
Bell tanda istirahat kedua berbunyi.
Tanpa menunggu lagi, Diska segera keluar dari kelas dengan cepat.
"Dis, lo mau kemana?"
Tanya Naga yang merasa curiga dengan kepergian Diska yang terkesan mendadak juga buru buru.
"Nyari Budi."
Jawab Diska enteng seraya berlalu dengan cepat meninggalkan kelas.
"Nyari Budi?" Naga dan Beni berucap secara bersamaan dan juga saling berpandangan selama beberapa detik setelah mendengar jawaban absurd Diska.
"Buat apa Diska nyari si Budi?"
Tanya Naga dengan heran.
Beni mengangkat bahu,
"Mana gue tahu? Tapi firasat gue bilang kalo ini bukan pertanda baik?"
"Dari pada hanya berspekulasi, mending langsung konfirmasi aja? Yuk kita ikutin Diska? Gue takut Diska bakal nyari perkara sama si Budi." Naga berdiri dan segera berlalu.
"Firasat gue juga bilang gitu, Ga."
Ucap Beni yang berjalan mengikuti di belakang Naga.
"Si Budi kelas berapa sih, Ben?"
Beni berpikir sebentar.
"Kalo gak salah, 12 IPA 1."
"Apa? 12 IPA 1? Kelas unggulan dong? Wah wah wah, nyari penyakit tuh siluman rubah."
➡➡➡
Begitu tiba di depan pintu kelas 12 IPA, Diska segera mengawasi sekeliling.
Terlihat ruang kelas 12 IPA cukup lengang. Maklum, jam istirahat tentu membuat sebagian siswa memilih untuk bermalas malasan di kantin atau mojok di semak semak untuk mabar game masa kini yang sedang menjadi trend.
Hanya ada beberapa siswa yang terlihat bergerombol entah tengah membahas apa. Mungkin mereka tengah bergosip tentang Lucint* Lun* yang keciduk polisi pas lagi pesta Narkoba dengan pacarnya? Atau membahas tentang Virus yang berasal dari Wuhan?
Entahlah..
Diska tidak mengambil pusing tentang ini.
Diska segera mencari sosok Budi yang konon katanya jika si Budi ini adalah siswa paling tampan dan juga paling pintar di kelas 12 IPA 1. Dan berdasarkan kriteria si Budi ini, sudah jelas jika si Budi ini adalah salah satu dari ke empat siswa yang berada di dalam ruangan.
Tatapan Diska terkunci pada sosok yang tengah duduk dan sedang bersenda gurau dengan teman temanya.
"Pasti itu si Budi."
Ucap Diska seraya nyelonong masuk ke dalam kelas dan segera menggebrak meja tempat siswa itu berkumpul.
"Heh? Lo Budi ya?"
__ADS_1
Diska menunjuk salah seorang siswa paling tampan di antara yang lain.
Ke empat pria itu lantas menoleh secara bersamaan ke arah suara gebrakan meja, dan menatap Diska dengan tatapan penuh tanya.
Siswa yang Diska tunjuk segera menggeleng.
"Bukan."
"Alah, ngaku aja lo? Gak usah boong."
"Tapi, gue emang bukan Budi."
"Gue gak mau tau, tapi ini semua salah lo."
Pria itu celingukan dan memunjuk dirinya sendiri, "Salah gue?"
Diska mengangguk.
"Iya, salah lo."
Pria itu semakin terlihat bingung.
"Jujur aja, secara garis besar gue bahkan gak kenal lo sama sekali? Terus dimana gue bikin salahnya?"
"Sumpah demi telur yang gak menetas, gara gara lo, gue jadi pusing tujuh putaran."
Naga dan Beni yang mendengar keributan lantas segera mencari sumber keributan dengan suara keras Diska yang bahkan terdengar sampai luar ruangan yang membuat Naga dan Beni lari terbirit birit masuk ke dalam kelas 12 dengan panik.
"Dis, ada masalah apa sih?"
"Itu, Ga." Diska segera menunjuk pria yang Diska panggil dengan sebutan Budi.
"Budi udah buat gue pusing setengah mati."
"Maksud lo apa sih, Dis?"
Beni mendekat dan segera meminta penjelasan dari Diska.
"Gara gara si Budi ulangan Matematika gue pasti dapat nilai jelek." Jawab Diska lesu.
