
"Cinta itu satu kata tapi banyak rasa. Setiap rasa punya cara, setiap cara punya makna."
^^^^^^-Gavin Emilio-^^^^^^
...***...
Angga dan Erike berada di atas motor yang sama mulai memimpin memasuki gerbang rumah Aileen. Diikuti dengan Danu dan Irfan, Rean terlihat sendirian di atas motor.
Suara deru kendaraan mulai ramai memasuki halaman rumah, membuat Rena dan Aileen bergandengan tangan dan menyambut mereka dengan senyuman senang. Raga tak bergeming dari tempatnya, tetap santai dengan aktivitas yang sangat penting baginya, yaitu bermain game.
Danu dan Anton berjalan menghampiri Aileen. "Abang Anton datang."
"Perkenalkan, bukan temen gue, Danu." Sambungnya lagi memperkenalkan Danu kepada Aileen yang dibalas pukulan pelan dari Danu.
"Renaaa Aileenn." Teriak Laura berlari menghampiri mereka. Disusul dengan Erike, Seren dan Zoya, yang ikutan memeluk Aileen dan Rena.
"Laura cantik." Ucap Aileen takjub.
"Cantikan lo Al." Jawab Anton cengengesan. "Danu yang bisik-bisik ke gue." Sambungnya lagi.
"Gak adil, Laura doang yang dipuji." Balas Seren tak terima.
"Kalo gue gimana?" Tanya Adel berjalan mendekati mereka.
"Pan, Adel cantik gak?" Teriak Rena membuat Adel mencubitnya pelan. Irfan memberikan anggukan dan tanda oke di jarinya. Fanya dan Resi tertawa melihat wajah Adel yang memerah.
"Lihatlah bebeb Putri, tidak ada yang bisa mengalahkan keanggunan bebeb Putri." Ucap Anton memuja Putri dengan hiperbola. Padahal Putri dan rombongannya masih setia berada di dalam mobil, tidak ada tanda-tanda ingin keluar.
"Yang anggun gitu kriterianya bukan lo ton." Jawab Aileen membuat yang lain tertawa.
"Lengkap, semuanya ada disini, tugas gue clear." Ucap Angga menyela obrolan mereka. Aileen mengajak Angga untuk tos sebagai ungkapan terimakasihnya untuk Angga.
Seperti magnet yang saling menarik, Joshua dan Vero sudah menemukan keberadaan Raga. Mereka mendekat dan langsung membuat aliansi, mulai fokus dengan dunia unreal mereka.
"Al, gue cuma bawa ini." Ucap Resi memberikan beberapa bungkus camilan kepada Aileen. Cepat-cepat Aileen menerima itu dengan senang hati.
"Yaelah ribet banget ci lo bawa gituan." Jawab Rena merasa tidak enak membuat repot teman-temannya.
Rean dengan santainya menggendong tas gitar, perlahan ikut bergabung dengan mereka.
"Best timing gak sih ini?" Kata Zoya melirik ke arah Rena.
Anton maju mendekati Zoya. "Gak boleh ada yang mulai hubungan di kelas sebelum gue sama bebeb Putri punya status."
Irfan menoyor kepala Anton pelan. "Sampe lulus juga gak akan jadi anjir."
"Diburu bokap gue lu ton kalo gue gak dapet dapet jodoh." Sambung Laura membuat Anton menyerah dan mundur. Karena gadis yang menjadi bahan obrolan tak kunjung keluar, Anton menarik tangan Angga untuk ikut dengannya menghampiri Putri dan rombongannya.
Belum sampai di tempatnya, Lena dan Oksa sudah memimpin untuk keluar dari mobil, diikuti oleh Putri dengan penampilan seperti ratu pada sore hari itu.
Putri adalah definisi pemain utama selalu muncul diakhir acara. "Ajaib." Ucap Anton semakin takjub dengan kecantikan Putri.
Semua mata kini tertuju pada Putri, kecuali Raga dan teman seperjuangan gamenya. "Yang punya rumah gak ada apa-apanya awww." Ucap Anton kegirangan.
Aileen dan lainnya menggelengkan kepala dan tertawa melihat kelakuan absurd Anton. "Jatuh cinta emang seberbahaya itu." Ucap Erike tiba-tiba.
"Hai, put." Ucap Aileen ramah, Putri hanya membalas dengan senyuman malas.
"Hai len, sa." Sambungnya lagi menyapa Lena dan Oksa agar mereka mungkin bisa lebih dekat dengannya nantinya. Lena tersenyum ramah sedangkan Oksa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Lu apaan dah liatin bebeb gue mulu." Kata Anton memarahi Irfan. "Mau gue eksploitasi otaknya." Jawab Irfan asal semakin membuat Anton kesal dan menyenggol-nyenggol bahu Irfan.
