
Happy reading.
➡➡➡
Diska berjalan pulang ke rumahnya dengan lesu.
Bagaimana tidak?
Diska merasa sangat bebal karena telah terperdaya dengan ucapan manis makhluk mitos ajaib seperti Devano Sinaga.
Diska segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur begitu tiba di kamarnya dengan susah payah. Juga dengan seragam yang masih menempel tanpa Diska berniat untuk menggantinya.
Diska melihat ponselnya sebentar untuk melihat media sosialnya. Dan sedetik kemudian Diska menghembuskan nafas panjang. Nasib yang namanya jomblo selalu saja apes, media sosialpun bahkan lebih sepi dari pada kuburan.
Ya nasib.
Apa gunanya punya ponsel jika tidak ada satupun pesan atau panggilan dari orang lain?
Diska melempar ponselnya ke samping dan segera memejamkan matanya.
➡➡⬅⬅
Malam hari di rumah Diska.
"Diska.. bangun dong?"
"Dis..."
Suara yang sayup sayup mulai tertangkap indra pendengaran Diska. Namun Diska tidak memperdulikannya sama sekali, justru hanya menggeliat dan kembali meringkuk dengan memeluk boneka Sapi Pekerja Keras di sampingnya.
Iya.. Jadi semenjak Diska menonton drama Korea yang berjudul What wrong with secretary Kim di Laptopnya, Diska memang sengaja membeli boneka Sapi Pekerja Keras yang di belinya secara langsung dari Korea melalui situs Belanja Online terpercaya.
Dan.. taraaa...
Jadilah Diska memiliki boneka sapi yang imut, lucu serta menggemaskan pemberian Park Seo Joon oppa.
"Diss... main yuk..."
Suara itu kembali terdengar.
Apa mungkin jika kamarnya sekarang memiliki penghuni lain yang tidak hanya memanggil, tapi juga mengajaknya bermain?
Diska mengernyitkan keningnya, mencoba membuka mata untuk mengetahui sosok seperti apa yang telah berani memasuki kamarnya? Namun matanya terasa sangat berat untuk di buka, dan justru semakin terasa lengket dan lengket.
Ternyata mata yang mengantuk masih kalah dengan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu masih bisa di tahan, namun mata yang mengantuk sama sekali tidak bisa di ajak untuk negosiasi dan selalu saja seenaknya sendiri.
Diska bahkan tidak peduli dengan bisikan bisikan ghaib itu lagi, entah seperti apa wujudnya, entah seperti apa aromanya, dan entah seperti apa makhluk itu yang sebenarnya, jawaban Diska tetap satu, yaitu...
I dont care.
__ADS_1
Diska hanya berharap jika makhluk itu memang hantu, semoga hantu itu akan setampan Do Kyung ataupun Kim Taehyung, sehingga Diska tidak akan pernah merasa menyesal meskipun telah melihat hantu.
"Dissss...."
Goncangan hebat mulai Diska rasakan.
"DISSS..."
Juga suara yang terdengar semakin keras.
"DISSKKAAAA..."
Dan.. Ini terasa seperti cipratan air di wajahnya.
APPPAAA??? AIR????
Tanpa membuang waktu lagi, Diska segera membuka mata dan bangun seketika dengan seragam yang super berantakan juga rambut yang juga super acak acakan.
"Akhirnya lo bangun juga, gue kira lo bakal tidur selamanya."
Diska berpikir sejenak,
"sejak kapan setan bisa ngomong?"
"Sejak saat nenek lo masih pake kebaya sampai sekarang nenek lo udah pake kaos disto."
What?? Kaos distro??
Sejak kapan setan mulai gemar masuk distro?
Diska memutuskan untuk segera mencari ke arah sumber suara yang tidak terdengar seperti setan, hantu ataupun sejenis iblis. Tapi anehnya, suara itu justru lebih terdengar seperti sejenis Vertebrata atau lebih tepatnya Buaya Muara.
Pandangan Diska berhenti seketika pada dua sosok ajaib yang mulai tertangkap penglihatan Diska.
Sejenis buaya muara yang tengah berdiri dan bersandar pada lemari dan sejenis iguana jinak yang duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan rumit yang tengah memandang Diska dengan lekat.