"Emang apa hubungannya sama si Budi?"
Tanya Naga yang semakin penasaran dengan Budi dan ulangan? Apa ada hubungan special antara Budi dan ulangan? Atau ada yang gak beres sama Ulangan dan kelas 12 IPA 1?
Budi, ulangan dan 12 IPA 1? Ada apa dengan mereka? Semakin di pikirkan, semakin terasa janggal dan bahkan tidak masuk akal? Meskipun sudah di kaitkan hingga sepuluh kali, tetap saja tidak terhubung.
"Iya, gara gara si Budi ikut jalan santai di Bandung, gue jadi harus ngitung peluang Budi untuk meraih kemenangan. Belum lagi si Budi yang ninggalin Riski pas berangkat sekolah, gue kan jadi susah ngitung waktu tempuhnya. Coba aja kalo si Budi gak ikut jalan santai atau gak ninggalin Riski, gue pasti gak perlu repot repot mikirin semua ini."
Mendengar jawaban absurd Diska, membuat semua orang membeku di tempatnya, mereka semua terdiam seketika dan bahkan mereka hampir memuntahkan semua isi perut mereka.
"Wah wah wah.. Hebat lo, Dis."
Tepuk tangan Beni memecah kesunyian dan suasana canggung yang tercipta.
"Alangkah baiknya kalo ini di filmkan, dan di beri judul Kebangkitan ratu drama, yeaay.." Beni kembali bertepuk tangan.
Gantian Diska yang terbengong.
__ADS_1
"Maksud lo apa sih, Ben?"
Diska memiliki firasat buruk tentang ini, bahkan mulai muncul alarm darurat tanda bahaya di kepalanya.
"Lo tahu gak, ini siapa?"
Ucap Beni menunjuk pria yang Diska panggil Budi.
Diska menggeleng.
"Lo udah salah paham, Dis?"
Diska menjadi semakin bingung.
"Gue gak ngerti sama maksud lo?"
"Ini bukan Budi, tapi Angga."
"WTF? Angga?"
Diska berpikir sebentar, merasa pernah mendengar nama ini sebelumnya. Angga, Angga, Angga? Dimana Diska pernah mendengar nama itu? Mustahil jika pria ini adalah pemegang peringkat pertama di sekolah ini, Raditya Angga kan?
Diska menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin."
"Apanya yang gak mungkin, Dis? Sayangnya, semua yang terlintas di benak lo saat ini adalah benar adanya."
WTF??
Jadi pria ini yang bernama Angga? Dan pria tertampan dan juga terpintar di 12 IPA 1 itu sebenarnya juga bukan Budi tapi Angga? Berarti desas desus tentang si Budi dan segala prestasinya selama ini hanya sekedar Hoax? Dan parahnya, Diska percaya begitu saja tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu? Dan berita yang di tangkapnya dari sumber terpercaya juga tidak valid?
Astaga.
Kenapa semuanya menjadi semakin rumit?
Diska mulai kehabisan kata kata.
"Udah gue bilang sebelumnya, kalo gue itu bukan Budi." Adalah suara pria bernama Angga.
Diska meringis, "maaf kak, gue salah karena gak konfirmasi ini lebih dulu, gue menyesal." Diska membungkuk dan meminta maaf dengan rasa bersalah yang memenuhi hati nuraninya.
"Makanya, lain kali jangan menghakimi orang lain kalo lo gak tahu kebenarannya."
Jawab Angga dengan bijak.
"Iya kak Angga, gue akan ingat itu di sepanjang hidup gue, sekali lagi gue minta maaf." Diska membungkuk sekali lagi sebelum di seret paksa oleh Beni dan Naga.
Beni dan Naga juga turut minta maaf atas kesalahan fatal yang telah Diska perbuat. Dan untungnya Angga juga tidak mempermasalahkan ini lebih lanjut.
"Makan noh si Budi."
Ucap Naga begitu keluar dari kelas 12.
"Ya maaf, Ga? Mana gue tahu kalo dia bukan Budi?"
"Makanya lain kali gak usah baper? Budi yang ngeselin itu cuma ada di Soal, dan gak ada sangkut pautnya sama si Budi di dunia nyata. Satu satunya orang yang selalu ngeselin di dunia nyata itu cuma lo, Dis"
__ADS_1