
Seminggu kemudian..
"Seriusan, Pak Fuadin ngundurin diri buat jadi guru les lo?"
Tanya Naga untuk yang ke tiga kalinya. Naga terkejut, merasa heran dan masih tidak percaya dengan mundurnya Pak Fuadin dari misi untuk mengajari Diska hingga pintar. Apa mengajari Diska itu sangat sulit? Rasanya tidak mungkin?
Setahu Naga, Diska adalah gadis yang cukup pintar lima tahun yang lalu, saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Sangat mustahil jika Diska berubah menjadi bodoh hanya dalam kurun waktu lima tahun kan? Kecuali jika Diska jatuh dari pohon dan mengalami pengecilan otak hingga membuat otak Diska menciut secara ilmiah?
Itu bahkan lebih tidak mungkin.
Diska menggangguk,
"Kapan gue pernah boong sama lo, Ga?"
Ucap Diska tanpa menoleh sedikitpun dari mangkuk bakso di hadapannya seraya memakannya dengan lahap.
Naga berdecak dan meremas rambutnya sendiri dengan frustasi. Merasa heran dengan makhluk setengah rubah yang kini tengah memakan bakso level maksimal dengan lahap tanpa merasa bersalah sedikitpun karena telah membuat Pak Fuadin mundur teratur hanya dengan tiga kali pertemuan dengan Diska.
Beberapa detik kemudian,
"Sumpah ini pedes banget, Ben? Lebih pedas dari omongan tetangga. Minum mana minum."
Ucap Diska seraya meraba botol air mineral yang terletak di depan Beni.
"Dis, itu minuman gue?"
Ucap Beni terlambat karena botol air mineralnya terlanjur di ambil bahkan berhasil di tenggak oleh Diska hingga kandas dalam waktu beberapa detik.
"Yah, abis."
Diska meringis seraya menunjukan bahwa botolnya telah kosong dengan sedikit rasa simpati kepada Beni.
Naga menepuk bahu Beni untuk memberi dukungan, "Udah lah, ikhlasin aja. Sabar, Ben? Ini semua cobaan."
Mendengar ucapan Naga yang lebih terdengar seperti ejekan, membuat Beni menoyor kepala Naga dengan tiba tiba.
"Aduh."
Naga memegang kepala bekas toyoran Beni.
__ADS_1
"Gue dosa apaan lagi sih? Perasaan, gue terus yang di salahin?"
"Kagak perlu di tanya, dosa lo banyak."
Jawab Beni singkat, padat dan jelas.
"Udahlah guys, buruan lo pada abisin makanannya? Lima menit lagi kelas Pak Handoko mulai nih?"
Ucap Diska menunjuk jam tangannya.
"Dasar rubah, perasaan yang makan cuma lo aja deh, Dis? Gue sama Beni kan cuma minum doang?"
Naga menunjukkan botol air mineralnya kepada Diska, juga menunjuk botol air Beni yang telah Diska minum.
Diska meringis. Benar juga, dari tadi yang sibuk makan memang hanya Diska.
➡➡➡
Bell berbunyi.
Ulangan Matematika Pak Handoko benar benar membuat Diska pusing hingga tujuh putaran.
Entah Pelajarannya atau gurunya yang memang mengandung banyak aura negathive hingga membuat Diska selalu saja merasa mengantuk tiap kali berada di moment moment seperti ini?
Namun apalah daya, paru paru Diska sedang tidak singkron dengan otak yang membuat Diska tidak bisa mengoptimalkan aliran oksigen untuk di alirkan ke otak yang membuat Diska sesak nafas, hingga tidak bisa berpikir.
Atau mungkin efek kelamaan jomblo juga sangat berpengaruh pada sistem kerja otak Diska yang semakin hari semakin lemot.
Diska menghitung kancing bajunya, dan menemukan jawaban yang sama, yaitu D untuk beberapa pertanyaan yang berbeda.
Selalu saja seperti ini.
Selalu mengandalkan peruntungan untuk menjawab berbagai soal soal Ulangan tanpa repot untuk berpikir.
