FELICITY

FELICITY
12. Halaman Dua Belas


__ADS_3

..."Cinta itu indah, tapi tak sepenuhnya memihak pada hal bahagia saja."...


...*...


...*...


...*...


"Gue balik." Kata Angga naik ke atas motornya.


"Angga gak mau mampir dulu? Siapa tau mau bantu gue beres-beres dulu?" Jawab Aileen cengengesan tidak tau malu, Angga mendelik tajam di tempatnya.


Rena memukul pundak Aileen pelan. "Sarapan pagi maksud gue ngga .." Sambungnya lagi nyengir lebar jarinya membentuk tanda damai.


"Angga mampir dulu aja. Janji deh entar gue buatin minuman yang enak." Tambahnya lagi.


Rena menganggukkan kepalanya setuju. "Iya Ngga, gakpapa kali mampir dulu, lagian mau ngapain juga lo balik, kan gak mau jalan sama siapa-siapa sih?"


"Jomblo aja sok sibuk." Balas Aileen meledek.


"Kan gak ada tugas." Kata Rena.


"Kan gak ada tugas." Ucap Aileen mengikuti Rena.


Rena tersenyum penuh arti. "Nah kalo gak, ajak aja yang lainnya ke sini." Katanya bersemangat. Aileen menganggukkan kepalanya senang.


Rena membuka hp miliknya. "Apaan sih kelas kok gak ada grup!"


"Bentar bentar, gue buat dulu." Jawab Aileen cepat. "Eh hpnya ada di dalem." Katanya menepuk jidat.


"Yaudah ayok masuk dulu. Ngapain di sini, gak akan ada cewek cakep yang lewat, karena yang cakep di sini cuma gue." Ucap Aileen pede.


Aileen membuka gerbang hitam di depannya, menampilkan rumah bernuansa putih yang terlihat kelam. "Motor parkirin situ aja tuh." Tunjuk Aileen ke arah halaman kosong di depan rumahnya, hanya ada beberapa bunga yang mulai layu.


"Kita piknik-piknikan aja di sini." Kata Rena memberi ide.


"Bisa bisa. Setuju setuju." Jawab Aileen kegirangan.


Aileen berjalan masuk ke dalam rumah. "Angga tunggu sini dulu ya sama Rena. Gue mau ambil karpet dulu." Katanya dibalas anggukan oleh Rena, Angga fokus dengan hpnya.


"Eh Al." Panggil Rena.


Aileen menoleh. "Gak ada orang?" Tanya Rena.


Aileen menunjukkan jempol mungilnya. "Aman."


"Karpet di mana karpet." Ucap Aileen panik. Selama tinggal di rumah ini dirinya hanya menetap di kamar dan sesekali memeriksa dapur saja.


Sebenarnya di rumah itu ada dua pekerja rumah tangga, tapi mereka tidak ada yang tinggal. Mereka datang dari jam setengah tujuh pagi untuk bersih-bersih dan memasak makanan untuk sarapan dan makan siang, lalu mereka akan pulang jam sebelas siang.


Ada dua penjaga di bagian gerbang depan dan satu di gerbang belakang. Mereka pun sama, datang pada saat jam delapan malam dan akan pulang saat subuh. Aileen seperti tinggal sendirian. Tidak ada yang bisa ia ajak untuk mengobrol atau sekedar menceritakan kegiatan yang ia lakukan di sekolah.


Seperti yang kalian tau, Andesta Fanya-Mamah Aileen adalah seorang model cantik yang terkenal di kancah Internasional. Sejak Aileen dilahirkan, ia selalu tinggal berdua dengan Andesta.


Aileen tidak pernah bertanya di mana Ayahnya berada dan bagaimana rupanya. Ia tidak berani untuk bertanya pada Andesta, Aileen takut jika pertanyaan semacam itu akan merubah keadaan hangatnya bersama Andesta. Aileen hanya ingin mendengar identitas Ayahnya jika Andesta sendiri lah yang menjelaskan kepadanya.


Andesta melahirkan Aileen pada saat dirinya masih sangat muda, yaitu saat ia berumur 16 tahun. Yang Aileen tau, Andesta tidak memiliki keluarga, ia adalah salah satu anak yang ditinggalkan di depan panti asuhan.


