
➡➡➡
Begitu sampai di Sekolah, Diska segera turun dari motor serta tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Beni yang sudah berbaik hati untuk memberikan tumpangan secara gratis.
Inget ya.. Ge.. Ra.. Tis..
Sebelum Diska bahkan berhasil memasuki kelas 11 IPA 3 kesayangannya, Diska segera mendapat panggilan dari Mia, selaku ketua Osis di SMA Pelita dan juga tangan kiri kepala Sekolah yang berpesan bahwa..
"Dis, lo di cari sama Kepala Sekolah, lo temuin dia sekarang di ruangannya, urgent katanya."
"Apa masalah apa, Mi??"
Diska mencoba mengorek informasi dari Mia.
Tapi, Mia hanya mengangkat bahu dan menepuk bahu Diska pelan seraya berbisik,
"Semoga beruntung. FIGHTING."
Kemudian Mia berlalu dengan cepat.
What? Semoga beruntung???
Tunggu tunggu tunggu.
Sebenarnya maksud Mia adalah GUE DI CARI SAMA KEPALA SEKOLAH??
APPAAAA???
Si botak manggil gue??
Urgent??
Emang ada yang lebih darurat dari pada kelaparan saat sedang mengikuti pelajaran MATEMATIKAnya Pak. Waluyo ??
Apa ini gak salah manggil???
Maksudnya kenapa mesti gue yang di cari sih??
Ada urusan apa sama gue??
Sampai disini saja bisa di simpulkan bahwa ada yang tidak beres di sini. Ada yang gak bener dan pasti ada sesuatu yang tidak sesuai pada tempatnya.
Bulu kuduk Diska mulai meremang.
"Gue punya firasat akan ada hal buruk yang sebentar lagi pasti akan terjadi. Sudah jelas jika kemunculan Kepala Sekolah yang mendadak, pasti sebagai pertanda hari kebahagiaan gue di Kelas IPA sudah selesai."
Maklum lah, si botak bisa di katakan jarang muncul di depan umum, sebelas dua belas sama Dajjal gitu. Sama sama pembuat onar dan pembuat kacau hidup orang lain.
"Jangan bilang kalau Dajjal sama kepala sekolah itu sebenarnya adalah Makhluk jadi jadian yang sama??"
Husssttt.. Ngaco..
➡➡⬅⬅
"Diska, sebelumnya saya sudah mengingatkan kamu tentang ini, bukan hanya untuk kamu, tapi juga untuk seluruh kelas IPA agar lebih giat belajar dan agar para siswa bisa meningkatkan nilai mereka lagi."
Diska diam.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, bukan hanya kamu yang saya pindah, ada sekitar lima siswa termasuk kamu."
Diska masih diam.
"Bapak harap kamu bisa menerima ini."
Diska masih tetap diam.
"Baiklah, saya anggap diamnya kamu sebagai tanda persetujuan bahwa kamu sudah setuju untuk perpindahan kelas dari IPA ke IPS."
Diska menggeleng.
"Kamu setuju kan, Diska Trisila?"
Diska kembali menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak setuju? Ini untuk kebaikan kamu juga, biar kamu bisa belajar banyak dari kelas IPS."
"Tapi saya gak mau, Pak?"
Adalah suara pertama yang Diska keluarkan setelah hampir setengah jam berhadapan langsung dengan Kepala Sekolah.
"Kenapa kamu tidak mau? Apa yang membuat kamu tidak menyukai IPS?"
"Saya tidak menyukai IPS karena orang tua saya menginginkan saya untuk masuk IPA. Bagaimana kalau orang tua saya sampai tahu tentang hal ini? Saya bisa mati, Pak."
Diska berucap dengan sendu, namun mengandung seringai licik di balik nada sendunya. Diska mulai mengaktifkan mode rubah betinanya untuk merayu Kepala Sekolah, berharap agar Kepala Sekolah dapat berubah pikiran.
"Diska, kamu dengarkan saya ya? Orang Tua kamu tidak akan marah, justru mereka akan mendukung keputusan sa...."
"Kamu jangan potong ucapan saya dulu, bisa tidak sih?"
Diska mengamgguk.
"Bisa Pak."
