Frost Heart

Frost Heart
Kehidupan Baru Jack


__ADS_3

Fajar menyising di ufuk timur dengan membawa waktu baru untuk mahkluk hidup di bawah naungan langit.


Seorang pemuda berambut ubanan yang sedang tertidur, terbangun ketika cahaya pagi menyinari wajahnya. Dia segera menyadari hari sudah pagi. Dia adalah Jack, pemulung yang mengungsi ke tanah tersembunyi karena fenomena yang membuat dunia hancur.


Di kamar Jack ada dua kasur. Yang satu untuk dirinya dan yang satu untuk teman satu kamarnya. Temannya bernama Dian itu sedang tertidur dengan mendengkur. Jack kemudian pergi ke kasur Dian dan menggoyang-goyangkan badannya.


"Bangun, Dian. Ini sudah pagi, kau punya pekerjaan yang harus kau kerjakan pagi ini, kan?"


"Lima menit lagi..." Ucap malas Dian yang malah meringkuk di dalam selimut.


Jack hanya mendesah berat melihat kelakuan teman satu kamarnya itu. Pada awal mereka bertemu, Dian berucap untuk tak menyusahkan Jack ketika mengikutinya. Tetapi Dian sekarang melanggar ucapannya itu.


Jack kemudian meninggalkan kamarnya dan Dian dengan membawa peralatan mandi. Jack berpikir Dian akan bangun sendiri nanti, jadi dia meninggalkannya sendiri.


Saat ini, Jack tinggal di suatu penginapan kecil di sudut kota Hedgeshade dan hidup di sana. Sudah 3 bulan Jack, Dian, dan pengungsi lainnya berada di tanah tersembunyi, Dracvale. Jack berjuang selama itu untuk beradaptasi dengan baik dan mendapatkan kehidupannya di Dracvale. Seperti yang kalian lihat, Jack beruntung mendapatkan tempat tinggal di sebuah penginapan kecil. Awalnya Jack merasa ada perasaan janggal ketika diterima menginap di penginapan itu. Karena diterima begitu cepat dan diberi kemudahan. Padahal penginapan yang lain tidak seperti. Namun lambat laun, pemikiran Jack itu berkurang hingga Jack lupa dengan pemikiran itu.


Keberuntungannya tak sampai disitu, sehari kemudian Jack mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran sebagai pelayan dan Dian mendapatkan pekerjaan di penggergajian kayu. Hidup Jack dan Dian sudah terjamin sekarang di Dracvale, dibandingkan 10.000 pengungsi lain yang sepertinya masih luntang-lantung.


Kamar Jack di penginapan itu berada di lantai 2, sehingga Jack harus naik turun tangga untuk keluar dari penginapan itu. Ketika Jack turun, dia bertemu dengan seorang wanita lanjut usia sedang membaca buku dengan ditemani teh di meja sampingnya. Nenek Kroft adalah panggilan Jack kepada nenek itu dan dia adalah ibu dari pemilik penginapan Jack tinggali.


"Selamat pagi, Nenek Kroft." Sapa Jack dengan sopan.


"Oh, nak Jack. Selamat pagi juga." Balas Nenek Kroft. "Nak Jack mau mandi?"


"Iya, Nenek Kroft. Saya punya pekerjaan pagi di restoran Happy Time."


Happy Time adalah tempat Jack bekerja. Tempat itu agak dekat dengan penginapannya.


"Oh, begitu. Kau punya semangat bekerja, yah. Di umur semuda itu."


"Jika aku tak bekerja, saya akan mati kelaparan, Nenek Kroft."


Kemudian Nenek Kroft tertawa mendengarnya. Menurut Jack, Nenek Kroft memiliki karakter yang periang, membuat semua orang akan terbawa suasana dalam pembicaraannya. Walaupun terlihat periang dan mudah tersenyum, Nenek Kroft sebenarnya memiliki sebuah penyakit. Jack tidak mengetahui detailnya, tetapi penyakit itu membuat Nenek Kroft tidak bisa lama-lama beraktivitas.


"Oh, yah. Kau harus cepat-cepat mandi. Pagi-pagi buta, Lili sudah membuat menu sarapan. Benar-benar anak itu, padahal dia sedang hamil."


Pemilik penginapan ini adalah milik menantu Nenek Kroft. Anaknya bernama Lili, dan Jack biasanya memanggil Nyonya Lili sedang hamil 7 bulan. Jack kemudian berceletuk, "Mungkin adik bayi sedang pengen untuk memasak sarapan..."