"Karpet belum ketemu."


"Roti ada." Katanya melihat ke arah meja makan. "Apel, anggur, lemon, pir ready." Tambahnya lagi melihat isi kulkas. Aileen mengeluarkan satu persatu buah dan diletakkan ke dalam baskom kaca.


Ia berjalan menuju kamarnya. "Kalo piknik kan harus ada jajanan, tapi cuma ada permen."


"Kalo ada sepuluh orang yang dateng gak akan cukup." Ucapnya lagi masuk ke dalam kamar. Aileen mendengar hpnya terus bergetar di atas nakas.


"Angga menambahkan Anda."


"Anda menjadi admin."


Angga:


"Kalo semua anak kelas gue masukin, lo berdua yang mulai di grup ini."


Rena:


"Aku di depanmu Mas."


Anda:


"Aku yg lagi di atas nurut aja."


"Angga menambahkan Anton, Erika, Laura, Fanya, Resi, Adel, Putri, Lena, Oksa, Danu, Irfan, Rean, Joshua, Vero, Seren, Zoya."


"Anton mengubah nama grup 10C menjadi MORNING BEB."


Anda:


"Raga belom masuk."


"Rena menambahkan Raga."


Rena:


"Udah pada bangun belom gais?"


Anton:


"Bangun apanya dulu ini?"


Danu:


"Ciwik ciwik mana paham."


Anda:


"Simak dulu ya."


Irfan:


"REQUEST LAGU DONG!!!"


Danu:


"Kamu dan kenangan."


Rean:


"Ngode lewat surat (no)."


"Ngode lewat lagu (yes)."


Putri:


"BERISIK WOYY!!!"


Rean:

__ADS_1


"Ganggu banget emang Put."


Rena:


"PENTING!! MAKANYA SIMAK DULU IH!!"


"Anton mengirim rekaman suara."


Irfan:


"Empuk sekali suara anda seperti cireng depan sekolah."


Rena:


"Simak dulu woiiiii."


Danu:


"Cireng mah kenyal njir."


Rean:


"Berbagai tekstur dalam satu gigitan."


Anton:


"Kasar banget maennya gigit gigitan."


Laura:


"Bukan Anton namanya kalo otaknya normal:) ."


"Coba simak dulu Rena sama Aileen itu woi."


Anton:


"Wkwkwkwkwkwk yang banyak."


"Ada merpati lagi tiarap. Ashiapppp."


Anda:


"Anton diem dulu astaga."


Danu:


"Hai Al."


Rean:


"Ngetiknya pasti sambil meler meler itu air mata."


Irfan:


"Merpati lagi nyusun kata. Elap dulu itu air mata."


Danu:


"Merpati tinggal di Jakarta pusat. Gaada yang nangis bangsat!"


Anton:


"Merpati lagi sunat. Ditolak kamu abang jadi kuat."


Rean:


Merpati temennya Orochimaru. Yuk cari yang baru."


Anton:


Irfan:


"PJ PJ PJ PJ."


Rean:


"JANGAN MAU SAMA ANTON!! MAKAN GORENGAN DI KANTIN AJA MINTA BAYARIN GUE."


Putri:


"Najis!"


Danu:


"Merpati nyusun beton. Ditolak nih ton."


Irfan:


"Merpati nyusun beton. Yang sabar ya ton."


Rean:


"Merpati nyusun beton. Kakak kelas gemay masih banyak ton."


Anton:


"Merpati tinggal di Sabang . Hancur hati abang."


"Raga keluar."


"Putri keluar."


"Lena keluar."


"Oksa keluar."


Aileen menggelengkan kepalanya pening. "Yakin tah mereka ini laki-laki?" Cepat-cepat Aileen turun ke bawah menemui Angga dan Rena.


Aileen mendekati mereka. "Gimana ini? Gak kondusif gitu." Katanya sebal.


Rena beranjak dari tempatnya. "Apalagi Putri, pengen banget gue tarik tarik rambutnya."


"Lena sama Oksa juga pakek ikut-ikutan. Kesel!!" Tambahnya lagi semakin emosi.


