
Keluar dari mulut buaya, malah masuk kandang Puma.
➡➡➡
Diska datang lima menit lebih awal dari pada Bu. Rianti.
Pertanda jika Diska di nyatakan aman dari hukuman tidak manusiawi yang di canangkan oleh Bu. Rianti.
Diska mengelus dada dengan puas saat selamat dari amukan Vertebrata sejenis buaya seperti Beni dan juga selamat dari omelan panjang Bu. Rianti.
Plus, tidak ketahuan Guru BP saat bolos dari Upacara Bendera, dan anggaplah ini sebagai sebuah keberuntungan.
Diska tertawa dalam hati.
Lima menit kemudian, terlihat Bu. Rianti membawa setumpuk kertas soal soal ulangan pada pelajaran pertama setelah upacara untuk Mata Pelajaran Bu. Rianti.
"Mia, kumpulkan buku PR."
Teriakan Bu. Rianti cukup untuk membuat beberapa siswa mengalami sakit pada telinga mereka.
"Yes, Miss."
Mia segera beranjak dan mengumpulkan buku PR sesuai perintah Bu. Rianti.
Sementara Diska menepuk keningnya sendiri.
"Mampus gue."
Mia berjalan mendekat ke arah Diska, dan meminta buku PR Diska.
Diska menggelengkan kepala menolak untuk memberikan buku PRnya. Namun, Mia bersikeras mengambil buku Diska secara paksa.
Hingga aksi tarik menarikpun terjadi.
"Dis, lepas."
Teriak Mia.
"Gak akan."
Diska menolak dengan tegas pemaksaan yang Mia lakukan.
"Dis, jangan buat posisi gue jadi sulit dong?"
"Bukannya lo yang buat gue jadi sulit?"
Diska tetap tidak mau mengalah.
"Dis."
"Gak akan."
__ADS_1
Bu. Rianti dapat melihat dan mendengar kegaduhan antara dua siswi perempuan itu, kemudian menggelengkan kepala.
"CUKUUUPPP."
Omelan Bu. Rianti memekakan telinga.
Diska sontak melepaskan bukunya, dan Mia tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil mendapatkan buku PR Diska tanpa harus mengeluarkan jurus taekwondonya.
Diska yang merasa kalah hanya bisa melotot kesal kepada Mia, dan hanya di balas juluran lidah oleh Mia seraya menumpuk semua buku menjadi satu dan meletakannya di meja Guru.
Entah akan mendapatkan hukuman model apa lagi hari ini. Diska hanya bisa pasrah dan menunggu kesialan yang akan segera menimpanya cepat atau lambat.
Bu. Rianti segera membagikan kertas ulangan kepada para siswa, sampai tibalah Bu. Rianti di samping Diska serta meletakan kertas ulangan di atas meja di hadapan Diska.
"Diska, kerjakan semua soal dengan benar. Jangan main main. Ingat.. ini Sekolah bukan milik nenek moyang kamu, apalagi milik bapak kamu. Ibu tidak mau tahu, kamu harus dapat nilai tinggi dalam ulangan di Mata Pelajaran saya. Dan kamu tidak di izinkan untuk mendapat nilai di bawah enam. Ngerti!!!"
Suara Bu. Rianti bergema di seluruh penjuru kelas 11 IPA 3. Lebih terdengar seperti Hakim yang memvonis hukuman mati untuk seorang Narapidana, dan membuat seisi kelas terdiam seketika.
Diska menelan ludah saat melihat seonggok kertas ulangan yang sudah berada di atas mejanya.
"Iya Bu, saya mengerti, dan saya juga sangat sadar diri jika sekolah ini bukan milik nenek saya. Bukan juga milik bapak saya. Apa lagi milik keluarga saya. Karena kebetulan keluarga saya tidak ada yang punya Sekolahan, Bu."
Jawab Diska enteng.
"DISSSKKKKAAAA...."
➡➡➡
Diska mulai berpikir bahwa sepertinya Diska memang telah mengambil satu kesalahan besar saat memilih kelas IPA.