"Ha ha ha, mungkin saja. Kau harus cepat, nak Jack. Jika tidak mau ketinggalan sarapan ini. Karena menu utama hari ini adalah Bebek Goreng Asam."


"Ehm! Benarkah? Pasti Dian akan girang mendengarnya."


Walau kecil, penginapan ini menyediakan makanan untuk para penginap. Nyonya pemilik ini cukup baik hati memberi pelayanan itu. Jack tak menyangka bahwa menu utama hari ini sama dengan menu pada minggu lalu. Maksud menu utama di sini adalah menu makanan yang disajikan berbeda tiap harinya dan tidak ada di buku menu. Sebenarnya tidak tiap hari berbeda. Bisa saja menu akan sama pada keesokannya atau pada esok lusanya.

__ADS_1


Karena merasa waktu banyak terbuang, Jack pamit kepada Nenek Kroft untuk pergi keluar, menuju ke pemandian umum.


Di pemandian umum tidaklah seumum namanya. Di sana ada kamar-kamar mandi yang disekat untuk mandi. Jumlahnya sangat banyak, cukup membuat antrean tak berkerumun. Setelah selesai mandi, Jack kembali ke penginapan. Dia sudah tak melihat Nenek Kroft membaca bukunya. Jack tahu bahwa Nenek Kroft sedang berada di kamarnya, beristirahat.


Dia tak memperdulikannya dan langsung pergi ke kamarnya. Sesampai di kamar, dia melihat bahwa Dian masih tertidur. Jack sudah tak mentolerirnya. Dia kemudian mengangkat tangannya yang basah karena sehabis mandi ke leher Dian. Kebetulan ada tetesan air yang mulai jatuh dan Jack arahkan ke tengkuk Dian untuk membangunkannya. Cara itu benar-benar ampuh. Dian menjadi gelagapan ketika diteteskan air.


"Banjir! Banjir!" Dian bangun dan memukul-mukul ke depannya. Setelah beberapa saat, Dian terdiam dan sadar bahwa tidak ada banjir di tempatnya.


"Kau sudah bangun, pemalas? Hari ini kau ada pekerjaan, kan? Ini sudah mau masuk jam kerja dan kau harus cepat-cepat bersiap."


Dengan raut wajah datar, Jack berbicara kepada Dian. Sebenarnya ekspresi Dian ketika bangun cukup lucu, tetapi itu belum cukup membuat Jack yang serba serius tertawa. Mendengar ceramah Jack, Dian mengiyakannya dan bergegas keluar sambil membawa handuk dan alat mandi.


Setelah Dian pergi, Jack pergi ke kamar sebelahnya yang merupakan kamar ganti dan mengganti pakaian kerja di sana. Beberapa menit kemudian, Jack selesai mengganti pakaiannya. Dian masih belum terlihat di kamar dan Jack berharap kalau anak itu tidak tidur di jalan.


Jack lalu pergi ke lantai dasar untuk sarapan. Biaya makan di sini dibedakan dengan biaya menginap, tapi itu bukan masalah bagi Jack karena harga penginapan dan harga makanan sedikit murah dengan harga pasaran. Itu adalah keberuntungan Jack ketiga setelah mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan di tanah antah berantah.


Di lantai dasar, Jack melihat bahwa tempat itu sudah mulai ramai dan lima kursi sudah terisi orang-orang. Kebisingan mulai terdengar daripada Jack mandi tadi dengan bercampur aroma makanan yang Jack familiar dengannya. Itu adalah Bebek Bakar Asam, makanan khas kota Hedgeshade.


Tanpa berlama-lama, Jack langsung duduk di kursi yang kosong dan menunggu pelayan yang merupakan anak perempuannya pemilik penginapan itu.


"A-apa y-y-yang a-anda ingin p-pesan, tuan?"


Ketika Jack masih melamun, seorang pelayan datang kepadanya. Jack menatap pelayan yang setinggi bahunya dan berambut pirang. Pelayan itu adalah anak perempuan dari pemilik penginapan itu.


"Ah, maafkan aku, tuan!"


Lisa langsung menunduk maaf dan itu sedikit menarik perhatian semua orang yang ada di lantai itu.


"Ehem* kau tidak salah, aku hanya heran saja."