"Put, lo mau sama Anton?" Tanya Danu membuat Anton menunggu jawaban dari Putri dan berharap agar jawabannya sesuai dengan isi hati Anton.
Putri adalah tipikal gadis yang anggun dan cantik. Tapi, sifat arogannya membuat beberapa gadis di kelas 10C sedikit kesal dengan Putri. "Selera gue high level." Jawab Putri menusuk.
__ADS_1
Rean merangkul Anton untuk membagikan energinya agar Anton tidak merasa galau. Yang lain hanya bisa tertawa pelan melihat wajah Anton yang terlihat kecewa.
Rena berdeham pelan membuat suasana menjadi hening. "Gais, thanks ya kalian udah mau dateng."
"Kita kali yang harusnya bilang makasih." Jawab Laura menggandeng tangan Rena.
"Bisa bisaan kalian ya buat ide ginian gak ngajakin gue." Ucap Seren ikut senang dengan acara yang mereka buat.
"Udah gak ada suaranya tuh anak sebelah." Sindir Danu membuat yang lain menatap Anton dan kompak tertawa.
"Lagi di Jepang kayaknya." Jawab Zoya cekikikan.
"Gue jauh jauh dateng kesini cuma buat berdiri doang?" Sarkas Putri membuat suasana menjadi dingin.
"Yee apaan sih, cepet tua lu." Jawab Rena sinis.
Laura menautkan alisnya tidak suka. "Kalo gak suka ngapain dateng mbaknya?"
"Hargain kita yang udah dateng kali." Ucap Lena tak mau kalah. Oksa menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Lena. "Gak usah nyolot bisa kan?" Sambung Oksa sinis membuat Laura mengepalkan tangannya kesal.
"Ngaca njir!!" Ucap Rena masih terlihat emosi.
"Kawan lo duluan yang nyolot." Sambungnya lagi semakin emosi.
Aileen kebingungan dengan suasana dingin diantara mereka. "Ren, ra." Ucapnya lirih membuat Rena dan Laura menoleh. "Udah ya. Kita buat acara ini kan biar bisa lebih deket sama mereka." Sambungnya lagi membuat Rena menghela napas kasar.
Angga memberi kode dengan tangannya untuk melerai mereka agar suasana bisa kembali normal. "Sebelumnya gue udah infoin ke kalian di grup, tujuan dibuatnya acara ini yaitu untuk mempererat hubungan kita. Jadi gue mohon sama kalian untuk gak kayak gini, ini kesempatan kalian buat bisa mengenal satu sama lain. Oke?"
"Hargain Aileen yang udah susah payah nyiapin acara ini."
"Rena juga." Sambung Angga dengan lembut. Putri dan teman-temannya pergi mengalah ke arah karpet.
"Bayar parkir ke gue woi nanti." Ucap Anton memecah keheningan diantara mereka.
Rean menganggukkan kepalanya semangat. "Yang mau request lagu tiketnya goceng." Katanya ikutan membuka usaha dadakan.
"Rean sengaja banget kan lo!!" Katanya lagi membuat Seren mengerti dengan perkataan Zoya.
Seren menyipitkan matanya merasa yakin dengan analisis yang ia buat. "Rean bawa gitar sedangkan Rena anggota club musik." Ucap Seren membuat Zoya bertepuk tangan heboh.
Rena di tempatnya mendelik tajam ke arah mereka.
"Lu ya masih kecil udah cinta-cintaan." Balas Rean terlihat tidak santai. "Mau lu nasibnya sama kayak Anton." Sambungnya lagi membuat Anton membuat drama baru, Anton berlari kesedihan dan menjatuhkan dirinya di atas karpet.
"Lo mancing-mancing sih anjir." Ucap Danu memarahi Rean.
Irfan memegang dahinya pening melihat drama alay dari Anton. "Ngga, kawan lo rawat dulu napa dah."
Mereka berjalan menghampiri Anton dan tertawa kompak melihat kelakukan random dari temannya itu. Danu mencekik pelan leher Anton agar dirinya bisa kembali sadar. Irfan ikut-ikutan menindih tubuh Anton untuk membantu Danu menyadarkan Anton.
Jrenggg ...
Suara genjrengan gitar mulai terdengar dan menghentikan kegiatan aneh dari mereka bertiga. Rean memangku gitarnya dan memulai intro lagu dengan sangat lihai. Nada yang terdengar seperti lagu galau kesukaan Anton.
Mereka mulai terfokus dengan alunan gitar yang Rean petik, kecuali Raga, Vero dan Joshua. "Stop stop stop." Ucap Rena menghentikan kegiatan Rean.
"Gak ada sore-sore gini lagunya mellow mellow lemes gitu." Sambungnya membuat Aileen mengangguk setuju.
