
Happy reading.
➡➡➡
Ternyata benar kata orang, kalau hoby susah di buang.
➡➡➡
Diska mendudukkan dirinya di atas lantai, dengan satu kaki yang di tekuk, serta tubuh yang di sandarkan pada dinding.
Terdengar suara bel yang menggema keras di seluruh sudut sekolah, pertanda jika Upacara Bendera akan segera di mulai.
Namun, Diska sama sekali tidak berniat untuk mengikuti Upacara hari ini.
Selain terlanjur memiliki mood buruk, Diska juga sangat malas jika harus melihat kebotakan Kepala Sekolah yang membuat silau mata Diska, di tambah dengan level kebencian terhadap Kepala Sekolah uang berada di level tertinggi, membuat Diska semakin menolak meski hanya sekedar melihat makhluk itu dari kejauhan.
"Yah, gue kalah."
Rutuk Beni karena permainannya berhenti dengan mengalami kematian yang mengenaskan.
Payah.
Tentu, Beni bukanlah seorang gamer yang baik. Dan itu pula yang membuat Beni selalu meminta Diska untuk bermain bersama dengan melihat tingkat kemampuan Diska yang bisa di bilang tidak terlalu buruk.
Beni mematikan ponselnya, dan memasukan ke dalam saku celananya. Kemudian mendekat dan duduk di sebelah Diska.
"Lo kenapa, Dis? Kok jutek gitu? Di marahin lagi sama Bu. Rianti?"
"Eh, kalau ngomong di kondisikan dong?
Enak aja, selama gue masuk SMA Gemilang, gue gak pernah sekalipun kena marah Bu. Rianti. Ngerti!!"
Beni mengangkat sebelah alisnya, meragukan ucapan Diska yang dinilai penuh kebohongan.
"Terus?"
"Gue emang gak pernah kena marah, cuma kena hukum doang."
Beni tertawa dengan memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena mendengar ucapan lucu Diska.
"Berisik deh lo. Belum puas ngetawain gue? Ketawa aja terus, ketawa sepuas lo."
"Sumpah mati, muka lo jelek banget, Dis."
Ucap Beni yang masih tertawa cekikikan.
"BENIIII."
Beni mengangkat jari jemarinya dan membentuknya menjadi huruf V.
"Iya iya maap."
Diska mengerucutkan bibir.
"Lha terus lo kenapa?"
Beni berpikir sebentar.
"Atau, Lo masih mikirin omongan kepala Sekolah senin lalu?"
Diska mengangguk, serta menarik narik lengan baju Beni untuk meminta pendapat, atau paling tidak sedikit pencerahan yang bisa melonggarkan pikiran kusut Diska.
__ADS_1
Beni tentu mengerti dengan maksud Diska,
"Lo mau minta pendapat gue?"
Diska mengangguk.
"Kalo menurut gue sih? Lo mau jawaban yang jujur apa yang bohong?"
Diska mengangkat sebelah alisnya,
"Ya kali, gue mau yang jujur dong,"
"Kalo menurut gue, bagusan lo pindah ke IPS 3. Biar bisa bareng gue terus. Cieee... Acieee.. Bagaimanapun, kita kan sejoli jadi gak boleh terpisah jarak dan waktu. Cieee... baper."
Ucap Beni seraya menjepit dagu Diska dengan jari jemarinya.
"Yeeee..."
Diska menoyor kepala Beni.
"Itu namanya lo yang ngarep. Enak di lo gak enak di gue dong."
Beni meringis seraya memegang kepala bekas toyoran Diska.
"Emang."
"Dasar lo, nyebelin."
"Nyebelin tapi lo suka kan?"
"Au ah."
Diska merengut.
Beni mengangguk.
"Lagian, apa kata Mama sama Papa kalau mereka tahu gue di masukin ke IPS secara paksa oleh Kepsek?"
Diska menggelengkan kepala dan bergidik ngeri.
"Gue gak bisa, Ben? Gimana dong?"
Diska menunjukan puppy eyes andalan yang biasa di gunakan untuk merayu Beni saat Diska ada maunya
Aish. Melihat puppy eyes yang Diska tunjukan cukup untuk menggoyahkan benteng pertahanan Beni.