"Bagus, jadi intinya, kamu tidak selamanya berada di kelas IPS, karena begitu kamu bisa meningkatkan nilai di atas rata rata, maka saat itu juga kamu akan kembali menempati IPA. Bagaimana?? Tentu tidak ada penawaran yang lebih baik dari pada SMA Pelita."
Diska terpaku.
Penawaran yang lebih baik?
Penawaran yang lebih baik menurut Si botak adalah Diska harus pindah dari IPA ke IPS, gitu???
Terus baiknya itu di sebelah mananya ya? Diska jadi bingung?
Diska terpaksa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Ih, bapak apa apain sih pake maksa saya segala?"
"Diska.."
"Pak, tapi saya gak mau. Saya sudah terlanjur cinta mati sama kelas IPA."
"Diska, kamu harus mendengarkan omongan saya."
"Pak, tapi saya tidak bisa meninggalkan kelas 11 IPA 3 begitu saja."
__ADS_1
"Ini demi kebaikan kamu, Diska."
"Tolong Pak, ampuni saya. Lepaskan saya kali ini, saya berjanji akan mengingat kebaikan Bapak sepanjang hidup saya."
"Tolong kamu mengerti."
"Apa yang harus di mengerti sih, Pak? Pokoknya saya menolak untuk pindah ke IPS. Titik."
Sudah hampir dua jam Diska terus menolak permintaan Kepala Sekolah untuk pindah kelas. Diska yang telah diam saat setengah jam pertama, ternyata tidak sedang merenung, namun sedang menyiapkan banyak kata yang ingin Diska tuangkan kepada si Botak itu.
Eh.. ini juga bukan permintaan, ini lebih mirip perintah, pemaksaan, penyiksaan, dan penindasan kepada gadis lemah seperti Diska. Parahnya lagi, dekrit Kepala Sekolah adalah perintah wajib yang tidak bisa di bantah.
Bagaimanapun, ini sangat tidak adil bahkan terkesan tidak manusiawi.
"Sudah pasti ada unsur manipulasi."
Ucap Diska kepada dirinya sendiri di dalam hati.
"Kalau kamu Cinta mati sama kelas IPA, terus apa arti nilai empat enam yang kamu dapat dari ulangan FISIKA Bu. Rianti?? Jawab DISKAA.."
Kepala Sekolah mulai naik darah dengan pembangkangan yang Diska lakukan selama dua jam terakhir. Membuat Kepala Sekolah mulai kehabisan kesabaran.
"Itu khilaf, Pak. Gak ada unsur kesengajaan sama sekali."
Diska tetap berkilah.
"Khilaf???? Ini bukan kali pertama kamu dapat nilai di bawah lima di setiap kali ada ulangan, DISKKAAA. Jangan pikir kalau saya tidak tahu."
"Pak, saya minta maaf. Tapi saya akan lebih serius setelah ini."
"Kamu bisa membuktikan semuanya di kelas 11 IPS 3."
"Tapi ini berat buat saya, Pak. Apa Bapak tega??"
"Kamu paham ucapan saya atau tidak? Dari tadi kamu ngejawab terus omongan saya?? Saya capek ngomong sama kamu."
"Pak, maksud bapak apa sih?? Istighfar Pak, tarik nafas.. keluarkan... Tarik lagi..
Keluarkan.. Nyebut Pak, nyebut."
Diska menenangkan Si botak dengan alasan keimanannya.
"DISKA, ini percuma dan ini tidak bisa di bantah lagi. Ini sudah final dan ini juga sudah peraturan pihak Sekolah. Jadi, jika kamu tidak mau mengikuti peraturan Sekolah, silahkan kamu keluar!!"
Si botak menunjuk ke arah pintu dengan emosi yang meledak ledak.
Bagaimanapun, menghadapi Diska lebih melelahkan dari pada lari Marathon sejauh lima kilometer.
"Keluar dari sini dan balik ke ke 11 IPA 3, Pak??"
Diska bertanya dengan nada sepolos mungkin. Diska bahkan mulai menampakan senyum kemenangannya. Tentu saja, Orang tua yang baik harus banyak mengalah dengan generasi yang lebih muda. Apa lagi dengan puppy eyes yang Diska tampilkan dari awal sampai sekarang tentu sangat membantu.
Begitulah kira kira yang Diska pikirkan sejauh ini.
"KELUAR DARI SEKOLAH..."
Diska membeku di tempatnya.
__ADS_1