
➡➡➡⬅
"Dis... Diska...."
Beni memanggil tepat di telinga Diska.
Namun, Diska sama sekali tidak menyahut.
"Dis.. DISKKAAA.."
Sontak Diska melirik asal suara.
"Ada apa sih, Ben??"
Diska bertanya dengan suara super lesu yang pernah Diska miliki di sepanjang hidupnya.
Diska mengerjapkan mata, dan kembali menjadi lesu saat yang di lihatnya tetap ruang kelas 11 IPS 3 dan masih tidak berubah meski Diska telah membaca doa hingga sepuluh kali.
Entah bagaimana Diska telah berada di kelas 11 IPS 3. Lebih tepatnya duduk di sebelah Beni. Diska bahkan tidak mengerti dan juga tidak mengingatnya sama sekali.
Diska mengawasi sekeliling.
Terlihat siswa serta siswi 11 IPS 3 tengah duduk dengan rapi, tenang dan dengan patuh mendengarkan penjelasan Miss Caroline selaku Guru Bahasa Inggris yang masih muda belia serta cantik jelita di depan kelas.
Bahkan Diska tidak mendengar suara apapun selain suara lantang Miss Caroline yang menggema di dalam ruangan 11 IPS 3 yang sangat memekakan telinga meskipun itu hanya sekedar suara bisikan para siswa ataupun siswi.
APPAAA???
Tunggu tunggu tunggu...
Kelas IPS sebenarnya.... tidak berisik sama sekali??? Dan tidak menyusahkan Guru sama sekali????
Diska kembali mengingat tentang bayangan kelas IPS dalam pikirannya. Diska bahkan telah membuat list tentang kenakalan anak IPS, yaitu... Cewek centil. Cowok playboy. Siswa berandal. Siswa yang suka kelayapan dan kabur dari Sekolah. Siswa yang suka ngerokok di WC. Siswa yang suka jahilin Guru. Siswa dengan seragam berantakan serta acak acakan. Siswa yang suka malak. Siswa yang suka ngebully. Terakhir adalah Siswa yang suka berantem dan tawuran.
Sebenarnya adalah..... sebaliknya...
Apa itu mungkin???
Diska menepuk kedua pipinya untuk memastikan jika ini bukan mimpi??
"Aw."
Namun tepukan Diska memang terasa sakit, dan itu juga yang membuat Diska semakin yakin bahwa ini sebenarnya adalah KENYATAAN??
KENYATAAN.. KE-NYA-TA-AN...
__ADS_1
Diska kembali mengawasi sekeliling, lagi dan lagi. Namun yang di lihatnya adalah pemandangan yang sama dan tetap sama.
Diska kembali mengerjapkan mata untuk kesekian kalinya untuk memastikan bahwa apa yang di lihatnya adalah benar adanya.
Namun, sebenarnya..
Kelas Beni.. Tidak tidak.. Maksudnya adalah kelas 11 IPS 3.. Tidak tidak.. Maksudnya adalah bahwa kelas IPS merupakan sebuah kelas yang...
Pantas untuk di acungi lima jempol..
List kenakalan anak IPS mulai runtuh dalam benak Diska.
Siswa rajin. Siswa patuh. Siswa dengan seragam rapi. Dan siswa pintar ternyata bukan hanya milik kelas IPA, tapi sebenarnya juga di miliki oleh kelas IPS???
Diska melongo...
Diska bahkan mulai menghapus bayangan buruk tentang kelas IPS dan mulai memberikan penilaian untuk kelas IPS sebagai gantinya.
9.9 poin untuk kerapian.
9,9 poin untuk kebersihan.
9,9 poin untuk kedisiplinan.
9,9 poin untuk kepatuhan, dan
Kenapa ini sangat jauh dari apa yang Diska bayangkan selama ini??
Diska menoleh ke arah Beni, kemudian menarik narik lengan baju Beni.
"Ben... Beni..."
"Apa sih, Dis?? Lo harus nyimak penjelasan Miss Caroline biar lo pinteran dikit."
Ucap Beni tanpa menoleh sedikitpun ke arah Diska, dan tetap fokus dengan penjelasan Miss Caroline di depan kelas serta sesekali mencatat poin poin penting tentang pembahasannya.
