
Diska, Naga dan Beni melihat ke arah pintu dan menghitung secara bersamaan.
"Tiga.. Dua.. Satu.."
Mereka betiga terkejut saat merlihat sosok pendek dengan perut buncit serta kepala botak yang memasuki rumah Diska dengan membawa tas tangan ala seorang Guru.
Bayangan tentang sosok tinggi dan berwibawa pupus sudah, Diska hanya menghela nafas panjang karena untuk kesekian kalinya Diska harus kembali menelan pil pahit berupa kekecewaan.
Ekspetasi yang tidak sesuai dengan realita.
Kenapa belakangan ini khayalan Diska selalu saja tidak tepat sasaran?
Dimulai dari kelas IPS, rumah Naga, dan yang terakhir adalah sosok Pak Fuadin.
Entahlah, mungkin Diska hanya merasa lelah.
Pak Fuadin menyiapkan beberapa buku cetak tebal, dengan tingkat ketebalan yang berlapis lapis.
"Ba...baiklah, per..perkenalkan, Na..nama sa..saya Fu.. Fuadin Ahmad, sa..sya akan me..mengajar ga..gadis bernama Diska de..dengan mata pe..pelajaran Sains."
Ucap Pak Fuadin gagap seraya memperbaiki letak kacamatanya dan mulai duduk di hadapan Diska.
Mendengar suara gagap Pak Fuadin, membuat Diska, Naga dan Beni saling melemparkan pandangan dengan shock.
Ingin tertawa tapi takut dosa.
Shock dan terkejut itu sebenarnya rada mirip, cuma beda tipis. Kalo orang awam gak akan bisa bedain. Cuma beda tulisannya aja, maknanya mungkin sama?
Mungkin??
Pak Fuadin memperhatikan ketiga remaja dan duduk di sofa yang sama.
"Pa..pasti ka..kamu kan ya..yang bernama Dis..Diska?"
Pak Fuadin menunjuk Diska yang duduk di tengah dengan jari telunjuknya.
"Iya Pak, saya Diska," jawab Diska lantang.
"Ba..baik, ji..jika begitu sa..saya akan me..memulai pe..pembelajaran ka..kali ini."
Ucap Pak Fuadin memberikan selebaran kertas yang berisi sepuluh pertanyaan tentang Fisika.
"Dis..Diska."
"Iya, Pak?"
"Co..coba ka..kamu ja..jawab penyelesaian un..untuk so...soal ya..yang pe..pertama."
Diska melihat soal pertama, dan melebarkan matanya sejenak.
"Pak, maksud Bapak pertanyaan pertama itu apakah hantu itu benar benar ada? Gitu?"
__ADS_1
Pak Fuadin mengangguk.
Diska berdehem.
"Menurut saya, hantu itu benar benar ada, Pak."
"A..apa Al..alasanya?"
"Alasannya karena saya sudah melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Contohnya di samping saya ini, mereka berdua masuk ke jenis makhluk gaib juga, Pak."
Beni dan Naga yang tengah memperhatikan gerak gerik Pak Fuadin dalam memberi materi sontak memandang Diska dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa jika Diska mengelompokkan Beni dan Naga pada jenis makhluk ghaib??
Wah.. Wah.. Wah.. Gangguan jiwa nih si Diska.
"Ape lu?"
Ucap Diska dengan memandang Beni dan Naga secara bergantian.
"Lo tega ya, Dis? Masukkin gue ke kelompok setan? Parah lo," ucap Naga yang tidak terima dengan ucapan ngaco Diska.
"Maaf, Ga? Seriusan gue lupa, harusnya lo kan masuk kategori Vertebrata, atau lebih tepatnya Kadal darat."
"Hussst, gak boleh ngomong gitu, Dis? Bohong itu dosa dan gak baik, lebih baik berkata jujur meski itu menyakitkan."
Beni membuka suara.
"Nah, tumben lo bijak, Ben? Lo emang best friend gue."
Naga menimpali dengan senyum lebar saat Beni ternyata membelanya dari olokan Diska. Suatu hal yang sangat langka, dan bahkan nyaris punah.
"Lo gak boleh manggil Naga dengan sebutan kadal darat, karena Naga itu bukan kadal."
