
Impossible we do, miracle we try..
➡➡⬅⬅
"Dis, ini buku baru??"
Beni bertanya seraya membolak balik halaman demi halaman buku Diska yang memang tidak berisi coretan apapun di dalamnya.
"Buku lama, Ben. Gue mana tahu bakalan bermigrasi ke kelas IPS hari ini? Kalo gue tahu, gue juga bakal bawa buku baru."
Jawab Diska enteng seraya merapikan cat kuku transparan yang telah di oleskan pada ketiga jari kukunya.
Beni mengangkat sebelah alisnya.
"Ganti??"
Fix.. Diska memang gangguan jiwa. Bagaimana bisa seorang Diska berharap masih bisa bertahan di kelas IPA coba??
Ngimpi aja sono...
Diska menangguk.
"Iya, di ganti."
"Lo gila?? Ini buku juga masih Kosong song song, Dis?? Belum isi apapun, bahkan nama lo sekalipun juga gak tertulis di sini."
Suara Beni naik dua oktaf, namun tetap memulai untuk mencatat PR pada buku Diska.
"Itu karena gue lupa ngasih nama, Ben. Gitu aja pake di ributin sih? Biar sekalian lo tulisin nama gue di buku. Inget ya, tulis nama gue di buku, bukan di hati lo. Ciee ciee... Baper..."
"Ya kali, siapa juga yang baper Dis??"
"Lo lah, masa iya gue sih??"
"Alah, palingan juga lo yang baper? Ngarep ada nama lo di hati gue? Iya kan??"
"Au ah. Males gue."
"Oia, gue sampai lupa ada yang mau gue tanyain."
Diska menoleh, "apa??"
"Emang lo gak pernah nyatet tentang hasil pembahasan saat pelajaran waktu masih di IPA??"
Diska menggelengkan kepala.
Beni membulatkan mata, "why??"
__ADS_1
Diska berpikir sebentar.
"Sebenarnya, gak ada alasan khusus sih. Cuma karena udah ada buku cetak, jadi gue udah gak perlu buat nyatet lagi kan??"
Mendengar ini, Beni segera menepuk jidatnya sendiri kemudian beristighfar sebanyak tiga kali.
"Diska cantik, itu namanya gak benar, alias salah... Hm?? Lo harus tetap nulis meski udah ada buku cetak."
Diska hanya mengangkat bahu, tidak peduli. Serta terus saja menyelesaikan olesan cat kuku yang terakhir pada kuku tangan kirinya tanpa memperdulikan rengekan Beni yang terus saja menceramahi Diska tanpa henti.
Diska kembali meneliti hasil olesan itu lagi, namun cat kukunya teroles dengan sempurna.
Diska mengangguk puas, dan segera meniup kuku kukunya dengan tiupan yang berasal dari mulut cantiknya.
Sebenarnya, Diska ada niatan untuk memberi Beni sebuah kepercayaan untuk meniup kukunya. Namun karena Beni terlihat sangat sibuk untuk menyalin, membuat Diska menjadi tidak enak hati hingga akhirnya Diska mengurungkan niat buruknya untuk memperbudak Beni lebih jauh.
➡➡⬅⬅
Tiba tiba, suara sapaan seorang wanita cukup membuat Diska terkejut. Sontak Diska menoleh ke arah sumber suara.
Diska mengangkat sebelah alisnya saat melihat sekelompok gadis dan para pria yang tengah berdiri mengelilinya.
Diska terkejut hingga tidak bisa berkata kata. Bertanya pada hati kecilnya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Apa mereka tengah demo atau mereka akan meminta tanda tangan Diska??
"Hai, lo Diska kan? Salam kenal, gue Nita. Gue ketua kelas di sini. Dan selamat datang di kelas 11 IPS 3.. Yeaay.."
Gadis yang mengaku bernama Nita ini mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Diska di sertai senyum ramah.
Mendengar ini, Diska kembali dari lamunannya. Dan segera membalas uluran tangan Nita juga menyertakan senyuman yang tidak kalah manis pula.