Angga yang sedari tadi terlihat fokus pada hpnya mulai membuka suara. "Ya mereka ada benernya juga, ini kan masih pagi. Gak ada piknik jam segini."


"Gue balik." Tambahnya lagi.


"Angga jangan balik dulu. Diskusi dulu deh kita bertiga, yang penting jangan sampe batal." Kata Aileen mencoba menenangkan.


"Siangan nanti aja gimana? Atau agak sorean gitu?" Tambahnya lagi.


Angga kembali duduk lesehan di teras. "Yaudah mau kalian gimana? Biar pasti, nanti gue yang atur grup."


Aileen menghela napasnya lega. "Terserah deh acaranya mau di mana. Mau di sini bisa, di gunung bisa, di pantai juga bisa. Ya di mana aja bisa pokoknya."


"Di sini aja yang deket." Kata Rena menambahkan.

__ADS_1


Angga menganggukkan kepalanya. "Waktunya?" Tanyanya lagi.


"Menurut gue, enakan siang agak kesorean gitu." Jawab Rena dibalas anggukan kepala oleh Aileen.


"Iya. Sekitaran jam 3 langsung otw aja, biar pagi ini gue siapin bahan yang kita perluin nanti."


"Oke. Nanti gue yang urus grup." Ucap Angga setuju.


"Tapi gue gak bisa jamin anak kelas bakal dateng semua." Tambahnya lagi. Rena dan Aileen kompak menganggukkan kepala.


"Jadi bahan yang mau dibeli apa aja?" Tanya Rena.


"Kalo buah gue ada, nanti bisa tambah beberapa aja."


"Gini aja. Angga konfirmasi di grup dulu, jadi kita tau yang dateng sama yang gak dateng ada berapa orang, biar bahan-bahan yang gue beli entar gak kurang juga gak lebih." Jelas Aileen.


Rena mengangguk setuju. "Semoga sih bisa dateng semua."


Angga beranjak dari tempatnya lalu menoleh pada Rena. "Yaudah gue balik dulu. Lo?


"Rena biar di sini sama gue." Jawab Aileen. Angga meninggalkan mereka berdua.


"Gue belom mandi Al."


"Gak ada yang tau, Rena kan cantik."


"Kalo ada kaos kaos gitu gue pinjem ya."


Aileen menggandeng tangan Rena. "Bawel. Ayok masuk."


"Sepi banget."


Aileen tertawa kecil. "Sekarang kan ada Rena, temen baiknya Aileen, jadi gak sepi lagi deh."


"Sok imut dasar." Ucap Rena mencubit kecil lengan Aileen.


"Eh lah rumah Raga di mana? Kata lo tetanggaan."


Aileen membuka pintu kamarnya. "Ada, entar kita ke sana. Sekarang mandi dulu."


"Kamar segede ini lo tidur sendirian?"


"Makanya Rena setiap senin sampe kamis minep sini ya. Nanti gantian, jum'at Aileen yang minep di rumah Rena." Jelas Aileen dibalas toyoran kecil oleh Rena.


"Rena mau pakek baju yang mana? Pilih aja di lemari."


"Kenapa dress semua. Gila! pusing liatnya." Jawab Rena melihat isi lemari Aileen yang dipenuhi dengan dress selutut berwarna putih dan pink. Aileen tertawa melihat ekspresi Rena. "Lemari yang satunya ada kaos kaos biasa kok."


Rena mengambil kaos hitam dan celana lepis seperti kulot. "Gue duluan." Katanya berjalan masuk ke kamar mandi.


"Gak mau mandi bareng?" Tanya Aileen dibalas delikan tajam oleh Rena. Aileen tertawa puas melihat ekspresi jahat milik Rena.


Hubungan mereka saat ini semakin dekat. Tidak seperti pertama kali mereka bertemu. Aileen melihat wajah Rena yang benar-benar judes enggan untuk menegur terlebih dahulu. Saat mereka berpapasan di lorong sekolah pun Rena menatap Aileen dengan ekspresi seperti Rena tidak menyukai dirinya.


Tapi ternyata Aileen sudah salah memahami Rena. Wajah tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai seseorang. Rena memiliki hati yang benar-benar baik, apapun yang Aileen lakukan saat ini pasti Rena selalu mendukung.


