
"Bukan, gue masih Mahasiswa semester tiga." Jawab Hexa seraya memakai kacamata beningnya.
Waow, Mahasiswa? Muda, tampan, pintar, plus introvert adalah tipe pacar idaman yang selama ini Diska tunggu.
Mata Diska berbinar dan Diska tersenyum dalam hati. Merasa jika status jomblo akut akan segera menemui akhirnya jika Diska berhasil menjadikan Hexa sebagai kekasih hati. Harus bisa.
"Bapak masih jomblo?"
Tanya Diska dengan seribu persen keseriusan.
"Out of topic, itu privasi."
Yah.. Diska berubah menjadi lesu dalam seketika. Pupus sudah harapan untuk bersanding dengan Hexa. Eits.. Tapi tunggu dulu, ini masih samar, bukan jaminan Hexa sudah punya pacar kan? Masih ada harapan.
"Ya udah Bapak bisa mulai bimbingannya."
"Baiklah, untuk soal pertama.. Gue akan memberikan pelajaran dasar dulu sebagai perkenalan. Jadi tolong sebutkan empat benda yang bisa di cairkan?"
Hah? Diska terkejut mendengar pertanyaan ini. Yang benar saja? Empat benda yang bisa di cairkan? Itu bahkan pertanyaan paling mudah yang pernah di tanyakan kepada Diska.
"Jadi maksud Bapak adalah empat benda yang bisa di cairkan gitu Pak?"
Tanya Diska mencoba untuk memastikan bahwa pertanyaan Hexa memang itu.
Hexa mengangguk.
"Iya, ayo Diska coba sebutkan?"
"Ehm," Diska berdehem.
"Okey, jadi empat benda yang bisa di cairkan adalah.. pertama, Sertifikat Rumah. Kedua, BPKB kendaraan. Ketiga, Perhiasan. Dan yang terakhir adalah CINTA DISKA KE PAK HEXA.. Cieee..."
Jawab Diska malu malu.
Mendengar jawaban gila Diska, membuat Beni, Naga dan juga Hexa segera berlari ke kamar mandi dengan memegang perutnya.
Diska tertegun melihat ini. Apa yang salah dengan jawaban itu?
Diska segera menggaruk rambutnya, merasa jika jawabannya tidak salah sama sekali, namun ada apa dengan mereka?
Diska hanya mengangkat bahu, dan mengacuhkannya.
Beberapa menit kemudian.
Beni, Naga dan Hexa kembali ke ruang tamu dengan wajah pucat.
"Ya ampun, kalian kenapa? Sakit?"
Tanya Diska khawatir melihat wajah pucat ketiga pria di hadapannya.
Mereka bertiga menggelengkan kepala.
Diska menghembuskan nafas lega.
"Syukur deh kalo kalian gak kenapa napa, gue khawatir soalnya? Wajah kalian pucat gitu?" Diska menunjuk wajah Beni, Naga dan juga Hexa.
"Gak apa apa kok."
__ADS_1
Jawab mereka bertiga bersamaan.
Beni dan Naga segera duduk kembali di samping kanan juga di samping kiri Diska. Juga Hexa yang kini duduk di hadapan Diska.
"Gila, jawaban ngaco dari mana itu?"
Tanya Beni pada akhirnya.
"Ngaco apaan sih Ben? Lo aja yang gak gaul." Jawab Diska enteng.
"Dis, gak usah bawa bawa gaul di sini? Di Sains semuanya itu di kerjakan secara realistis. Gak bisa ngambil kesimpulan sendiri, seenggaknya jawabannya melenceng dikit dan gak ngawur total kayak jawaban lo."
"Iya, Dis? Kali ini gue setuju sama Beni." Naga menambahkan. "Jawaban lo itu parah banget salahnya. Benar benar Nol Poin. Lo tahu kan kalo Sains itu pake penelitian berbasis ilmu pengetahuan? Sains itu bukan pelajaran Bahasa yang bisa nyari kata sesuai isi hati, Dis? Sejauh ini paham??"
Diska berpikir sejenak.
"Masa sih? Emang jawaban gue salah, Pak."
Diska menoleh ke arah Hexa untuk meminta penjelasan.
"Tidak."
Jawab Hexa singkat.
"Tuh kan? Apa gue bil..."
"Tapi salah besar, Diska."
Ucap Hexa melanjutkan dengan nada tinggi. Hexa benar benar heran dengan gadis ajaib yang satu ini, kenapa ada gadis absurd seperti Diska di dunia ini?? Dunia sungguh kejam.
Diska meringis, "Padahal gue pikir itu yang paling bener."
