Frost Heart

Frost Heart
Tanah Tersembunyi Untuk Para Penyihir Part 2 (Sudut Pandang Jack)


__ADS_3

Hidup normal sekalipun, terkadang bisa menjadi absurd tanpa kita duga. Ungkapan itu yang mungkin sudah kualami saat ini. Di duniaku, atau lebih tepatnya bumi, sedang terjadi fenomena aneh dan tak pernah terjadi sebelumnya. Semua mahkluk hidup di atas bumi akan membeku menjadi patung es karena sebuah fenomena. Pohon, rumput, hewan, bahkan manusia semua membeku menjadi es. Kata Mary, fenomena itu dinamakan None Time karena ada seseorang yang mengaktifkan sebuah ritual sihir sehingga kekuatan waktu diambil paksa sebagai syarat ritual itu. Karena menurut Mary tak aman, dia kemudian mengajakku ke sebuah tempat dan itu adalah tempat tersembunyi yang tak terkena dampak fenomena itu. Aku tidak tahu tempat aneh apakah ini, karena Mary menyembunyikan nama asli tempat ini.


Saat ini aku berada di sebuah aula. Aula ini sangatlah besar dengan dipenuhi oleh ribuan pintu-pintu yang berbeda corak satu sama lain. Kata MJ dan Mary, pintu-pintu ini adalah pintu teleportasi untuk menuju suatu tempat tertentu. Hanya itu yang kutahu dari Mary dan MJ, sehabis itu aku tak tahu, seperti mekanisme kerjanya. Dengan deskripsi seperti itu, pintu-pintu ini mengingatkanku dengan cerita Wazowski dan Sullivan di Monster Inc dimana ada ribuan pintu-pintu berbeda yang digunakan untuk berteleport ke bumi agar bisa menakuti anak-anak di sana.


Aku berjalan terus mengikuti gelembung bening yang berada di depanku. Itu adalah mahkluk [Creatures Summon] yang berguna untuk menuntunku. Dia cukup pintar dan objektif dalam melaksanakan tugasnya. Dia tak meninggalkanku terlalu jauh dan menyundul-nyundulkan diri ketika aku salah jalan. Dia memang penuntun yang bisa diandalkan.


Ketika masih berjalan, aku mengingat kejadian di tempo lalu, dimana aku masih menjadi pemulung yang suka menguntit seorang gadis seumuran denganku, kemudian menemukan seorang wanita yang terluka di perutnya dan membawanya ke rumah bobrokku yang sekarang sudah ambruk untuk merawat lukanya.


Jujur saja di dalam lubuk hatiku, aku masih kaget dengan apa yang kualami sebelumnya. Mulai dari wanita yang kurawat bernama Mary itu mengeluarkan kekuatan mistis aneh, mahkluk hitam yang hanya punya mulut saja di mukanya dan membuatku melawan salah satunya, serta merasa mengalami kejadian mistis pada diriku. Untuk bagian kejadian mistis itu, aku tak terlalu mengingatnya. Aku masih mencoba untuk mengingat, tetapi gagal seperti kejadian itu tak pernah terjadi. Padahal itu terasa di depan mataku.


Yang pasti setelah itu, aku merasa ada yang bertambah pada diriku dan membuatku bisa mengalahkan mahkluk hitam kejam itu secara telak. Setelah sesuatu hilang itu, aku merasa bahwa ada perasaan hampa di dalam hatiku. Aku tidak tahu nama perasaan ini, tetapi ini membuat dadaku lebih berat.


"Eh, sudah sampai..."


Di tengah aku berpikir, aku tak menyadari bahwa gelembung yang mengatarkanku sudah berhenti di sebuah pintu kayu dengan corak sedikit garis-garis merah. Mungkinkah ini tempat yang aku tuju?


Gelembung yang mengantarkanku kemudian mengeluarkan sebuah kunci hitam dari dalam tubuhnya. Aku tak akan bertanya bagaimana bisa tubuh bening seperti itu bisa membuat kunci dengan warna mencolok itu bisa tak terlihat, itu tak penting. Aku melihat gelembung bening itu membuka kunci pintu dan memutar gagang pintu.


