FIGHTING DISKA #HappyTeens

FIGHTING DISKA #HappyTeens
FD chapter 10


__ADS_3

Malam hari di rumah Diska.


Diska tengah bermalas malasan dengan ponselnya. Membuka media sosial, namun tidak menemukan hal menarik apapun, membuat Diska memutuskan untuk melihat lihat drama Turki terbaru melalui ponselnya.


Sesaat kemudian, Diska menemukan Drama Turki berjudul Love Trap bergenre Comedy Romantic yang diperankan oleh Caglar Ertugrul, Burcu Ozberk, Benian Donmes, Ozan Dagges serta Altan Erkekli.


"Pasti seru."


Ucap Diska seraya mulai mendownload dari episode satu sampai sepuluh. Karena ini sampai episode ke empat puluh, membuat Diska lebih memilih untuk mendownloadnya sedikit demi sedikit secara berkala.


Setelah berhasil mendownload lima episode, Diska mulai menonton dengan asyik, hingga tanpa sadar Beni sudah tiba di rumahnya.


Beni datang pukul sepuluh malam tepat.


Seperti biasa, Beni membawa laptop juga buku cetak tebal sebagai materi untuk pembelajaran Diska selanjutnya.


Ada buku Matematika, Fisika dan buku Sejarah yang membuat Diska hanya meliriknya sekilas kemudian berpura pura tidak melihatnya.


"Dis, lo mau belajar Fisika, Matematika atau Sejarah dulu?? Gue udah bawa buku cetaknya, nanti kalau ada yang masih kurang, kita bisa browsing dan belajar online biar lo gak bingung lagi."


Beni bertanya setelah dua puluh detik tiba di rumah Diska.


Namun, yang di tanya masih tetap diam dan justru terlihat semakin fokus melihat layar ponselnya.


Pada dasarnya, Diska juga sangat menyadari jika sejak awal memang Diska yang telah meminta Beni secara pribadi untuk datang ke rumah setiap malam untuk memberinya Les Private tentang mata pelajaran yang akan di bahas keesokan harinya di Sekolah.


Namun, kenapa sekarang Diska justru mulai menyesali keputusan ini?


Keputusan paling membosankan yang telah membuat Diska tidak lagi bisa menikmati kebebasan untuk menonton drama Korea dan drama Turki kesukaannya.


Hufftt... Diska menghembuskan nafas panjang.


"Bentaran, Ben. Nanggung ini. Baru setengah episode, udah di download juga, kan sayang paket datanya. Jadi mubadzir entar."


Diska tetap tidak bergeming dari layar ponselnya.


"Dis, lo pikir gue gak tahu kalo lo downloadnya pake Wifi, bukan pake paket data? Hah??"


"Oh ya??"


Beni mengangguk.


"Jadi, lo ngeremehin kemampuan cenayang gue??


"Ngeremehin apa sih Ben? Bukannya gimana nih, tapi maaf aja ya, gue tahu persis kalo silsilah keluarga lo gak pernah ada yang punya kemampuan sebagai cenayang. Jadi bisa di simpulkan bahwa hanya untuk menebak ini gak perlu menggunakan RA-MA-LAN sama sekali, okey? Dan satu hal lagi, lo tahu persis gue orangnya kayak gimana kan?"


Beni menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga, mimpi apa gue semalem?"


"Mimpi ketemu sama gue kali??"

__ADS_1


"Berisik lo."


"Sabar napa sih Ben? Lo gak tahu sih, kalo orang sabar itu jidatnya lebar."


"DISKKAAA..."


"Iya iya, maaf. Maksud gue itu kalo orang sabar itu di sayang pacar."


"DISSKKAAA.."


"Iya iya, lidah gue kepeleset, Ben. Gue jadi salah ngomong. Maksud gue adalah kalo orang sabar itu di sayang Tuhan. Jadi kalo lo mau di sayang sama Tuhan, lo harus sayang sama gue."


"Jadi menurut lo, selama ini gue masih kurang sayang sama lo?"


Diska mengangguk.


"Gue tanya deh, definisi SAYANG menurut lo itu kayak gimana sih?"


"Menurut gue ya?"


Diska berpikir sebentar.


"Menurut gue sih, lo harus biarin gue nonton Love Trap dulu kali ini."


