FIGHTING DISKA #HappyTeens

FIGHTING DISKA #HappyTeens
FD chapter 1


__ADS_3

Happy reading.


➡➡➡


Gue juga gak mau di lahirkan menjadi orang yang bodoh, namun Tuhan tidak akan pernah menguji hambanya di luar batas kemampuannya.


➡➡➡


"Dis, gue kan udah bilang kalau main PS itu jangan sampai larut malam. Tuh lihat, lo gak ngerjain PR lagi kan?"


Ucap Mia seraya menunjuk buku PR Adel yang tengah Diska salin.


Diska memutar bola matanya dengan malas, pagi pagi sudah mendengar ucapan sarkas Mia membuat Diska down seketika dan langsung menghentikan aktifitasnya untuk menyalin PR yang bahkan belum satu hurufpun yang berhasil Diska tulis.


Bahkan Diska telah di selimuti dengan badmood dari ujung rambut hingga ke aliran darahnya.


"Udahlah Mi, lo itu jangan terlalu keras sama Diska. Lo kan tahu sendiri sifat Diska kayak gimana? Percuma lo mau ngomong panjang lebar kalo ujung ujungnya juga gak akan di dengerin. Yang ada mubadzir doang suara lo."


Adel berucap dengan santai mencoba untuk menengahi perdebatan yang mungkin akan segera terjadi.


Jleb.


Mendengar ini, Diska merasakan sakit hingga ke ulu hatinya. Lalu apa bedanya ucapan Mia ataupun Adel? Keduanya bahkan sama sama mengandung makna yang meremehkan dan hanya berbeda cara pengucapannya saja.


Suasana kelas masih cukup lengang. Hanya ada beberapa siswa yang terlihat datang lebih pagi dengan alasan yang sama seperti Diska, yaitu lupa mengerjakan PR.


Bagaimanapun, pelajaran Fisika di hari senin untuk kelas pertama, membuat sebagian siswa enggan untuk berurusan dengan omelan panjang Guru paling killer pemegang sabuk hitam seperti Bu. Rianti.


"Del, lo ngerasa kalau Diska itu semakin aneh gak sih? Semakin kesini, Diska itu semakin seenaknya sendiri. Lo jangan belain Diska terus dong, Del? Diska itu masuk IPA Del? IPA lho, bukan IPS."


Mia benar benar mulai mengeluarkan aura ketua osis yang sangat pekat.


Adel menghela nafas panjang mendengar ini. Sebenarnya, ucapan Mia tidak sepenuhnya salah. Bagaimanapun Diska memang masuk kelas IPA, dan sudah seharusnya Diska belajar untuk lebih serius dengan pelajarannya.


"Dis, gue pikir ucapan Mia itu ada benarnya juga sih? Bukannya gue sok tahu atau menggurui lo, tapi Lo masih ingat kan ucapan Kepala Sekolah minggu lalu? Lo harus pikirin ini lagi, kalau lo kayak gini terus, emang lo mau kalo di pindahin ke IPS 3?"


IPS 3???


Mendengar pertanyaan Adel, cukup untuk membuat tubuh Diska menegang dan membeku sepenuhnya. Diska menelan ludah dengan susah payah dan bahkan telah kehabisan kata kata untuk di ucapkan meskipun hanya satu huruf untuk menjawab pertanyaan Adel


Bayangan Kepala Sekolah pada hari senin lalu mulai berputar putar dalam kepala Diska.


Konon katanya, jika ada anak dari kelas IPA yang mendapatkan nilai di bawah rata rata untuk setiap mata pelajaran, maka wajib mendapat hukuman spesial, yaitu,..

__ADS_1


Jeng jeng jeng.


Di pindahkan ke kelas IPS.


Apa??? IPS???? TIDAAAKKKK..


Diska menggelengkan kepalanya.


Ini konyol. Peraturan gila dari mana itu? Bahkan selama Diska hidup, Diska tidak pernah mendengar aturan aneh seperti itu sebelumnya.


Mungkin menjadi ranking pertama dari bawah di kelas 11 IPA 3 memang hal yang sangat memalukan. Diska juga sangat menyadari itu.