Suara decit pintu terdengar ketika pintu terbuka. Tak di tempatku tak di tempat ini, suara decit pintu masih begitu horror. Yah, itu wajar. Jika itu suara decit pintu berubah menjadi suara lagu Suket Teki, mungkin akan ambyar jadinya.


Setelah pintu terbuka, aku melihat cahaya ilahi menerpa wajahku. Aku refleks menyipitkan mataku dan sedikit menutupinya dengan tangan. Mataku yang terbiasa gelapnya aula ini menjadi sedikit tak siap untuk menerima cahaya sebanyak itu. Tapi butuh waktu sedikit membiasakan mataku dan aku langsung masuk ke pintu itu.


***


Keramaian adalah hal yang menyambut diriku pada pertama kali aku masuk ke pintu. Saat ini aku berada di dalam sebuah gedung yang dikelilingi patung-patung naga. Suasana ribut terjadi di dalam gedung itu karena tercampurnya berbagai macam suara bahasa terdengar di telingaku. Aku melihat banyak sekali wajah-wajah orang asing dengan memakai pakaian berbeda sama sekali sedang mengobrol dengan satu sama lain. Ada orang berkulit putih memakai jas resmi sedang mengobrol dengan orang kulit hitam yang memakai pakaian kasual, ada sekelompok wanita yang berkomposisi 2 wanita mata sipit dan wanita keling. Mereka semua mengobrol dengan bahasa inggris, itu yang kupahami.


"Ngomong-ngomong, kemana orang yang dari Indonesia?"


Dalam penglihatanku, hanya ada orang-orang muka asing tanpa adanya muka-muka random dari Indonesia. Kemana mereka? Apakah semua orang dari Indonesia menjadi batu es?


Ketika aku melihat sekeliling, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Sontak aku langsung menengok ke belakang dan melihat wajah coklat sawo tersenyum kepadaku.


Bingo!! Aku menemukan dari Indonesia, batinku.


"Mas apa dari Indonesia?"


Dia berbicara dengan bahasa Indonesia dengan logat Madura.


"Iya, aku dari Indonesia." Jawabku.


"Huh, syukurlah..." Dia mengeluskan dadanya. "Aku nggak bisa bahasa Inggris dan bahasa lain. Aku jadi khawatir dengan keadaan sendiri yang terkucilkan. Kalau temen kayak mas, aku bisa tenang."


Kemudian dia mengulurkan tangannya dan berkata, "Nama saya Dian Prakoso. Saya dari Bandung."

__ADS_1


Aku sempat ragu untuk menyambut tangannya atau tidak. Karena barusan aku diberitahu cara berkenalan di tempat ini yang berbeda. Tapi aku tak memperdulikannya dan menyambut tangannya, lantaran ini adalah cara kita para orang luar berkenalan.


"Jack Zitman..."


"Jack...Ipman? Jadi, kau keturunan langsung grandmaster Wingchun?"


Dian sepertinya salah dengar tentang penamaanku.


"Zitman...bukan Ip-man." Aku kemudian mengoreksi ejaannya.


"Oh, kirain anda keturunan si Ipman itu."


Dian tertawa kecil menyadari kesalahannya.


Kemudian kami mengobrol seperti orang-orang yang ada tempat ini, tapi dengan bahasa Indonesia karena keterbatasan bahasa Inggris Dian. Kami mengobrol tentang bagaimana kami bisa ke sini.


Dian menceritakan bahwa dia bisa ke sini, karena diantar oleh sekelompok orang, hampir sama denganku. Mereka mungkin adalah orang-orang satu satuan dengan Mary dan pulang karena misi yang tak kutahui detailnya gagal. Karena situasi tak kondusif setelah fenomena None Time, akhirnya Dian dibawa ke tempat ini oleh orang-orang itu.


"Hei, Jack. Bisakah kau terjemahin bahasa-bahasa yang mereka ucapkan di sini?" Kata Dian.


"Bukankah itu seperti menguping pembicaraan orang-orang?"


"Tidak masalah jika tak ketahuan, aku penasaran dengan yang dikatakan mereka."


Mereka dulunya adalah orang yang berada bahkan memiliki kekayaan yang cukup membeli pulau di Raja ampat. 180° berbeda denganku yang seorang pemulung.