Mendengar jawaban Beni, membuat Diska menoleh serta terus memperhatikan lekat lekat wajah serius Beni yang tengah mengikuti pelajaran. Tapi bukan hanya Beni, bahkan hampir semua siswa di kelas ini juga melakukan hal yang sama seperti yang Beni lakukan.
ASTAGA..
Apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini??
Diska kembali linglung, namun sesaat kemudian Diska tersenyum lebar sertaa mengikuti siswa lain untuk mendengarkan penjelasan Miss Caroline dengan sangat serius.
➡➡⬅⬅
__ADS_1
Bell tanda istirahat kedua menggema di seluruh penjuru SMA Pelita.
Diska yang duduk di bangku nomor tiga dari depan baris pertama, sedangkan yang duduk di pojokkan adalah Beni.
Diska menolak keras untuk duduk di pojok dengan alasan tidak ingin lecehkan oleh Beni. Diska bahkan terus merengek tidak mau duduk di pojok lantaran tidak mau di bully serta takut di perbudak Beni di seumur hidupnya.
Alasan yang sangat tidak masuk akal.
Beni yang mendengar alasan konyol Diska hanya bisa menggelengkan kepala tidak berdaya serta hanya bisa menyabarkan dirinya sendiri, dan memberikan lirikan tajam yang mengandung arti..
"Gue yang suka di bully dan di perbudak, tapi malah gue yang di jadiin kambing hitam. Okey, gue bisa terima ini. Tapi, kita akan melihat sebentar lagi, siapa yang sebenarnya di perbudak dan siapa yang memperbudak."
Belum sempat Beni mengucapkan kalimat terakhirnya dalam hati, Diska mulai berulah dan mulai menunjukan wujud aslinya yang sebenarnya sebagai...
Rubah betina.
"Aduh.. Ben, tangan gue capek banget. Gue udah gak bisa nyatet lagi."
Ucap Diska seraya menunjukan buku PR Bahasa Indonesia yang bahkan belum Diska buka apalagi di catat.
Alasannya adalah karena Diska baru saja pindah kelas beberapa jam yang lalu. Jadi, secara otomatis Diska tidak tau menau tentang PR apapun di kelas IPS.
Namun, karena Guru Bahasa Indonesia orangnya judes, killer dan tidak mau tahu tentang alasan ataupun penjelasan apapun tentang tidak mengerjakan PR, maka sebagai gantinya Beni berbaik hati untuk meminjamkan catatan PRnya secara suka rela kepada Diska.
Namun, siapa sangka bahwa Diska adalah sosok yang tidak mempunyai urat malu serta tidak berperasaan. Bukan hanya meminta hati, namun juga meminta jantung.
Beni yang tidak bisa menolak puppy eyes seorang wanita, apalagi jika itu adalah seorang Diska, hanya bisa menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.
Beni sungguh tidak mengerti dengan Diska.
Bagaimana mungkin Diska sudah merasa capek untuk menulis bahkan di saat Diska belum memulainya?? Diska bahkan belum membuka bukunya sama sekali.
Namun, alih alih merasa capek untuk menulis, Diska justru mengeluarkan cat kuku berwarna transparan dari dalam tasnya.
ASTAGA..
Beni menepuk keningnya dengan frustasi.
Beni semakin putus asa, dan mulai bertanya tanya dalam hati kecilnya. Dengan hanya melihat tingkah laku Diska setiap hari, bahkan akan sangat mustahil untuk Diska memasuki kelas IPA, apalagi bisa bertahan selama tiga bulan??
Sangat aneh.
Tiga bulan lho ini?? Bukan tiga hari..
Anggaplah waktu tiga bulan sebagai masa percobaan. Namun setelah melihat kemerosotan nilai Diska selama proses uji coba, maka Diska telah resmi terdiskualifikasi dari kelas 11 IPA 3..
__ADS_1
Begitulah sekiranya hasil analisa Beni tentang Diska.
Beni menerima buku Diska dengan enggan dan sangat terpaksa. Membuka buku Diska yang ternyata masih kosong melompong tidak berisi coretan apapun, meski itu hanya sekedar nama.