FIGHTING DISKA #HappyTeens

FIGHTING DISKA #HappyTeens
FD chapter 13


__ADS_3

Bell tanda istirahat telah berbunyi.


Diska, Beni dan Naga berjalan berdampingan menuju kantin, serta memesan tiga mangkuk mie ayam sebelum memilih untuk duduk di salah satu meja dekat jendela.


"Di antara lo berdua, siapa yang mau tanggung jawab buat benerin mobil gue?"


Adalah suara Naga yang meminta kepastian tentang pertanggung jawaban seperti yang Diska katakan pagi ini.


Diska segera mengambil ponsel pada sakunya, serta berpura pura sibuk seolah tidak mendengar suara Naga sama sekali.


Begitu juga dengan Beni, Beni melihat ke jendela seolah tidak mendengar suara Naga.


"Lo berdua kebiasaan. Kalo soal hutang aja pada lupa."


Beni dan Diska meringis.


"Btw, sekarang lo tinggal dimana Ga?"


Tanya Diska pada akhirnya.


"Ada deh, nanti lo baliknya sama gue aja. Sekalian gue bawa lo berdua ke rumah gue? Gimana?"


"Tapi Beni bawa motor, Ga?"


Naga berpikir sebentar.


"Ya udah, nanti gue nyuruh orang rumah buat ngambil motor Beni deh."


Beni dan Diska mengangguk.


"Deal."


"Sumpah, gue gak sabar buat liat rumah mewah lo, Ga?"


Ucap Diska seraya membayangkan berbagai design rumah mewah yang mulai berseliweran di benaknya.


"Rumah gue biasa banget, Dis."


"Jangan merendah dong, Ga? Gue tahu kalo bokap lo itu kan juragan kelapa sawit. So, gak perlu di tanya lagi tentang kemewahan hunian yang lo sama keluarga lo tempati."


"Seriusan, ini gak seperti yang lo pikirin."


Naga tetap menyanggah ucapan Diska.


"Udah lah, gak perlu debat tentang masalah yang gak penting kayak gini."


Beni berucap dengan mode bijak gas pol.


Naga dan Diska mengangguk.


"Biar gue tebak ya? Lo pasti sengaja sekolah di sini karena lo tahu kalo kita sekolah di sini kan?"


Ucap Beni seraya mengaduk mie ayam yang baru saja ibu kantin antarkan.


"Songong lo, enak aja lo bilang gue ngikutin lo berdua. Kalo gue tahu lo sekolah di sini, gue juga males masuk SMA Pelita."


Ucap Naga seraya memakan mie ayamnya.


"Yakin?"


"Sumpah demi apa, gue yakin Ben"


"Udahlah, mungkin aja kalo semua ini emang cuma kebetulan, Ben. Jangan berprasangka buruk sama Naga dong?"


Ucap Diska sebagai penengah.


Naga mengangguk.


"Dengerin tuh omongan Diska. Gue cuma gak nyangka bakalan ketemu lo berdua di IPS 3? Lo berdua sengaja ngambil kelas yang sama?"


"Gak, noh Diska di usir dari IPA 3 gara gara dapat empat enam pas ulangan, jadi bareng sama gue deh di IPS 3."


"Apa?? Dapat empat enam? Seriusan? Parah lo Dis."


Ucap Naga seraya menggelengkan kepalanya turut prihatin dengan nasib Diska.

__ADS_1


"Ben, lo jangan sembarangan buka aib gue dong? Malu gue... Mau di taruh dimana coba wajah cantik gue?"


"Alah, gak usah lebay lo? Emang nyatanya gitu kan?"


"Beniii... Lo gue end."


Ucap Diska memperagakan adegan memotong lehernya sendiri.


"Idih, najis."


"Stop it. Kalian berdua itu gak pernah berubah, masih aja kayak Tom Jerry."


Naga mencoba menengahi, namun sedetik kemudian ekspresi Naga berubah menjadi lembut dalam sekejap.


"Jujur ya Dis, lama gak lihat lo, sekarang lo jadi tambah cantik."


Diska tersenyum mendengar pujian Naga.


"Gue sih emang udah cantik dari sononya."


"Tapi gue serius, Dis? Pacaran aja yuk sama gue?"


"Pacaran sama lo?"


Naga mengangguk.


"Iya."


"Ih, males.. Mending gue pacaran sama Beni. Iya gak Ben?"


Ucap Diska enteng seraya menoleh ke arah Beni.


Beni hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan random dan gak jelas kedua orang ini. Beni tetap sibuk memakan mie ayamnya dengan lahap dan sama sekali tidak memperdulikan celotehan konyol Diska dan Naga.


"Pokoknya lo gak boleh sama Beni."


Diska mengangkat sebelah alisnya.


"Emang kenapa?"


