FIGHTING DISKA #HappyTeens

FIGHTING DISKA #HappyTeens
FD chapter 11


__ADS_3

Diska menciprat cipratkan air beberapa kali ke wajah Beni. Berharap jika Beni akan segera bangun dari tidurnya yang pulas.


Beni yang tengah tertidur nyenyak sontak membuka matanya seketika dan mengerjapkannya selama beberapa kali sebelum semua nyawanya terkumpul sepenuhnya.


Beni mengawasi sekeliling, namun yang tampak bukanlah ruangan kamarnya, ini justru terlihat seperti ruang tamu di rumah Diska.


WTF??


Rumah Diska???


Beni kembali mengamati sekeliling sekali lagi, namun yang terlihat tetap design ruang tamu kediaman Diska.


Apaaa???


Jadi sebenarnya, Beni berada di rumah Diska? Semalaman?


Beni segera bangun dan duduk seraya memegang keningnya yang mulai terasa pusing, juga mengingat kembali tentang kejadian yang terjadi semalam.


"Huft," Diska menarik nafas lega.


"Akhirnya lo bangun juga. Sumpah demi cicak yang jatuh dari dinding gue beneran takut kalo lo kebablasan dan gak bangun lagi, Ben."


Ucap Diska seraya duduk di sebelah Beni yang terlihat masih sangat berantakan serta rambut yang acak acakan.


"Dis, kenapa gue bisa tidur di sini? Kenapa lo gak bangunin gue sih?"


Beni bertanya dengan nada suara yang mulai terdengar panik.


"Kalo nanya satu satu dong, Ben? Gue bingung jawabnya."


Ucap Diska enteng tanpa khawatir dengan raut frustasi Beni.


"Kenapa gue bisa tidur disini?"


"Karena lo ketiduran di sini semalam."


"Terus, kenapa lo gak bangunin gue sih?"


"Kenapa gue gak bangunin lo? Kenapa ya?"


Diska berpikir sejenak.


"Soalnya gue gak tega buat bangunin tidur nyenyak lo."


"Mampus gue."


Ucap Beni seraya menepuk jidatnya sendiri.


"Santai napa sih, Ben? Lo cuma tidur di ruang tamu, bukan di kamar gue, okey?"


"Ini bukan tentang tidur di ruang tamu atau tidur di kamar lo, Dis."


"Terus, ini tentang apa?"


"Tentang masa depan gue."


"Apa sih? Ngomong yang jelas dong?"


"Gue bisa mati kalo bokap sampe tahu kalo semalam gue gak balik ke rumah, meskipun gue tidur di sini, bokap pasti tahunya kalo gue kelayapan gak jelas."


Ucap Beni seraya berdiri dari duduknya.


Diska kembali menarik tangan Beni hingga Beni terduduk kembali.


"Gak usah panik bisa gak sih?"


"Gimana gue gak panik? Lo tahu sendiri kan bokap gue itu kayak gimana?"


Diska mengangguk.


"Kalo gue sampai gak balik dan gak tidur di rumah, gue bukan cuma mati. Tapi kartu kredit gue juga bakal melayang sia sia."


"Terus??"


"Parahnya lagi, kartu gue bisa di bekukan."


"Oh gitu? Ya udah, Calmdown aja."

__ADS_1


"Gimana gue bisa tenang? Kalo kartu gue sampai di sita atau di bekukan, lo juga yang bakal rugi karena gak bisa makan gratis lagi."


Beni benar benar panik sekarang, hingga berdiri kembali lalu mondar mandir entah sampai berapa kali.


Diska mulai merasa pusing hanya dengan melihat ekspesi depresi yang Beni tunjukan.


"Lo dengerin gue ya? Gue gak akan ngebiarin sesuatu yang bisa jadi tambang emas gue itu hangus."


Mendengar ini, Beni segera berhenti dari mondar mandirnya, dan mulai mendekat serta duduk di sebelah Diska kembali.


"Maksud lo?"


"Maksud gue adalah gue udah ngasih kabar ke orang rumah kalo lo ketiduran di rumah gue pas kita lagi belajar tadi malam. Hm?? Gimana? Gue hebat kan?"


Beni sangat terkejut mendengar ini.


"Seriuosly?"


Ucap Beni yang masih merasa tidak percaya seraya menggoncang goncangkan tubuh kecil Diska dengan tawa bahagia.