"Lo jangan nunjukin mata setan kayak gitu dong? Gue ngeri lihatnya, gue jadi takut."
Namun, Diska justru semakin menunjukan wajah imut tanpa dosanya kepada Beni.
"Okey, satu satunya jalan keluar ya cuma belajar. Emang lo bisa dapat ranking hanya dengan mandi dengan bunga tujuh rupa pas jumat kliwon? Enggak Dis. Ini bukan film Suzanna, tapi ini tentang IQ. IQ lho... IQ."
Ucap Beni seraya menunjuk otaknya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Gue juga tahu kali, Ben. Gak perlu lo jabarin sampai kayak gitu?"
"Syukur kalo lo ngerti."
"Tapi masalahnya adalah gimana caranya untuk mencairkan gumpalan kebodohan di otak gue? Itu maksud gue?"
Diska menaikan dua oktaf nada suaranya.
__ADS_1
Beni terlihat berpikir sebentar dengan mengetuk jari telunjuk ke kepalanya. Menandakan jika sepertinya Beni tengah berpikir sangat keras dan serius.
Sepertinya lho,..
Tiba tiba,
"AHA,"
Nah nah, sepertinya bohlam di kepala Beni sudah mulai menyala.
"Mulai sekarang, gue gak akan datang ke rumah lo buat main PS lagi."
"Kenapa?"
Tanya Diska yang merasa sedikit aneh dengan kata kata Beni.
Tidak mungkin jika Beni berniat untuk mengubur hobi bermain gamenya, sangat tidak mungkin. Karena yang namanya hobi, susah untuk di buang. Kecuali kalo hobinya di buang ke Antartika kali ya? Sama orangnya maksudnya. Kalau hobinya doang yang di lempar ke Antartika sih gak ngaruh.
"Tenang Dis, jangan panik."
"Eh, ogeb. Siapa juga yang panik? Yang panik kan lo sendiri? Idih, otak lo mulai gak beres nih, Ben."
Diska menggeleng prihatin.
Beni menggaruk tengkuknya.
"Maksudnya, gue gak mau ngajak lo main PS lagi, dan sebagai gantinya, gue bakal ngajakin lo untuk belajar bareng. Gimana? Ide gue lumayan kan?"
Beni mengedipkan sebelah matanya.
"Kalo di pikir pikir, lumayan juga sih."
"Jadi, gimana? Gimana? Lo udah mulai tertarik?"
Diska mengangguk.
"Lo tenang aja, gue itu orangnya gak mata duitan, jadi ini tidak di pungut biaya, alias GRATISSS."
Diska berpikir sebentar, dan menimbang nimbang usulan Beni. Sebenarnya, boleh juga sih. Beni juga tidak bisa di bilang bodoh. Dan otak Beni juga tidak setumpul otak Diska.
Cuma, memang terasa aneh aja. Jika Beni bisa dengan mudah masuk IPA tanpa mengeluarkan semua kemampuan otaknya, eh gak tahunya malah masuk IPS.
Benar benar susah untuk di mengerti.
Rada saraf itu anak.
"Boleh deh. Dari pada gue harus nyari guru private. Mahal iya, pinter kagak."
"Okey, deal."
Beni mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sebagai bukti persetujuan yang sah.
Diska menerima uluran tangan Beni.
"Deal."
"Dan inget satu hal, gue bakal datang tiap malam, tidak terkecuali malam minggu. Sekalian ngapelin lo."
"Eh, gak bisa dong. Gue gak setuju kalo harus tiap malam. Karena Gue juga butuh waktu buat me time, gue juga perlu marathon nonton drama turki sama drama korea."
"Ini nih, yang kagak gue suka dari lo. Kemalasan lo yang gak pernah ngerjain PR itu bukan karena gue kan? Tapi karena lo nonton film sampai larut malam dan nuduh gue sebagai penyebab mutlak atas kemalasan lo sendiri? Ngaku deh lo?"
__ADS_1
O ow, Diska menelan ludah. Diska sudah terciduk sekarang. Jadi gak ada cara lain selain.. KABUUURRRR.