Mereka berbicara cukup santai dan tak terasa panik-panik sama sekali dengan keadaan seperti ini, bahkan ada yang melawak layaknya badut. Itu juga mengejutkanku hingga membuatku sedikit bingung. Apakah mereka sudah tahu bahwa ini akan terjadi? Sebenarnya siapa dulunya mereka? Anggota Illuminati? Elit global? Oh, tidak, jangan berpikir liar dulu, Jack.


Aku mencoba untuk berpikir positif. Mungkin mereka sudah diberitahu oleh orang-orang yang sama dengan Mary dan sepertinya sudah kenyang dengan rasa kaget.


Ngomong-ngomong, Dian adalah mas-mas biasa yang bisa ditemui di sudut-sudut tempat. Dia tak bergelimang harta bahkan dikehidupannya, dia ingin mencoba membuka sebuah usaha untuk mengubah nasibnya dari mas-mas biasa menjadi sultan antimiskin alias orang kaya. Tapi sekarang, semua usahanya menjadi berantakan dan hancur dalam waktu semalam. Jadi, dia juga hampir sama denganku, punya kehidupan yang pas-pasan.


Ketika kerumunan ini berisik, tiba-tiba muncul sebuah lingkaran cahaya berwarna biru di tempat yang sepertinya podium. Dari cahaya itu munculah seorang gadis memakai Blazer biru muda. Kemunculan tiba-tibanya itu, membuat orang-orang menjadi terdiam melihatnya, termasuk Dian yang kagum dengan kemunculan ajaib dari gadis itu.


Sedangkan untukku, itu adalah biasa. Karena tempat ini hampir sama dengan dunia Jojo Bizzare Adventures, ajaib dan aneh.


Gadis itu menatap semua penatap dirinya dengan ekspresi datar. Kemudian dia tersenyum ramah dan hampir tidak ada kepalsuan dari senyuman itu. Aku tahu itu adalah dalihnya saja.


"Selamat datang ke tanah kami, tuan dan puan. Mungkin ada beberapa pertanyaan di dalam hati anda sekalian, seperti apa yang terjadi di dunia anda sekalian? Tempat apa ini? Dan siapa kami sebenarnya? Baiklah, di sini saya akan mewakilkan tanah ini untuk menjawab semua pertanyaan Tuan dan Puan."


Kemudian gadis itu memegang dada kanannya dan menundukkan kepala. Aku mengetahui bahwa itu adalah cara berkenalan di sini dalam kondisi resmi atau berkenalan dengan yang patut dihormati.


"Tapi sebelum itu, izin saya mengenalkan diri. Nama saya Siska Skyseeker, ketua dari organisasi kesiswaan Rakuen Academy dan akan menjadi Jubir dari tanah ini. Baiklah, anda sekalian pasti tak sabar panjang lebar seperti ini. Saya akan langsung menjawabnya...."

__ADS_1


Ketika aku fokus dengan gadis itu, Dian menyikut diriku. Aku menoleh dan bertanya, "Ada apa?"


"Eh, Jack. Bisa kau artikan yang gadis itu bicarakan?"


Ternyata si buta bahasa ini sedang kesulitan memahami bahasa Inggris. Aku mendesah berat, mengapa aku harus bertemu dengan orang random seperti dia? Aku dengan baik hati, menerjemahkan apa yang dibicarakan gadis itu. Dan tentu saja hanya bagian penting saja, aku tak mau mengartikannya secara penuh.


"Dunia kalian saat ini sedang krisis dimana kekuatan waktu dari dunia kalian diambil. Itu disebabkan oleh sebuah ritual sihir yang dilakukan seseorang dengan nama julukan Who-man. Kami tidak tahu secara pasti ritual apakah itu, tetapi kami memastikan bahwa ritual itu cukup berbahaya untuk dunia kalian dan dunia kami..."


Kemudian terjadi kegaduhan ketika penjelasan gadis bernama Siska itu berakhir. Tetapi, aku tak peduli dengan penjelasan itu karena aku sudah dijelaskan oleh Mary sebelumnya dan sibuk menerjemahkan bahasa untuk si Dian. Begitu Dian mengetahui apa yang dibicarakan, Dian menjadi khawatir dengan keadaan dunia sekarang dan selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepadaku.


