FIGHTING DISKA #HappyTeens

FIGHTING DISKA #HappyTeens
FD chapter 12


__ADS_3

Happy reading..


➡➡➡➡


Meskipun Beni telah menabrak mobil lain, tapi tidak terlihat raut panik apapun dari Diska ataupun Beni. Keduanya hanya menunjukan sikap yang tenang, tenang dan juga santai.


Diska menepuk pundak Beni.


"Udah, lo tunggu sini aja. Biar gue yang turun tangan."


Setelah mengucapkan ini, Diska segera turun dari motor Beni, dan segera menghampiri mobil merah yang telah Beni penyokkan.


Diska mengetuk kaca mobil, sebagai niat baik untuk bertanggung jawab atas perbuatan Beni.


Si pengemudi membuka kaca mobilnya.


"Maaf sebelumnya, saya sangat menyesal atas insiden ini. Saya berjanji akan bertanggung jawab dan saya juga tidak akan kabur. Tapi, mungkin waktunya tidak sekarang. Soalnya saya sudah telat banget. Saya boleh pinjam ponselnya?"


Ucap Diska sopan.


Si pengemudi segera memberikan ponselnya kepada Diska. Tanpa menunggu lagi, Diska segera mengutak atik ponsel itu sebentar. Dan sesaat kemudian ponselnya sendiri berdering.


"Maaf, ini sudah terhubung dengan ponsel saya, nanti masnya bisa hubungi nomor ponsel saya yang sudah saya masukan ke kontak mas. Nama saya Diska. Kalau begitu, kita selesaikan nanti setelah saya pulang Sekolah."


Diska segera mengembalikan ponsel kepada si pengemudi, segera naik ke motor Beni dan meninggalkan tempat itu dengan sangat cepat.


➡➡➡


Di Sekolah.


"Yah, sial. Gerbangnya udah di tutup. Gimana dong, Ben?"


Ucap Diska seraya turun dari motor dan mulai meraung frustasi.


"Gampang, tinggal manjat aja."


Ucap Beni seraya menunjuk pagar yang biasa anak anak gunakan di saat saat darurat seperti ini.


"Lo gila? Lo nyuruh gue buat manjat pagar yang tingginya gak ketulungan itu?"


Beni mengangguk.


"Iyalah, atau lo mau berdiri di sini sampai Pak Andra datang?"


Diska menggelengkan kepala.


"Ya udah, lets go."


Ajak Beni seraya berlalu dan segera mengambil tangga dari warung depan sekolah yang biasa menjadi tempat tongkrongan anak anak yang demen kabur.


Setelah tangga terpasang dengan sempurna, Beni mempersilahkan Diska untuk memanjat terlebih dahulu.


"Gue takut, Ben. Ini tinggi banget."


"Gak usah takut, gue pegangin tangganya."


"Harus banget manjat, gitu? Gak ada pilihan lain?"


"Ada sih."


"Apa?"


"Di hukum Pak Andra."


Ucap Beni cengengesan.


"Beni..."

__ADS_1


"Udah, gak usah kebanyakan ngomong, buruan manjat."


"Awas ya, kalo lo berani ngintip."


"Suer, gue tertarik sama sekali buat ngintip ngintip kayak orang mesum."


"Ya udah, lo pegangin yang bener."


Diska mulai memanjat tangga, mengintip dan menyatakan jika kondisi saat ini cukup aman. Tidak ada Pak Andra atau siapapun yang tengah berkeliling.


"Aman, Ben."


Melihat kondisi yang stabil, Diska segera melompat. Di ikuti Beni yang juga ikut melompat.


➡➡➡


Diska dan Beni mengendap endap untuk sampai di kelas IPS.


Berjalan selama lima menit terasa seperti lima tahun untuk orang yang tengah ketakutan atas kesalahan yang mereka perbuat sendiri.


Senakal nakalnya Diska, Diska tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Jadi sangat wajar jika Diska sangat was was, takut jika Pak Andra muncul secara tiba tiba.


Diska menghembuskan nafas lega saat melihat kelas IPS sudah terlihat pada jarak lima meter dari tempatnya berada sekarang.


Diska dan Beni mulai merapikan seragam mereka yang sedikit acak acakan akibat dari lompatan ke semak semak yang mereka lakukan. Dan mulai berjalan seperti biasa menuju kelas.