Diska mengangguk.


"Tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi, ini udah siang Ben, lo mau tetap di sini atau mau berangkat sekolah?"


Ucap Diska seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Beni baru menyadari jika Diska memang telah memakai seragamnya.


Kecuali... jika ini....


Sudah sangat siang??


"Emang sekarang udah jam berapa, Dis?"


Tanya Beni dengan tingkat kepanikan yang sudah berkali kali lipat.


"Masih pagi, baru juga jam setengah tujuh."


"DISKA SIALAN..."


➡➡⬅⬅



➡ VISUAL DISKA ⬅


"Buruan napa sih, Ben? Lama banget kayak anak perawan."


Ucap Diska yang mulai mondar mandir gak karuan dengan terus melihat jam tangan yang sudah menunjukan pukul 06.45.


"Berisik lo, semua juga gara gara lo yang gak bangunin gue."


Ucap Beni dengan fokus mengeluarkan motor dari garasi rumahnya.


"Lo kok malah nyalahin gue sih? Salah lo sendiri yang bangunnya kesiangan."


Ucap Diska membela dirinya sendiri.


"Kalo lo bangunin gue, gue juga gak akan bangun kesiangan."


"Okey, fine. Salah kita berdua, puas?"


"Terserah lo deh. Cewek emang gak pernah mau di salahin, maunya bener sendiri."


"Buruan dong Ben, lelet banget sih? Udah telat ini."


"Lo bilang gue lelet? Gue bahkan gak sempat mandi pake sabun tau?"


"Masa sih? Biarpun gak pake sabun, tapi lo tetap ganteng kok, Ben. Tapi.."


"Tapi apa??"


"Tapi lo masih sempat gosok gigi kan?"

__ADS_1


"DISKAAAA.."


"Iya, Ben. Iya maaf."


Perjalanan menuju Sekolah.


"Pelan dikit dong?"


Ucap Diska seraya menepuk nepuk pundak Beni, berharap Beni akan memelankan sedikit laju motornya.


"Gak bisa, kita udah telat banget."


"Tapi lo bawa motornya kayak orang kesetanan. Gue belum mau mati, Ben? Gue masih ingin hidup dan gue juga ingin hidup seribu tahun lagi."


"Siapa juga yang mau bunuh lo sih?"


"Ya lo lah."


"Kita udah kehabisan waktu. Lo mau di hukum sama Pak Andra?"


Diska berpikir sebentar.


"Guru BP??"


Beni mengangguk.


"Iya, dan lo tahu hukumanya apa?"


Diska menggeleng.


"Gak."


"Hukumannya serem Dis, bersihin semua WC satu sekolahan."


Diska merinding membayangkannya.


Guru BP? Pak Andra??


Ganteng sih ganteng, tapi sadisnya gak ketulungan. Membuat kegantengannya hilang total jika mengingat hukuman tidak manusiawi yang Pak Andra lakukan.


"Gak mau lah."


"Ya udah, makanya kita harus cepet."


"Tapi minimal, jangan pake acara kebut kebutan, Ben? Gue takut kita bakal celaka."


BRAAAAAKKKK...


Belum sempat Diska menyesaikan kalimatnya, motor Beni sudah menabrak sebuah mobil berwarna merah di depannya.


Beni segera memundurkan motornya, dan yang terlihat adalah...


Mobilnya... PENYOOOKKK..


Diska dan Beni saling berpandangan selama beberapa detik.


Setelah tersadar kembali, Diska mulai memarahi Beni habis habisan.


"Beni... tuh kan? Apa gue bilang? Kita hampir celaka kan?"


"Baru juga hampir, Dis? Berarti belum celaka kan?"


"Diem lo. Ini yang di namakan sudah jatuh tertimpa genteng."


"Yang bener itu sudah jatuh tertimpa tangga."


"Bodo. Bukannya kita bisa nyampe sekolah


tepat waktu, yang ada malah nambah masalah baru. Emang lo gak lihat ada lampu merah berdiri di sono?"


Ucap Diska seraya menunjuk lampu merah yang berjarak beberapa meter dari motor Beni.


Beni menghela nafas panjang.


Bahkan dalam situasi seperti inipun, Diska tidak pernah melupakan omelannya.


Hedeeuuuhh...

__ADS_1


Beni hanya bisa pasrah dan menutup telinganya dengan kedua tangan.


__ADS_2