Melihat kedua sosok itu tengah memperhatikannya, Diska menjadi salah tingkah serta menggaruk tengkuknya untuk menetralkan perasaan malu yang terlanjur Diska rasakan.
Tidak mungkin Diska tidak merasa malu saat wajah khas bangun tidurnya ternyata di saksikan oleh dua pria tampan yang sudah berani masuk ke dalam kamarnya tanpa izin?
"Kok lo berdua bisa masuk ke kamar gue sih?"
"Masuk ke kamar lo doang sih kecil," ucap Naga dengan menjentikan jarinya.
"Tapi ini melanggar kode etik, Ga? Masuk ke kamar anak perawan itu pamali tau? Lo mau kalo gue jadi jomblo seumur hidup?"
"Bagus dong kalo kayak gitu? Lo tenang aja, lo gak bakal jadi jomblo seumur hidup," ucap Naga dengan yakin.
Diska mengernyitkan kening,
__ADS_1
"kenapa?"
"Karena Abang yang bakal nikahin Neng, jadi Neng jangan risau lagi soal pernikahan, okey?"
"Najis."
"Lo berdua pada berisik mulu kerjaanya, lo tau kan kalo kucing tetangga lagi lahiran? Lo berdua mau tanggung jawab kalo anak yang di lahirkan ibu kucing kena serangan jantung gara gara denger suara lo berdua yang kayak toa tahu bulat?" Adalah suara merdu Beni yang tidak ada falsnya sama sekali.
Mendengar ucapan konyol ini, Naga dan Diska saling melempar pandangan. Merasa tersentak sekaligus ingin tertawa di saat yang bersamaan. Namun saat melihat raut serius Beni, membuat Naga dan Diska mengurungkan niat mereka. Dan lebih memilih untuk menahan senyum meski membuat perut mereka sakit.
"Dis, lo pergi mandi dulu sana!!" Ucap Beni seraya melempar handuk ke arah Diska.
Diska yang tengah menguap, sontak menjadi kehilangan konsentrasinya untuk melanjutkan menguapnya, "woy, santai dong?"
"Santai gimana lagi yang lo maksud? Ini udah malam, Dis? Udah jam setengah tujuh?"
"Terus apa hubungannya sama gue? Mau siang, mau sore, mau malam, mau jam tujuh, jam lima atau jam berapapun itu gak ada urusannya sama gue."
"Eh beg*, sebentar lagi Pak Fuadin bakalan datang tau.."
Pak Fuadin?
Siapa Pak Fuadin itu?
Diska bahkan baru pertama kali mendengar nama itu, tapi mengapa Beni mampu menyebutkan nama itu dengan sangat gamblang sekarang??
"Pasti lagi mikir siapa itu Pak Fuadin, kan? Ngaku lo?" Ucap Naga di sela sela lamunan Diska.
Diska mengangguk.
"Emang siapa sih Pak Fuadin? Emangnya lo kenal?"
"Ya ampun, Dis. Sumpah demi kipas angin yang gak bisa muter, fix lo kurang A*ua."
Ucap Naga seraya duduk di sofa.
Tidak mendapat jawaban dari Naga, Diska mencoba mencari jawaban dari Beni.
"Ben?"
"Kita udah ngomongin hal ini di rumah Naga? Emang lo lupa sama Guru Les Private yang akan mulai ngajar malam ini? Nah, Pak Fuadin ini guru Les Private lo."
"Astaga," Diska menepuk jidatnya sendiri.
"Gue lupa, Ben? Serius gue gak ingat ini sama sekali."
Ucap Diska seraya berlari ke kamar mandi, dan lima belas menit kemudian Diska keluar dengan cepat dari kamar mandi dan segera mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Sepuluh menit kemudian, Diska telah siap dan segera turun ke bawah untuk mulai belajar dengan Naga dan Beni yang juga sudah siap untuk mengawal jalannya Les Private Diska.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan, semuanya tentu karena Beni dan Naga tidak ingin Diska kabur dari Pembelajaran Fisika yang akan segera di mulai, hanya tinggal menunggu Pak Fuadin muncul dalam beberapa detik lagi.