Untung Pak Afandi belum muncul di kelas untuk memulai pelajaran Sejarah di hari ini pada jam pertama.


Sangat beruntung.


Beni segera duduk dan di ikuti oleh Diska yang juga segera duduk di sebelahnya.


"Motor lo gimana dong?"


Adalah suara pertama Diska setelah merasa lega meski ada sedikit perasaan bersalah karena telah melanggar aturan sekolah.


"Aman, udah gue titipin ke Mang Ozi di warung depan."


Beberapa menit kemudian Pak Afandi masuk ke dalam kelas dan di ikuti oleh seorang pria yang sepertinya adalah...


Diska melebarkan mata saat melihat sosok yang kini berdiri dengan Pak Afandi di depan kelas.


"Cowok itu?"


Ucap Diska terkejut setengah mati. Merasa jika dunia memang sangat sempit bahkan tidak selebar daun kelor.


"Apaan sih Dis? Lo kenal?"


Ucap Beni santai seraya mengeluarkan buku Sejarah dari dalam tasnya.


"Ben, seriusan itu cowok yang tadi pagi lo tabrak."


Beni terkejut dan segera menoleh ke arah Diska.


"Masa sih?"


Kemudian Beni segera mengalihkan pandangannya dari Diska dan mulai mengawasi sosok yang berdiri di samping Pak Afandi dan mengamatinya lekat lekat.


"Sumpah demi laba laba hanyut, gue yakin seratus persen kalo dia orang yang sama yang lo tabrak tadi pagi."


"Lo yakin?"


"Gue yakin kalo mata gue masih sangat normal dan gak bermasalah sama sekali."


Ucap Diska yakin.


"Anak anak yang budiman, sebelum saya memulai pelajaran kesayangan kita semua, saya membawa teman baru untuk kalian. Ayo silahkan perkenalkan diri."

__ADS_1


Ucap Pak Afandi memberi izin untuk murid baru agar memperkenalkan dirinya.


"Hallo guys, gue Davino Sinaga. Gue murid pindahan dari Singapura. Salam kenal."


Davino Sinaga??


Diska dan Beni saling berpandangan selama beberapa detik.


"Dis, firasat gue bilang kalau ini pertanda buruk."


Diska mengangguk.


"Gue percaya sama firasat lo, Ben. Karena firasat lo gak pernah salah."


"Kita harus ngapain sekarang?"


"Sembunyi dan pura pura gak kenal."


"Okey."


Beni dan Diska mulai sibuk membuka buku dan berpura pura sibuk dengan membaca materi Sejarah pada buku cetak yang berada di hadapan mereka.


"Baiklah Davino Sinaga, silahkan kamu duduk di kursi kosong," ucap Pak Afandi seraya mencari kursi kosong yang hanya tinggal satu di kelas, yaitu...


"Silahkan kamu duduk di depan Beni."


"Baik, Pak."


Ucap Naga seraya berjalan mendekat dan semakin dekat dengan Diska.


"Eh, lo yang tadi pagi nabrak mobil gue kan?"


Naga mendudukan dirinya pada kursi kosong di depan Beni.


'Mampus gue..'


Batin Diska seraya menelan ludah dengan susah payah.


Mendengar ini, Diska segera menoleh ke arah sumber suara.


"Oh ya?"


"Iya, gue yakin kalo lo itu Diska, yang udah nabrak mobil gue tadi pagi."


Ucap Naga mulai mengawasi Beni dan Diska secara bergantian.


"Kalo iya terus kenapa? Masalah buat lo?"


Diska mulai menaikan nada suaranya.


"Santai dong Dis. Gitu aja sentimen banget."


Diska merengut.


"Dan lo Ben, udah, lo juga gak usah sembunyi lagi. Gue tahu kalo itu lo."


Ucap Naga pada akhirnya.


Mendengar ini, Beni segera mengalihkan pandangan dari bukunya dan mulai menatap Naga dengan serius.


"Kenapa lo balik sih? Gue selalu berharap supaya gak pernah ketemu sama lo lagi."


"Apa gue bilang, Ben? Dunia emang sempit. Dan firasat buruk lo selalu jadi kenyataan."


Diska menambahkan.


"Jadi lo berdua gak bahagia lihat gue balik?"

__ADS_1


Diska dan Beni menggelengkan kepala dengan kompak.


"Gak."


__ADS_2