
Tiga hari kemudian..
Tin.. Tin..
Suara klakson mobil Naga membuat Diska beranjak dari duduknya.
"Diska berangkat dulu ya, Ma Pa." Ucap Diska mencium tangan Mama dan Papa.
"Iya, ati ati, belajar yang benar. Jangan main terus."
"Siap Ma Pa. Assalamualaikum."
"Walaikumsallam."
Diska melangkah pergi dan tersenyum saat mendapati mobil Naga sudah berada di depan pagar rumahnya. Diska mendekat dan segera masuk ke dalam mobil.
"Pagi guys."
Beni tengah sibuk bermain game dengan ponselnya dan duduk di belakang, sementara Naga duduk di balik kemudi seraya mendengarkan musik dari earphonenya.
Diska menggelengkan kepala melihat ini, pemandangan yang sama di setiap paginya.
"Sialan, gue di kacangin."
Ucap Diska pada dirinya sendiri.
Mendapati Diska sudah masuk ke dalam mobil, Naga segera melepas earphonenya dan melajukan mobilnya menuju SMA PELITA.
"Lo kenapa Dis?"
Diska menoleh ke arah Naga yang duduk di sebelahnya.
Diska menggeleng.
Beni segera menghentikan permainannya, dan menoleh ke arah Diska.
"Marah? Gara gara di kacangin?"
__ADS_1
Diska kembali menggeleng.
"Terus kenapa?"
Diska menghela nafas panjang.
"Gue sedih banget guys?"
"Mulai deh dramanya, males ah gue dengerinnya." Ucap Beni hendak memasang earphone di telinganya.
"Pak Hexa gak mau ngajar gue lagi."
Mendengar ini, Beni tidak lagi melanjutkan untuk memasang earphone, dan sebagai gantinya justru memasukan ponselnya ke dalam saku celananya."Seriusan?"
Diska menganggukan kepala.
Beberapa detik kemudian, Beni dan Naga tertawa terpingkal pingkal.
"Omongan gue bener kan? Lo gak percaya sama omongan gue sih, Ga?" Ucap Beni.
Hah?? Diska terkejut.. maksudnya apa ini?
"Iya.. iya.. gue baru sadar kalo ternyata omongan lo gak selalu omong kosong." Ucap Naga masih dengan tawa jahatnya.
Diska semakin terpojok.
"Pak Hexa gak mungkin datang lagi, trauma dia sama si Diska." Ucap Beni.
"WTF? Jadi maksud lo Pak Hexa gak mau ngajar gue lagi karena trauma sama gue? Emang gue salah apa si Ga?" Diska menarik narik lengan seragam yang Naga kenakan.
"Lo beneran gak tau apa salah lo?" Naga menggelengkan kepala, "Lo itu kecentilan, Dis?? Emang lo kagak nyadar kalo sikap kecentilan lo udah buat Pak Hexa ketakutan dan malas berurusan dengan tipe cewek kayak lo lebih jauh?"
➡➡➡
Diska meninggalkan Beni dan Naga yang masih sibuk di parkiran. Entah apa yang mereka lakukan, Diska tidak lagi peduli.
Diska bergegas masuk kedalam kelasnya, kelas IPS lebih tepatnya. Diska mengawasi sekeliling, kelas yang sama sekali tidak Diska inginkan sekarang justru menjadi kelasnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian bell tanda akan di mulainya pelajaran mulai terdengar. Diska duduk dengan patuh di kursinya, merasa gugup untuk menunggu hasil ulangan kemarin yang akan di umumkan hari ini.
Diska menelan ludah berkali kali, merasa jika masa hidupnya hampir berakhir.
Pak Handoko segera memasuki kelas, dengan Naga dan Beni yang mengikuti di belakang Pak Handoko. Beni menepuk bahu Diska sebelum duduk di kursinya, Diska menoleh dan kemudian mengangguk.
Beni yang telah melihat wajah frustasi Diska sejak berangkat ke sekolah pagi ini, memang sengaja memberikan semangat empat lima untuk Diska.
Sampai tiba Pak Handoko membagikan hasil ulangan Matematika beberapa hari lalu dengan menyebut nama murid satu persatu untuk maju mengambil hasil ulangan mereka sendiri.
Sampai tiba giliran nama Diska yang di panggil. Diska berdiri, berjalan gontai ke arah Pak Handoko.
Pak Handoko meneliti penampilan Diska dari atas ke bawah sebelum akhirnya menggelengkan kepala namun tidak mengatakan apapun. Pak Handoko mengulurkan lembar hasil ulangan Diska yang bertuliskan angka empat yang besar dengan tinta berwarna merah.
Diska tidak terkejut lagi mendapatkan ini. Semua sesuai ekspetasi Diska. Bahkan ini masih mending, sedikit lebih baik dari pada tebakan Diska. Setidaknya dalam bayangan Diska, Diska hanya akan mendapat nilai tiga atau tiga setengah.
Diska kembali duduk ke kursinya dengan lesu. Diska mulai memikirkan berbagai macam cara paling aman yang bisa di gunakan untuk memberitahukan ini kepada orang tuanya.
Diska memegang kepalanya yang mulai berdenyut nyeri. Rasa sakit mulai menjalar di seluruh otaknya. Diska mengambil obat sakit kepada dari tasnya dan segera memasukan obat itu ke dalam sakunya dengan cepat, takut Beni akan melihat ini dan membuat Beni menjadi khawatir.
Diska mengangkat tangan, "Pak, saya izin ke UKS," belum sampai Diska mendapatkan izin, Diska sudah berlalu begitu saja.
Diska hanya sedang bingung sekarang.
Nilai yang gagal yang adalah ketakutan tersendiri untuk Diska. Bukan takut karena omelan Papa, tapi takut akan mempengatuhi kesehatan Papa.
Jika memikirkan ini, Diska menjadi dilema.
Bingung sampai titik dimana Diska tidak lagi bisa berpikir untuk mencari jalan keluar.
Diska tiba di UKS, Diska mengambil obat sakit kepala di sakunya, mengambil air mineral di nakas, dan kemudian meminum obat itu dengan sangat cepat. Setelah itu Diska segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan kemudian menyelimuti tubuhnya.
Diska melihat langit langit UKS, dan meneteskan beberapa tetes air mata. Diska menangis tanpa suara. Merasakan rasa sakit itu kembali. Sakit yang sama setiap kali Diska memikirkan masa depannya yang samar.
Diska terlalu bodoh untuk sekedar mendapatkan masa depan yang baik. Pekerjaan yang layak, gaji yang layak, semua terasa sangat jauh untuk di capai. Bahkan dengan nilai yang selalu Diska dapatkan, Diska juga tidak yakin akan bisa melanjutkan sekolah sampai Universitas.
Diska menggigit bibirnya sendiri, menahan agar suara tangisan tidak terdengar.
__ADS_1
Suasana hening sangat tepat untuk mendominasi perasaan Diska yang mulai bergerilya kemana mana.