Bagaimanapun, Diska sangat membenci semua hal yang berhubungan dengan IPA, entah itu Fisika, Kimia apa lagi Matematika.
Bukan salah Mama yang telah mengandung Diska, namun salahkan Diska karena selalu tidak becus dalam pelajarannya.
Namun, jika Diska memilih IPS, itu juga tidak menjadi jauh lebih baik.
Diska berpikir, jika anak anak IPS itu cuma bisa nyari masalah dan sok jago di Sekolah. Padahal, kalau di pikir lagi secara realistis, anak IPA juga gak jauh beda sih.
Tapi tahu sendiri, mana bisa Diska berpikir secara realistis? Apalagi dengan kondisi otak yang pas pasan, gak akan pernah bisa membuat Diska berpikir secara rasional meskipun telah menggunakan sihir Harry potters sekalipun.
Dan anehnya, Papa sama Mama juga sangat menginginkan Diska untuk masuk IPA.
Biar apa? Biar Diska jadi banyakan mikir katanya.
Aneh kan?
Padahal, menurut analisa Diska dengan menggunakan mata batin. IPA sama IPS itu cuma beda tipis. Kalaupun ada perbedaan, berbedaannya paling hanya sekitar setengah inci doang.
Kalo IPA ngitung ngitung, sedangkan IPS nginget nginget. Dan intinya adalah keduanya sama sama bikin pusing dan puyeng.
Waktu ulangan hampir habis. namun pikiran Diska masih bergelayut manja dengan soal soal ulangan Fisika yang cukup mengenyangkan juga.
__ADS_1
Coba aja, tiap hari ada ulangan terus. Di jamin enak deh, gak perlu makan lagi, karena udah kenyang duluan.
Kalo bahasa gaulnya sih irit beras.
Hanya beberapa soal yang masih belum Diska kerjakan. Kalo soal yang lain sih aman terkendali. Sudah beres dan di kerjakan setelah mengeluarkan jurus andalan peninggalan nenek moyang Diska, yaitu...
Ngitung Kancing.
Manjur banget pokoknya. Dan ajaib banget, tapi selalu ada aja hal mistis yang terjadi tiap kali Diska menggunakan jurus ini, karena setiap jawaban yang Diska peroleh dari hasil ngitung kancing semua jawabannya adalah sama, yaitu D, aneh kan??
Mungkinkah ada setannya??
Diska menggelengkan kepala.
Sebenarnya memang aneh atau Diska yang **** sih?
Au ah.
Dan hanya ada seribu KENAPA dalam benak Diska.
Kenapa pelajaran pertama setelah Upacara di hari senin harus di isi langsung oleh guru killer penguasa Fisika Bu. Rianti??
And I DONT LIKE MONDAY..
Diska sungguh sangat membenci hari senin.
Kenapa harus ada hari senin dalam satu minggu? Kenapa gak ada enam hari dalam satu minggu dengan menghilangkan hari senin?
Why???
Diska sudah kehabiasan banyak waktu, namun kenapa kertasnya hanya berisi coretan coretan abstrak yang sama sekali tidak berguna??
Otak Diska memang sedang tidak berada dalam ulangannya. Pikiran Diska justru di gunakan untuk memikirkan berbagai hal yang tidak penting dan sama sekali tidak berhubungan dengan Fisika.
Stupud.. stupid.. stupid..
Diska merutuki kebodohannya sendiri. Bahkan Diska mulai meragukan tentang jati diri Diska yang sebenarnya. Parahnya, Diska bahkan tidak mewarisi sifat pintar ataupun jenius dari Mama dan Papa. Lalu, siapa Diska yang sebenarnya???
Anak siapa Diska??
Apa mungkin jika Diska hanyalah seorang anak yang tertukar?? Atau mungkin pihak rumah sakit salah memberikan bayi??
No.. ini tidak mungkin.
Kenapa??
Kareba alasannya sederhana, soalnya begitu Mama melahirkan Diska, bayinya langsung di bersihkan dan di letakkan di samping Mama.
Bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan jika Diska memang anak biologis Mama dan Papa??
Udah, titik.
__ADS_1