Jack tidak peduli tatapan semua orang yang mengarah kepadanya dan memesan seporsi nasi dan bebek bakar asam.


Lisa Kroft adalah anak perempuan tipikal anak-anak yang ceria dan bisa menjadi pusat perhatian semua orang. Dia bukanlah anak pemalu hanya karena kerumunan orang yang mendekatinya. Cuma entah mengapa didekat Jack dia akan jadi gugup dan khawatir seperti takut dengan Jack.


"A-apa anda...ingin m-memesan yang lain?" Ucap Lisa.


"Sama air putih."


"A-ada...lagi?"


Jack menggeleng, dia tidak ingin memesan lebih karena dia tak punya uang banyak. Kemudian Lisa meninggalkan Jack dan pergi ke kursi lain.


"Apa yang ingin anda pesan, tuan?"

__ADS_1


Jack langsung mengerut dahinya ketika melihat Lisa kembali normal ketika melayani tamu. Dia memang gugup, tapi tak separah ketika melayani Jack. Jack bertanya kepada dirinya sendiri, apakah dia mirip dengan monster yang menakutkan Lisa?


Dia mungkin akan menanyakan penampilannnya kepada orang lain.


Ketika Jack menunggu pesanannya, Dian sudah masuk ke penginapan dan naik ke lantai atas. Dia sepertinya ingin mengganti pakaiannya. Ketika pesanannya sudah datang, Dian sudah datang dan senang ketika menu utama hidangan adalah bebek bakar asam.


"Apa hari ini adalah Bebek Bakar Goreng?" tanya Dian.


Jack mengangguk.


"Kenapa kau tak membangunkan diriku kalau kau tahu ada Bebek Bakar Asam?"


"Ehm, sudah syukur membangunkanmu, pemalas. Kau benar-benar seperti kukang yang lemot?! Apa jangan-jangan kau keturunan hybrid kukang?"


Jack bersungut-sungut marah. Dia sudah sebal dengan sikap Dian. Tapi segera mendingin ketika dia mengingat kalau orang menyebalkan itu adalah temannya.


Hari itu Dian berbicara menggunakan bahasa Inggris. Butuh usaha keras bagi Dian untuk belajar bahasa Inggris hingga fasih. Dian belajar dengan Jack, kemudian akhirnya dia belajar sendiri hingga bisa berbicara kepada orang lain.


"Weh, slow bro. Aku cuma nge-troll aja." Kemudian Dian menggunakan bahasa Indonesianya yang gaul untuk menenangkan Jack.


"Neng Lisa, pesan bebek bakar asam satu porsi?"


Dian berteriak kepada Lisa yang sedang berjalan menuju dapur. Lisa langsung menulis pesanan Dian dan menatap meja Dian dan Jack. Lisa menatap ke Dian awalnya, tapi menengok ke Jack. Sontak dia membuang mukanya dan pergi sambil muka tersipu.


Melihat tingkah Lisa membuat Jack benar-benar merasa salah tingkah.


"Wah, hari entah mengapa Neng Lisa sedikit manis tersipu begitu?"


Dian tak menyadari sikap Lisa kepada Jack. Dia mengagumi kecantikan Lisa dengan bahasa Indonesia aksen Sunda. Jack tidak mengerti dengan logat Dian yang seringkali berubah-ubah. Kadang dia berlogat Madura, kadang dia berlogat Sunda. Mungkin karena tempat tinggal dan keluarganya, dia bisa punya 2 aksen ketika berbicara.


"Hei, Dian. Apa penampilanku sekarang Jelek?" Kemudian Jack bertanya kepada Dian.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau punya penampilan yang tak biasa, Jack. Aku saja kaget ketika tahu umurmu yang masih muda sudah beruban dan bertambah terkejut ketika mengetahui warna rambutmu itu alami. Aku akan memacarimu...."


Ketika mendengar perkataan terakhir, Jack langsung menjauhi Dian.


"Aku tak menyangka selama ini berbagi kamar dengan seorang Gay."


"Jangan salah paham woi! Aku akan memacarimu jika aku wanita."


"Itu tak memperbaiki pernyataanmu itu tadi."


Dian harus bekerja keras untuk menjelaskan bahwa dia bukan gay. Hingga akhirnya Jack percaya dengan perkataan Dian.

__ADS_1


Kemudian pesanan mereka berdua datang dan mereka pun segera memakan sarapan mereka. Terutama Dian yang suka Bebek Bakar Asam.


__ADS_2