"Beni itu buaya muara, Dis. Ntar lo bisa sakit hati karena di kibulin mulu."


"Seriusan, gue bukan buaya Dis. Gue masih kadal dan belum naik pangkat jadi buaya. Yang buaya resmi noh si Beni."


Diska menoyor kepala Naga.


"Dasar peak lo. Kalo buaya sih buaya aja, gak usah ngajak ngajak Beni."


Naga hanya meringis mendapat toyoran dari Diska.


"Udah ah, lo berdua pada berisik. Buruan lo berdua abisin mie ayamnya, sepuluh menit lagi masuk kelas nih."


Ucap Beni seraya melihat jam tangannya.


➡➡⬅⬅


Sesuai kesepakatan, Beni dan Diska pulang bersama dengan menaiki mobil Naga.


Diska yang sudah penasaran setengah mati ingin tahu seperti apa bentuk rumah baru Naga. Diska bahkan sudah membayangkan banyak rumah mewah di benaknya, dan mungkin salah satu dari khayalannya adalah rumah baru Naga saat ini.


Bagaimanapun, pengusaha kelapa sawit pasti memiliki rumah mewah dan megah dengan tiga atau lima lantai berdesign classic ala ala kerajaan Eropa.


Kira kira seperti itulah yang Diska pikirkan.


Diska berharap jika khayalannya terbukti akurat, sehingga Diska bisa memasuki rumah mewah Naga dengan bebas dan bahkan menganggapnya seperti rumahnya sendiri.


He he he..


Diska terkekeh dalam hati.


Mobil Naga mulai memasuki jalanan dengan perumahan yang berderet di sebelah kanan dan kiri jalan.


Diska melebarkan mata saat melihat kompleks perumahan yang sangat Diska kenal.


"Ga, lo mau bawa kita ke rumah lo kan?"

__ADS_1


Tanya Diska memecah kesunyian di dalam mobil


"Iya lah, kan gue udah janji mau bawa lo ke rumah gue."


Mendengar jawaban Naga, Diska sontak mengalihkan pandangannya kepada Beni yang sedang memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya dengan santai.


"Ben, lo punya firasat buruk gak tentang ini?"


"Firasat gue bilang, kalo ini gak benar, Dis."


Jawab Beni yang masih tetap memejamkan mata tanpa berniat untuk membukanya.


Mendengar ini, Diska segera menelan ludah.


Jalanan ini..


Kompleks ini..


Perumahan ini..


Semua terlihat tidak asing lagi..


Khayalan Diska tentang rumah mewah Naga, runtuh seketika saat ada badai yang tiba tiba lewat tanpa permisi.


Kemudian Naga menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah bercat grey bernomor dua belas.


Naga segera keluar dari mobil, di ikuti oleh Diska dan terakhir Beni.


"Welcome to my house."


Ucap Naga dengan semangat empat lima menyambut Beni dan Diska yang sesaat kemudian segera masuk ke rumahnya.


Krik.. krik.. krik...


Sepuluh detik..


Tiga puluh detik..


Lima puluh detik..


Dua menit..


Diska terkejut sampai titik dimana Diska melongo kayak orang beg*.


"Gue kan udah bilang sebelumnya, Dis? Kalau ini gak seperti ekspetasi lo."


Ucap Beni santai seraya menepuk pundak Diska sebagai bentuk pemberian semangat dan segera berlalu menyusul Naga, meninggalkan Diska yang masih membatu tidak bergerak.


Diska mengerjapkan matanya berkali kali. Berharap jika penglihatan Diska memang bermasalah. Tapi, semakin di perhatikan semakin meyakinkan Diska jika ini memang nyata.


Diska mulai mengawasi sekeliling.


Yang tampak adalah deretan perumahan dua lantai, yang berjejer rapi dan juga perumahan yang sangat Diska kenali.


Diska menghela nafas panjang.


Jika tahu seperti ini, Diska tidak akan pernah menyetujui ucapan absurd Naga tentang rumahnya.


Diska bahkan mulai menyesali keputusannya saat ini untuk mengikuti Naga hanya untuk melihat rumah mewah Naga, jika nyatanya...


Rumah Naga adalah..


Rumah yang terletak persis di samping rumah Diska.


OMG... HELLOW..


Mimpi apa Diska semalam??


Diska menepuk jidatnya sendiri dan merasa sangat depresi.


Kenapa Diska mulai merasa jika kesialan terus saja terjadi selama beberapa hari terakhir?


Bagaimana bisa???


Unit sepuluh, sebelas dan dua belas masing masing di tempati oleh Beni, Diska dan Naga.

__ADS_1


Tapi itu lima tahun yang lalu.


Siapa sangka jika ternyata Naga menempati rumah itu lagi sekarang.


__ADS_2