laura melaju melewati Aileen, disusul dengan Joshua dan Vero yang berboncengan motor. Mereka menghidupkan klakson bersamaan membuat Aileen kaget.
"Ayok bareng gue." Kata Danu membuat Aileen menoleh.
"Gue jalan aja, rumah gue deket."
"Walaupun deket ini kan udah sore. Lo mau digodain abang abang di depan toko kosong itu?"
"Gue lewat sana kemaren gak ada tuh abang abang yang nongkrong di sana."
"Ngeyel. Naik cepet." Kata Danu memaksa.
"Ih gak mau. Gue jalan aja." Kata Aileen tetap pada pendiriannya. Aileen berjalan pelan meninggalkan Danu, tapi Danu malah mengekorinya dari belakang. Ia membawa motornya dengan sangat pelan.
Aileen menghentikan langkahnya dan memutar badannya menghadap Danu. "Udah sana pulang."
"Terus gue harus biarin cewek jalan sendirian sore-sore?"
"Rumah gue beneran deket Dan."
"Gak. Lo mau buat gue jadi cowok yang gak pekaan?"
"Ya gak gitu. Rumah lo kan arahnya ke sana bukan ke sini, yang ada lo bolak balik."
"Tuh ada Rena." Kata Aileen menunjuk ke sembarang arah. Danu menoleh dan Aileen langsung sigap berlari meninggalkan Danu.
"Percuma lari." Ucap Danu tiba-tiba motornya sudah berada di samping Aileen.
"Malu bego lo ngikutin gue kayak gini."
"Kan yang malu lo bukan gue." Katanya tak mau kalah.
"Sekali ini aja ya. Besok besok gak mau lagi." Kata Aileen menaiki motor Danu.
"Iya."
__ADS_1
Aileen mengulurkan jari kelingkingnya pada Danu. "Janji."
"Iyee." Kata Danu menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Aileen.