
Orang sabar itu di sayang sama Tuhan, jadi lo harus banyak banyak sabar buat ngadepin sifat dan tingkah gila gue kedepannya.
➡➡➡
Malam hari di rumah Diska.
Sesuai kesepakatan, Beni datang lebih awal ke rumah Diska dengan membawa laptop serta buku cetak tebal, setebal hutang Diska ke Beni.
Sejak semalaman Papa marah marah dan mengancam akan membuang Diska ke Afrika jika sampai mendapat nilai jelek lagi, Diska mendadak menjadi alim dan penurut sekarang.
Diska sungguh tidak ingin memiliki masalah apapun dengan Papa jika itu sudah menyangkut nyawa juga uang jajannya.
Meski berat, bahkan lebih berat dari Rindunya bang Dilan, tapi Diska tidak bisa berbuat apa apa, selain menjalani semuanya dengan ikhlas serta lapang dada.
Bukan berarti Diska serius dengan kesepakatan bersama Beni, namun Diska lebih memilih Zona aman daripada Zona nyaman.
Kenapa??
Karena Zona nyaman bisa di pikir belakangan. Tapi kalau Zona aman?
Sangat penting untuk mempertahankan kehidupan Diska saat ini dan juga untuk selanjutnya.
Sejujurnya, Diska telah berencana untuk kabur ke rumah Oma di Surabaya, Diska bahkan telah berkemas dan membuat surat perpisahan untuk Mama dan Papa.
Tapi...
Jika mengingat kartu kreditnya telah di bekukan, membuat Diska mengurungkan niatnya dan kembali meletakan barang yang telah di kemas ke tempat semula. Juga membakar surat yang telah Diska tulis dengan susah payah.
Di tambah jika Oma sampai mengetahui nilai jelek Diska, di jamin kalo Diska akan di jemur di bawah terik matahari selama seminggu full.
Bagaimanapun, Oma sama Papa itu sebelas dua belas. Maklum, namanya juga Emak sama Anak, hobinya emosi terus. Gak kayak Diska, yang hobinya ngebucinin jodoh orang, tapi masih jomblo sampai sekarang.
Ya nasib.
Beni sengaja memilih MATEMATIKA sebagai bahan ajarannya malam ini.
Bukan tanpa alasan, semua karena mata pelajaran ini mungkin akan di pelajari Diska besok di kelas IPA.
Beni memberikan penjelasan panjang lebar tentang jawaban dari soal pertama yang Beni berikan kepada Diska, yaitu..
Jika f(x) 2x + 4 dan g(x) \= (x+ 1), maka (nebula) adalah -1(x).
"Jawabannya adalah (x + 5) /( 2) karena bla bla bla......"
Namun, saat Beni berhasil menyelesaikan penjelasannya, saat itu juga Beni melihat jika Diska justru tengah tertidur pulas.
__ADS_1
"DISSKKKAAA.. Dis.. Diska.. bangun dong??"
Beni menggoncang goncangkan tubuh Diska dengan kekuatan superman serta suara yang keras dan cetar membahana.
Diska yang tengah memejamkan mata dan menopang dagu dengan kedua tangannya, sontak membuka matanya dengan malas.
"Ada apa sih, Ben?? Gak pake teriak bisa kan??"
Tanya Diska malas yang sesekali masih mencuri curi waktu untuk kembali memejamkan mata.
Beni mulai merasa kesal dengan sikap Diska yang selalu seenaknya sendiri.
"DIS, dari tadi gue ngomong panjang lebar sebenarnya lo dengerin gak sih?"
"Ya elah Ben, gue denger kali? Kuping gue masih normal pake banget."
"Abisnya mata lo itu merem Dis."
"Jadi lo meragukan pendengaran gue?"
Beni sungguh telah kehabisan kesabarannya. Bagaimanapun, gadis yang satu ini selalu saja membuat Beni kesal setengah mati.
"Ngaku aja deh, lo tidur kan? Ngaku gak lo?"
"Tapi gue emang beneran gak tidur Ben, gue cuma merem doang."
"Kagak Ben, gue emang gak tidur, cuma mimpi doang."
"DISSKKKAAAA TRISILLLAAAA..."
Mendengar teriakan Beni, Diska sontak menutup kedua telinganya.
"Apa lagi sih Ben??"
"Lo bisa serius dikit gak sih?"
"Bisa, Ben."
"Kalo lo masih kayak gini terus, gue pulang nih."
Beni berdiri dari duduknya, menatap dengan tatapan permusuhan dan mengancam akan pulang jika Diska masih dengan mode malas malasan yang super duper gak jelas.
Diska refleks menarik tangan Beni, hingga Beni terduduk kembali.
"Iya iya, gue serius nih. Lihat, mata gue udah melek, dan otak gue juga udah on."
__ADS_1
"Dis, udah bagus gue mau ngajarin lo secara suka rela, harusnya lo itu usaha. Jangan nambah beban gue. Minimal lebih serius dikitlah. Kecuali kalo lo emang ngarep buat jadi teman sekelas gue di IPS??"
Beni menggoda Diska dengan mengedipkan sebelah matanya.
Mendengar ini, pikiran Diska mulai melayang kemana mana, menerawang ke masa depan dan membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya jika berhasil satu kelas dengan Beni.
Tidak boleh.
Diska menggelengkan kepala saat membayangkan jika dirinya benar benar berada di kelas IPS. Ralat.. Lebih tepatnya di kelas Beni.
Diska menelan ludah untuk kesekian kalinya.
Diska mulai mengalami kepahitan dalam hidup semenjak si botak alias kepala sekolah itu mencari masalah dengannya. Semua gara gara ide konyol bin ajaib yang entah didapat darimana. Ditambah dengan mode sok tahu yang seenak jidatnya telah mendeklarasikan perang terbuka dengan Diska.
Udah botak, nyebelin pula. Ke laut aja sono. Di tenggelamkan juga gak akan ada yang ngerasa kehilangan. Apa lagi kalo di kasih makan buat para pinguin kutub. Di jamin pinguinnya bakal mati semua.
He he he..
Diska tertawa penuh kemenangan.
"Dis, lama lama lo bisa gila kalo senyum senyum sendiri kayak gitu? Sadar Dis.. Sadar.. Gak usah kebanyakan halu lah, ntar lo beneran di hantui sama arwah penasaran tetangga sebelah yang mati bunuh diri."
Diska melirik Beni.
"Bukannya tetangga sebelah gue itu lo?"
Tanya Diska dengan memicingkan sebelah matanya dengan seringai iblis ke arah Beni.
Beni menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Iya juga ya?"
"Tuh kan??? Udah, lo gak perlu nakutin gue, Ben. Percuma gak bakal mempan."
Beni yang memang sudah merasa bersalah, mencoba untuk mengubah topik pembicaraan.
"Stop it, mau lanjut ke pelajaran sesuai kesepakatan atau gue balik?"
"Iya deh, iya. Gitu aja marah. Calmdown dong. Jangan gampang emosi, Ben. Ntar lo cepet tua."
"Yang bikin gue emosi, siapa?"
Diska menunjuk dirinya sendiri.
"Maksud lo, gue yang udah bikin lo emosi?"
__ADS_1
Beni mengangguk.
"Astaghfirulloh, nyebut Ben. Itu semua bukan karena gue, tapi karena lo yang gak sabar. Kata pak Kyai, orang sabar itu di sayang sama Tuhan. Lo harus banyak banyak sabar sekarang buat ngadepin sifat dan tingkah gue yang semakin ke depan akan semakin menyebalkan. Okey?"