Kemudian, secara bergiliran semua penghuni kelas 11 IPS 3 mulai menjabat tangan Diska serta memperkenalkan diri mereka satu persatu di sertai ucapan selamat datang.
"Karena kita gak tahu lo bakalan datang hari ini, kita minta maaf banget gak bisa siapin acara penyambutan buat lo. Tapi... tenang aja, sebagai gantinya kita akan makan bersama di kantin GRATISSS alias di bayar dengan uang kas kelas 11 IPS 3."
Nita berbicara lantang sehingga membuat seisi kelas bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah.
"Ya ampun, gak perlu repot repot. Gue juga gak pantas dapat acara penyambutan kayak gini. Lagian, gue juga bukan murid baru. Jadi gue gak berhak dapetin ini semua."
Ucap Diska penuh keseriusan.
"Santai aja, kali. Udah, gak usah sungkan. Enjoy aja, and have fun. Iya gak guys??"
"Yo'i Dis, santai aja."
Ucap anak anak yang lain.
__ADS_1
Diska menoleh ke arah Beni untuk meminta pendapat.
Mendapat tatapan penuh tanya dari Diska, Beni hanya mengangguk mengiyakan.
Bagaimanapun, semua itu memang sudah menjadi adat istiadat kelas IPS 3 sejak zaman nenek moyang, sebagai bentuk penyambutan untuk penghuni baru kelas mereka.
"Ben, lo gak ikut?"
Nita bertanya kepada Beni yang masih sibuk mencatat PR Diska yang sebanyak dua halaman, dan masih kurang setidaknya setengah halaman lagi.
Beni menggelengkan kepala.
"Lo duluan deh, nanti gue nyusul. Bentaran doang, nanggung soalnya."
Ucap Beni yang masih tetap mencatat tanpa berniat untuk menundanya. Semua tentu karena Beni ingin segera menyelesaikan acara catat mencatat PR.
"Okey kalo gitu, kita tunggu lo di kantin."
Nita menepuk pundak Beni dan kemudian menarik tangan Diska untuk segera mengikutinya ke kantin.
Diska menurut dan tidak keberatan sama sekali dengan tarikan tangan Nita.
Diska hanya tidak menyangka akan mendapat penyambutan sederhana seperti ini namun terasa istimewa untuknya dengan keramah tamahan yang sangat hangat.
Mungkin Diska akan memberikan poin sempurna untuk keramah tamahan untuk kelas ini, dan untuk kekompakan??
Em... Mungkin Diska akan memberikan 9,9 dari 10 poin.
Diska mulai menyadari satu kesalahannya selama ini, yaitu telah meremehkan kualitas kelas IPS. Namun siapa yang menyangka jika di balik kelas yang selalu Diska ragukan ternyata mampu memberikan zona nyaman yang luar biasa.
Mungkin, Diska juga perlu sedikit berterima kasih serta memberikan sedikit penghargaan untuk Kepala Sekolah atas usul gilanya yang justru telah berhasil merubah pemikiran Diska tentang kelas IPS.
Namun, sejauh apapun orang pergi, satu satunya tempat untuk kembali adalah rumah.
Jadi Diska tetap akan kembali pada koloninya, tidak peduli sebaik apapun kelas IPS. Diska juga tidak akan pernah keluar dari tema ataupun melenceng dari apa yang sudah Diska rencanakan sejak awal.
Niat Diska hanya IPA dan akan selalu IPA.
Diska bahkan akan mengupayakan jalur terbaik untuk kembali ke IPA, yaitu dengan belajar serta memaksimalkan nilainya yang sempat merosot tajam. Juga untuk membungkam mulut semua orang dengan prestasi yang akan Diska raih selanjutnya.
Diska sama sekali tidak merasa khawatir. Karena dengan keberadaan Beni di sampingnya, maka akan ada banyak keajaiban.
Impossible we do.. Miracle we try..
Diska bahkan yakin seratus dua puluh persen akan berhasil mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Diska tersenyum dalam hati saat membayangkan ini.
__ADS_1