"Tenang saja, kalian harus tahu siapa kami dan mengandalkannya. Kami adalah kaum penyihir kuno yang bersembunyi di sebuah tanah. Kami memiliki sejarah panjang dan begitu berpengalaman tentang hal ini. Kami akan mencari cara untuk mengatasi masalah kami, jadi beri kami waktu."


Kalimat tegas dari Siska itu membuat kegaduhan dan kelompok pengungsi ini menjadi sedikit tenang. Gadis itu sepertinya punya karisma menjadi pemimpin, terlihat dari beberapa kalimat saja membuat orang-orang percaya dengan omongannya. Pantas saja dia menjadi ketua, tetapi ada satu hal yang kurang. Dia terlalu pandai menyembunyikan ekspresi sebenarnya, itu membuatku sedikit takut.


"Lalu, nama tempat ini apa?" Salah satu orang bertanya dengan lantangnya. Entah perasaanku atau memang, ekspresi semua orang menjadi berubah. Mereka seperti sangat penasaran dengan nama dari tempat ini, berbeda pada sebelumnya. Itu yang membuatku heran.


"Kalian sepertinya ingin mengetahui nama tempat ini daripada informasi sebelumnya, baiklah aku akan memberitahu nama tempat ini..."


Kemudian gadis "ceria" itu memberikan sedikit jeda. Itu membuat orang-orang berekspresi geram. Memangnya apa yang penting dari nama tempat ini?


"Nama tempat ini adalah Dracvale, tanah suci sekaligus tempat paling aman untuk para penyihir. Pasti kalian bangga, kan? Bisa mengetahui nama dari tanah suci yang sering diceritakan ayah dan ibu kalian waktu tidur?"


Semua orang menjadi puas ketika sudah mendengar nama dari tempat ini. Bahkan aku mendengar kata-kata seperti ini, "Ah, akhirnya aku bisa meninggal dengan tenang..."


Aku tidak tahu apa yang spesial dari nama itu. Tetapi melihat reaksi kepuasan dari orang-orang ini, aku dapat menyimpulkan bahwa mereka terlalu penasaran untuk waktu lama hingga membuat mereka merasakan suatu beban di hatinya. Dan ketika rasa penasaran itu dipenuhi, maka beban di hatinya menjadi hilang.


Sebelum Siska itu pergi, dia memberitahu kepada kelompok pengungsi ini bahwa para petinggi sedang rapat mengambil langkah terbaik untuk para pengungsi. Dia juga memberitahu bahwa status pafra pengungsi diganti menjadi tamu untuk sementara waktu.


"Hei, Jack. Apa yang kau lakukan selanjutnya?" Tanya Dian ketika kami sedang berjalan pergi dari tempat ini


Setelah gadis "ceria" itu pergi, para pengungsi keluar dari tempat ini ke tempat ditunjuk. Ada banyak orang mengantri untuk keluar dari gedung ini sehingga butuh waktu untuk keluar.


Ketika ditanya Dian, aku mendongakkan kepala, menatap langit-langit gedung ini.


"Aku mencari cara untuk bertahan hidup. Tempat ini masih tempat baru, sehingga aku harus mempelajari tempat ini secara dalam."


Itu adalah prioritasku sekarang, dan setelah itu....aku tidak tahu.


"Jack, apakah aku bisa mengikutimu sebentar? Aku tak bisa bahasa Inggris atau bahasa selain bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Itu membuatku tak bisa beradaptasi di tempat ini. Aku tak akan menjadi beban, kok. Ketika aku sudah mahir berbahasa Inggris, aku bisa pergi. Itu hanya sebentar."


Aku menatap Dian lalu menatap yang lain sambil memegang dagu. Aku tak langsung menjawabnya, aku harus mempertimbangkannya.


"Baiklah, kau boleh mengikutimu semaumu." Aku menyetujui permintaan itu. Dian nampak senang dan berjalan berdampingan keluar dari gedung ini dengan masa depan yang tak bisa ditebak.

__ADS_1


__ADS_2