...***...


"Cantik yang itu."


"Tapi gue suka yang ini."


"Ngeyel." Balas Rena tajam.


"Yaudah iya iya."


Aileen masuk ke kamar mandi membawa kaos putih pilihan Rena. Ini ketiga kalinya Aileen berganti pakaian. Sudah dari tadi dress yang ia kenakan selalu salah di mata Rena. Menurut Rena, dress yang Aileen miliki terlalu pendek, ada yang warnanya lusuh, ada yang terlalu kecil, ada juga yang motifnya membosankan.


Rena tersenyum melihat Aileen keluar dari kamar mandi. "Nah kan cakep."


"Beneran cantik?"


"Iyalah. Kalo lo pakek dress buat acara beginian ya ribet Al."


Aileen memeluk Rena erat-erat. "Tinggal berdua sama gue aja yuk." Ucap Aileen dibalas pukulan pelan dari Rena. Mereka kompak tertawa.


Aileen kaget melihat jam dinding di kamarnya. "Serius ini jam sebelas?"


Rena beranjak dari kasur. "Lo mandi lebih dari satu jam, ganti baju lebih dari dua jam."


"Udah ayok katanya mau ke rumah Raga." Kata Rena mendorong Aileen pelan sampai ke pintu kamar.


Rena menarik lengan Aileen yang berlari kecil ke arah meja rias. "Rambutnya belom cantik." Kata Aileen mengerucutkan bibirnya.


"Gitu aja udah cangtip mbak Aileen."


"Tapi boong, ya kan?"


"Dandan di rumah Raga aja. Udah siang, ayok cus."


Aileen dan Rena keluar dari gerbang. "Di sini sepi gak kalo malem?"


"Minep sini dong biar tau sepi apa enggak."


Rena memutar bola matanya malas. "Mana ini rumah Raga? Katanya deket."


"Rumah yang ujung itu rumah Raga, nah rumah yang gerbang putih itu rumahnya Saka."


"Kak Saka temennya kak Geo itu kan?"


"Iya Ren. Crazy pokoknya tuh, jangan sampe gue ketemu dia."


"Terus terus terus kayaknya Salwa itu pacarnya Saka deh." Sambung Aileen exited.


Dengan suara yang lantang Rena reflek bertanya. "Salwa? Anak baru yang cakep itu?"


Aileen reflek membekap mulut Rena. "Ihh ssstt ... Jangan keras keras. Gue liatnya sih gitu, soalnya gue pernah liat Saka senyum di depan Salwa."


"Yaelah Al. Kak Saka kan manusia, ya wajar lah kalo senyum."


"Gak gitu. Lo gak tau sih Saka itu gimana, Saka senyum? Itu gak mungkin Rennnn."


"Senyumnya itu tulus." Tambah Aileen lagi masih yakin dengan penglihatannya.


Rena tertawa sinis. "Gak heran. Laki-laki mana bisa berpaling dari yang bening bening."


Tiba-tiba Aileen memasang pose sok imut. "Aileen bening gak?"


"Beningan gue!" Jawab Rena menjulurkan lidahnya meledek.


"Jadi Aileen gak pantes dong buat dapetin cowok kayak Saka?" Tanya Aileen polos.


"Al, cowok yang tulus gak akan mentingin fisik, ada hal yang jauh lebih berharga yang dijadiin dasar buat seseorang menilai pantas atau tidaknya lo buat dia. Dan hal itu ada di sini." Jelas Rena mengarahkan telapak tangan milik Aileen tepat di depan hatinya.


"Kalo lo tanya, lo pantes apa gak buat cowok kayak kak Saka, jawaban gue adalah lo pantes buat dapetin cowok yang lebih baik dari kak Saka." Sambungnya lagi membuat Aileen berkaca-kaca.


"Ngerawat fisik memang perlu, tapi itu bukan sebuah keharusan. Yang harus terus lo tingkatin itu kebaikan lo yang tersimpan di dalem sini."

__ADS_1


"Asal lo tau, pada waktu yang tepat, kita akan dapetin cowok yang gak mengukur segala sesuatu dari fisik."


...***...


__ADS_2