➡➡➡
Tidak terasa dua jam hampir usai.
"Pak, Bapak tahu palung Mariana gak?"
Pertanyaan Diska memecah kesunyian.
"Tahu, memangnya kenapa? "
Ucap Hexa yang seketika menoleh ke arah Diska.
Sementara Naga dan Beni juga turut memperhatikan raut wajah serius Diska dan tersenyum mendapati ini. Pertanda baik jika Diska mulai bertaubat sekarang.
"Syukur deh, kalo sekarang Diska jadi lebih serius dikit soal pengetahuan." Ucap Naga kepada Beni dengan penuh kelegaan.
Beni menggelengkan kepalanya.
"Lo yakin?"
Naga mengangguk.
"Yakin gue, kalo Diska udah mulai membuka otaknya untuk menerima pelajaran."
"Mau taruhan lagi?"
__ADS_1
"Males."
Kini bukan hanya Hexa yang memandangi Diska dengan intens, tapi Naga dan Beni juga turut mengawasi Diska lekat seraya menunggu kalimat selanjutnya yang akan Diska ucapkan. Semua menunggu dengan was was dan juga dengan antisipasi penuh untuk menghalau segala kemungkinan terburuknya.
"Jadi..."
"Jadi? Buruan Dis?"
Naga mendesak Diska agar segera melanjutkan kalimatnya.
"Apaan sih, Ga? Lo asal potong aja, gue juga mau ngomong ini." Ucap Diska kesal.
Naga meringis. "Ya maaf, abisnya lo lama sih?"
"Okey, gue lanjutin ya?"
Mereka bertiga mengangguk.
"Jadi palung Mariana itu adalah bagian paling dalam yang berada di Bumi. Di dasar palung Mariana terdapat lubang Hidrolermal yang mengeluarkan zat asam dengan suhu mencapai tiga ratus derajat celcius. Dan kedalaman palung Mariana ini mencapai 35.789 kaki, atau setara dengan DALAMNYA CINTA GUE KE LO Pak Hexa."
Mereka bertiga mengelus dada mendengar ini. Bagaimanapun ini adalah DISKA AND THEORY OF BUCIN. Dan ini juga merupakan gombalan Diska yang ke tiga puluh dua kali di semenjak bimbingan belajar di mulai. Hingga membuat Naga, Beni dan Hexa menjadi kebal dan sudah membiasakan diri dengan bucinan Diska.
Anggaplah jika Diska tidak pernah mengucapkan apapun. Hexa hanya berharap semoga dua jam akan segera berakhir.
Namun, siapa sangka jika menunggu selama dua jam bersama seorang gadis absurd ternyata sangatlah lama? Hm.. Hexa hanya menghela nafas panjang dan mencoba untuk bersabar sebentar lagi.
Dua jam akhirnya berlalu.
Tanpa menunggu aba aba, Hexa segera mengemasi barang barangnya dan segera meninggalkan rumah Diska secepat kilat.
Diska, Beni dan Naga mengantar sampai pintu.
Sejujurnya Diska sangat membenci ini. Kenapa waktu dua jam terasa seperti dua menit?? Oh.. Tidak.. Maksudnya terasa seperti dua detik??
"Menurut lo, Pak Hexa bakal datang lagi gak?" Suara Naga memecahkan lamunan Diska.
Diska menoleh ke arah Naga.
"Pasti dong? Secara ngajarin gue bimbel itu kayak oasis di tengah padang pasir.. Cuileh.." Diska tersenyum.
Naga bergidig ngeri.
"Cuih, kagak sudi. Kalo gue di suruh milih, mending gue ngajarin si Blacky akrobat dari pada ngajarin lo bimbel. Pinter kagak emosi iya."
Diska berpikir sebentar, Blacky??
"Eh eh eh, maksud lo Blacky adik kecil lo itu?" Tanya Diska dengan blo*n mode on.
"Gila lo? Noh anjing tetangga, yang galaknya melebihi Bu. RT." Naga menunjuk rumah Unit lima belas.
"Oh, pantesan kayak pernah kenal? Ternyata si Blacky itu? Mantan pemuja rahasia gue?"
Pemuja rahasia? Beni menoleh ke arah Diska seketika. "Maksud lo?"
"Iya, dia sering ngejar ngejar gue gitu? Terus apa coba kalo bukan fans?"
Mendengar ini, Naga dan Beni tertawa cekikikan.
__ADS_1
"Eh kutu kupret, itu sih namanya bukan ngefans, tapi emang tuh si Blacky enek lihat kecentilan lo yang naudzubilah, tobat gue.. tobat."