Apalagi si Budi yang pake acaran ikutan Jalan Sehat di Bandung segala, hingga membuat Diska terpaksa menghitung peluang Budi untuk meraih kemenangannya.
"Awas aja kalo nanti gue ketemu sama Budi, gue dribel dia." Ucap Diska dalam hati.
Merasa geram karena Budi selalu saja muncul dan membuat Diska selalu kerepotan dengan ulahnya yang sering membuat Diska jengkel hingga menimbulkan dendam kusumat yang membara. Membuat Diska harus membuat perhitungan dengan Budi secepatnya.
Waktu dua jam terasa kurang dan bahkan berlalu dengan cepat untuk lima puluh soal ulangan. Bahkan Pak Handoko sudah memberikan komando dengan bengis kepada Sita untuk segera mengumpulkan lembar jawaban semua siswa dan segera membawanya ke ruangan guru.
__ADS_1
Antara iya dan tidak, Diska dengan berat hati terpaksa memberikan kertasnya kepada Sita, dan berharap akan muncul jin baik hati yang akan membantunya menghalangi penglihatan Pak Handoko dalam menilai hasil ulangan hingga Pak Handoko akan membenarkan semua jawaban Diska, dan bahkan berbaik hati untuk memberikan nilai sempurna sebagai gantinya.
Diska tersenyum dalam hati.
Begitu Pak Handoko meninggalkan kelas, Naga segera menoleh ke belakang.
"Gimana, Dis? Sukses?"
Diska memijat keningnya yang mulai terasa pusing.
"Sukses apaan? Gue kalah besar, Ga? Gue bisa dapat nilai empat lima lagi kalo kayak gini?"
"Tuh kan? Makanya, penting untuk lo punya guru les, Dis? Biar lo gak keteteran lagi pas ada ulangan? Lo gak tahu aja sih, Pak Fuadin itu jago banget di ilmu Sains dan Matematika, meski gagapnya bikin ulu hati gue nyeri."
Naga tertawa saat membayangkan suara gagap Pak Fuadin yang mungkin bisa membunuh mayat di game Plants vs Zombie.
"Au ah, gue pusing."
Diska membenamkan wajahnya di atas meja. Malas mendengarkan nasehat Naga yang gak banget tentang Guru Les.
"Oia, gue denger denger, Guru Les pengganti Pak Fuadin bakalan mulai ngajar malam ini?" Ucap Beni seraya memasukan buku Matematikanya ke dalam tas.
Mendengar ini, Diska segera mengangkat kepalanya, dan menatap Beni dengan tatapan tidak percaya. Namun sedetik kemudian Diska kembali membenamkan kepalanya dan dengan lesu menggelengkan kepala. "Oh no, hidup dan kebebasan gue udah tamat. Gue gak mau lihat guru les lain yang menyerupai Pak Fuadin? Atau bahkan lebih buruk dari dia."
"Tenang aja, Dis? Mungkin aja, Guru lo kali ini ganteng dan masih muda? Siapa tahu kalo wajahnya mirip Seo Joon oppa kesayangan lo?"
Beni berusaha meyakinkan Diska agar Diska tidak malas malasan lagi untuk belajar.
"Beni boong, Dis? Jangan percaya.. Mana ada guru les yang masih muda? Orangnya pasti udah tua dan udah berumur? Bahkan bisa jadi kalo Pak Fuadin adalah yang termuda di antara yang lain?"
Naga mencoba untuk memanasi Diska.
"Eh, beruang kutub, bisa gak sih lo jangan ngompor ngomporin Diska?"
Beni mendengus kesal kepada Naga.
"Mending jujur, meskipun itu menyakitkan. Lo gak tahu sih gimana rasanya di bohongi? Rasanya itu sakit banget, Ben? Dan lo tahu gak alasan kenapa gue gak pernah ngaduk pas gue bikin teh?"
Diska menoleh seketika ke arah Naga, "Kenapa?"
"Karena biar terasa pahit di awal tapi manis di akhir, dari pada manis di awal tapi berakhir pahit."
__ADS_1