Namun, apa lagi yang bisa Diska lakukan? Diska bahkan sudah belajar mati matian untuk setiap ulangan yang akan di langsungkan keesokan harinya. Dan bahkan belajar lima jam nonstop di malam hari untuk ulangan Fisika minggu lalu. Tapi apa hasilnya???


Hasilnya sangat jauh dari harapan, bahkan bisa di bilang sangat mengecewakan. Parahnya, Diska bahkan meraih posisi pertama dari bawah lagi dan lagi untuk kesekian kalinya.


Tapi, jika harus di pindah ke IPS, apalagi 11 IPS 3?? Oh Tuhan, mimpi apa Diska semalam?


Ini bencana.


No, ini tidak boleh terjadi. No, no, no, and BIG NO.


Diska akan menolak dengan sangat tegas, dan bila perlu Diska akan SAY NO di depan kepala sekolah sekalian. Biar si botak itu puas.


Diska terus melangkahkan kakinya, tanpa tahu kemana tujuannya.


Diska tidak peduli. Diska hanya merasa lelah dan sangat terbebani dengan kata IPS.


Diska terus mengikuti kemana arah kakinya melangkah. Hingga tanpa sadar, Diska telah berada di depan pintu rooftop sekolah.


Diska kembali dari lamunannya.


Mengerjapkan mata beberapa kali, dan kemudian mengawasi sekeliling.


Diska terkejut saat menyadari bahwa dia telah berada di lantai atas sekolah, bahkan telah berada tepat di depan pintu atap sekolah.


"Kenapa gue malah kesini?"


Tanya Diska kepada dirinya sendiri tanpa mengeluarkan suara.


Diska sedikit bingung untuk memilih antara kembali ke kelas atau tetap tinggal di rooftop?


Namun, Diska telah berada di sini sekarang, jadi tidak ada salahnya untuk duduk sebentar di atap sekolah. Lagipula ini bukanlah suatu kesalahan, karena kesalahannya adalah terletak pada bolos atau tidaknya.

__ADS_1


Diska mengangguk dan segera membuka pintu rooftop. Melangkah masuk, mengawasi sekeliling dan yang terlihat untuk pertama kalinya adalah,...


Pemandangan membosankan.


"Dis, lo ngapain di sini? Udah kangen banget sama gue?"


Suara seorang pria cukup mengejutkan Diska, suara yang di sertai dengan seringai gila. Namun, sedetik kemudian tatapan pria itu kembali pada layar ponselnya. Sangat jelas jika pria ini tengah bermain game di smartphonenya.


Diska bergidik ngeri melihat ini.


Ck ck ck..


Pria gila ini, selalu saja menggoda Diska.


Diska hanya melirik pria itu sekilas, dan tidak berniat untuk merespon ataupun menanggapi lebih jauh.


"Dis?"


"Hm."


Itu Beni, iya Beni.


Beni adalah anak 11 IPS 3. Bisa di bilang kalau Beni adalah tetangga Diska dari kecil. Bahkan mungkin sejak di dalam kandungan?


Entahlah.


Dan Beni adalah salah satu penyokong terbanyak yang menjadi alasan mengapa Diska tidak pernah mengerjakan PR.


Tidak perlu di jawab.


Semua tentu karena Beni selalu memaksa Diska untuk menemaninya bermain PS semalaman. Hingga Diska menjadi enggan untuk melirik buku dan enggan untuk berpikir tentang banyak tugas dari para dewan guru yang sangat menyakiti otaknya.


Namun, benarkah jika itu semua adalah kesalahan Beni?


Jawabannya,..


Tentu tidak.


Meskipun itu semua murni terjadi karena kangker kemalasan Diska yang telah mencapai stadium akhir, namun Diska tetap akan selalu benar dan sebagai gantinya Beni yang akan selalu salah.


Dan alasan ini pulalah yang membuat Diska menolak untuk memasuki IPS.


Bertemu Beni hanya akan menambah daftar frustasi dalam pikiran Diska. Dan keberadaan Beni hanya akan membuat Diska menjadi semakin kacau dan kacau karena harus berurusan secara langsung dengan monster penghisap darah yang juga berdarah dingin.

__ADS_1


Diska masih diam, tidak berniat untuk memulai pembicaraan dengan Beni. Bahkan sama sekali tidak menanggapi keberadaan Beni yang di anggap sebagai suatu bentuk kesialan dengan wujud manusia.


__ADS_2