FIGHTING DISKA #HappyTeens

FIGHTING DISKA #HappyTeens
FD chapter 4


__ADS_3

Mengalah bukan berarti kalah.


➡➡➡


"Ini yang di sebut dengan krisis yang sebenarnya, Diska. Apa kamu masih belum mengerti juga? Atau kamu pura pura tidak tahu?"


Diska menunduk


"Bilang sama Papa harus kayak gimana lagi buat ngadepin kamu???"


Diska diam.


"Papa malu Diska... MALUUUU... Mau di taruh dimana muka Papa? Papa bahkan tidak tahu lagi harus ngapain kalau sampai ketemu sama Guru Fisika kamu."


Diska menunduk dengan diam.


"Sekarang kamu tahu apa kesalahan kamu??"


Tanya Papa seraya mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan hidung Diska.


Diska mengangguk pada akhirnya.


"Aku tahu Pa. Aku minta maaf. Aku udah salah banget sama Papa. Aku akan berusaha untuk belajar lebih giat lagi. Aku akan tunjukin kalo aku juga bisa dapat nilai tinggi di kelas. Dan aku juga akan ngasih kunci si Pinky sama Papa."


Papa mengangguk.


"Okey, Papa pegang kata kata kamu. Kalo kamu sampai mengulangi ini, Papa jamin kamu tidak akan pernah melihat Pinky lagi seumur hidup kamu."


Diska segera mengangkat kepalanya, dan memandang Papa dengan penuh amarah, namun sedetik kemudian Diska kembali menunduk.


Diska terpaksa menahan rasa emosi di dalam dadanya, dan tidak ingin menunjukkannya.


Meskipun Diska sedikit kesal karena Papa menggunakan pinky untuk mengancamnya, namun apalah daya, Diska berada di posisi salah sekarang, dan ini bukan waktunya untuk membela diri.


Lagipula, apa lagi yang harus di bela? Semua masalah memang berasal dari Diska yang memang melakukan kesalahan sejak awal.


"Iya Pa, Aku janji."


"Bagus. Dan sebagai hukuman tambahan, mulai minggu depan, Papa akan mencarikan Guru les private buat kamu. Papa tidak mau mendengar penolakan. Sekarang kamu masuk ke kamar dan renungkan baik baik."


"Iya Pa."

__ADS_1


Diska menjawab dan dengan patuh segera menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Dengan langkah gontai, Diska berjalan menaiki tangga.


Sesampainya di kamar, Diska segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang serta menutupi seluruh tubuh sampai kepalanya dengan selimut.


Hampir tiga jam mendengar celotehan Papa membuat Diska sungguh merasakan apa yang di sebut dengan mati rasa.


Seluruh tubuh Diska terasa kram dan kesemutan, belum lagi sakit kepala yang menyerang akibat terlalu lama mendengar omelan panjang yang bahkan lebih panjang dari kereta api.


Papa yang sudah mengeluarkan amarah dengan setan mode on, membuat Diska semakin memutar bola mata, sangat malas mendengarkannya.


Apalagi jika mengingat raut wajah Papa yang telah menyerupai Hulk, membuat Diska menahan senyum untuk waktu yang lama dan justru tertawa terpingkal pingkal di dalam hati.


Namun, sebagai anak yang berbakti, Diska tidak akan pernah menyela perkataan Papa sedikitpun, apalagi ini sudah menyangkut uang jajan dan parahnya sudah merembet ke Pinky.


Diska tidak berani dan sudah melambaikan tangan sejak awal.


Diska akan tetap diam dengan artian sangat menyesal. Dan dengan patuh akan menyetujui apapun permintaan Papa. Ralat, apapun itu, termasuk untuk les private.


Meskipun sejujurnya Diska sama sekali tidak merasakan takut dengan amarah Papa, tapi Diska berusaha untuk tetap kooperative dengan terus menunduk dengan artian MENGALAH.


Eits, jangan salah. Mengalah bukan berarti kalah. Bahasa gaulnya adalah kemenangan yang tertunda.


Diska tersenyum dalam hati, merasa puas karena sudah berusaha menjadi anak penurut dan berbakti kepada Mama dan Papa.


Benarkah??


Maybe??


➡➡➡


Semua bermula sejak saat hasil ulangan Fisika keluar siang ini, lebih tepatnya dua hari setelah ulangan.


Dunia Diska telah banyak berubah.


Apa lagi setelah melihat nilai yang tertulis hanyalah angka empat di depan, dan angka enam di belakangnya, sudah cukup untuk membuat Diska shock sampai titik dimana Diska tidak sadarkan diri di tempat kejadian dan bahkan di bawa ke UKS.


Habis sudah.


Begitulah kira kira kejadiannya.

__ADS_1


Terlebih setelah Papa tahu jika nilai Diska sangat jauh dari nilai rata rata.


Membuat aliran darah Diska menjadi semakin dingin saat melihat Papa menunggunya dengan membawa kartu kredit Diska yang telah di bekukan.


What? Di bekukan??


Oh no, ini bukan lagi mimpi buruk, namun ini lebih pantas di sebut dengan tragedi pembantaian uang jajan.


Huft.. Diska hanya bisa menghela nafas. Dan pasrah dengan keadaan.


Masih untung bahwa Diska tidak mendapat hukuman karena tidak mengerjakan PR Fisika dua hari lalu. Dan untungnya, Mia berbaik hati menyalin PR untuknya saat Diska bolos upacara, dan Mia pun bolos Upacara dengan alasan sakit hanya demi mengerjakan tugas untuk Diska.


Ow, Diska sangat tersentuh saat mendapat perlakuan manis seperti ini dari Mia. Diska bahkan berjanji tidak akan pernah melupakan perbuatan baik Mia seumur hidupnya.


Ini yang di sebut dengan Ketua Osis yang bijaksana dan baik hati. Dan pantas di acungi lima jempol.


TOP deh.


Sejujurnya, Diska tahu jika Mia hanyalah keras di luarnya, dan sangat baik pada nyatanya. Namun Diska tidak menyangka jika Mia sungguh melakukan itu hingga bolos dari Upacara dan melanggar tata tertib siswa hanya untuknya.


Pantas saja, Mia bersikeras untuk meminta buku PRnya waktu itu? Ternyata eh ternyata,...


Diska tersenyum.


Jadi selama dua hari ini, Diska di nyatakan free dari hukuman.


Yeee..


Namun, kebebasan itu ternyata tidak berlangsung lama, karena badai yang sesungguhnya benar benar menghantam Diska.


Merenung???


Apa lagi yang harus di renungkan??


Lagipula, semua yang terjadi bukan semata mata murni karena kesalahan Diska. Tapi, kesalahan otak Diska yang belum terpasang dengan benar.


Dan tanpa orang lain tahu, Diska akan belajar selama lima jam nonstop sekedar untuk membaca dan menghafal materi untuk ulangan Fisika Bu. Rianti. Dan akan selalu seperti itu setiap ada ulangan di kelasnya, tapi apa??


Diska menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Karena Diska tidak hanya frustasi sekarang, tapi lebih mengarah ke Depresi, dan lebih tepatnya lagi stres.


Baiklah, sepertinya les private juga bukan pilihan yang buruk. Dan Diska akan memulai dengan les private terlebih dahulu sebagai permulaan.

__ADS_1


Dan sebelum Papa menemukan seorang guru private, tidak ada salahnya jika Diska meminta Beni untuk menjadi guru private sementara.


Lagi pula, Beni juga telah menawarkan solusi ini sebelumnya. Dan hebatnya lagi, ini GE-RA-TIS TIS TIS TIS pokoknya.


__ADS_2