"Ya udah, okey okey, gue kalah. Setengah episode berarti sekitar setengah jam, dan ini baru pukul sepuluh malam, berarti kita akan mulai pukul setengah sebelah pas. Titik. Gak bisa di tawar lagi."


"Deal. Gue setuju."


Lima menit.


Setengah jam kemudian.


"Buruan, Dis. Udah jam setengah sebelas ini." Ucap Beni seraya menunjuk jam tangannya dengan penuh kegelisahan.


"Gue juga tahu kali, Ben? Gak perlu lo ngomong juga."


"Entar keburu malam, Dis."


"Itu salah lo yang datangnya emang kemalaman, Beni."


"Ayo dong kita mulai proses belajarnya, kalo kemalaman gue gak berani pulang, Dis."


Beni berusaha untuk meyakinkan Diska agar segera memulai proses pembelajarannya tanpa menunda dengan alasan apapun lagi.


Namun jangan pernah panggil dengan nama Diska, kalau Diska akan mendengarkan ucapan Beni.


"Please deh, pintu rumah lo aja kelihatan dari sini, Ben? Entar kalo lo gak berani pulang, gue janji bakalan anter lo sampai depan pintu rumah gue, terus kita bakal teriak bareng biar Mang Dadang bukain gerbang, terus lo masuk rumah deh, gampang kan?"


"Tapi, Dis..."


"Gak ada tapi tapian lagi. Sekarang kalo lo udah ngerti, gue nonton dulu, entar kalo gue udah selesai nonton pasti langsung kita mulai, okey?"

__ADS_1


Diska mengedipkan sebelah matanya.


Mendapat kedipan mata iblis dari Diska, justru membuat Beni semakin merinding.


Beni menghela nafas panjang.


Bagaimanapun yang namanya batu memang susah untuk di remukkan. Beni hanya berakhir dengan memgiyakan permintaan Diska dan mengalah tanpa banyak bicara.


Tanpa sadar, Beni mulai memejamkan mata dan tertidur.


Setengah jam kemudian.


"Dis, lo udah selesai nontonnya? Udah jam sebelas nih."


Ucap Beni seraya membuka matanya yang terasa berat untuk di buka.


"Bentaran doang, dikit lagi."


"Okey, entar lo bangunin gue aja kalo lo udahan nontonnya. Gue mau tidur lagi. Ngantuk gue."


Ucap Beni seraya menguap dan kemudian menutup matanya lagi.


Beni memang sangat malas untuk berdebat dengan cewek gila yang berada di sampingnya saat ini. Percuma, karena cewek akan selalu benar dengan pemikirannya sendiri.


"Siap boskuh.."


Ucap Diska seraya memberi penghormatan kepada Beni.


Beni kembali memejamkan mata dan tiba di alam mimpinya.


Diska selesai menonton satu jam kemudian, Diska terkejut saat melihat jam tangannya yang menunjukan waktu tengah malam.


Diska menepuk jidatnya sendiri.


"Mampus gue. Gue malah keasyikan nonton sampai gak belajar lagi."


Diska menoleh ke samping, dan melihat Beni yang sudah tergeletak tidak berdaya dengan posisi duduk.


Diska ragu untuk membangunkan Beni. Diska sungguh tidak tega untuk membangunkan Beni dan menyuruhnya pulang di waktu tengah malam seperti ini, di tambah Beni juga tertidur sangat pulas.


Setelah berdebat dengan hati kecilnya, Diska memutuskan untuk membiarkan Beni untuk tidur di sofa malam ini.


Diska segera naik ke lantai atas dan mengambil sebuah bantal dan selimut. Kemudian turun kembali ke lantai bawah .


Diska membenarkan posisi tidur Beni yang semula duduk menjadi terlentang di sofa.


Diska tersenyum saat melihat kenyataan bahwa sofa ternyata tidak sesuai dengan postur tinggi Beni yang membuat kaki Beni menjadi mengambang di udara.


Diska meletakan bantal di kepala Beni dan kemudian menyelimuti tubuh Beni hingga mencapai batas leher.


Tidak lupa, Diska juga menelepon ke rumah Beni dan mengatakan jika Beni tidak sengaja tertidur di sini saat menemani Diska belajar.

__ADS_1


Diska tersenyum setelah mengakhiri panggilannya.


"Beres deh.. dan satu masalah sudah selesai."


__ADS_2