"Emang Naga itu apa?"
"Biawak."
Ucap Beni enteng.
Diska tertawa terbahak bahak mendengar ucapan jujur Beni.
Sementara Naga menjatuhkan rahangnya, Biawak? Bahkan Beni tidak membelanya dan justru semakin merusak nama baik yang sudah Naga jaga selama bertahun tahun.
"Au ah, terserah lo berdua mau ngomong apa, gue gak denger."
Diska menepuk bahu Naga yang meminta Naga untuk bersabar.
"Sabar, Ga? Ini cobaan."
Ucap Diska yang masih belum berhenti tertawa.
"Su..sudah, he..hentikan ob..obrolan un..unfaedah ka..kalian. La...lalu pe..penjelasannya se..seperti a..apa, Di...diska?"
__ADS_1
"Gak ada penjelasan, Pak? Udah itu aja."
Gantian Pak Fuadin yang melebarkan mata, seumur umur Pak Fuadin mengajar, mungkin ini adalah kali pertama beliau menemukan murid gadis yang beg*nya gak ketulungan.
"Di...diska, it..itu ju..juga a..ada penjelasannya."
"Tapi saya gak tahu, Pak? Jadi ya udah lah, ganti soal lain aja?"
"Di..diska, ha..hantu itu se..sebenarnya ti..tidak ada. Me..menurut Jo..joe Nickell sa..satu satunya il..ilmuwan ya..yang be..bekerja se..secara full time menjadi in..investigator pa..paranormal berbasic ilmu pe..pengetahuan mengatakan ji..jika sampai sa..saat ini belum ad..ada hantu yang ke..keberadaannya bi..bisa di buktikan de..dengan il..ilmu pe..pengetahuan."
"Lha, saya mah kagak mikir Pak, mau ada setan atau kagak juga gak ada urusannya sama saya? Ada atau tidaknya, saya juga masih tetap dan selalu jomblo sampai kapanpun," ucap Diska dengan nada suara yang dipelankan untuk mendramatisir keadaan.
"Busyet, ni anak malah curhat, Ben?"
Ucap Naga menoleh ke arah Beni.
Beni meringis.
"Biarin aja, jiwa jomblonya mulai meronta. Efek kelamaan jomblo."
"Eh, sesama jomblo dilarang saling menghina."
Ucap Diska tegas seraya memberikan cubitan yang seketika di sertai dengan suara raungan dari Naga dan Beni.
Naga merengut.
"Sakit tau, Dis? Lo mau bunuh gue?"
"Eh, peak. Cubitan itu gak bikin orang mati, kecuali kalo nyubitnya pake kapak, baru deh bisa bikin mati."
Jawab Diska yang sama sekali tidak menerima protes, apalagi jika yang memberi protes adalah Naga.
"Udah, Ga? Terima aja sebelum Diska ngasih yang lebih buruk dari itu. Gue udah pengalaman, soalnya."
Beni berbisik pelan kepada Naga, namun bisikkan itu masih bisa di dengar oleh semua orang yang berada di ruangan.
"Tapi Diska nyubit gue, Ben? Lo tahu kan kalo gue alergi sama siluman ular macam Diska?"
"Diska itu bukan siluman ular, Ga? Jadi Diska gak akan menimbulkan iritasi. Diska itu cuma siluman rubah, lebih tepatnya rubah betina."
"Eh, gue denger beg*. Lo berdua berani banget ghibahin gue di depan muka gue? Untung ganteng, kalo kagak udah gue siram lo pake air cuka."
"Gitu aja sensi amat sih? Sabar napa sih? Lo dengerin noh penjelasan Pak Fuadin, kasian dari tadi ngoceh sendirian kagak ada yang dengerin."
Naga meminta Diska untuk kembali fokus dengan Les Privatenya.
Diska hanya mencibir, "emang enak di kacangin?"
"Mana gue tahu, Dis? Gue belum pernah di kacangin sama cewek."
Ucap Beni.
__ADS_1
"Iya, paham kalo lo emang belum pernah di kacangin sama cewek, tapi lo sering di kadalin."
"Emang, satu satunya cewek yang sering ngadalin gue ya cuma lo."