"Genrenya cari yang ceria ceria gitu dong." Pintanya membuat Rean berpikir. "Ah lama." Kata Rena merebut gitar dari pangkuan Rean.
Rena mulai memetik gitar dan menghasilkan melodi yang ceria membuat anak-anak 10C berkerumun dan bernyanyi bersama, terkecuali satu squad yaitu RVJ.
Saat mereka semua sedang asik bernyanyi, Aileen pergi untuk menghampiri Raga. "Ragaaa." Panggil Aileen yang tak digubris oleh Raga.
"Ga."
__ADS_1
"Jo."
Aileen hanya mendapatkan respon dari gerak tubuh mereka yang sedang keasikan bermain game.
"Veroooo." Panggil Aileen mulai kesal. Tetap tidak ada respon dari mereka.
Aileen tetap tak mau kalah dengan sikap diam mereka. "Gaa, ihh."
"Jojo, Vero."
Aileen terus memanggil nama mereka agar mereka merasa terganggu dan mulai untuk mendengarkan dirinya.
Tapi nihil, mereka tetap fokus pada kegiatannya masing-masing.
"Ragaa." Panggilnya lagi lirih.
"Ga dengerin gue."
"Liat geh anak-anak kelas yang di sana." Ucap Aileen menunjuk ke arah teman-temannya. "Mereka mulai akrab ga."
"Kalian boleh main game, tapi seenggaknya gabung dong sama yang lain."
Vero melirik sebentar dan melanjutkan kembali aktivitasnya. "Kalian gak pengen gitu kenal lebih deket sama mereka?"
Aileen menghela napas lelah. "Mereka ada loh yang berharap buat bisa ngobrol sama kalian."
"Brisik!" Ucap Raga tetap terfokus pada layar hpnya.
"Ya siapa tau kan dengan gabung ke yang lain, aliansi game kalian bisa lebih luas lagi."
"Bayangin aja kalo kalian ikut lomba, kan seru banget bisa bawa nama 10C jadi juara." Ucap Aileen menggebu-gebu membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi. "Ya gue gak berharap sih kalian bisa dapetin juara satu, tapi paling rendah ya bawa piala ke dua lah ya."
"Nama lo siapa sih, gak bisa diem ah." Ucap Joshua kesal.
Aileen tersenyum pasrah mengetahui bahwa teman satu kelasnya sendiri ada yang tidak mengetahui namanya. Raga tersenyum meledek. "Jo, gue aja tau kapan lo ulang tahun ."
"Gak waras lo ya, yang cantik gini aja lo gak kenal!!"
"Vero kenal gue kan?" Katanya masih tak terima dengan tawa Raga yang meledek dirinya. "Vero jawab."
Vero menganggukkan kepalanya membuat Aileen tersenyum menang. "Makanya jo, ayok lo gabung ke mereka biar bisa kenal sama mereka, sama gue juga tentunya."
"Rugi lo jo kalo gak mau kenal sama cewek cantik kayak gue."
"Mental lo aman tah gabung sama Raga? Gue yakin lo diancem kan sama Raga?"
"Ga, ngaku lo!!" Ucap Aileen tiba-tiba dengan nada yang mengagetkan. "Lo udah cuci otak Joshua kan?"
"Joshua aslinya pasti gak senyebelin ini kan?"
Tidak mendapatkan respon dari joshua, Aileen mengerucutkan bibir kecewa. Tiba-tiba Vero berdiri dan menghentikan aktivitasnya. "Biarin aja mereka berdua." Katanya membuat Aileen mengangkat kepalanya.
Senang dengan Vero yang sepertinya memberikan respon yang baik, Aileen menggandeng tangan Vero dan mengajaknya berkumpul dengan teman-teman yang lain.
Merasakan kehadiran Aileen dan Vero, Rena berhenti memainkan gitar. "Lu perasaan nge-game mulu dah." Ucap Rena yang dibalas cengiran kaku oleh Vero.
"Ah mbak Aileen tauan aja cara buat orang cemburu." Saut Anton sambil mendorong bahu Danu untuk meledek.
Danu menghela napas lelah, cepat cepat Aileen melepaskan tangannya dari genggaman Vero dan berlari kecil mendekati Rena. "Gue diem anying dari tadi." Jawab Danu dibalas lirikan meledek oleh Laura.
"Alah diem-diem menangis dalem hati kan lo." Sambung Rean ikut membuat Danu mengacak rambutnya frustasi. Aileen menggelengkan kepalanya sabar melihat kelakukan teman-temannya.
"sssttt .. " Tiba-tiba Putri membuat isyarat dan membuat yang lainnya menoleh ke arahnya.
"Gak ada game?" Sambungnya dengan tatapan datar.
__ADS_1
......***......